
Kehancuran melanda seluruh dunia ini. Hampir setengah dari populasi dunia ini mati seketika bersama dengan hujan api yang diciptakan oleh Valkazar.
Tidak....
Tak ada yang tahu pasti apa atau siapa yang mengakibatkan hal itu. Belum ada yang tahu bahwa Valkazar kini telah tiada.
Hanya beberapa Iblis tingkat tinggi saja yang menyadari bahwa seluruh berkah yang mereka peroleh dari Valkazar telah sepenuhnya menghilang.
Sedangkan untuk manusia? Beberapa jam telah berlalu semenjak kejadian itu. Dan kini, kekacauan mulai melanda di seluruh wilayah umat manusia. Tak terkecuali di Eastfort.
"Medis! Kami butuh bantuan penyembuh di sini!"
"Tolong! Siapapun yang bisa merawat luka!"
"Anakku.... Tolong selamatkan anakku!"
"Permisi! Biarkan kami lewat! Biarkan kami menemui penyembuh di dalam!"
Kerusuhan banyak prajurit dan penduduk setempat di wilayah ini begitu buruk. Pasukan yang seharusnya akan berangkat untuk berperang di garis depan, kini harus mundur dan berperang di wilayah sendiri.
Berperang untuk melawan kerusuhan, kekacauan, dan memberikan bantuan kepada semua orang yang menderita akibat bencana mengerikan ini.
"Biar aku rawat. Kalian semua rawat penduduk yang lain!" Ucap Artemis yang segera menggunakan sihir penyembuhnya kepada gadis kecil itu.
Di sisi lain, Reina nampak sibuk mencari sosok Stella dan juga Marcus. Ia takut bahwa kedua anaknya juga akan meninggalkan dirinya menyusul Leo.
"Stella! Marcus! Dimana kalian! Jika kalian dengar jawab lah aku!" Teriak Reina dengan keras.
Mungkin adalah sebuah keputusan bodoh untuk membiarkan keduanya ikut dalam peperangan ini di saat-saat terakhir. Mungkin sebaiknya mereka tetap tinggal di Venice.
Tidak....
Memangnya, apakah Venice sendiri selamat dari sihir skala besar ini?
Di saat rasa keputusasaan mulai menghantui diri Reina, Ia melihat sosok seorang gadis berambut pirang di kejauhan. Di sekitarnya, terlihat seorang bocah laki-laki yang berlarian sambil meletakkan beberapa batu Mana.
"Tenang saja, Nyonya. Aku akan menyembuhkan kalian semua." Ucap gadis berambut pirang yang tak lain adalah Stella itu.
Ia segera berdiri dan mengaktifkan sihir penyembuh skala besar dengan bantuan Marcus.
Cahaya kehijauan mulai muncul di sekitar tubuh Stella, termasuk juga tekanan udara yang cukup untuk membuat rambut panjangnya sedikit terangkat. Setelah beberapa saat....
"Area Healing." Ucap Stella.
Seketika, sebuah lingkaran sihir yang memiliki radius 50 meter lebih segera terbentuk di udara. Dari lingkaran sihir itu, butiran cahaya hijau yang indah terus menerus berjatuhan seperti halnya salju di musim dingin.
Setiap dari butiran itu segera menyembuhkan luka ringan dan sedang pada tubuh semua orang di sekitarnya.
Dalam waktu yang singkat saja, Stella berhasil menyembuhkan setidaknya 1.000 orang yang terluka.
"Kakak, kau baik-baik saja?" Tanya Marcus yang kini berdiri di belakangnya.
Dengan penuh percaya diri dan wajah yang serius, Stella pun membalasnya.
"Tentu saja, kau pikir siapa aku? Ayo, daerah sana masih butuh bantuan."
Dari kejauhan, Reina yang melihat mereka berdua tak hanya merasa lega. Mengetahui bahwa kedua anaknya masih selamat. Tapi juga merasa begitu bangga atas pencapaian mereka.
Sedangkan di sisi lain....
"Kugghh.... Sialan. Apa yang baru saja terjadi?" Tanya Feris pada dirinya sendiri.
