
Kelompok Leo melanjutkan perjalanannya setelah istirahat di malam hari. Selama beristirahat, dilakukan pergantian penjagaan dengan 2 orang prajuritnya setiap beberapa jam.
Mereka berjalan melewati hutan yang cukup lebat itu secara perlahan. Mengikuti arah jalanan yang ada di dalam hutan itu.
Satu-satunya musuh yang mereka hadapi hanyalah hewan buas. Sesekali, mereka akan bertemu dengan kawanan serigala atau beruang.
‘Grooaaarrr!!!’
‘Syuuuttt! Jleebbb!!’
Artemis menembakkan panahnya dengan cepat. Menusuk beruang itu tepat di mata kirinya.
“Reina!” Teriak Artemis.
Dengan cepat, Reina menarik pedangnya dan berlari ke arah beruang yang sedang dihadang oleh 6 prajurit itu.
‘Braaaakkk!’
Dengan seluruh kekuatannya, beruang itu memukul dan menghempaskan 3 orang prajurit sejauh beberapa meter ke belakang.
‘Bruuukk!!’
Bersamaan dengan itu, Reina telah melompat dan menebas ke arah leher beruang itu.
‘Sraassshh!’
Tebasan Reina cukup tajam, tapi tak cukup dalam untuk memenggal leher beruang itu sepenuhnya.
‘Sialan! Kurang dalam ya?’ Pikir Reina setelah melihat bekas luka yang dibuatnya.
Reina segera membalikkan badannya bersiap untuk memberikan serangan lanjutan. Tapi sebelum Ia sempat melompat untuk menyerang lagi....
‘Jleb! Jleb! Jlebb!’
Tiga buah anak panah menancap cukup dalam di kepala beruang itu dalam waktu yang hampir bersamaan.
Reina masih belum tahu apakah beruang yang setinggi 2.2 meter lebih itu telah mati atau belum. Tapi setidaknya, Ia ingin membereskan kesalahannya sendiri dengan memenggal seutuhnya kepala beruang itu.
‘Sraassshh!’
‘Bruukk!’
Segera setelah semua orang melihat kepala beruang itu yang terjatuh dan menggelinding di tanah dengan banyak sekali tumpukan dedaunan itu....
“Kita berhasil!”
“Tak ku sangka kita benar-benar bisa membunuh beruang besar itu!”
Semua prajurit mulai meneriakkan kemenangan ini. Sedangkan Reina dan Selene hanya bersikap biasa saja. Seakan ini hanyalah hari yang lain dalam memburu monster seperti biasanya.
Sedangkan Artemis itu sendiri....
“Leo! Kau lihat?! Aku menembakkan panah dengan Crossbow ini tepat di matanya! Bukankah itu hebat!” Teriak Artemis dengan wajah yang terlihat begitu bahagia.
“Hahaha.... Benar juga. Kerja bagus, Artemis.” Ucap Leo sambil mengelus-elus kepala gadis itu.
“Tuan Leo. Apa yang akan kita lakukan dengan beruang ini?” Tanya Selene yang sedari tadi berdiri di atas kereta itu sambil menoleh ke bawah. Membuat semua rambut putihnya yang indah mengarah ke bawah.
“Tinggalkan saja. Aku tak yakin daging dari karnivora itu enak untuk dimakan.” Balas Leo sambil menoleh ke atas.
“Baik, Tuan Leo. Semuanya! Bersiaplah untuk melanjutkan perjalanan kembali!” Teriak Selene.
Mendengar teriakan Selene itu, semua prajurit segera membenahi diri mereka dan kembali ke posisi semula. Tapi senyuman mereka masih belum luntur karena berhasil berperan aktif dalam melawan hewan buas yang besar seperti itu.
Sedangkan Reina....
“Apa yang kau lakukan, Reina? Cepatlah kembali ke dalam kereta.” Ucap Leo.
Reina yang sedari tadi hanya memandangi kedua telapak tangannya segera tersadar atas ucapan Leo. Tak menunggu lama, Ia langsung berlari ringan untuk kembali ke dalam kereta.
