
'Sreeettt!!'
Filya melangkah dengan sangat cepat ke arah Leo. Kecepatannya benar-benar jauh melampaui dari semua yang pernah dilihatnya. Bahkan Selene sekalipun seakan seperti pejalan kaki yang lambat di hadapan Filya.
Leo yang hampir tak mampu untuk bereaksi hanya bisa mengarahkan pistolnya ke arah Filya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya segera dalam posisi bertahan.
'Daaarrrr!!'
Hanya dalam sekejap, Filya mampu menghindari tembakan itu sesaat sebelum ditembakkan. Kini Ia dalam posisi yang rendah dengan kedua tangan yang menyentuh lantai.
Dengan cepat, Filya memutar tubuhnya dan memberikan tendangan yang kuat kepada Leo.
'Bruuuukk! Swuuuussshh! Braaakkk!'
Hanya dengan tendangan satu kakinya. Tapi Leo telah terlempar puluhan meter lebih dan menembus beberapa dinding hingga keluar dari bangunan ini.
Leo segera terjatuh di bagian luar dari bangunan itu, dan terpuruk di tanah.
Banyak prajurit yang melihatnya nampak kebingungan. Tapi Leo sama sekali tak memikirkannya. Tidak....
Saat ini, pikiran Leo hanya ada satu hal.
'Ini buruk!'
Tubuhnya merinding ketakutan setelah melihat lengan kirinya yang patah itu. Sekalipun itu untuk menahan dari serangan lawan, Leo sama sekali tak menyangka bahwa lengan kirinya akan patah hanya dari satu tendangan saja.
Terlebih lagi, sekujur tubuhnya terasa begitu kesakitan setelah menembus beberapa dinding itu.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya salah seorang prajurit yang berjalan mendekati Leo.
"Perintahkan semua orang untuk pergi! Bagi siapapun yang...."
Sebelum Leo sempat menyelesaikan perkataannya, seseorang nampak kembali terlempar dari bangunan itu.
Tapi itu bukanlah Feris. Melainkan Filya itu sendiri dalam wujud Iblisnya.
Dengan wajah yang nampak mulai meneteskan darah, serta tubuh yang terlihat memiliki banyak luka, Filya dengan segera berdiri dan terbang ke udara.
Di ujung dari lubang yang ada di dinding bangunan tersebut, Feris nampak berdiri dengan tenang. Tangan kanannya nampak memegang sebuah pedang dengan bilah yang berwarna hitam gelap.
"Lari? Tentu saja, hanya sebesar itu lah kemampuan kalian." Ucap Feris yang terlihat berusaha untuk memprovokasi Filya.
Dengan wajah yang mulai memerah karena merasa sangat dipermalukan itu, Filya hanya terus terbang lebih tinggi.
'Pedang itu.... Kenapa ada di tangan manusia? Tidak.... Kenapa....'
Filya terus memikirkan atas apa yang baru saja terjadi sebelumnya. Ia sangat yakin bahwa tangan kanannya hampir merobek wajah dari Feris saat itu.
Tapi secara tiba-tiba, dirinya justru terlempar ke tanah dengan sangat kuat serta tubuh yang penuh luka.
Leo yang melihat kejadian ini tentu tak hanya diam. Ia membidik ke arah Filya yang terbang di udara itu. Berkat Enchantment di mata kanannya, akurasi tembakan dan penglihatan Leo benar-benar tinggi.
Bahkan bisa menyamai pemanah yang ahli seperti Selene sekalipun.
Setelah Leo merasa yakin dengan bidikannya, serta mulai hafal dengan kebiasaan gerakan Filya, Ia pun menembakkan beberapa peluru sihir.
'Daarr! Daarrr! Daaarr! Daarrr!!'
Setiap tembakan membuat pistol milik Leo sedikit terangkat ke atas. Membuatnya harus membidik ulang dengan cepat.
Dan dari 4 tembakan itu, Leo berhasil mendaratkan satu buah serangan tepat ke arah sayap dari Iblis itu.
"Kuuugghh! Sialan!" Teriak Filya dengan kesal karena tak lagi mampu untuk terbang dengan baik. Atau dengan kata lain, harapannya untuk kabur dari Eastfort sudah menjadi mustahil untuk dilakukan.
'Braakkk!'
Karena tak lagi mampu terbang, Filya pun terjatuh ke atap salah satu bangunan di benteng ini. Tapi Ia masih belum selesai. Dengan gerakannya yang cepat, Filya dengan segera berlari kembali untuk kabur sejauh mungkin dari benteng Eastfort ini.
"Cih!" Keluh Leo setelah menyadari bahwa Filya masih bisa kabur.
"Semuanya! Kejar dia!" Teriak Feris yang juga dengan segera berlari untuk mengejar Filya.
Tapi ada satu hal yang membuat Leo kebingungan.
'Apakah Feris memang sekuat itu? Walaupun hanya sesaat, tapi status dari Iblis itu setidaknya 3 kali lipat lebih tinggi daripada Reina.' Pikir Leo dalam hatinya.
Dengan terus memikirkan hal itu, Leo masih tetap berlari berusaha untuk mengejarnya.
Beberapa tembakan nampak dilancarkan oleh Leo, tapi hampir tak ada satu pun yang kena karena Ia masih belum terbiasa menembak sambil berlari.
