
"Sudah akan pergi?" Tanya Leo kepada Lucas yang mulai membenahi barang bawaannya itu. Termasuk bukunya yang dipinjam oleh Leo.
"Begitu lah. Aku masih perlu mampir ke Guild untuk beberapa urusan, kemudian pergi ke kota sebelah untuk mengambil bahan pesanku." Balas Lucas.
Leo yang mendengar itu hanya bisa menghela nafasnya. Melihat betapa sibuknya kehidupan seorang alkemis yang benar-benar mendedikasikan dirinya untuk obat-obatan.
"Hah.... Merepotkan juga ya? Lalu, bagaimana dengan air suci itu?" Tanya Leo penasaran.
"Kabarnya mereka telah selesai 4 hari lalu dan menitipkan barangnya di Guild. Kali ini aku bermaksud untuk menguji kebenaran dari bahan itu." Balas Lucas.
Peluang bahwa petualang itu menipu memang ada. Tapi Lucas tak berpikir sejauh itu. Dan sekalipun memang terjadi, Lucas bisa menuntut kepada Guild untuk mencopot izin dan pangkat mereka untuk selamanya.
Setelah perpisahan singkat itu, Leo dan juga Claire pun pergi meninggalkan penginapan ini.
Sedangkan Leo sendiri?
Ia kembali dalam pekerjaannya seperti biasa.
......***......
Pagi masih terlalu pagi. Bahkan sang mentari belum juga menerangi dunia ini.
Akan tetapi....
‘Srruugg!!’
Sesuatu nampak menggeliat di sekitar tubuhnya. Sesuatu yang hangat dan juga cukup lembut. Hal itulah yang membuat Leo membuka matanya sedikit lebih awal pagi ini.
Di hadapannya, terlihat sosok gadis yang begitu cantik. Bahkan wajahnya yang masih tertidur sekalipun sangat imut bagi Leo, membuatnya tak mampu menahan diri untuk memandanginya selama beberapa saat sebelum bangun sepenuhnya.
“Uuuhh.... Dim? Sudah bangun?” Tanya Reina dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul itu.
“Ya, begitulah.” Balas Leo.
Hampir 2 bulan telah berlalu semenjak kunjungan Lucas di hari itu. Dimana Ia mengatakan bahwa akademi sihir Aselica lah yang membuatnya mampu membuat banyak ramuan hebat itu.
Tentu saja, Leo tak bermaksud ke sana hanya untuk mempelajari hal itu. Melainkan untuk mempelajari banyak jenis sihir lainnya.
Sihir originalnya [Flemia] hanyalah sebuah keberuntungan di ujung tanduk. Leo tak mampu untuk mengulanginya kedua kalinya dengan kekuatan yang sama.
Hal terbaik yang dapat dilakukannya hanyalah menyemburkan api yang panas. Tanpa adanya tekanan dan daya hancur yang sekuat serangannya ketika melawan Igor.
Untuk itulah Leo ingin mempelajari sihir lebih lanjut dan lebih rinci.
Hanya saja....
“Kau benar-benar tak mau ikut?” Tanya Leo.
Reina yang masih tidur dengan selimut tipis itu hanya memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya.
“Sudah ku katakan, aku tak begitu paham tentang sihir dan semacamnya. Hal terbaik yang bisa ku lakukan adalah menebas dengan kuat hingga musuhku mati.”
“Begitu kah?”
Leo pun segera mempersiapkan dirinya untuk mandi di pagi hari ini. Mengambil pakaian dan juga berbagai kebutuhan lainnya. Tapi sebelum itu, Ia terlihat memperhatikan laporan yang telah dituliskan oleh Ferry satu hari yang lalu.
Selama 2 bulan ini, kelompok dagangnya memperoleh perkembangan yang cukup signifikan.
Sebagai awalan, Kedai Bulan telah menjadi sangat populer. Untuk itu, Leo mengalokasikan sebagian besar uang dan keuntungannya kepada Kedai Bulan.
Ia membeli tanah dan bangunan yang ada di sebelah kedai tersebut, lalu memperluas dan meningkatkan dekorasi yang ada. Membuat nilai jual dan juga daya tampungnya semakin meningkat.
Tak hanya itu, Leo juga telah menghentikan sewa kios kecil untuk berjualan ramuan. Sebagai gantinya, kini Leo membeli toko dengan bangunan berukuran 9 x 12 meter dan memiliki 2 lantai.
Lantai pertama fokus untuk melakukan penjualan. Sedangkan lantai kedua fokus untuk sarana produksi dan tempat tinggal bagi 4 orang pegawai yang bekerja di sana.
Leo juga memperlebar penginapan yang ditinggalinya dengan membeli dan merenovasi bangunan di sebelahnya. Menjadikan daya tampung penginapannya mencapai 80 orang.
Hasilnya, Leo berhasil membuat rombongan untuk melakukan misi perdagangan di kota Daeta. Meskipun, masih dalam skala kecil dengan 3 kereta kuda dan juga 24 prajurit.
Keuntungannya pun tak begitu seberapa.
Jika dihitung secara matematis termasuk biaya operasional dan lain sebagainya, maka keuntungan yang Leo peroleh setiap bulannya dapat ditulis sebagai berikut.
Pekerjaan utama Leo sendiri – Enchanter : 720 koin platinum per bulan.