Bersama dengan puluhan orang lain di dekatnya, Feris terjatuh di sisi Utara dari dinding Eastfort ini. Melewati batas yang telah dijanjikan antara dirinya dan juga Valkazar.
Akan tetapi....
"Tunggu dulu? Kenapa aku tidak mati?"
Pertanyaan itu secara refleks muncul di dalam pikiran Feris. Ia sudah memastikannya dengan Leo bahwa sihir kontrak itu benar-benar bekerja. Tapi kenapa? Kenapa setelah Feris melewati perbatasan ini bersama dengan puluhan orang lainnya, sihirnya tak aktif?
'Mungkin masih belum terlalu jauh melewatinya?'
Memikirkan kemungkinan peluang itu, Feris segera memanggil beberapa orang lain yang telah sadarkan diri untuk berjalan bersamanya.
Dan kini, setelah berjalan hampir selama 15 menit ke arah Utara, tak ada apapun yang terjadi pada Feris.
Hal itu tentunya membuatnya merasa kebingungan. Sekaligus sangat bahagia.
Bukan karena dirinya tak mati setelah ada manusia yang melewati batas ini. Tidak, bukan karena itu. Feris sendiri telah siap untuk menyerahkan nyawanya.
Tapi sebuah kenyataan....
Bahwa sosok yang membuat kontrak dengannya dalam sihir ini....
Dengan kata lain Valkazar, telah tiada.
Seketika, Feris berteriak dengan sangat keras setelah menyadari hal itu.
"Semuanya! Pahlawan! Prajurit! Ksatria! Siapapun kalian! Dengarkan perkataanku! Kenyataan bahwa diriku tak mati setelah melewati perbatasan ini hanya berarti satu hal!
Yaitu sebuah kenyataan bahwa Valkazar telah mati! Kemungkinan semua bencana sihir ini adalah perbuatan Valkazar di saat-saat terakhirnya! Dan karena itu lah! Kita memiliki harapan yang baru!"
Feris terus melanjutkan teriakannya. Membakar semangat semua orang.
Mereka yang menangisi kematian rekannya, kini juga segera berdiri. Mengangkat kembali senjatanya.
Dan mereka yang merasa telah banyak kehilangan, atau hanya memiliki kebencian yang besar terhadap para Iblis, segera berdiri untuk membalaskan seluruh penindasan para Iblis selama ini.
Tak hanya manusia.
Elf yang sedari tadi mendengarkan teriakan dari Feris juga tersadar. Bahwa peluang besarnya, seluruh dunia saat ini berada dalam kekacauan. Dan ini adalah kesempatan terbesar bagi mereka untuk memberikan serangan balasan.
Tepat di saat Raja Iblis Valkazar itu, kemungkinan besar telah tiada. Hal itu dibuktikan atas 2 hal yang sangat kuat. Yaitu Feris yang tidak mati sekalipun terikat Kontrak dengan Valkazar, serta sebuah kenyataan bahwa serangan sihir skala besar barusan telah berhenti.
Siapapun, atau apapun yang membunuh Raja Iblis bukanlah masalah saat ini.
Tapi yang terpenting adalah untuk memanfaatkan kesempatan yang diciptakan oleh sesuatu itu, agar bisa membebaskan dunia dari Iblis.
Pertempuran selama 12 tahun pun berlangsung sejak hari itu. Dengan manusia sebagai pemimpin atas semua ras yang tersisa. Baik Elf, Dwarf, maupun ras minoritas lainnya.
Pada benua utama umat manusia, Feris bersama dengan Alicia menjadi pemimpin atas semua pasukan gabungan ini. Membantai semua iblis dengan cepat dan tanpa keraguan. Kebencian mereka terhadap para Iblis telah memberikan mereka kekuatan untuk itu.
Kemudian pada benua iblis, ras Dwarf, bersama dengan pasukan manusia bergerak di bawah pimpinan 3 pahlawan manusia yaitu Alex, Brian dan Amelia bergerak. Melawan kekuatan terbesar dari bangsa Iblis langsung di tanah mereka.
Sedangkan untuk benua Elf sendiri, peperangan yang diikuti oleh ras Elf dan juga manusia itu dipimpin oleh Reina sebagai komandan utama. Dengan Stella sebagai seorang Archmage dan Marcus sebagai pemimpin dari regu mata-mata.