"Leo, terimakasih untuk sebelumnya." Ucap Feris yang kini berlari di sebelah Leo.
"Tapi apakah kau memiliki cara untuk menghentikannya? Jika terus seperti ini...."
Di hadapan kedua orang itu dan ratusan prajurit lainnya, langkah kaki Filya terlalu cepat. Bahkan hampir tak mungkin untuk di susul.
Jika terus seperti ini, kemungkinan Filya akan segera keluar dari benteng ini dan kabur ke tanah para Iblis.
Pada saat harapan mulai menipis....
Seorang wanita dengan rambut perak yang panjang dan indah terlihat berdiri di puncak salah satu menara di benteng itu.
Dengan tangan kirinya yang memegang busur Mithril yang indah dengan banyak alur biru yang terkesan misterius itu, Ia menarik sebuah anak panah dengan tangan kanannya sekuat mungkin.
Di hadapan mata kanannya, 3 buah lingkaran sihir berukuran kecil nampak muncul. Meningkatkan penglihatan dan juga jarak pandang secara drastis.
Lingkaran sihir itu adalah salah satu sihir Original milik Leo yang memanfaatkan konsep dari lensa itu sendiri.
Dengan elemen air, sihir pendukung ini mampu meningkatkan kemampuan penglihatan penggunanya hingga beberapa kali lipat, serta tingkat perbesaran untuk penglihatan jarak jauh mencapai 20 kali lipat.
Atau dalam kalimat sederhana, jarak sejauh 100 meter hanya terasa seperti jarak sejauh 5 meter bagi wanita bernama Selene itu.
Tanpa sepatah kata pun, Selene akhirnya melesatkan anak panahnya yang telah diperkuat oleh sihir angin dan petir itu.
'Swuuuusshhhh!!!'
Dengan kecepatan yang luarbiasa tinggi, anak panah itu menempuh jarak ratusan meter dalam sekejap dan mengenai targetnya dengan mudah.
'Jleebbbb!!!'
Tembakan panah Selene sedikit meleset karena peningkatan kecepatan gerak Filya yang mendadak. Hasilnya, panah yang seharusnya mengenai jantungnya, kini hanya mengenai paha kirinya.
Tak hanya menancap, anak panah itu menembus paha kiri Filya hingga membuat sebuah lubang yang cukup besar.
Darah pun berceceran ke tanah. Serta pergerakan Filya yang dengan segera terhenti.
"Aaarrrgghhh!!! Manusia sialan!!!" Teriak Filya kesakitan sambil menyentuh luka di paha kirinya itu.
Leo yang melihat kesempatan ini segera mengisi ulang pistolnya dengan batu Mana yang baru. Lalu menembakkan 3 buah peluru sihir yang mengenai di bagian pundak, lengan kiri, dan juga kaki kiri Filya.
Serangan itu membuatnya semakin tak mampu untuk bergerak.
Sementara itu, Feris telah masuk dalam posisi yang siap sepenuhnya. Ia segera mempercepat langkah kakinya dan melompat ke arah Filya berada.
Arah tebasannya sempurna.
Kekuatannya jauh lebih dari cukup.
Dan targetnya kini hanya duduk dalam diam, dengan tubuh yang penuh dengan luka.
Dalam satu tebasan itu, seharusnya Filya akan segera mati.
Tapi kenapa?
'Klaaangggg!!!'
Tiga buah pedang dan sebuah perisai nampak menahan tebasan dari Feris. Mereka berempat tak lain adalah ksatria tingkat tinggi yang berada di benteng ini. Parahnya lagi....
"Duke Achibald? Apa yang kau lakukan?"
Dengan tatapan yang kosong, Duke Achibald sama sekali tak menjawab pertanyaan Feris. Begitu pula tiga Ksatria yang lainnya.
Seakan-akan.... Mereka sama sekali tak memiliki kesadaran.
"Kukuku.... Kalian pikir telah menang? Aku akui, aku memang lemah dibandingkan kalian. Tapi bagaimana dengan ini?!" Teriak Filya sambil melepaskan sihir yang aneh.
Filya terlihat membutuhkan cukup banyak waktu untuk mengaktifkan sihir ini, termasuk juga pemenuhan kondisi yang dibutuhkan untuk mengaktifkannya. Dan semua itu telah tercapai selama Ia berusaha untuk kabur.
Sihir yang seperti gelombang kejut dengan cahaya merah muda yang indah itu dengan cepat menyebar ke segala arah di benteng ini.
Di saat yang bersamaan, semua ksatria dan prajurit yang mampu melihat dan berjenis kelamin laki-laki, atau terkena gelombang yang menyebar secara melingkar di benteng ini, dengan segera mulai kehilangan akalnya.
Kecuali orang-orang dengan daya tahan sihir yang cukup tinggi, semuanya nampak terjatuh.
Jatuh dalam sihir Succubus itu. Sebuah sihir, yang dengan seketika membuat mereka semua jatuh hati secara paksa kepada dirinya.
"Semuanya! Bunuh siapapun yang menggangguku! Jika kalian melakukannya, aku akan memberikan hadiah yang besar!" Teriak Filya, kini dengan tubuh yang terlihat begitu lemas dan kelelahan.
Dan saat ini, benteng Eastfort yang seharusnya menjadi tempat paling aman di kerajaan manusia, seketika berubah menjadi sebuah neraka.