
"Cepat, katakan apa yang sebenarnya telah terjadi di sana." Ucap Roselia kepada Sventia.
Kini, setelah tahu bahwa ada manusia yang mau memaafkannya, Sventia pun segera berbicara apa adanya. Menjelaskan semua yang terjadi di Crystalcourt secara ringkas.
Setelah Roselia mendengarnya, Ia hanya bisa mengepalkan tangan kanannya. Sedangkan giginya secara tak sadar telah menggigit bibirnya yang manis itu. Membuatnya meneteskan darah secara perlahan.
"Aku tahu bahwa kalian adalah bangsa sampah yang penuh dengan arogansinya. Tapi tak ku sangka akan seburuk ini...." Ucap Roselia yang terus menahan amarahnya.
Beberapa orang lain yang mendengar penjelasan dari Sventia itu tak lagi mampu untuk menahan amarahnya.
Mereka bahkan mulai melemparkan batu dan apapun yang ada di tangan mereka.
Buah, makanan, minuman. Semuanya dilemparkan ke arah para Elf yang masih terus bersujud untuk meminta maaf itu. Tanpa ada sedikit pun niatan untuk membalas perbuatan para manusia di hadapan mereka.
Mereka telah mempersiapkan diri untuk menerima semua hukuman yang ada.
Setelah beberapa saat, akhirnya Reina pun melangkah maju. Mendekati sosok Sventia yang ada di barisan depan itu.
Marcus dan juga Stella nampak terus berjalan di samping Reina secara perlahan. Mengikuti setiap langkah kakinya dengan tanda tanya besar.
"Katakan. Apa yang terjadi dengan komandan pasukan yang datang ke Crystalcourt? Termasuk Half Elf yang ada di sisinya." Tanya Reina dengan tatapan yang tajam.
Tangan kanannya bahkan nampak telah siap untuk menarik sebuah pedang tipis yang berada di sisi samping pinggangnya itu. Tapi Reina terus menerus berusaha untuk meredam amarahnya. Berusaha untuk menjaga agar dirinya tak lepas kendali.
Dengan jawaban yang gemetar, Sventia pun membalas.
"Komandan? Aah.... Tuan Leo ya? Sayang sekali, terakhir aku melihatnya Ia sedang bertarung dengan seekor Minotaur yang besar dengan Half Elf berambut perak itu. Semua itu terjadi sebelum ledakan besar dengan api biru itu muncul." Jelas Sventia.
Satu-satunya jawaban yang keluar dari mulut Reina hanyalah....
"Begitu ya? Terimakasih."
Reina kemudian segera berdiri dengan mata yang terus menerus menatap tanah. Sebagian tertutupi oleh poni rambut pirangnya.
Dengan kedua tangan yang menggandeng Marcus dan juga Stella, Ia kembali berbicara.
"Ayo, kita pulang." Ucap Reina singkat lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Ia sangat ingin menarik pedangnya dan memenggal kepala Pria bernama Sventia itu saat ini juga. Melihatnya menggelinding dan memuntahkan darah sebanyak-banyaknya sebagai balasan atas tindakannya meninggalkan Leo dan juga Selene di sana.
Akan tetapi....
Apa yang diperolehnya dengan hal itu? Apakah Leo akan bahagia dengan dirinya yang membalaskan dendam nya? Mungkin.
Tapi apakah dunia akan senang dengan tindakannya? Terlebih lagi membunuh seorang Elf tingkat tinggi ini? Kemungkinan besar tidak.
Reina tak tahu seberapa besar kekuatan Elf bernama Sventia ini. Dan juga pengaruhnya di dunia. Bisa jadi, dia memegang kunci untuk perdamaian dunia berikutnya.
Oleh karena itu, Reina memutuskan untuk tetap diam dan pergi saja.
"Ibu, dimana Ayah?" Tanya Stella dengan wajah yang bingung.
"Lalu ibuku dimana? Dia masih bersama Ayah di sana?" Tanya Marcus penasaran.
Sedangkan jawaban dari Reina cukup sederhana. Berusaha untuk membuat mereka tetap tenang saat ini. Mengatakan yang sejujurnya mungkin adalah hal yang terbaik.
Tapi mengingat umur mereka yang masih muda....
Reina tak ingin memberikan beban mental yang terlalu besar hingga menahan perkembangan mereka. Oleh karena itu....
"Mereka berdua sudah mati. Terima lah kenyataan itu." Ucap Roselia dengan nada yang dingin, menjawab pertanyaan kedua anak Leo itu mendahului jawaban dari Reina.
"Roselia?! Apa yang kau katakan?!" Teriak Reina bingung dan sedikit panik.
Dirinya sendiri sudah sangat terpukul atas berita ini. Yang mana Ia sangat yakin bahwa Leo pasti telah tiada di sana. Tapi bagaimana dengan kedua anaknya?
