
Musim Semi telah berlalu. Membawa seluruh dunia untuk memasuki musim panas.
Bagi seluruh wilayah yang berada di Selatan Eastfort, maka mereka cukup beruntung karena hanya memperoleh musim panas yang tak terlalu ringan.
Bagaimanapun, kondisi iklim di separuh bagian bawah dunia ini sedikit lebih ‘ramah’ meskipun tetap saja mematikan di musim dingin. Tapi setidaknya, gelombang panas yang melanda tak separah dengan apa yang terjadi di bagian Utara.
Itu termasuk wilayah Iblis dan juga wilayah Dwarf yaitu Astraknol.
Bagian bumi di wilayah Utara memiliki iklim yang lebih kejam. Dimana musim panas mereka akan memiliki suhu rata-rata di atas 40 derajat celsius, serta musim dingin yang memiliki suhu rata-rata dibawah negatif 10 derajat celsius. Bahkan bisa lebih ekstrim lagi.
Semua itu disebabkan oleh posisi planet di dunia Egalathia ini dimana wilayah Utara akan menghadap tepat ke arah matahari ketika musim panas, dan berada paling jauh dari matahari ketika musim dingin.
Atau setidaknya....
“Hah.... Entah kenapa aku malah belajar mengenai geografi di dunia ini. Tapi.... Ilmuwan di dunia ini benar-benar sudah sangat maju. Mengetahui fakta bahwa dunia mereka berbentuk bulat serta memahami orbit.” Ucap Leo sambil menutup buku tebal dengan sampul kulit berwarna hitam itu.
Judul dari buku itu sendiri adalah ‘Dunia dan Hubungannya dengan Musim’ yang dituliskan oleh salah seorang profesor dari akademi sihir Aselica itu sendiri.
Pada kenyataannya, akademi sihir di dunia ini hampir serupa dengan sebuah universitas di bumi. Dengan tambahan dimana mereka tak hanya fokus untuk mempelajari ilmu fisika, kimia dan biologi, tapi juga fokus mempelajari ilmu sihir.
Membuat perkembangan pengetahuan mereka sangat aneh bagi Leo karena keberadaan sihir itu sendiri.
Sebagai contoh, dunia ini mungkin takkan membutuhkan teknologi bohlam lampu. Itu karena mereka sama sekali tak memiliki alasan untuk memikirkan hal itu ketika sebuah batu Mana yang telah diimbuhi Rune bisa menyala seterang lampu.
Mereka juga mungkin tak membutuhkan teknologi senjata api. Untuk apa mempelajari mengenai pembuatan senjata api jika mereka bisa mempelajari cara untuk melontarkan bola api yang bisa meledak di kejauhan dengan sihir.
Dengan berbagai hal seperti itu, Leo mulai berpikir keras mengenai dirinya yang memiliki pengetahuan dari bumi.
Jika saja Ia bisa membawa sebagian dari teknologi dari bumi ke dunia ini.... Mungkin kah Ia akan membuat suatu perbedaan?
“Memikirkannya saja membuatku muak. Lagipula.... Kenapa bayaran dari Feris belum juga tiba?” Keluh Leo sambil memperhatikan tanggalan yang dibuatnya sendiri.
Meski berada di dunia yang berbeda, Egalathia memiliki orbit dan juga bulan yang hampir serupa dengan bumi.
Tapi bukannya 365 dan seperempat hari setiap tahunnya, Egalathia memiliki sekitar 362 hari dalam setiap tahunnya. Membuat pembagian bulan di dunia ini 30 hari setiap bulannya. Dengan pengecualian 2 hari yang sama sekali tak dimasukkan dalam tanggalan.
Manusia di dunia ini memperingati dua hari pergantian tahun itu dengan sebuah ritual besar. Khususnya di wilayah Ibukota dengan festival penyambutan kelahiran kembali bintang, atau matahari yang selalu menghangatkan mereka semua.
Mungkin adalah sebuah tradisi yang aneh bagi Leo. Tapi tradisi di bumi juga bisa dibilang aneh oleh orang-orang di dunia ini. Oleh karena itu, Leo memutuskan untuk tetap diam.
Di saat Leo sedang berpikir....
‘Dok! Dok!’
“Tuan Leo, Guild telah memanggil Anda untuk datang ke Guild Hall.” Ucap Selene dari balik ruangan.
“Begitu kah? Nampaknya bayaranku akhirnya tiba. Persiapkan dirimu, Selene.” Balas Leo singkat.
“Dengan segera, Tuan Leo.”
Leo dengan cepat segera mengenakan perlengkapannya. Yaitu sebuah tas yang berisi uang untuk keperluan mendadak yang mungkin terjadi, serta sebuah kantung kecil yang berisi batu Mana yang dapat diledakkan jika dibutuhkan.
Setelah semuanya siap, Ia segera membuka pintu ruang kerjanya dan keluar.
“Eh? Reina? Ada apa?” Tanya Leo penasaran.
“Kau tahu.... Akhir-akhir ini aku cukup jarang bersamamu. Mungkin....” Ucap Reina dengan ragu-ragu.
Leo dengan cepat segera memeluk tubuh Reina dengan lembut. Membelai rambut pirangnya yang kali ini dikepang.
“Apa yang kau bicarakan. Bukankah kau bilang sedang sibuk berburu monster di wilayah hutan Timur? Aku juga sibuk dengan pekerjaanku sendiri, jadi wajar jika kita jarang bersama.” Ucap Leo sambil terus membelai rambut lembutnya itu.
