E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 20 - S Rank Skill : Enchanter



Dimas segera mencoba skill barunya, yaitu [Enchanter] untuk mengubah kondisi kain tipis yang dikenakannya.


Cara penggunaan dari skill itu sendiri seakan tertanam di dalam kepalanya secara langsung semenjak Ia memperolehnya.


'Tap!'


Dengan meletakkan tangannya di pakaian tipis itu, Dimas memejamkan kedua matanya dan berusaha untuk fokus.


'Fokuskan aliran Mana ke dalam telapak tangan.... Lalu bayangkan hal apa yang ingin ku tambahkan atau ku kurangi dalam pakaian ini....'


Beberapa 'pekerja' lain mulai mengabaikan Dimas atau nomor 30 itu dan kembali beristirahat di tempat mereka masing-masing.


Beberapa puluh detik berlalu dengan Dimas yang tetap terdiam pada pose yang sama. Tapi tak ada perubahan atau perkembangan apapun dalam penggunaan skill [Enchanter] miliknya.


'Sialan.... Menggunakannya secara langsung jauh lebih rumit daripada yang ku bayangkan.' Keluh Dimas dalam hatinya.


Dimas terus berusaha untuk melakukannya.


Tapi seberapa lama pun Ia mencoba, apa yang dilakukannya selalu gagal.


Aliran Mana telah berhasil diarahkan ke tangannya. Akan tetapi, sihir yang diinginkannya sama sekali tak aktif.


Tepat setelah 20 menit mencoba, Dimas akhirnya berhenti dan memutuskan untuk mendinginkan kepalanya. Ia merasa ada sesuatu yang salah dalam metode yang dilakukannya.


'Bruuukk!'


Setelah melemparkan tubuhnya ke tanah, kedua tangannya menutupi wajahnya. Berusaha untuk menenangkan pikirannya yang saat ini sedang dalam kemelut.


'Tenangkan dirimu.... Kau takkan mati disini....'


Meski berkata seperti itu, ujung jarinya telah mulai membeku. Warna kulitnya mulai memucat, bahkan pada beberapa bagian seakan berwarna biru.


Giginya tak kunjung berhenti untuk gemetar. Sedangkan tubuhnya tak lagi mampu dikendalikan dengan mudah karena hawa dingin ini.


Dimas telah sedikit melupakannya selama berada di dunia Surgawi barusan. Tapi hawa dingin ini benar-benar tak bisa diremehkan.


Jika disetarakan, suhu di dalam tambang saat ini mencapai negatif 40 derajat Celcius. Sedangkan suhu badai salju yang ada di luar mencapai negatif 60 derajat Celcius atau mungkin lebih rendah lagi.


Sebuah suhu yang sangat mematikan, terlebih lagi bagi orang yang tak memperoleh makanan layak selama beberapa hari ini.


'Tenangkan dirimu.... Orang-orang di Bumi juga menghadapi suhu dingin yang sama di belahan Utara, nyatanya mereka masih hidup bahkan membangun kota. Jadi aku takkan mati kedinginan disini....' Ucap Dimas dalam hatinya dengan tubuh yang terus menggigil.


Bahkan bulu matanya saat ini mulai menjadi es karena hawa yang terlalu dingin.


Di tengah suasana yang mematikan ini, apa yang bisa dilakukannya adalah setidaknya menjaga mentalnya tetap utuh.


Jika semangatnya patah dan mulai menyerah pada kondisi ini, maka kematian akan dengan segera menjemputnya.


Berbeda dengan kondisi tubuhnya yang mulai sekarat itu, pikiran Dimas saat ini benar-benar fokus. Ia mencoba membayangkan apa saja yang perlu dilakukan untuk membuat sihir Enchanting ini berhasil.


Metodenya ada di dalam kepalanya.


Energi Mana yang cukup juga ada di dalam tubuhnya.


Apa yang diperlukannya saat ini hanyalah melakukannya dengan benar.


Sambil menghembuskan nafasnya, Dimas sekali lagi meletakkan tangan kanannya pada pakaian kain tipis yang dikenakannya itu.


Dalam pikirannya, sedang berlangsung proses yang cukup rumit. Tapi Ia menyederhanakannya menjadi sebuah kalimat.


'Pakaian sialan.... Jadilah hangat untukku.' Ucap Dimas dalam hatinya sambil memejamkan matanya.


Pada saat itulah....


Sebuah cahaya kemerahan yang indah muncul tepat di telapak tangannya. Bersamaan dengan itu adalah sebuah lingkaran sihir yang seukuran dengan telapak tangan.