"Begitu kah? Hmph! Kurasa wajar saja. Ayah memang tak terlalu berbakat dalam sihir, tak seperti diriku yang agung ini. Roselia! Cepat kita lanjutkan pelajarannya!" Teriak Stella yang bersikap begitu tegar itu.
Roselia tentunya segera mengikuti sosok Stella untuk kembali mengajarinya. Tapi sebelum itu, Ia nampak melirik ke arah Reina sambil sedikit menganggukkan kepalanya.
Seakan mengatakan bahwa Ia akan menanganinya sebaik mungkin. Atau lebih tepatnya seakan berkata 'serahkan saja padaku' kepada Reina.
"Ayah dan Ibu.... Mereka tiada?" Tanya Marcus dengan kedua mata yang mulai memerah dan meneteskan air mata.
Reina dengan segera membungkukkan badannya dan mengangkat tubuh Marcus kecil itu. Menggendongnya sambil menepuk punggung bocah itu secara perlahan.
"Tenang saja, Marcus. Kita belum tahu secara pasti. Bersikap tegar lah seperti kakakmu. Jika kau berjuang keras, mungkin kau masih bisa menemukan Ayah dan Ibumu suatu hari nanti." Ucap Reina sambil terus berusaha menenangkan Marcus.
Tapi tetap saja, Ia tak bisa berhenti untuk menangis.
Bahkan ketika dirinya selalu tertutupi oleh bayang-bayang bakat kakaknya, Stella, yang begitu luarbiasa....
Leo selalu tetap memuji apapun pencapaian yang dilakukan oleh Marcus. Ia selalu berusaha untuk tetap menghargai apapun yang digapainya. Meskipun semua itu hanyalah hal yang kecil bagi kakaknya.
Sikap Leo yang selalu ramah dan begitu dekat dengannya membuat Marcus memiliki ikatan yang lebih kuat kepada Leo dan juga Ibunya yaitu Selene. Jika dibandingkan dengan Stella.
"Huaaa!!"
Tanpa kemampuan untuk menahan tangisannya lebih lama lagi, Marcus segera berteriak dan melepaskan seluruh emosinya yang terpendam.
"Berisik! Jika kau sempat menangis, maka berlatih lah untuk membalaskan dendam Ayah!" Teriak Stella yang tanpa di sangka, juga memiliki mata yang mulai memerah dengan beberapa tetes air mata yang mengalir di wajahnya.
Pada kenyataannya, Stella hanya bisa bersikap tegar untuk menjaga citranya. Sebagai anak tertua dalam keluarga ini.
Merasa terpukul atas kenyataan itu, Marcus segera menyadarkan dirinya kembali. Dan kini, dengan hati yang telah teguh, Ia memutuskan untuk menjadi jauh lebih kuat lagi.
......***......
...- Eastfort -...
"Nona Feris, kabar dari Venice telah tiba." Ucap seorang Ksatria sambil menyerahkan sebuah amplop dengan sampul yang indah itu.
Bahkan tanpa melihat isinya, Feris sudah bisa menebak apa yang terjadi.
"Mereka gagal ya?" Ucap Feris sambil segera meraih surat itu dan membukanya.
Ia dengan cepat membaca isi dari surat tersebut hanya untuk memperoleh sebuah kenyataan yang pahit, bahwa tanah Elf telah sepenuhnya dikuasai oleh bangsa Iblis.
Dimana saat ini, sisa dari peradaban Elf itu sendiri mengungsi di Kota Venice dan bekerja di sana.
Meski itu adalah berita yang sangat buruk, ada satu hal lagi yang membuatnya sangat kesal.
'Sreeett!!!'
Feris nampak menggenggam surat itu dengan sekuat tenaga. Membuatnya tertekuk hingga tak karuan, membuat membaca tulisan yang ada di dalamnya sangat sulit untuk dilakukan.
Setelah terdiam selama beberapa saat, Feris kemudian berbicara.
"Apa yang kau lakukan? Segera pergi dari sini." Ucap Feris kepada Ksatria yang membawakannya surat itu.
"Si-Siap laksanakan!" Balas Ksatria itu yang segera berdiri dan pergi meninggalkan ruangan kerja Feris ini.
Setelah penyerangan Leo ke wilayah Elf untuk memberikan bantuan, Feris bisa memastikan 2 hal.
Yang pertama, adalah sebuah kenyataan bahwa kontraknya dengan Valkazar hanya sebatas untuk tidak melewati dinding Eastfort ini, dan hanya mencakup tanah yang ada di benua manusia ini.
Kemudian yang kedua....
"Bahkan kau sekalipun bisa kalah ya, Leo?" Tanya Feris pada dirinya sendiri sambil melihat ke arah lilin yang ada di mejanya.
Ia mendekatkan surat itu ke arah api lilin dan membakarnya secara perlahan. Setelah semuanya menjadi abu, Feris kemudian kembali bekerja seperti biasanya.
Tidak....
Kali ini....
Mungkin untuk pertama kalinya....
Feris meneteskan air matanya untuk kematian orang lain.