E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 112 - Sisi Lain



...- Eastfort -...


Rapat darurat segera dilakukan oleh Feris dan seluruh petingginya. Termasuk Duke Theodore dan juga Duke Achibald.


Dasar dari rapat darurat ini adalah pesan yang diterima oleh Feris sendiri. Yang mengatakan bahwa Kota Venice telah jatuh di tangan orang lain.


Tapi makna dari kalimat itu terlalu luas dan cukup ambigu. Oleh karena itu, saat ini Feris sedang mengirim mata-mata yang baru untuk menganalisa kejadian yang terjadi di Kota Venice.


Dan lebih dari itu....


"Achibald. Aku takkan menyalahkanmu, jadi tenang saja. Tapi masalah ini...." Ucap Feris dengan kesal. Wajahnya menandakan bahwa dirinya belum tidur sejak semalam.


Meski begitu, Ia tetap memaksakan diri untuk mengadakan rapat itu.


"Aku tak menyangka bahwa Kota Venice bisa dijatuhkan. Meskipun penjagaannya melemah, tapi kota itu seharusnya tak bisa ditaklukkan begitu saja." Balas Achibald.


Di sisi lain, Theodore terlihat menyerang Achibald dengan perkataannya.


"Kau tahu? Mungkin.... Jika kau tak menarik 100 ribu lebih pasukan levies dari wilayahmu, kejadian ini takkan terjadi." Ujar Theodore dengan tatapan yang cukup tajam.


"Tuan Theodore, kau lupa? Kita bisa menahan gerakan pemberontakan dari wilayah Maelfall dan juga wilayah Mulderberg karena bantuan siapa?" Tanya Achibald sambil menyeringai seakan sedang mengejek lawan bicaranya.


Theodore nampak cukup kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Achibald. Tapi perkataannya itu memang benar.


Jika bukan karena Duke Achibald yang memberikan pasukan sebesar itu, Eastfort mungkin sudah runtuh saat serangan pertama dari wilayah Maelfall.


Belum lagi masih harus menahan serangan dari Iblis di Utara.


Posisi Eastfort yang masih utuh saat ini, semuanya berkat bantuan luarbiasa dari Duke Achibald. Itulah kenapa Feris tak ingin menyalahkannya barusan.


Akan tetapi....


'Mulderberg? Apakah ini ulah mereka? Jadi mereka berencana untuk menyerang dari kedua sisi? Jika begitu....' Pikir Feris dalam hatinya.


Saat ini, Feris berpikir bahwa kedua wilayah yang memberontak itu berencana untuk mengapit Eastfort dari dua sisi.


Tanpa Ia ketahui kenyataannya.


Dengan asumsi yang seperti itu....


"Harap tenang. Kita akan segera mulai untuk membahas masalah ini." Tegas Feris.


Segera setelah itu, Feris memutuskan untuk memusatkan pasukannya ke arah Maelfall yang telah melemah. Secepat mungkin sebelum pasukan Mulderberg yang sebenarnya tak pernah ada di wilayah Rustfell itu muncul.


......***......


...- Kota Venice, Akademi Aselica -...


Di sebuah akademi megah yang tertutup oleh tebalnya salju itu, Leo dan juga ketiga rekannya datang dengan sikap yang tenang.


Setibanya di aula utama, mereka disambut dengan baik oleh para penjaga. Bahkan....


"Aah, kami tak tahu bahwa Anda sebenarnya adalah seorang bangsawan. Terlebih lagi dari keluarga Rustellia." Ucap seorang Pria tua sambil mengusap kedua tangannya.


"Itu benar! Kami sama sekali tak menyangka bahwa murid kami akan menggantikan dan mengatasi masalah di kota ini secara langsung!" Ucap seorang wanita yang cukup tua itu.


Tapi Leo hanya membalas ringan kepada semua perkataan mereka.


Bagaimanapun, Leo sendiri justru kebingungan.


'Seberapa buruk publikasi keluarga Rustellia ini hingga tak ada yang tahu bahwa aku berbohong?' Pikir Leo dalam hatinya.


Setelah menepis pemikiran itu, Leo segera berjalan ke arah ruang kerja Roselia seperti biasanya.


Mereka terpisah setidaknya selama beberapa Minggu. Mengingat bagaimana Roselia mengusirnya, mungkin Leo dan ketiga rekannya juga akan segera diusir kembali kali ini.


Akan tetapi, setibanya Leo di ruang kerja itu....


"Hmm?"


Roselia nampak membalikkan badannya dalam tatapan yang cukup lelah. Kantung matanya menebal dan mulai menghitam. Sedangkan wajahnya tak seceria dirinya yang dulu.


Setelah menyadari sosok tamunya kali ini....


