E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 56 - Akademi Sihir



Beberapa hari telah berlalu.


Dan hari ini, kiriman barang dari Eastfort telah tiba. Sebuah peti besar yang berisi tumpukan perlengkapan mulai dari busur, zirah dan pedang terlihat tertata dengan rapi di dalamnya.


Tak hanya peti itu, petugas pengiriman yang dikawal oleh 20 prajurit itu juga menyerahkan sebuah kotak yang tak terlalu besar. Ukurannya sekitar 1.5 x 0.5 meter. Apa yang ada di dalamnya tak lain adalah senjata suci milik Alicia.


Setelah membereskan semua barang-barang itu di ruang kerjanya, Leo terlihat sedikit kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya saat ini.


'Senjata suci ya? Seperti apa kekuatannya?' Tanya Leo pada dirinya sendiri.


Pada saat Ia membukanya, terlihat sebuah pedang yang masih berada dalam sarungnya tersimpan dengan rapi di atas bantal yang lembut.


Pedang itu sendiri sebenarnya cukup sederhana. Yaitu memiliki panjang sekitar 1 meter dengan bilah yang sedikit melengkung.


Bahan utamanya sendiri tidak diketahui, tapi pedang itu terlihat memancarkan suatu kekuatan misterius yang begitu besar.


Pada saat Leo mencoba untuk melihat seperti apa kekuatan yang ada di dalamnya....


...[Objek : Pedang]...


...[Pedang Suci - Pelahap Jiwa]...


...[Rating : S]...


...Durabilitas : 29.311 / 29.745...


...- Atribut -...


...Physical Damage : + 2682...


...Magical Damage : + 820...


...Defense : + 318...


...- Efek Khusus -...


...Pelahap Jiwa : Setiap kali menebas musuh, tubuh pengguna akan diperkuat selama beberapa saat. Semakin banyak tebasan, kekuatan yang diperoleh akan semakin besar....


...Regenerasi Mistis : Tubuh pengguna pedang akan memperoleh peningkatan regenerasi dalam jumlah yang besar....


'Kekuatan yang sebesar ini.... Feris sialan itu, Ia tak takut aku membawanya pergi atau menjualnya?' Pikir Leo dalam hatinya setelah melihat kekuatan sebenarnya dari pedang itu.


Tentu saja itu hanyalah pikiran liar yang terpikirkan secara sepintas. Leo sama sekali tak berkeinginan untuk membuat masalah dengan wanita berbahaya seperti Feris.


Sedangkan untuk penguatan nya sendiri, Leo kini justru bingung untuk memberikan peningkatan semacam apa.


Seakan telah mampu membaca pikirannya, Feris telah meninggalkan selembar kertas di dalam kotak wadah pedang suci itu.


^^^Kepada Leo.^^^


...Pemilik dari pedang ini adalah Alicia Valentine. Seorang wanita yang memiliki berkah dari Dewi Cyrese sebagai berikut....


...Kemampuan penahan rasa sakit tingkat tinggi, pemburu Iblis, peningkatan refleks, bakat berpedang, regenerasi tingkat tinggi, penglihatan tajam, peningkatan kekuatan fisik, peningkatan kelincahan, dan peningkatan ketahanan tubuh....


...Aku tahu yang kau pikirkan. Tapi Alicia memilih serangkaian kekuatan yang berfokus pada satu hal. Yaitu mendominasi medan peperangan hanya dengan dirinya sendiri dengan kekuatan fisik yang tinggi. Meski terkesan sembrono dan asal-asalan, tapi pilihannya sangatlah efektif....


...Oleh karena itu, aku ingin kau membuat sesuatu yang semakin meningkatkan kekuatan fisiknya. Terutama daya tahan tubuhnya jika itu memang dimungkinkan....


^^^Dengan hormat,^^^


^^^Felicia Viartis.^^^


Pada saat itu juga, Leo semakin paham atas seberapa mengerikannya wanita yang kerap dipanggil Feris ini.


"Hah..... Sekarang apa yang sebaiknya ku lakukan?" Tanya Leo pada dirinya sendiri.


Bahkan sampai hari ini, Ia hanya bisa memberikan peningkatan hingga tingkat C. Ia sama sekali belum pernah memberikan peningkatan tingkat B dan keatasnya.


Atau lebih tepatnya, Ia tak tahu cara untuk melakukannya.


Memperhatikan tumpukan beberapa koin platinum di sudut meja kerjanya, Leo pun mulai berpikir.


'Akademi sihir.... Apakah mereka memiliki suatu jawaban untuk masalahku ini?'


Hanya dalam sekejap, akhirnya Leo pun segera berdiri dari duduknya. Memasukkan koin yang berceceran itu ke dalam kantungnya dan membawanya pergi.


"Selene, kita akan pergi. Persiapkan dirimu." Ucap Leo yang keluar dari ruangan itu.


