E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 98 - Hasil Akhir



Setelah melalui ratusan percobaan, dan waktu yang lebih dari 8 bulan sejak percobaan awalnya, Leo akhirnya tiba di satu titik. Dimana Ia telah berhasil membuat senjata sihirnya.


Senjata ini telah disempurnakan dan melalui berbagai pengujian. Bagi orang dunia ini, mungkin mereka takkan mengenalinya.


Tapi bagi orang-orang yang berasal dari bumi, atau pahlawan itu sendiri, mungkin bentuknya cukup serupa dengan sebuah pistol.


Peluru yang digunakan adalah batu Mana yang terisi cukup banyak dan diletakkan di bagian belakang senjata. Pelatuk yang ada di bagian depan pegangan itu berfungsi untuk menarik hambatan yang mencegah Mana mengalir.


Jika ditarik, maka seluruh rangkaian Rune yang sangat rumit di dalam senjata itu akan aktif. Menembakkan sihir original Leo [Fire Lance]. Yaitu sebuah sihir api yang menyerupai sebuah tombak.


Sihir ini memang tak memiliki daya ledak yang besar. Tapi di sisi lain memiliki daya tembus yang luarbiasa. Bahkan dalam pengujiannya, Leo bisa menembus 3 buah zirah besi dan perisai yang tebal hanya dengan satu tembakan itu.


Sementara itu, bagian atas dari senjata itu dapat diputar setelah melepaskan kuncinya. Pemutaran bagian ini dapat mengatur tingkat kekuatan dari serangan yang dihasilkan hanya dengan merubah 1 huruf Rune yang tersusun di dalamnya.


Dengan sebuah batu Mana yang telah terisi penuh, senjata ini dapat menembakkan setidaknya 12 Fire Lance yang diperkuat sihir lain di dalam laras pistol itu.


"Fuuh...." Ucap Leo lega setelah menembakkannya beberapa kali ke arah 3 buah zirah besi dan perisai yang tebal itu.


"Kerja bagus, Tuan Leo. Dengan senjata ini, nampaknya anak kecil sekalipun dapat membunuh serigala besar." Balas Selene sambil merapikan zirah itu.


"Kau benar. Senjata ini memang cukup kuat. Ayo segera kembali dan bahas di dalam. Aku sudah mulai kedinginan." Balas Leo yang mulai memeluk dirinya sendiri setelah menyimpan senjata itu di sebuah kantung di sisi kanan pahanya.


Saat ini, musim dingin telah kembali tiba.


Leo sendiri mulai teringat kembali kenangannya pada saat masih dalam penderitaan perbudakan dahulu.


Tapi kehidupan nyamannya saat ini sudah mulai membuatnya lupa atas kesengsaraan itu.


Buktinya, Leo saat ini mengenakan pakaian yang lebih tebal daripada kain tipis yang dulu dikenakannya. Tapi entah kenapa, Ia merasa lebih kedinginan saat ini.


'Mungkin aku terlalu banyak merasakan hidup nyaman? Apapun itu, itu adalah pertanda yang bagus.' Pikir Leo dalam hatinya sambil berjalan melewati salju yang cukup tebal itu.


Setibanya di ruang kerja Roselia kembali, Leo melihat sosok wanita yang sedang bersembunyi di balik selimut tebalnya.


Nampaknya, Roselia memiliki satu kelemahan yang cukup fatal. Yaitu rasa malas yang luarbiasa ketika musim dingin tiba.


"Selamat datang kembali, Leo. Hebat juga kau bisa bertahan di balik hawa dingin ini." Sapa Roselia di balik 3 lapis selimutnya dan secangkir teh panas.


"Aku juga heran kenapa kau tidak tidur di dalam saja." Balas Leo singkat sambil melepaskan mantel bulu tebalnya.


"Bodoh! Jika kepala Akademi melihatku tiduran di dalam, aku akan kena masalah!"


"Bukankah saat ini tidak terlalu jauh berbeda?" Balas Leo sambil berjalan ke arah sebuah rak buku.


Ia terlihat sedang mencari sesuatu untuk dipelajari hari ini. Dan buku yang dipilihnya menyangkut mengenai pembuatan formasi sihir.


Di sisi lain, Selene terlihat melatih gerakannya berpedang dengan bantuan sihir angin.


Dengan jumlah Mana miliknya yang begitu besar, saat ini Selene bisa bertarung dalam kondisi yang diperkuat oleh sihirnya selama hampir 2 jam penuh. Membuat gerakannya tak hanya cepat tapi juga sangat tajam.


Pola bertarungnya sendiri lebih ke arah kelincahan dan membunuh lawan sebelum Ia sendiri terkena serangan. Cukup berbeda dengan Reina yang bertarung dengan menerima banyak serangan untuk memberikan kerusakan sebesar mungkin pada lawannya.


Di satu sisi, Selene lebih unggul melawan banyak lawan yang lemah. Sedangkan di sisi lain, Reina jauh lebih unggul jika melawan satu monster yang sangat kuat.


Meski begitu....


"Oh ya, aku berpikir untuk membuatkanmu dan Reina senjata dengan Rune ini. Apa yang kau mau?" Tanya Leo.


Selene terlihat menghentikan latihannya dan segera membalas.


