
“Heee.... Jadi begitu?” Tanya Leo yang berjalan lemas meninggalkan kedai makan itu.
Ingatannya sedikit buram atas apa yang baru saja terjadi di dalam. Penyebabnya tak lain adalah karena Ia terlalu menikmati hidangan yang disajikan. Membuatnya lupa diri dan makan sesuai dengan begitu lahap.
“Itu benar, Tuan Leo. Menurut pernyataan Ferry, Artra mengatakan bahwa salah seorang koki merupakan mantan juru masak di istana salah seorang bangsawan.” Jelas Selene sambil tersenyum begitu lebar.
“Begitu kah? Sialan....” Balas Leo sambil terlihat sedikit kesal.
Selene yang mendengar jawaban dari Leo terlihat kebingungan. Kenapa Tuannya malah kesal dengan situasi ini?
“Maaf tapi.... Kenapa kau terlihat kesal, Tuan Leo?”
“Kenapa kau tanya? Apakah kau tak lihat? Mantan juru masak bangsawan? Dibuang karena dituduh memasukkan racun? Lalu jatuh di perbudakan dan aku secara tak sengaja mendapatkannya? Parahnya lagi dia terlihat bahagia dengan pekerjaan ini?
Apalagi jika bukan terlalu beruntung?! Sialan.... Setiap kali aku mengalami hal ini, aku selalu mendapat kesialan besar setelahnya.” Balas Leo sambil terus memperhatikan sekelilingnya.
Selene hanya bisa tertawa mendengar jawaban itu. Karena baginya, ini adalah pertama kalinya orang akan menganggap keberuntungan sebagai penanda kesialan.
Hanya beberapa langkah mereka berjalan ke arah penginapan itu. Sedikit lagi mereka akan segera sampai.
Akan tetapi, langkah kaki Leo segera berhenti. Tatapannya menjadi kaku.
Selene yang melihatnya pun segera ikut berhenti, bingung atas apa yang terjadi pada Tuannya. Tapi jawabannya segera muncul sesaat kemudian.
“Apa kubilang. Kesialan besar pasti akan mendatangiku.” Ucap Leo sambil memandangi sosok wanita dengan rambut hitam keunguan yang dikepang. Ia terlihat sedang duduk di beranda penginapannya sambil meminum secangkir teh dan membaca buku.
“Feris....” Balas Selene dengan suara yang cukup lirih.
Setelah mempersiapkan dirinya, Leo pun segera berjalan ke arah penginapannya. Bersiap untuk menghadapi apapun yang akan terjadi ketika bertemu dengan Feris.
Bahkan sebelum Leo menaiki tangga masuk penginapan itu....
“Bagaimana liburanmu di Desa Rarth? Semua berjalan lancar?” Tanya Feris sambil tetap membaca buku itu.
Wajahnya terlihat sama sekali tak melirik ke arah Leo. Tapi Ia seakan bisa mengetahui tepat dimana lokasinya berada saat ini.
“Selene, masuk lah terlebih dahulu.” Bisik Leo.
“Tapi Tuan....”
“Tenang saja. Serahkan padaku.”
Setelah itu, Selene segera mempercepat langkah kakinya dan masuk ke dalam penginapan itu. Meninggalkan Leo sendirian bersama dengan orang yang dianggapnya paling berbahaya itu.
‘Tap! Tap! Tap!’
Leo melangkah secara perlahan dan duduk dengan jarak 2 kursi dari Feris. Setelah Ia memposisikan dirinya dengan baik, Leo pun segera bertanya.
“Apa maumu? Bukankah batas pengirimannya masih 10 hari lebih?” Tanya Leo.
“Hmm.... Tak suka basa-basi ya? Yah, tak masalah bagiku. Kau juga pasti masih lelah setelah perjalanan sejauh itu.” Balas Feris.
“Artemis mengatakannya padamu?” Tanya Leo kembali.
