
"Be-begitu kah? Bagus.... A-apa itu?" Tanya Leo yang saat ini mulai gemetar ketakutan.
Mendengar jawaban menyedihkan dari Leo itu, Igor hanya mengerutkan dahinya serta menyipitkan matanya. Memandang rendah Pria yang ada dihadapannya dengan pakaian ala bangsawan itu.
'Glek!'
Leo menelan ludahnya sendiri ketika melihat sosok Igor yang menatapnya dengan tajam. Ia merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi. Entah kenapa, tapi itulah firasatnya.
Setelah menunggu cukup lama, jawaban yang diperolehnya....
"Ku dengar kita berdua sama-sama seorang pahlawan di dunia ini. Tapi kau.... Apa-apaan denganmu? Kau bahkan ketakutan dengan sesama pahlawan?" Tanya Igor yang kini memberikan tatapan yang tajam.
Suaranya begitu berat dan terkesan sangat mengintimidasi. Bahkan tanpa memasukkan fakta bahwa Igor memandanginya dengan tatapan yang mengerikan itu, Leo sudah merasa gemetar hanya dengan suaranya.
Pada saat itulah, Leo menyadari bahwa sesuatu yang buruk pasti akan terjadi.
Dengan cepat....
'Swuuusshh!!!'
Igor melempar Leo jauh ke samping. Membuatnya terlempar sekitar 10 meter lebih hingga menabrak salah satu pohon.
"Kuughh!!" Teriak Leo kesakitan.
"Berdiri lah. Jika kau memang pahlawan bernama Dimas, dan bukan orang yang mengaku sembarangan, kita berdua seharusnya memiliki kekuatan yang sama.
Jadi berdiri lah! Tunjukkan padaku bukti bahwa kau memang seorang pahlawan!" Teriak Igor yang secara perlahan berjalan mendekati sosok Leo yang masih terkapar itu.
Tatapannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kebencian. Hanya saja, ekspresi wajah yang diperlihatkannya seakan seperti sosok seseorang yang kecewa dan marah di saat yang bersamaan.
Sekujur punggungnya sakit ketika menabrak pohon itu dengan sangat keras. Begitu pula mulutnya yang kini mulai memuntahkan darah. Dengan pandangannya yang mulai kabur, Leo segera berusaha untuk berdiri sambil memperhatikan sosok Igor yang ada di depannya.
Tapi tiba-tiba....
'Tap! Tap! Sreeettt!!!'
Dua orang wanita segera berdiri di hadapan tubuh Leo yang masih terkapar itu. Satu diantaranya memegang pedang hanya dengan tangan kanannya saja. Rambut pirangnya yang diikat ekor kuda itu terlihat begitu indah.
Sedangkan yang satu lagi menampilkan keindahan yang terkesan dingin dengan rambut putihnya yang hanya diikat cepol sehingga tak mengganggu gerakannya. Di kedua tangannya terlihat sepasang pedang pendek yang siap untuk memotong lawannya itu.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Selene dengan cepat sambil menatap tajam Igor.
Sementara itu, Reina yang terlihat sedikit menahan rasa sakit di lengan kirinya hanya memberikan tatapan tajam kepada Igor.
"Hoo.... Bersembunyi di balik punggung wanita? Seberapa menyedihkannya dirimu, hah?!" Tanya Igor yang kini terlihat semakin marah.
Sementara itu, Artemis hanya bisa ketakutan dan kebingungan atas apa yang sebaiknya Ia lakukan.
"Guuhh!!!"
Leo masih berusaha berdiri setelah menerima lemparan yang kuat dan cepat itu. Melukai punggungnya dengan cukup buruk.
"Kalian.... Berhentilah.... Ini adalah.... Pertarunganku." Ucap Leo yang terlihat begitu kesulitan untuk berdiri.
"Tapi, Tuan Leo kau...."
"Ku mohon...." Balas Leo singkat menghentikan perkataan Selene.
Dengan segera, Selene pun menyingkir. Meninggalkan Reina yang masih memandangi sosok Leo yang masih gemetar.
"Leo...."
"Reina, menyingkir lah sebentar...."
Dengan kalimat itu pun, akhirnya dua orang yang sebelumnya menghalangi jalan Igor segera menyingkir.
Dan di ujung pandangannya, Leo melihat sosok Igor yang sedikit kehilangan kemarahannya.
"Bagus. Itu bagus, aku menghargai pilihanmu, Dimas!" Teriak Igor sambil memasang kuda-kuda bersiap untuk menyerang.