Terakhir, di wilayah kerajaan manusia itu sendiri, puluhan pahlawan baru akhirnya telah tiba. Meskipun mereka tak begitu kuat, peranan mereka dalam membangun ulang dan mengatasi keperluan logistik ketiga regu penyerang utama sangat lah penting.
Dan akhirnya....
Setelah 12 tahun peperangan yang panjang dan membakar seluruh dunia ini serta menenggelamkannya dalam lautan darah, iblis berhasil dimusnahkan.
Atau setidaknya.... Berhasil ditekan dengan sangat kuat hingga mereka bukan lagi merupakan sebuah ancaman.
Menciptakan sebuah dunia yang diimpikan oleh semua orang sejak dahulu kala. Sebuah dunia yang damai.
......***......
...Epilog - Bagian ke tiga...
Di atas sebuah bukit yang indah, terdapat sebuah pohon yang berdiri sendirian. Ia bergerak melambai mengikuti arah mata angin di bawah cerahnya matahari pada pagi hari ini.
Dua buah batu nisan yang indah nampak berteduh di bahwa pohon itu.
Dari kejauhan, seorang wanita berambut pirang dengan jubah yang begitu indah dengan warna biru tua dan hitam itu berjalan secara perlahan. Mendekati dua batu nisan di atas bukit itu.
'Sruuug!'
Wanita itu segera duduk dengan lutut sebagai tumpuannya, menghadap ke arah kedua batu nisan itu. Wajahnya begitu cantik dan menawan ketika dihiasi oleh sebuah mahkota perak yang indah itu.
Meski begitu, Ia nampak melepaskan mahkota perak itu dan meletakkannya di tengah kedua batu nisan itu sambil berdoa.
Setelah beberapa saat berlalu....
'Swuushh!'
Seseorang nampak muncul begitu saja dari udara tepat di belakangnya. Penampilannya adalah seorang Pria dengan rambut perak yang sepanjang lehernya.
Dengan pakaian serba hitam itu, Pria itu segera berbicara.
"Yang Mulia. Seperti dugaan Anda, ras Dwarf melakukan pengkhianatan. Mereka mulai bergerak di...."
"Sssttt. Apakah kau tak lihat aku sedang apa?" Tanya wanita itu.
"Maafkan diriku." Balas Pria itu singkat sambil menundukkan kepalanya.
Keheningan menyelimuti kedua orang itu di atas bukit yang begitu sejuk dan nyaman ini.
Setelah menyelesaikan doanya, wanita itu segera mengambil kembali mahkotanya, dan membalikkan badannya ke arah Pria itu.
"Permasalahan Dwarf, aku sudah menduganya sejak lama. Jadi aku telah meminta beberapa orang menanganinya sebelum kau mengatakannya." Balas wanita itu.
"Seperti yang diharapkan dari Yang Mulia. Selalu membaca sepuluh langkah di depan." Puji Pria itu sambil terus menundukkan kepalanya.
Tapi secara tiba-tiba....
'Sruuugg! Sruuggg!'
Wanita itu nampak mengacak-acak rambut perak pria itu sambil tersenyum.
"Sudah ku katakan berkali-kali untuk bersikap biasa saja ketika kita hanya berdua kan? Lagipula, daripada membahas hal bodoh seperti barusan, bagaimana jika kau mendoakan ibumu?" Ucap wanita itu dengan wajah yang begitu ramah.
Seketika, kedua mata pria itu terbuka lebar dan berkaca-kaca.
"Maafkan aku, kakak."
Setelah mendengar balasan itu, wanita itu nampak merebahkan badannya sambil memandangi langit cerah berawan yang begitu indah itu. Menunggu hingga pria barusan menyelesaikan doanya.
'Bruukk!'
Setelah beberapa saat, pria barusan nampak berbaring di sebelah wanita itu. Memandangi pemandangan yang sama dengannya.
"Kakak. Apakah kau pikir, kita sudah berjuang dengan baik?" Tanya Pria itu.
"Entahlah. Tapi setidaknya.... Kita selangkah lebih dekat dengan dunia yang diimpikan oleh Ayah, bukan?"