Kali ini, Feris terlihat sedikit mengalihkan pandangannya dari buku yang dipegang tangan kanannya itu. Matanya terlihat melirik ke arah Leo dengan tajam.
“Tidak, aku bahkan belum masuk ke dalam.”
“Lalu bagaimana kau bisa tahu?”
Kali ini Leo mulai merasa ngeri. Bisa saja Feris memang mengetahui hal itu dari Artemis dan berpura-pura untuk tidak menanyakannya. Tapi sebaliknya....
“Anggap saja aku punya banyak telinga dan mata di kerajaan ini. Sekarang, masalah utama. Leo, apakah kau melihat sesuatu sekitar 17 hari yang lalu?” Tanya Feris dengan tatapan yang tajam.
“Melihat sesuatu?”
Leo dengan cepat menangkap apa yang dimaksud oleh Feris. Jika sebuah pertanyaan melihat sesuatu saja, mungkin Ia masih kebingungan.
Tapi jika rentang waktunya dipersempit khusus untuk hari itu saja....
‘Haruskah aku berbohong? Tidak.... Membuat kebohongan besar padanya terlalu berbahaya.... Terlebih lagi....’
Leo segera teringat mengenai sosok Igor yang bahagia dengan kehidupan sederhananya di desa. Jika saja Feris mengetahui Leo menyembunyikan sesuatu, mungkin Ia akan segera menggalinya hingga ke sana.
Dan mengingat sikapnya yang dingin dan tegas itu, mungkin Feris benar-benar akan melakukan apapun untuk tujuannya.
Benar.
Hanya untuk memastikan apakah dirinya melihatnya atau tidak, Ia benar-benar datang kemari sendirian. Itu karena hanya dirinya yang bisa memastikannya secara langsung.
Oleh karena itu....
‘Dewi, maaf.... Tapi pesanmu akan ku sampaikan lain waktu. Igor.... Kau berhutang budi padaku.’ Pikir Leo sambil segera bersiap menjawabnya.
Ia tak lagi bisa berpura-pura sedang berpikir untuk selamanya.
“Aku tak tahu apa yang kau maksud dengan melihat sesuatu.... Tapi sekitar 2 Minggu lalu, aku melihat sesuatu yang aneh.” Balas Leo.
Mendengar jawaban itu, kedua mata Feris yang biasanya selalu tenang kini terlihat sedikit melebar meskipun hanya sesaat. Dengan cepat Ia kembali menekan emosinya agar tetap tenang.
“Sesuatu? Katakan padaku.” Ucap Feris dengan nada yang dingin seperti biasanya.
“Tumpukan mayat di bawah cahaya bulan, dengan seorang Iblis bermata merah darah dan satu tanduk di atas semuanya.” Jelas Leo dengan sikap yang tenang.
Kali ini, Feris tak lagi mampu menjaga ketenangannya. Ia secara tak sadar membuka matanya lebar-lebar untuk beberapa saat sebelum menutup bukunya.
Untuk menenangkan dirinya, Ia mengangkat cangkir teh itu dan meminumnya.
‘Benar juga.... Apakah dia membawa cangkir teh itu dari luar jauh-jauh ke tempat ini? Tentunya Artemis atau yang lain menyiapkannya bukan?’ Pikir Leo dalam hatinya sambil memperhatikan semua gerak-gerik Feris.
“Hmm.... Begitu ya? Nampaknya pemandangan itu hanya bisa dilihat oleh pemilik Clairvoyance. Selain dirimu aku juga menemukan seseorang yang melihatnya. Dan dia juga memiliki kemampuan Clairvoyance meskipun hanya seorang kapten pasukan.” Balas Feris panjang lebar.
“Lalu? Apa yang akan kau dapat dengan menemuiku di sini?” Tanya Leo singkat.
Jika Feris memang telah mengetahui bahwa ada orang lain yang melihat pandangan itu, memangnya kenapa? Apa yang akan bisa dirubahnya dengan fakta itu?