Kedai Bulan : 460 koin platinum per bulan.
Toko Ramuan : 140 koin platinum per bulan.
Perdagangan Venice – Daeta : 90 koin platinum per bulan.
Sebuah pendapatan yang cukup luarbiasa yaitu total keuntungan sebesar 1.410 koin platinum perbulan.
Dengan perkembangan ini, Leo mulai optimis dengan arah kedepan kelompoknya ini. Ia pun menutup laporan itu dan bersiap untuk segera mandi.
Akan tetapi....
Di saat Leo hendak membuka pintu kamarnya....
Sesuatu yang lembut nampak menggenggam tangan kiri Leo. Rasanya juga sedikit hangat di pagi hari yang masih dingin ini.
“Hmm? Ada apa, Reina?” Tanya Leo singkat sambil membalikkan badannya.
Tapi Reina hanya menundukkan kepalanya. Menatap tanah dengan wajah yang memerah. Ia seakan ingin mengatakan sesuatu. Tapi juga seakan tak ingin mengatakannya.
Meski begitu, Leo tetap sabar menanti apa yang akan dikatakan oleh Reina.
“Satu kali....” Ucap Reina dengan suara yang begitu lirih.
“Hah? Apa yang kau bilang? Maaf aku tak dengar.” Balas Leo kebingungan.
“Aku bilang, satu kali....” Jawab Reina sambil terus menatap lantai kayu itu.
Setelah beberapa saat memikirkannya, Leo pun akhirnya tersadar atas apa yang dimaksudkan oleh Reina.
“Tu-tunggu dulu?! Sekarang?!”
Reina tak menjawab. Hanya menganggukkan kepalanya dengan ringan. Wajahnya pun terlihat semakin memerah.
“Tapi aku belum mandi dan....”
“Tak apa.” Balas Reina yang kini segera mengangkat wajahnya dan menatap sosok pria yang ada di hadapannya itu.
“Hah.... Baiklah.” Ucap Leo sambil menghela nafasnya. Sesaat setelah itu, Leo terlihat sedikit membungkuk lalu mengangkat tubuh Reina dengan kedua tangannya seperti sedang menggendong putri dari kerajaan.
Setelah itu....
......***...
...
“Tuan Leo, kenapa kau terlihat begitu kelelahan pagi hari ini?” Tanya Selene yang duduk di depan Leo dalam kereta kuda ini.
“Kau mungkin takkan mengerti, Selene.” Balas Leo dengan wajah yang terlihat cukup lesu.
Saat ini, mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju Akademi Sihir Aselica. Keduanya telah memutuskan untuk mendaftar sebagai murid tingkat bawah dalam jurusan Sihir Aplikatif.
Seorang pria yang terlihat cukup tua nampak mengendarai kereta kuda itu. Duduk di sampingnya adalah seorang pemuda yang mengenakan zirah besi tipis dan sebuah pedang.
Keduanya tak seperti bawahan Leo di awal perjalanannya, mereka bukanlah mantan budak. Melainkan Freeman atau warga biasa yang memang melamar pekerjaan di kelompok dagang Leo.
Dibandingkan dengan mantan budak, Freeman memiliki tingkat pendidikan yang biasanya sedikit lebih tinggi. Tapi poin utama dari memperkerjakan Freeman adalah kesetiaan mereka yang terjamin selama bayaran dan pekerjaan sesuai dengan kontrak.
Bagaimanapun, mereka adalah orang-orang yang taat hukum. Meskipun.... Leo perlu membayar mereka sekitar 1.5 kali lipat lebih tinggi daripada mantan budak.
Leo juga sudah memperingatkan para bawahannya yang merupakan budak untuk menjaga identitas mereka dengan baik. Identitas yang dimaksud tak lain adalah lambang budak di tubuh mereka.
Jika Freeman tahu bahwa mereka budak, tapi Tuan mereka masih sangat jelas yaitu Leo. Meski begitu, Leo tak ingin masalah yang lebih dengan kejadian itu. Maka dari itu Ia meminta para budak untuk menjaga identitas mereka.
Beberapa saat telah berlalu.
Hingga akhirnya, kereta pun berhenti di saat Leo dan juga Selene masih mengobrol.
“Tuan Leo. Kita telah sampai.” Ucap kusir kuda yang rambut dan kumisnya telah mulai memutih itu.
“Terimakasih. Jemput kami kembali setelah matahari tenggelam.” Balas Leo singkat sambil keluar dari kereta kuda itu bersama dengan Selene.
“Siap, Tuan Leo.” Balas kusir kuda itu.
Setelah mereka berdua keluar, apa yang nampak dalam pandangan mereka adalah sebuah kompleks bangunan yang begitu megah dan indah.Taman yang luas nampak menghiasi halaman depan dari ‘kampus’ ini.
Setibanya mereka di depan gerbang, Leo dan juga Selene segera disambut oleh para penjaga.
“Selamat datang di akademi sihir Aselica. Kalian berdua datang tepat waktu, pendaftaran akan mulai dibuka sekitar 10 menit lagi.”
“Begitu kah?” Balas Leo sambil tersenyum tipis.
Keduanya pun mulai melangkahkan kaki. Melewati gerbang besi putih itu secara perlahan.
Sebuah langkah....
Yang akan mengawali kisah mereka berdua dalam mendalami sihir di akademi ini.