'Tenang lah, diriku. Perhatikan lawanmu baik-baik. Dengan tubuh sebesar itu, Ia tak mungkin bisa bergerak dengan cepat. Lalu dengan jarak i....'
Pikiran Leo segera terhenti ketika Igor melesat dengan sangat cepat ke arahnya. Memberikan pukulan tangan kanannya yang begitu besar itu tepat ke arah dada Leo.
"Kugghhh!!!"
Dengan refleksnya, Leo segera menahan pukulan itu dengan menyilangkan kedua lengannya. Tapi sayangnya, Ia tak sempat untuk menghindarinya.
'Brraaakkkkk!!!'
Pukulan telak itu melemparkan Leo sejauh puluhan meter ke belakang. Menabrak berbagai pohon selama itu. Membuat tubuhnya yang sebelumnya telah terluka parah, kini menjadi semakin parah.
"Sialan! Apa yang kau...."
Selene dengan cepat bergerak untuk menyerang tubuh Igor dengan kedua pedang kecilnya. Gerakannya yang begitu lembut dan cepat menjadi sulit untuk diamati. Bahkan Reina sekalipun merasa bahwa gerakan Selene terlalu cepat.
Akan tetapi....
'Klaaangg!!!'
Melihat apa yang ada di hadapannya, kedua mata yang sedikit tertutupi oleh rambut putihnya itu terbuka lebar. Seakan tak bisa mempercayai apa yang ada di hadapannya.
Bagaimana tidak?
Dua buah pedang kecil itu bahkan terhenti ketika mengenai lengan kiri Igor. Seakan tak mampu untuk menembus ototnya.
Meski begitu, sedikit aliran darah dapat terlihat di balik bilah pedang Selene. Menunjukkan bahwa Ia masih bisa mengiris kulitnya.
"Gadis kecil.... Gerakan mu cepat, tapi kekuatanmu sangat kurang." Ucap Igor sambil menatap tajam ke arah Selene.
Ia pun secara refleks segera menarik kembali dua pedang pendeknya dan melompat mundur. Sangat yakin bahwa dirinya tak mampu melukai Pria itu.
Pada saat itu, Reina dengan cepat menebas sisi kanan perut Igor dengan pedangnya.
'Zraaasshh!!'
Kali ini, tebasan yang diberikan oleh Reina mampu mengiris sedikit lebih dalam. Tapi itu sekalipun tak cukup untuk menembus ototnya yang besar.
"Hoo.... Gadis pirang, seranganmu cukup kuat. Tapi kenapa kau hanya menggunakan satu tangan?" Tanya Igor dengan santai.
Ia sama sekali tak memberikan serangan balasan kepada Selene dan juga Reina. Tapi keduanya sudah tahu, bahwa mereka takkan bisa menghentikannya.
Jika ada suatu hal yang membuat mereka berdua heran, yaitu kenyataan kenapa Igor tak membunuh saja mereka berdua meskipun terlihat sangat mampu melakukannya.
"Oi! Pahlawan gadungan! Jika kau tak segera bangun, aku akan membunuh ketiga gadis ini!" Teriak Igor ke arah dimana Leo terlempar.
Di sisi lain....
Leo yang mendengarnya sangat lah ketakutan.
Ia tak tahu apa yang terjadi di sisi sebelah sana. Bisa jadi, Igor memang seorang pahlawan yang memutuskan untuk menyalahgunakan kekuatannya.
Bukan hal yang tidak mungkin. Jika dirinya juga memiliki tubuh sekuat itu, mungkin Leo juga akan melakukannya.
Dan perkataan Igor itu terdengar begitu serius. Tidak.... Leo hanya sedikit kehilangan kewarasannya setelah menerima dua serangan kuat barusan. Membuatnya tak mampu untuk berpikir jernih.
'Sialan.... Ini kah kekuatan dari pahlawan tingkat A? Ia bahkan hanya memiliki satu skill tingkat A....'
Leo berpikir bahwa itu adalah hal yang wajar bagi dirinya yang merupakan peringkat E kalah dengan Igor yang merupakan peringkat A.
Bagaimana lagi....
Bakat mereka berbeda jauh.
Tapi kali ini....
Ia harus berdiri. Ia harus secepat mungkin melawan monster dengan wujud manusia itu.
Rasa takutnya akan kehilangan orang-orang yang dicintainya sekali lagi, dan mungkin untuk selamanya, sudah cukup untuk menggerakkan tubuhnya.
'Sialan.... Mungkin aku akan terlambat mengirim paket bulan ini....' Pikir Leo sambil meraih batu Mana yang ada di sakunya.