Lagipula pembicaraan ini juga takkan menjawab apa yang muncul dalam penglihatan itu.
Hanya saja....
“Aku hanya ingin tahu. Lagipula, aku memang sedang ada keperluan di Kota ini sejak 2 hari yang lalu. Kebetulan saja kau kembali ke sini saat aku masih di kota ini.” Balas Feris sambil segera berdiri.
“Tunggu! Kau mau pergi? Begitu saja?” Tanya Leo.
“Ya. Lagipula informasi itu sudah cukup bagiku. Terlebih lagi....”
Feris terlihat menghentikan langkahnya setelah berjalan meninggalkan penginapan ini.
Dengan membalik badannya serta memberikan tatapan yang cukup dingin, Feris pun melanjutkan perkataannya.
“Nampaknya umat manusia akan segera memenangkan peperangan abadi ini. Tim ekspedisi kami melihat perang saudara yang besar di wilayah kekuasaan Iblis. Saat ini kami masih menunggu waktu yang tepat sambil mengumpulkan kekuatan....
Tapi siapapun yang memenangkan perang saudara itu, kami akan menghabisinya dalam kondisi yang masih terluka. Jadi kau cukup terus bekerja meningkatkan persenjataan kami selama persiapan ini.” Jelas Feris panjang lebar yang kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya.
Mendengar semua penjelasan itu, Leo tak lagi mampu berkata-kata. Tapi jika Ia sama sekali tak berbicara seakan telah mengetahuinya, itu juga merupakan hal yang buruk. Bisa jadi Feris akan meletakkan lebih banyak rasa curiga pada dirinya.
Untuk itulah....
“A-apa yang kau bilang?! Kau mengatakan yang sebenarnya?! Apakah kami akhirnya bisa hidup dengan damai?! Syukurlah....” Teriak Leo sambil memasang wajah yang begitu bahagia. Tak lupa tangan kanannya terlihat mengelus dadanya sendiri.
Feris yang melihat reaksi Leo itu terlihat sedikit mendecakkan lidahnya.
‘Cih.... Jadi dia memang tak tahu apa-apa ya? Ku pikir dengan skill setinggi itu kau adalah pahlawan, yang mungkin tahu mengenai hal ini. Hah.... Kau benar-benar sangat beruntung memiliki skill tingkat S itu. Tapi maaf saja karena aku akan tetap memanfaatkannya sebaik mungkin untuk manusia.
Sedangkan kemampuannya.... Nampaknya sedikit berkembang? Kurasa aku bisa meningkatkan lagi kuotanya setelah 3 bulan.’ Pikir Feris sambil menatap tajam ke arah Leo.
Begitu pula Leo yang saat ini masih terus menatap ke arah Feris. Memperhatikan setiap detail dari gerak-geriknya di balik topeng seseorang yang bahagia atas berita besar itu.
‘Wanita sialan itu.... Apakah telinga dan matanya benar-benar sampai di berbagai tempat, bahkan di wilayah iblis sekalipun?’
Di saat Leo masih berpikir mengenai hal itu, salah seorang pelayan wanita dari dalam penginapan itu terlihat keluar dari pintu sambil membawa nampan kayu.
Leo belum pernah melihat wajahnya. Tapi entah bagaimana wanita itu bisa bekerja di tempat ini.
“Uuh.... Anda adalah Tuan Leo? Wanita yang sebelumnya... Dia sudah pergi?” Tanya pelayan itu dengan malu-malu.
“Begitulah.” Balas Leo sambil berdiri.
Pada saat itulah, Ia melihat pelayan itu mengambil kembali gelas Feris yang masih memiliki sedikit sisa teh itu dan meletakkannya di atas nampannya. Bermaksud untuk merapikan meja tersebut.
‘Jadi begitu cara mu bermain, Feris....’ Pikir Leo dalam hatinya sambil tersenyum tipis itu.