"A-aku tidak perlu! Menerima benda berharga seperti itu...."


"Aku butuh agar kau bisa bertarung lebih baik lagi. Katakan saja." Balas Leo berusaha menepis alasan Selene.


"Ka-kalau begitu...."


Selene kemudian mendekat ke arah Leo. Menjelaskan apa yang diinginkannya. Yaitu sebuah busur yang diperkuat oleh Rune. Dan jika memungkinkan, menembakkan sihir tanpa anak panah.


"Dengan jumlah Mana milikmu, kurasa aku takkan membutuhkan batu Mana di dalamnya. Tapi kau yakin hanya itu?" Tanya Leo kembali.


"Baiklah." Balas Leo singkat sambil mulai mengumpulkan material yang dibutuhkan.


Pada saat itu, Leo teringat akan suatu hal.


"Ah, Selene. Benar juga. Aku sudah mulai memahami apa yang ku butuhkan untuk membuat Mana Link berhasil. Tapi sihir ini sedikit membutuhkan pengorbanan.


Aku takkan memaksamu jika kau memang tak mau. Tapi setelah semuanya selesai, kita berdua akan selalu terhubung dalam Mana. Bagaimana?" Tanya Leo yang masih mengumpulkan alat dan bahan itu.


Selene yang mendengarnya merasa sedikit terkejut. Dan tanpa ragu segera menanyakannya.


"Pengorbanan?"


......***......


...Di sisi lain...


...- Eastfort -...


Si tempat ini, badai salju yang terjadi jauh lebih buruk daripada di wilayah selatan. Dan karena itulah, Eastfort saat ini menjadi benar-benar tak bisa ditembus.


Dengan penerapan strategi perang persediaan, Feris berhasil sedikit memukul mundur pasukan iblis yang menyerbu Eastfort.


Apa yang dilakukannya sangatlah sederhana. Yaitu mengirim beberapa regu prajuritnya yang siap mati untuk membakar persediaan makanan para Iblis itu. Atau meracuni sumber air yang ada.


Hasilnya sangatlah efektif meskipun juga terkesan sangat kejam.


Eastfort bahkan bisa menang tanpa berperang. Ketika pasukan iblis itu lapar, mereka tak memiliki makanan untuk dimakan.


Dan ketika mereka haus, beberapa sumber air di wilayah Utara Eastfort telah dipenuhi dengan racun dan berbagai hewan parasit. Membunuh mereka secara perlahan.


Efek dari strategi kotor ini baru terlihat setelah hari ke tiga, dimana intensitas serangan iblis mulai memudar. Dan pada hari ke tujuh, sebagian dari mereka telah terjatuh ke tanah karena kelaparan atau keracunan.


Sebagian dari yang lain terlihat mundur dari Eastfort untuk mencari makanan dan minuman di wilayah Utara. Tapi sayangnya, waktu berkata lain.


Musim dingin yang tiba tepat setelah 2 Minggu penyerangan iblis di Eastfort seakan merupakan bantuan dari Dewi Fortuna itu sendiri. Membuat tak hanya hewan dan buah-buahan liar menipis, tapi juga air yang mulai membeku.


Membuat para iblis semakin kesulitan dalam bertahan hidup. Sementara itu, pasukan Eastfort masih terus menghujani mereka dengan anak panah dari balik hangatnya dinding pertahanan itu serta makanan dan minuman yang hangat.


Meski begitu, serbuan iblis itu masih tak berhenti. Mereka masih terus menyerang dengan pasukan yang seadanya.


Akan tetapi....


"Kita sudah memastikan bahwa wilayah Maelfall dan juga Mulderberg sama sekali tak mengirim pasukan." Jelas Duke Theodore.


"Aku akan mengeluarkan perintah mutlak kepada dua wilayah itu. Jika mereka tak menyerahkan dua pertiga dari pasukannya, dan juga biaya ganti rugi sebesar 25.000 koin platinum, maka kita akan berangkat berperang." Balas Feris yang sibuk memandangi beberapa berkas di hadapannya itu.


"Kalau begitu, Rustfell akan membantu Anda, Nona Feris." Balas Duke Achibald.


"Tunggu dulu! Kau sadar itu berarti akan memerangi 2 Duke yang lain bukan?! Mengingat kerugian kita dalam pertahanan kali ini...."


Dengan cepat, Duke Achibald segera memotong perkataan Duke Theodore.


"Tuan Theodore, kau tahu wilayahku masih memiliki banyak tenaga manusia bukan? Aku masih bisa menarik setidaknya 30.000 levies untuk perang ini."


Duke Theodore hanya bisa diam dalam kekesalan. Menarik levies, atau prajurit yang berasal dari orang-orang tak berpengalaman, sangatlah berbahaya.


Tak hanya bisa mengganggu keseimbangan daerah tersebut. Tapi juga bisa meningkatkan ketidakpuasan penduduk terhadap sang penguasa.


Tapi di sisi lain....


"Duke Achibald, aku berhutang padamu." Balas Feris singkat sambil menatap ke arah Pria berbadan cukup besar itu.


Sambil sedikit memainkan kumisnya sendiri, Duke Achibald nampak tersenyum lebar dan membalas.


"Tenang saja, Nona Feris. Lagipula, semua ini demi kejayaan umat manusia bukan?"