
Pagi telah tiba.
Atau setidaknya, itulah yang dikatakan oleh tubuh Leo saat ini.
Matanya mulai terbuka, tapi pandangannya masih buram. Sambil terus menerus mengumpulkan kesadarannya yang tersisa, Ia berusaha bangun dari tidurnya itu.
"Uuh.... Aku ketiduran ya?"
Ucap Leo sambil segera duduk di samping tempat tidurnya itu. Akan tetapi....
"Eh? Kenapa bocah ini ada disini?"
Apa yang dimaksud oleh Leo tak lain adalah keberadaan Artemis yang sedang duduk menikmati teh dan roti.
"Bocah itu sedikit kasar, aku punya nama yang cantik yaitu Artemis. Kau tahu itu?" Balas Artemis sambil melemparkan sebuah kantung kulit yang cukup besar.
'Bruukk!'
Leo yang cukup terkejut dengan hal itu berusaha untuk menangkapnya.
Ukurannya lebih besar daripada tangannya. Bahkan di saat mengangkatnya, kantung itu cukup berat.
"Apa ini?" Tanya Leo dengan terkejut.
"Hasil penjualan pedangmu. 47 koin emas, semuanya masih utuh. Aku kagum kau bisa membuat sesuatu yang seperti itu." Ucap Artemis sambil meneguk tehnya.
Leo yang mendengar hal itu menjadi jauh lebih terkejut lagi.
Bagaimana tidak? Ia berharap untuk bisa menjualnya seharga 6 koin emas. Tapi apa yang diperolehnya jauh lebih besar dari itu.
"47 koin emas?! Apa yang kau lakukan pada pembelinya?!" Teriak Leo yang saat ini masih kebingungan. Berusaha untuk secepat mungkin mengumpulkan kesadaran dari tidurnya itu.
"Kau lupa siapa diriku? Aku adalah seorang petualang yang cukup terkenal disini. Menjualnya pada seorang petualang kaya adalah hal mudah bagiku.
Aah, tenang saja. Aku bilang pada mereka bahwa aku menemukan pedang itu di suatu reruntuhan. Jadi bagaimana? Kau akan membagikan sebagian kepadaku?" Tanya Artemis sambil tersenyum tipis.
Jujur saja, saat ini perasaan Leo sedang bercampur aduk. Antara kagum, heran, dan kebingungan.
Sebelumnya Ia berpikir bahwa Artemis hanyalah gadis bodoh yang tergila-gila dengan uang. Tapi pada kenyataannya....
"Artemis. Aku hanya akan mengambil ini, sisanya untukmu. Bekerjalah sebaik ini atau lebih baik lagi untuk kedepannya." Ucap Leo yang mengambil 6 koin emas lalu melemparkan kembali kantung berisi sisa koin itu kepada Artemis.
'Bruukk!'
Artemis menangkapnya hanya dengan tangan kanannya.
"Kau serius?" Tanya Artemis kebingungan.
"Tentu saja, itu adalah hasil kerja kerasmu. Tapi tak ku sangka.... Aku telah memasang harga yang salah. Akan kubalas pemilik toko besi sialan bernama Hendrik itu."
"Buahahaha! Kau tertipu?!"
"Diam kau."
Pembicaraan singkat antara mereka berdua pun berlangsung. Tak lama kemudian, Miria datang dan membawakan sarapan pagi.
Mulai saat itulah, Leo dan Artemis menjadi semakin dekat. Di sisi lain, Leo juga berniat untuk terus melatih kemampuan sihirnya agar bisa membuat Enchantment yang lebih berharga.
Segera setelah itu, Artemis pamit pergi. Meninggalkan Leo sendirian di kamar dengan janji akan membawakan senjata baru dengan kualitas yang lebih baik dari sebelumnya.
......***......
'Kreeekk!'
Pintu Guild itu terbuka secara perlahan.
Sosok yang ada dibaliknya adalah seorang wanita berambut pirang yang panjang. Tubuhnya dipenuhi dengan darah. Mengotori jubah putihnya yang indah serta wajah dan rambutnya yang begitu menawan itu.
Melihat sosoknya, semua orang yang ada di dalam Guild terlihat cukup terkejut. Terutama mereka yang melihat sosoknya beberapa hari sebelumnya.
Di tangan kanan wanita yang tak lain adalah Reina itu terdapat sebuah kantung kulit yang cukup besar. Isinya tak lain adalah 200 buah taring atas Snow Wolf yang telah diburunya.
"Oi.... Dia kembali."
"Kau benar. Lihat lah luka itu."
"Kali ini apa yang baru saja dibantai?"
"Petugas Guild itu mengatakan bahwa dia memburu 100 ekor Snow Wolf."
"Sendirian? Apakah dia sudah kehilangan akalnya?"
Keributan ringan mulai terjadi dengan semua orang yang membicarakan mengenai Reina.
Tapi gadis itu hanya berjalan melewati mereka semuanya tanpa sedikit pun rasa peduli. Sebuah hal yang selalu Ia lakukan.
Reina meletakkan kantung itu tepat di meja petugas Guild berambut hitam itu.