Dalam formasi yang baru ini, Reina dan juga Artemis bisa beristirahat dengan tenang di dalam kereta. Sedangkan keenam prajurit yang ada menjaga bagian depan dan samping dengan satu regu berisi 2 orang.
Sedangkan Selene sendiri duduk dengan tenang di atas kereta itu. Memperhatikan sekeliling dari posisi yang tinggi.
Perjalanan mereka pun terus berlanjut dengan keseharian yang hampir serupa. Selama perjalanan, Leo terus menerus mengisi batu Mana yang dibawanya. Dan sesekali melakukan Enchanting pada persenjataan yang ada dalam peti besar itu.
Mempersiapkan dirinya untuk mengirim semua perlengkapan itu dalam waktu 1 bulan ini.
Hingga pada akhirnya, mereka pun tiba di desa Rarth.
......***...
...
...- Desa Rarth –
...
Sebelum sesampainya kelompok Leo di desa yang besar ini, bahkan bisa dikatakan sebagai kota kecil ini, mereka melewati beberapa desa lainnya sepanjang perjalanan.
Meskipun, mereka hanya menanyakan arah dan juga beristirahat semalam sekaligus untuk mengisi ulang suplai makanan mereka.
“Besar sekali....”
“Apakah ini benar-benar sebuah desa?”
“Mereka bahkan memiliki benteng kayu di sana!”
Beberapa prajurit nampak telah mewakili apa yang ada di dalam pikiran Leo. Membuat ya hanya memandangi desa ini dalam diam.
Ladang gandum yang begitu luas, ditambah dengan berbagai sayuran dan tempat pemotongan kayu. Tak jarang terlihat beberapa orang yang sedang menggembalakan hewan ternak mereka di padang rumput yang cukup luas itu.
Beberapa rumah dan bangunan sederhana terlihat di sekitar mereka. Tapi keseluruhan dari bangunan itu berada di atas bukit yang tak terlalu tinggi itu dan dilindungi oleh pagar kayu yang cukup tinggi.
Terlihat beberapa orang mengenakan perlengkapan seadanya sambil membawa sebuah tombak dan beberapa terlihat membawa busur dan panah.
‘Dibandingkan dengan desa, Rarth terlihat seperti kota kecil. Bahkan melihat jumlah penduduknya....’ Pikir Leo dalam hatinya sambil memperhatikan sekeliling.
Ia sama sekali tak menghentikan kereta kudanya. Ia tetap bergerak dengan tenang bersama dengan keenam prajurit yang menjaga.
Bahkan beberapa warga desa terlihat memberikan salam yang cukup ramah terhadap Leo dan kelompoknya.
Setibanya mereka di hadapan gerbang kayu itu, mereka dihentikan oleh 2 orang penjaga yang membawa tombak. Beberapa penjaga lain yang ada di atas dinding kayu itu terlihat memperhatikan dengan busur dan panah yang telah siap untuk ditembakkan.
“Siapa kalian? Dan apa keperluan kalian kemari?” Tanya penjaga itu.
“Leo, pedagang dari Kota Venice. Aku kemari untuk mencari seseorang, dan juga menemui kepala desa.” Jelas Leo.
Setelah memperhatikannya sejenak, penjaga itu pun mempersilakan Leo dan kelompoknya untuk masuk.
“Baiklah, jaga sikapmu selama di dalam. Lalu letakkan senjata kalian di dalam kereta itu. Tenang saja, kami akan membantu kalian menjaganya.” Jelas petugas itu.
Bukan merupakan syarat yang terlalu berat untuk dihindari. Bahkan kelompoknya juga masih bisa bertarung dengan tangan kosong jika diperlukan. Akan tetapi....
“Tentu saja.” Balas Leo sambil segera memasuki bagian dalam desa itu.
Leo pun mengikat kuda dan meletakkan kereta ya di tempat yang telah di sediakan. Yaitu di bagian belakang dari dinding kayu itu sendiri. Setelah itu, Ia memberikan perintah baru kepada keenam prajuritnya.
“Kalian bebas bersantai untuk saat ini. Tapi setidaknya, 2 orang harus selalu menjaga kereta ini. Ada barang yang sangat berharga di dalamnya.” Jelas Leo.
“Siap, Tuan Leo.” Balas keenam orang itu dengan semangat.