"Kapan saja, Tuanku." Balas Selene yang dengan segera mengikuti langkah Leo.


"Leo? Kau mau kemana?" Tanya Artemis yang saat ini sedang bersantai dan memakan makanan ringan di lantai 1.


"Akademi sihir." Balas Leo singkat sambil membuka pintu penginapan itu. Meninggalkan Artemis di dalam.


"Berhati-hatilah!"


......***......


Leo meninggalkan penginapan itu. Kali ini, tujuannya adalah akademi sihir di Kota Venice ini.


Akademi sihir dapat dikatakan sebagai sebuah sekolah yang khusus untuk mengajarkan sihir. Meski begitu, persyaratannya sangatlah tinggi. Jika di bumi, mungkin akan setara dengan sebuah universitas.


Perbedaannya adalah tidak ada tingkat pendidikan di bawahnya seperti SMA di bumi.


Itulah mengapa hanya mereka yang berbakat dan cerdas saja yang bisa masuk ke dalam akademi sihir. Tentu saja, semua orang bisa mendaftar selama mereka memenuhi syarat.


"Jadi ini akademi sihir Aselica yang terkenal itu?" Tanya Leo pada dirinya sendiri.


"Aselica.... Satu dari 3 akademi sihir di kerajaan umat manusia. Kudengar Aselica melahirkan banyak sekali penyihir yang berbakat dalam bidang pendukung. Memberikan bantuan kepada orang lain di medan perang." Balas Selene.


"Hoo.... Kau tahu cukup banyak ya? Kalau begitu, ceritakan lagi padaku."


Mereka berdua pun berjalan mendekati gerbang akademi sihir yang dijaga oleh 4 orang Ksatria itu sambil terus berbincang.


Akademi itu sendiri memiliki luas yang sangat besar. Dengan taman yang luas serta bangunan yang tak hanya besar tapi juga cukup tinggi. Mungkin terdapat 8 lantai pada bangunan utamanya.


Desainnya pun begitu antik seperti kastil di abad pertengahan. Perbedaannya adalah akademi sihir tidak berfokus pada pertahanan, melainkan pada kapasitas dan kenyamanan orang-orang yang bekerja di dalamnya.


"Maaf, ada keperluan apa kalian disini?" Tanya salah seorang Ksatria.


"Aku ingin menanyakan sesuatu tentang sihir." Balas Leo singkat.


Setelah saling memandang dengan Ksatria yang lain, salah seorang Ksatria pun akhirnya mengangguk dan membalas perkataan Leo.


"Baiklah. Aku akan mengantarkan mu sampai di dalam."


"Terimakasih."


Leo, Selene, dan seorang Ksatria itu pun berjalan di sebuah jalan paving yang terlihat begitu indah. Bahkan penataannya begitu luarbiasa.


Batu yang memiliki pola segienam itu ditata sedemikian rupa sehingga menjadi jalanan yang tak hanya kuat tapi juga indah.


Di sisi kanan dan kiri pandangannya, terdapat dua buah menara yang menjulang tinggi seakan menembus langit. Bahkan Leo sekalipun keheranan atas bagaimana cara mereka membuatnya.


Setelah melihat-lihat selama beberapa saat....


Mereka bertiga pun memasuki bangunan utama dari akademi sihir ini. Di balik pintu besar yang menjaga bangunan itu, terdapat ruangan yang tak kalah megahnya.


Puluhan orang terlihat berjalan kesana kemari sambil membawa banyak kertas atau buku. Sedangkan beberapa petugas dan tenaga didik terlihat sibuk melayani murid-murid di akademi itu.


'Luar biasa....'


Hanya kalimat itulah yang muncul di pikiran Leo setelah melihat semua ini.


Tapi di saat Ia sedang mengagumi keindahan bangunan ini, Ksatria tersebut menuntunnya ke arah seorang petugas.


"Silakan. Tugasku hanya mengantar dan menjagamu dari gerbang hingga di sini." Ucap Ksatria itu sambil melangkah mundur, mempersilakan Leo untuk berbicara pada petugas yang ada.


Ia adalah seorang wanita yang tampak begitu menawan dengan rambut pendek berwarna hitam. Kacamata bulat yang tipis terlihat menghiasi wajahnya.


"Selamat datang di Akademi Sihir Aselica. Apa yang bisa kami bantu?" Tanya petugas itu dengan sikap dan senyuman yang begitu ramah.


Dengan segera, Leo pun mengutarakan tujuannya.


"Aku ingin menanyakan mengenai konsep dari Mana, dan bagaimana cara mengeluarkan kekuatan yang melampaui batasan dari Mana tubuh seseorang."


Senyuman petugas itu pun terlihat semakin lebar setelah mendengar perkataan Leo.


"Menarik. Sebelum itu, seberapa jauh kau telah memahami sihir itu sendiri?" Balas petugas itu sambil sedikit menyipitkan matanya dan memperlebar senyumannya.