"100 Snow Wolf, sudah selesai. Berikan aku sesuatu yang cocok untukku." Ucap Reina dengan wajah yang tetap datar.
Darah yang masih melumuri tubuhnya itu hanya menambah kengerian yang dipancarkan oleh Reina. Cukup untuk membuat petugas Guild itu merasa ketakutan.
Pada saat itulah....
"Permisi, dengan Nona Reina ya?" Ucap seorang Pria tua berambut putih yang menggeser posisi petugas Guild yang sebelumnya.
"Guild Master Zeldik.... Jika denganmu aku bisa memperoleh misi tingkat S bukan?" Ucap Reina tetap seperti sebelumnya.
"Maafkan aku, Nona Reina. Tapi kami takkan memberikan misi untukmu saat ini." Balas Guild Master bernama Zeldik itu.
Perkataan Pria tua dengan seragam kecoklatan yang rapi itu sontak membuat Reina cukup terkejut. Ia menyipitkan matanya, menatap tajam sosok Pria tua itu.
"Kenapa begitu?" Balas Reina dengan tatapan yang tajam.
Sambil membenahi kain di lengannya, Pria tua itu pun membalas.
"Nona Reina, Anda adalah seorang petualang yang hebat. Kami semua yang ada di sini mengakui hal itu. Tapi kami juga khawatir dengan orang sehebat Anda.
Jika kami, lebih tepatnya umat manusia kehilangan orang seperti Anda, tentunya kami akan menerima kerugian yang sangat besar. Terlebih lagi pasukan dari Raja Iblis Valkazar semakin dekat setiap harinya." Jelas Zeldik kepada Reina dengan sikap yang begitu sopan.
Reina yang mendengar penjelasan itu justru semakin kesal.
"Apa gunanya petualang hebat yang takut mati pada monster rendahan. Jika aku takut pada mereka, maka aku takkan pernah bisa mengarahkan pedangku pada Valkazar bukan?" Balas Reina kini dengan tatapan yang dipenuhi dengan kemarahan.
Melihat hal itu, Zeldik sendiri merasa terkejut sekaligus keheranan.
Bahkan hingga detik ini, tak ada seorang pun yang berani berbicara bahwa dirinya akan melawan Raja Iblis Valkazar.
Melawan bawahannya sekalipun merupakan sebuah mimpi yang terlalu tinggi bagi sebagian orang.
Tak ada kecuali 8 tokoh pahlawan yang saat ini berdiri di garis depan, tepatnya di benteng terluar umat manusia, Eastfort.
Zeldik terus memperhatikan tatapan mata gadis yang ada di hadapannya itu.
Dalam tatapannya, Ia tak mampu merasakan sedikit pun perasaan ragu dalam diri Reina. Seakan-akan Ia memang akan menarik pedangnya langsung jika Raja Iblis itu muncul saat ini juga di hadapannya.
Setelah memahami hal itu....
"Nona Reina.... Beristirahatlah selama dua hari. Setelah itu, kami akan memberikan misi baru untukmu. Tolong, dengarkanlah keegoisan kami. Kami tak bisa kehilangan orang sehebat Anda."
Reina kemudian memperhatikan tubuhnya sendiri yang dipenuhi dengan luka dan bekas darah monster buruannya.
Setelah memikirkannya sejenak....
"Baiklah. Aku akan kembali dalam dua hari. Pada saat itu, berikanlah aku misi yang sesuai." Balas Reina sambil segera mengambil uang hadiahnya lalu membalikkan badannya untuk bersiap meninggalkan Guild Hall ini.
'Tap! Tap! Tap!'
Langkah kakinya terdengar begitu jelas di tengah ruangan yang kini menjadi senyap itu. Semua orang memperhatikannya dengan perasaan takut sekaligus kagum.
Pada saat itu, tiba-tiba....
'Braaakk!'
Seseorang membuka pintu Guild Hall ini dengan cukup keras. Bersamaan dengan itu....
"Selamat siang semuanya! Penyembuh terhebat di Kota telah datang! Siapa yang membutuhkan jasa penyembuhan?! Aaah! Nona! Kau terlihat sangat terluka! Apakah kau mau aku menyembuhkanmu?! Hanya 50 koin perak saja!" Teriak seorang gadis berambut hitam kebiruan yang panjang dengan sangat meriah.
Gadis itu tanpa ragu dan tanpa rasa takut segera mendekati sosok Reina yang sedang berjalan itu.
Dan tanpa di sangka oleh sebagian besar orang, tanggapan dari Reina justru cukup positif.
"Ini, segera sembuhkan aku." Ucap Reina sambil memberikan satu keping koin emas lalu duduk di salah satu kursi di ruangan ini.
Menerima koin itu, gadis penyembuh barusan terlihat tersenyum cukup puas.
"Terimakasih banyak atas kepercayaanmu, Nona. Aku, Artemis, penyembuh terhebat di kota ini akan segera menyembuhkanmu dalam sekejap!"
..._____________...
...- Ilustrasi -...
...[Artemis]...
...Chapter ilustrasi juga sudah di update. Terimakasih masih setia membaca sampe saat ini. ...
...Maaf malah ketinggalan ilustrasinya hehehe...