Leo pun berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh salah seorang penjaga. Bersamanya, Selene, Artemis dan juga Reina berjalan di belakang.
Semuanya telah meninggalkan senjata mereka. Semua kecuali satu. Yaitu Leo itu sendiri yang masih mengantongi batu Mana di dalam kantung kecilnya.
“Silakan masuk. Kalian bisa menemui kepala desa di dalam.” Ucap Penjaga itu yang segera berhenti di depan pintu masuk bangunan yang cukup besar itu.
Bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu itu memiliki tinggi sekitar 5 meter atau lebih dan hanya terdapat satu lantai saja.
Dengan banyak tiang kayu yang tinggi dan kokoh, serta banyak sekali meja dan kursi, membuat ruangan ini terlihat seperti Guild Hall yang ada di kota Venice. Perbedaannya hanyalah kualitasnya yang jauh lebih rendah saja.
Di ujung dari ruangan ini, tepatnya pada sebuah meja yang besar yang di sekelilingnya diterangi oleh lampu gantung yang didalamnya terdapat lilin yang cukup besar itu, terlihat sekitar 6 orang sedang berkumpul.
Seorang Pria tua dengan pakaian kain berwarna kehijauan itu nampak duduk di ujung kursi. Dengan hiasan kursi yang paling indah, Leo yakin bahwa dia adalah sang kepala Desa.
“Hahaha! Begitu kah? Kalau begitu kita akan bisa meningkatkan panen tahun ini dan.... Hmm? Petualang kah? Atau pedagang? Apapun itu, kemari dan bergabunglah dengan kami.” Ucap pedagang itu sesaat setelah menyadari keberadaan Leo.
Ia mempersilakan Leo dan kelompoknya untuk mengisi kursi kosong yang ada di hadapan meja besar itu. Yang sebenarnya masih sangat banyak.
“Terimakasih atas kebaikan Anda.” Balas Leo sambil segera menerima tawaran itu untuk duduk bersama dengan mereka.
Pembicaraan para petinggi desa, bersama dengan sang kepala desa, Leo sangat yakin bahwa itu hanyalah pembicaraan ringan karena sebagian dari mereka terlihat sedang sambil menikmati makanan.
“Jadi.... Kalian pasti lapar bukan? Nyonya Hess! Buatkan makanan untuk 4 orang tamu kita ini! Sebelum itu, apakah kalian meminum bir?” Tanya kepala desa itu ke arah Leo.
Dengan cepat, Leo dan juga Selene menggelengkan kepala mereka. Hal terburuk yang bisa mereka alami saat ini adalah mabuk.
Akan tetapi....
“Begitu kah? Nyonya Hess! Dua gelas bir dingin untuk dua wanita cantik ini, lalu dua gelas susu sapi dingin untuk wanita dan pria yang menawan ini!”
Dengan teriakan itu, Leo nampak sedikit terkejut. Ia sama sekali tak menyangka, bahwa sedari tadi Reina dan juga Artemis menganggukkan kepala mereka sekuat tenaga untuk menerima tawaran bir dari sang kepala desa.
“Hah.... Kalian ini....” Keluh Leo sesaat.
Tapi segera setelah hal itu....
“Jadi, Tuan Pedagang. Apa alasanmu kemari? Tentu kau tak hanya ingin jamuan gratis ini bukan?” Tanya sang kepala desa itu dengan sebagian rambut yang telah memutih serta jenggot yang sedikit tebal.
Tatapan wajahnya terlihat berubah dari yang sebelumnya. Dimana saat ini, tatapannya jauh lebih tajam dan terlihat jauh lebih cerdas dari yang sebelumnya.
Melihat hal itu, Leo hanya tersenyum sambil meletakkan tasnya di atas meja.
“Kepala Desa. Aku saat ini sedang mencari seseorang. Setelah itu, entah aku menemukannya atau tidak, bisakah aku membeli sebagian tanah disini?” Tanya Leo juga dengan tatapan yang tajam.
Mendengar perkataan dari Leo, sang kepala desa terlihat tersenyum tipis sebelum membalas.
“Hoo.... Begitu kah? Jelaskan padaku lebih lanjut.”