Ia kemudian meraih sebanyak 6 buah batu Mana dan melemparnya ke udara. Sedangkan media untuk membuat lingkaran sihir, Leo menggunakan darahnya sendiri yang saat ini masih terus mengalir.
'Syuutt!!!'
Lingkaran sihir yang setinggi setengah badan Leo itu segera terbentuk. Semua batu Mana yang sebelumnya dilempar, kini jatuh kembali. Tapi tidak ke tanah. Semuanya seakan tertarik dan terikat pada lingkaran sihir itu.
Tepatnya pada sebuah lingkaran kecil di formasi sihir dengan bentuk segienam itu.
Leo secara perlahan mulai membayangkan apa yang diinginkannya. Apa yang ingin dilakukannya. Bersamaan dengan itu, Ia terus menarik energi Mana yang ada di keenam batu itu ke pusat formasi sihirnya.
'Sesuatu.... Aku butuh sesuatu untuk membakar habis pria itu....' Pikir Leo.
Cahaya merah yang terang pun mulai terlihat seakan menyaingi langit senja ini.
'Swuuusshhh!!!'
Energi Mana yang besar terlihat mulai terkumpul di dalam formasi sihir itu. Semakin lama, cahaya merah itu semakin terang.
Sedangkan Leo yang kini hanya bisa menggerakkan tangan kanannya, berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan formasi sihir itu.
Ini adalah pertama kalinya bagi Leo untuk mengendalikan Mana sebesar ini. Tapi entah bagaimana, Ia bisa melakukannya dengan baik.
Energi Mana telah siap.
Formasi sihir telah siap.
Dan apa yang ada di dalam pikirannya pun telah siap.
Dengan semua persiapan yang telah matang itu, Leo pun segera mengucapkan nama sihir original pertamanya.
Sebuah nama.... Yang secara tak sadar Ia ciptakan sendiri.
"Flemia...."
'Syuuuttttt!!!'
Segera setelah Leo menyebut nama dari sihir itu, semua energi yang telah terkumpul dalam formasi sihir itu pun segera berubah bentuk menjadi apa yang ada dalam bayangannya.
Dan kali ini adalah semburan api yang terkonsentrasi dan sangat kuat.
Di sisi lain.... Beberapa saat sebelum kejadian....
"Kenapa kau melakukan itu?!"
"Benarkah kau seorang pahlawan seperti yang kau bilang barusan?!" Tanya Selene dan juga Reina kepada Igor.
Tapi Pria itu hanya berdiam diri. Terus memandangi arah dimana Leo terkapar. Pada saat itulah, sebuah senyuman yang cukup lebar dari Igor dapat terlihat di wajahnya.
"Kalian berdua, menyingkir lah jika mau hidup." Ucap Igor sambil memasang kuda-kuda untuk menahan apapun yang akan mengenainya.
Meski mereka awalnya kebingungan, keduanya pun mulai melangkah mundur setelah melihat cahaya kemerahan di kedalaman hutan.
Dan cahaya itu....
Tepat mengarah ke tubuh Igor.
'BLAAAAARRRRR!!!'
Sebuah semburan api yang sangat kuat dengan ukuran sebesar setengah manusia segera mengenai tubuh Igor.
Api itu terlihat membakar dan menghanguskan apapun yang dilaluinya. Termasuk tanah dan pepohonan yang ada.
Akan tetapi, Igor hanya tersenyum lebar sambil menahan semburan api itu dengan kedua lengannya.
"Bagus! Bagus! Bagus! Ini lah yang ku sebut sebagai semangat juang! Lagi! Berikan lagi yang jauh lebih kuat! Tunjukkan padaku bahwa kau memang lah seorang pahlawan!" Teriak Igor sambil tertawa.
Secara perlahan, kulitnya yang keras itu mulai mengelupas.
Dan secara perlahan pula, daging serta ototnya yang tebal itu mulai terbakar.
Tapi Ia masih terus menahannya sambil tertawa, seakan telah menyaksikan suatu hal yang luarbiasa di depan matanya.
Hingga akhirnya, setelah 30 detik semburan itu berlangsung....
Api besar itu sepenuhnya berhenti. Menyisakan sebagian pepohonan dan rerumputan di lintasannya sedikit terbakar.
Sedangkan Igor sendiri?
Ia masih tertawa sambil memperhatikan setengah kedua lengan bagian depannya terbakar habis. Hingga memperlihatkan tulang di dalamnya.
"Kerja bagus.... Dengan ini, aku mengakui mu." Ucap Igor sambil memperhatikan sosok Leo di ujung lintasan yang telah terkapar di tanah.