E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 31 - Petualang



'Kreeekk!'


"Aku kembali!" Teriak Artemis yang dengan cepat membuka pintu kamar Leo itu.


Leo yang melihatnya cukup terkejut. Bagaimana tidak....


"Hei, aku menghargai kerja kerasmu beberapa waktu ini. Tapi kenapa kau menjadikan kamarku sebagai markas utama? Bukankah kau juga memiliki kamar sendiri?" Balas Leo yang saat ini sedang melatih fisiknya.


Ia berusaha untuk mencari tahu seberapa cepat pertumbuhannya dengan memanfaatkan skill [Clairvoyance] miliknya.


"Bukankah sudah hal yang wajar untuk menjadikan rumah ketua Party sebagai markas utama?" Balas Artemis yang dengan santainya duduk di sebuah kursi lalu memakan buah yang baru saja di belinya.


Leo yang tak lagi memiliki kata-kata untuk membalas hanya terdiam dan melanjutkan push-upnya.


Akan tetapi....


"Hei, kenapa kau melakukan hal itu?" Tanya Artemis sambil menggigit buah apel itu.


"Melakukan apa?"


"Itu. Apakah kau berusaha meniduri lantai?"


Perkataan Artemis tentu saja membuat Leo memikirkan hal yang sama. Bagaimanapun, pose push-up yang dibuatnya sama sekali tak sempurna karena fisiknya yang lemah.


"Artemis. Bisakah kau sedikit memperbaiki sikapmu yang selalu asal menafsirkan sesuatu itu? Pertama nama, kedua pose latihanku. Berikutnya apa? Apakah gaya pakaianku seperti gelandangan sekarang?" Balas Leo yang segera berdiri dan menatap lawan bicaranya itu.


"Oh, jadi kau menyadarinya? Jujur saja pakaianmu sangat buruk."


Leo dengan kuat berusaha untuk menahan amarahnya. Tapi tanpa di sangka....


"Ini, aku membelikanmu sesuatu jadi gantilah pakaian busuk itu. Ah, aku juga menemukan pedang yang menarik barusan." Ucap Artemis sambil melempar sebuah kantung kain yang cukup besar ke arah Leo.


Tanpa menunggu jawaban, Artemis terus melanjutkan ceritanya tanpa henti. Ia memang merupakan seorang gadis yang ceria dan suka berbicara.


Sebuah hal yang cukup menyebalkan bagi Leo saat ini. Akan tetapi, keceriaannya itu sedikit demi sedikit mampu menerangi kegelapan yang saat ini memenuhi hatinya.


Hingga akhirnya, Leo mendengar suatu cerita yang membuatnya sendiri tak percaya.


"Kemudian kau tahu? Aku menemukan gadis ini di Guild Hall! Tubuhnya benar-benar penuh luka, bahkan melebihi luka yang kau alami waktu itu! Tentu saja, sebagai sesama gadis, aku menawarkannya jasa penyembuhan dengan potongan harga!


Yah, meskipun dia akhirnya cukup berbaik hati untuk membayar 1 koin emas untukku. Tapi kau tahu? Kabarnya gadis itu tak terlalu disukai oleh banyak petualang lain. Kemudian...."


Artemis meneruskan ceritanya tanpa peduli orang lain mendengarnya atau tidak. Tapi Leo sendiri memperhatikan seluruh ceritanya dengan baik.


Bagaimana pun, semua ceritanya adalah pecahan informasi kota dan dunia ini.


Selagi Ia melatih kemampuan fisik dan sihirnya, Leo akan dengan senang hati memperoleh radio gratis itu. Akan tetapi....


"Tunggu dulu, tubuhnya penuh luka? Seberapa buruk? Kenapa dia tidak disukai? Apakah dia kuat?" Tanya Leo yang dengan sengaja menghentikan latihan sit-up nya.


Artemis yang mendengar hal itu hanya bisa kegirangan karena akhirnya ada seseorang yang benar-benar berminat dengan ceritanya.