Cahaya dan lingkaran sihir itu menjadi semakin terang setiap detiknya. Sedangkan pakaian yang dikenakannya seakan-akan mulai menyerap cahaya merah itu ke dalamnya.


Dimas yang sedang memejamkan kedua matanya tak melihat hal itu. Tapi Ia merasakannya.


Sebuah perasaan dimana telapak tangannya terasa begitu hangat, dan semburat cahaya merah yang menembus kelopak matanya. Menyinari kegelapan di dalam tambang ini.


Cahaya itu berlangsung selama sekitar 10 detik.


'Tiikk.... Tikk....'


Beberapa tetes air seakan menetes dari tubuh Dimas.


Ia yang menyadarinya segera membuka kedua matanya untuk memastikan apa yang baru saja di dengarnya.


Dan apa yang dilihatnya....


'Yang benar saja?! Ini berhasil?!' Teriak Dimas dalam hatinya sambil membuat senyuman yang lebar.


Hawa dingin yang sebelumnya dirasakan olehnya segera menghilang. Saat ini, semua hawa dingin tersebut tergantikan oleh suasana hangat yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


Bulu matanya yang membeku, kini telah mencair dan kembali seperti sedia kala.


Sedangkan tubuhnya tak lagi menggigil. Ia bahkan merasa hangat di tengah suasana dingin ini.


Sebuah fenomena yang jauh melampaui ekspektasinya.


'Aku hanya berharap bahwa sihir ini bisa sedikit meningkatkan properti suatu barang.... Tapi tak ku sangka akan sejauh ini....'


Apa yang diharapkan oleh Dimas hanyalah membuat pakaiannya menjadi sedikit lebih tahan terhadap dingin.


Tapi pada kenyataannya, selembar kain tipis itu saat ini bahkan jauh lebih hangat daripada 5 lapis pakaian kulit dan bulu yang tebal. Sampai-sampai Dimas merasa sedikit terlalu hangat dengan pakaiannya.


Fenomena ini dengan segera membuka pikirannya terhadap peluang potensi yang ada.


Meningkatkan ketajaman senjata. Meningkatkan ketahanan zirah. Membuat sebuah benda lebih berharga. Memberikan daya tahan sihir terhadap suatu aksesoris.


Peluang yang ada sama sekali tak terbatas. Bahkan hanya dengan skill ini, Ia sangat yakin mampu menggoncang seluruh keseimbangan dunia ini.


'Pilihanku sangat tepat!'


Tapi pada saat hal itu terlintas dalam pikirannya, kesadarannya seakan sedikit memudar.


Pandangannya menjadi kabur, dan tubuhnya mulai terasa ringan.


'Brruukk'


Tanpa kuasa, tubuhnya terjatuh ke samping. Tak lagi mampu untuk bergerak.


'Eh?! Apa yang terjadi?! Apakah aku.... Akan.... Pingsan....'


Itulah hal terakhir yang terlintas dalam pikirannya sebelum kehilangan seluruh kesadarannya.


Kedua matanya mulai tertutup, sedangkan nafasnya mulai melambat.


Apa yang terjadi padanya adalah sebuah fenomena yang cukup umum terjadi. Yaitu kehabisan Mana.


Ia yang sebelumnya tak pernah menggunakan sihir. Jadi meskipun Mana miliknya sangat rendah, Dimas takkan pernah mengalami masalah ini.


Tapi pada saat ini, Dimas menggunakan terlalu banyak Mana untuk meningkatkan properti pakaiannya dengan menggunakan skill Enchanting.


Bahkan meskipun energi Mana miliknya telah meningkat karena skill [Mana Affinity] tingkat B, energi Mana dasar miliknya sangatlah rendah.


Peningkatan sebesar 200% atau 300% sekalipun hanyalah jumlah yang sangat kecil bagi dirinya.


Itulah mengapa Ia memperoleh label sebagai pahlawan tingkat E. Tak hanya kemampuan fisik, tapi ternyata kemampuan sihirnya juga sangat rendah.


Ditambah lagi, Ia mengalami kekurangan nutrisi yang sangat parah hingga mempengaruhi Mana dalam dirinya.


Meskipun.... Itu adalah sebuah pertanda yang bagus.


Kehabisan Mana adalah sebuah pertanda awal dimana penyihir dapat berkembang. Salah satu cara paling efisien untuk mengembangkan energi Mana dalam diri seseorang adalah dengan terus menggunakannya sampai habis.


Setelah itu, jumlahnya akan semakin berkembang. Sama seperti apa yang sedang dialami Dimas saat ini.


Saat ini....


Dimas memperoleh tidur yang cukup nyenyak. Mempersiapkan dirinya secara paksa untuk hari esok.