“Benarkah begitu? Kau takkan meninggalkanku lagi kan?” Tanya Reina sekali lagi.
“Hahaha.... Apa yang kau bicarakan? Tenang saja, aku takkan kemana-mana. Oh ya, apakah kau selalu mengajak mereka setiap kali berburu?” Tanya Leo.
Reina pun mengangguk secara perlahan dengan senyuman yang terkesan malu-malu di bibirnya.
Apa yang dimaksud oleh Leo adalah prajurit baru dimana 3 diantaranya adalah perempuan dan 7 diantaranya adalah laki-laki. Leo bermaksud agar Reina membawa mereka untuk berjaga-jaga sekaligus untuk melatih mereka secara langsung.
“Bagus. Aku juga tak ingin kehilangan dirimu lagi.” Balas Leo sambil melepas pelukannya.
Setelah beberapa saat, Leo pun segera melanjutkan perkataannya.
“Sekarang aku akan pergi ke Guild dengan Selene. Kau mau ikut?” Tanya Leo singkat.
“Tidak. Aku tak ingin mengganggu pekerjaanmu. Tapi....” Ucap Reina dengan tatapan mata yang terlihat bergerak kesana kemari. Tak mampu untuk melihat ke arah mata Leo secara langsung.
Tak hanya itu, wajahnya juga terlihat memerah dimana Ia berusaha sekuat tenaga untuk menutupinya dengan rambut sampingnya.
Sebelum Leo sempat menjawab, Reina segera berjinjit dan mencium tepat di bibir Leo.
“Mmff!”
Leo nampak terkejut dengan tindakan dadakan dari Reina itu. Meski begitu, Ia sama sekali tak menyesalinya. Secara perlahan, lengannya mulai mendekap kembali tubuh Reina.
Setelah beberapa saat....
“Dim.... Semangat untuk hari ini.” Ucap Reina sambil segera berlari keluar dari penginapan ini.
“Kau juga.” Balas Leo singkat.
Setelah membenahi dirinya kembali, Leo juga keluar dari penginapan itu. Sebagai penjagaan tambahan, kini Leo juga membawa pedang pendek di sisi kiri pinggangnya.
Setibanya di luar penginapan itu, sosok Selene telah menunggu sambil mengelap bilah pedangnya.
“Ah, Tuan. Sudah siap?” Tanya Selene dengan senyuman yang tipis.
“Ya. Ayo segera pergi.” Balas Leo singkat.
Mereka berdua pun pergi ke Guild dengan membawa kereta kuda. Dan kali ini, Leo tidak mengendarainya sendiri. Melainkan seorang kusir kuda yang telah ditugaskan untuk pekerjaan itu mulai dari beberapa waktu lalu hingga kedepannya.
Bersama mereka, 6 orang prajurit juga ikut untuk mengawal perjalanan ini. Bagaimanapun, ini adalah kiriman dari Eastfort. Mungkin tak hanya uang, tapi juga barang baru untuk di Enchant berikutnya.
......***...
...
...- Guild Hall –
...
Leo dan juga Selene terlihat turun dari kereta kuda itu. Sedangkan sang kusir bertugas untuk mengikat dan menjaga keretanya selama Tuannya sedang berada di dalam. Bersama dengannya adalah enam prajurit yang berjaga di luar.
Setibanya mereka berdua di dalam Guild Hall itu, terlihat tatapan mata dari banyak orang.
Keduanya telah cukup banyak diperbincangkan oleh para petualang. Di satu sisi, Leo dikenal sebagai pedagang baru yang cukup kaya dengan kekuatan terbesarnya pada kedai bulan.
Sedangkan Selene mulai dikenal sebagai es dingin yang dapat membunuh dengan cepat siapapun yang berani melawan Tuannya yaitu Leo.
“Oi, lihat mereka.”
“Bukankah itu Leo?”
“Siapa yang peduli dengannya. Lihat gadis yang bersamanya.”
“Kau benar.... Kau pikir, bisa kah aku berkenalan dengannya?”
“Hahaha! Mungkin jika kau naik ke peringkat A. Selain itu cepatlah bangun dari mimpimu!”
Leo yang mendengar sebagian besar dari obrolan mereka terlihat tersenyum tipis. Karena baginya, itu adalah hal bagus bahwa kelompoknya mulai dikenal. Termasuk sebuah kenyataan bahwa mereka tak dibenci.
Sedangkan Selene sendiri terlihat sedikit risih dengan pembicaraan mereka.
Setelah beberapa saat, keduanya pun sampai di hadapan salah seorang pegawai Guild.
“Selamat datang Tuan Leo, Nona Selene. Ada yang bisa kami bantu?” Tanya pegawai dengan rambut coklat yang pendek itu.
“Aku mendapat panggilan untuk kemari.” Balas Leo singkat.
“Aah, benar. Guild Master menitipkan hal itu padaku. Sebuah kiriman dari Eastfort.” Balas pegawai yang cukup manis itu sambil berjalan keluar. Memperlihatkan barang yang harus dikerjakan oleh Leo bulan ini.
“Ini semuanya, Tuan.” Ucap Gadis itu kembali, menunjuk ke arah dua buah peti. Satu diantaranya cukup besar sedangkan satu lagi cukup kecil.
Dari bentuknya saja, Leo sudah tahu. Bahwa kali ini pekerjaannya masih sama seperti yang sebelumnya.
Yaitu 60 perlengkapan prajurit dan juga sebuah senjata suci.