"Aaah! Kau mau tahu?! Tentu saja mau tahu kan?! Bagus! Dengarkan lah baik-baik!" Ucap Artemis yang segera menarik kursinya agar lebih dekat dengan Leo. Setelah itu, Ia pun menjawab pertanyaannya.


"Asal kau tahu, gadis itu memiliki tubuh yang sangat indah! Aku bahkan cukup iri dengan posturnya. Meskipun, banyak sekali bekas luka yang merusak keindahan itu. Sayang sekali aku tak bisa menghilangkan bekas luka sepenuhnya, tapi kemudian...."


Cerita panjang mulai keluar dari mulut Artemis. Sebagian besar hanyalah informasi yang tak berguna mengenai detail kejadian itu dan apa yang dipikirkan olehnya.


Tapi sebagian lagi....


"... dan hebatnya! Dia memburu 100 ekor Snow Wolf sendirian! Bukankah itu terlalu gila?! Asal kau tahu saja, meskipun itu ada 10 dirimu, kau akan mati tercabik-cabik oleh kawanan Snow Wolf! Mereka itu terlalu kuat di musim dingin! Kemudian...."


Leo yang mendengar hal itu pun sangat terkejut.


'Meski ada 10 diriku, aku hanya akan menjadi mangsa bagi monster itu? Bahkan hanya kawanan sebanyak 8 ekor sekalipun? Lalu apa-apaan dengan gadis itu?!' Pikir Leo dalam hatinya.


Apa yang terlintas di dalam pikirannya hanya satu.


Dia sangat menginginkan gadis itu untuk bekerja di bawahnya. Dengan kekuatan sebesar itu dalam genggamannya, Leo takkan pernah memperoleh masalah di masa depan.


Terlebih lagi....


"... lalu kau tahu?! Katanya gadis itu pernah membantai...."


"Artemis, tunggu sebentar. Apakah kau kenal dengannya? Dimana gadis itu sekarang?" Tanya Leo memotong perkataan Artemis.


Tapi Artemis dengan senang hati memperoleh pertanyaan itu dan kini memasang pose yang terlihat sedang berpikir keras.


"Hmm.... Aku lupa berkenalan dengannya, tapi aku dengan jelas menyebutkan namaku. Sedangkan untuk keberadaannya saat ini...."


"Dia masih di guild kan? Aku akan segera menemuinya dan...."


"Kurasa takkan ada gunanya." Lanjut Artemis sambil menarik lengan Leo yang terlihat siap untuk pergi itu.


"Apa maksudmu?"


"Gadis itu telah meninggalkan kota ini. Sesaat setelah tubuhnya sembuh, Ia kembali ke bagian administrasi Guild dan mengambil misi tingkat S." Jelas Artemis.


Tapi untuk saat ini....


"Misi tingkat S?"


"Ya, seluruh orang di Guild cukup terkejut dengan misi itu. Bagaimana tidak? Gadis itu baru saja mengambil misi untuk membunuh Wyvern di wilayah Maelfall." Jelas Artemis.


Seketika, tubuh Leo pun terasa cukup lemas. Bukan karena rasa kelelahannya. Tapi karena ketidakberdayaannya untuk setidaknya mencoba membujuk petualang itu.


'Sialan.... Maelfall ya? Terlalu jauh untuk musim dingin saat ini, apakah dia sudah gila?'


Setelah memikirkannya sejenak, Leo akhirnya menyerah terhadap petualang ini. Ia merasa peluangnya untuk merekrut orang sehebat itu cukup rendah dengan dirinya yang saat ini.


"... dan apakah kau tahu?! Wyvern adalah makhluk buas yang mengerikan! Mereka bisa terbang, menyerupai naga, tapi memiliki tubuh yang lebih kecil! Meski begitu memburunya bahkan membutuhkan 100 orang atau lebih! Pokoknya benar-benar monster yang sangat...."