"Hah? Leo? Apa yang terjadi dengan matamu?" Tanya Roselia sambil segera berdiri dari kursinya itu dan berjalan ke arahnya.


Hal itu tak lain adalah lengan kiri pakaiannya yang nampak kosong. Tak ada sesuatu pun di dalamnya.


"Oi, Roselia. Apa yang terjadi dengan lengan kirimu?" Tanya Leo sambil segera berusaha untuk meraihnya.


Selene yang menyadari hal yang sama juga nampak terkejut dan ketakutan. Apa yang ada dalam pikirannya pertama kali, adalah kemungkinan besar luka Roselia itu disebabkan oleh dirinya.


'Aku.... Hanya bisa menjadi beban orang lain ya?' Pikir Selene dalam hatinya.


Di belakang mereka berdua, Reina dan juga Luna hanya diam melihat pertemuan kedua orang itu kembali dengan gurunya.


Setelah memperhatikan mata Leo sesaat, Roselia seakan kembali pada dirinya yang biasanya.


"Aaah! Apa yang kulakukan?! Silakan masuk! Mungkin tak seberapa, tapi cukup untuk menyambut empat orang tamu." Ucap Roselia sambil segera mempersilakan mereka semua masuk.


Terutama Reina dan juga Luna yang sebelumnya berada di belakang.


Tak berselang lama, Roselia pun menyiapkan teh hangat untuk mereka semua sambil mengobrol berbagai hal.


Termasuk kegiatan mereka selama di akademi ini.


"Hahaha! Sudah ku bilang! Leo itu orang pemalas yang entah bagaimana bisa memahami banyak hal. Kau tahu? Dia bahkan sering tidur di kelas!" Ucap Roselia kepada Luna dan juga Reina itu.


"Eh? Benarkah? Tuan Leo yang hebat itu?"


"Dim.... Jangan katakan kau...." Ucap Reina samb memberikan tatapan yang cukup tajam.


Sambutan ringan yang diiringi dengan pembicaraan yang segar dan menyenangkan itu, berlangsung selama beberapa saat.


Sebelum akhirnya, Roselia menunjukkan niat aslinya.


"Leo, bisa kah kau kemari sebentar? Aku butuh bantuanmu mengangkat ini." Tanya Roselia sambil melambaikan tangan kanannya secara perlahan itu.


"Baiklah, tunggu sebentar." Balas Leo yang segera berdiri.


Setibanya di dalam gudang barang itu, Roselia menyalakan lampunya dan mulai mengutarakan isi hatinya.


"Alexander Leonardo von Rustellia. Apa yang kau lakukan dengan nama bodoh seperti itu?" Tanya Roselia sambil berbisik secara perlahan.


Ia juga tetap melakukan kegiatannya yaitu membereskan tumpukan barang yang ada di dalam gudang itu.


"Eh? Apa maksudmu dengan itu?" Tanya Leo berusaha untuk mengetahui niatan yang sebenarnya dari Roselia.


"Tak perlu berpura-pura bodoh padaku. Dari total 127 anggota keluarga Rustellia yang masih hidup saat ini, hanya ada 32 orang saja yang masih berada dalam kisaran umur 25 tahun.


Dan dari mereka semua, aku tak pernah mendengar nama itu. Apa maumu dengan semua ini? Menggulingkan Venice? Menguasai kota besar ini untuk dirimu sendiri? Atau apa?" Tanya Roselia dengan pertanyaan yang tajam.


Leo pun sangat terkejut setelah mendengar perkataan dari Roselia itu. Ia sama sekali tak menyangka bahwa pertanyaan spesifik seperti itu akan benar-benar ditujukan padanya.


Tak ada sedikitpun keraguan dalam pertanyaan itu. Seakan-akan....


"Wajahmu terlihat seperti menanyakan bagaimana aku tahu semua itu. Yah, bukan perkara sulit jika kau menghafal nama mereka dari buku empat keluarga utama kerajaan ini." Lanjut Roselia.


"Hah? Apa maksudmu tak ada? Aku dengan jelas...."


'Sreeett....'


Roselia nampak mengeluarkan beberapa lembar kertas dari balik jubahnya dengan tangan kanannya.


Tapi sesaat sebelum menyerahkannya kepada Leo, Ia bertanya.


"Katakan, siapa itu Guilverda? Siapa itu Valhelm? Siapa itu Brenadia?"


Mendengar tiga nama itu, Leo sudah tahu.


Apakah Ia bisa menjawabnya dengan benar atau tidak....


Dia sudah berada dalam jebakannya. Dan sudah dipastikan akan membongkar identitasnya secara langsung.


Setelah mempertimbangkan jawabannya dengan baik, Leo pun segera berbicara.


"Mereka...."