'Bocah ini.... Kapan dia akan berhenti berbicara?' Pikir Leo dalam hatinya sambil menatap sinis ke arah Artemis.


Kehidupan baru yang damai dan membosankan pun kini telah menanti Leo atau Dimas untuk beberapa saat.


......***......


...- Eastfort -...


Di benteng terdepan umat manusia ini, puluhan ribu prajurit berbaris dengan rapi di dalam benteng dan dinding itu.


Sebuah benteng yang terletak di sisi Barat sebuah pegunungan yang curam. Menjadikannya sebagai lokasi sempurna untuk menahan serbuan dari para Iblis di Utara.


"Grrooaaaarr!!!"


Seekor monster dengan tubuh setinggi 6 meter dan memiliki satu mata itu berjalan ke arah dinding sambil membawa sebuah pemukul batu yang besar.


Bersamaan dengan dirinya, ribuan Iblis yang lain dari berbagai ras dan juga ukuran ikut menyerbu.


"Tahan serangan ini! Jangan lupa bahwa ini adalah dinding terkokoh umat manusia! Jika dinding ini runtuh, maka umat manusia takkan lagi memiliki masa depan!" Teriak seorang wanita dengan penampilan yang terkesan tomboi itu.


Ia berusaha dengan keras untuk menaikkan moral seluruh pasukan yang ada dalam benteng itu.



Ia memiliki rambut hitam panjang yang dikepang serta seragam militer yang cukup unik. Lebih dari itu, Ia mengenakan sebuah kacamata yang cukup jarang dilihat di dunia fantasi ini.


"Nona Firis, Raja ingin bertemu dengan Anda." Ucap seorang Ksatria yang datang ke arah wanita itu.


"Di saat yang seperti ini? Dasar raja tak berguna." Ucap wanita itu kesal. Meskipun, Ia tetap berjalan menuruni tangga itu.


Sebelum Ia meninggalkan dinding pertahanan ini....


"Alicia, bantu mereka menahan serangan ini." Ucap wanita itu kepada seorang gadis yang mengenakan seragam putih dan rambut panjang terurai berwarna merah muda itu.


Di tangan kanannya terdapat sebuah pedang satu tangan yang indah dan terlihat begitu tajam.



"Tanpa perintahmu sekalipun aku juga berniat untuk memenggal para Iblis itu." Balas wanita bernama Alicia itu. Setelah menjawab perkataan Firis, Ia segera melompat keluar dari dinding.


Kini, Alicia berdiri di hadapan dinding. Menghadapi ribuan Iblis sendirian tanpa perlindungannya.


"Merepotkan sekali.... Bisakah aku tidur dengan tenang setelah ini?" Ucap Alicia sambil segera berlari ke arah kerumunan Iblis itu.


"Semuanya! Nona Alicia telah maju! Dukung dia!" Teriak komandan pasukan sambil memerintahkan kepada regu pemanah untuk segera menembak.


'Jleebbb! Jlebb! Jleebb!'


Ribuan panah melesat ke arah barisan para Iblis itu. Sebagian besar meleset, tapi bagi yang mengenai targetnya maka akan memberikan luka yang cukup dalam.


Sementara itu....


'Tap! Swuussh!'


Alicia melompat tepat ke arah Iblis bermata satu itu. Tangan kanannya telah siap untuk mengayunkan pedangnya, dan dengan cepat....


'Sraassshh!'


Tebasan pedang satu tangan itu segera memenggal leher Iblis setinggi 6 meter itu dengan sangat mudah.


Tubuhnya yang tak lagi bernyawa pun segera terjatuh dan menimpa banyak Iblis lainnya.


"Merepotkan sekali...." Ucap Alicia sambil memandangi pakaiannya yang kini kotor karena terkena banyak darah.


Dan begitulah....


Situasi yang terjadi di benteng Eastfort setiap harinya.


Sebuah benteng yang pada hari ini dijaga oleh 2 pahlawan pilihan Dewi Cyrese. Yaitu Firis dan juga Alicia.