E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 77 - Kembali



Pagi hari telah tiba.


Matahari terlihat mulai naik untuk menyinari dunia ini.


Leo dan juga seluruh kelompoknya tinggal dalam salah satu penginapan di desa. Dimana saat ini mereka sedang menikmati sarapan pagi dengan menu utama nasi dan juga daging panggang.


“Apa? Dimana kau membeli itu?” Ucap salah seorang prajurit pengawal Leo.


Sambil memamerkan belati kecil yang indah itu, prajurit pengawal yang lain terlihat tersenyum puas.


“Fufufu.... Aku menemukannya di sebuah pengrajin besi di bagian selatan desa ini.”


“Sialan. Dan aku hanya membeli kalung besi ini....”


“Bersabar lah, barang di sini memang murah tapi di Kota juga ada. Jika kita menabung dari bayaran Tuan Leo, mungkin kita bisa membelinya di Kota.”


Percakapan ringan antara prajurit itu terdengar cukup meriah. Menunjukkan mereka cukup menikmati waktu di desa ini.


Sedangkan Leo sendiri nampak masih memasang wajah yang kaku. Ia memikirkan beberapa hal mengenai pengembangan tanah yang baru saja di belinya kemarin.


Setelah memikirkannya beberapa saat....


“Kalian bisa bersantai hingga tengah hari. Saat itu tiba, kita akan berkumpul di gerbang selatan desa ini untuk pulang.” Ucap Leo, memberikan waktu tambahan bagi para prajuritnya dan dirinya sendiri.


“Terimakasih banyak, Tuan Leo!”


“Dengan begini kau bisa melihat-lihat di pengrajin besi itu.”


Sementara itu, Selene terlihat menatap ke arah Leo. Seakan ada sesuatu yang ingin di sampaikan nya.


“Tuan Leo.... Bukankah anggaran kita bulan ini sudah terlalu membengkak? Jika kita masih mengeluarkan anggaran lagi....” Ucap Selene dengan nada yang sedikit resah.


“Aku tahu itu. Sisa uangku hanya 21 koin platinum saja. Aku akan menyisakan 11 untuk biaya bulan ini dan 10 untuk memperkerjakan penebang pohon di desa ini. Bagaimana pun, aku ingin lahan ini siap tahun depan.” Jelas Leo.


“Kalau begitu, mungkin kita bisa bertahan hingga bayaran Nona Feris bulan depan.” Balas Selene lega.


Di sisi lain, Reina terlihat memperhatikan kedekatan Leo dan juga Selene yang terus membahas rencana mereka ke depan di desa ini.Bibirnya nampak sedikit cemberut dengan wajah yang mulai memerah.


Melihat hal itu, Artemis dengan segera menepuk pundak Reina dan menggelengkan kepalanya.


“Tenang saja. Kau takkan memahaminya sama sepertiku. Lebih baik biarkan saja.” Jelas Artemis.


Meskipun seorang mahasiswi, Reina masih berada di tahun keduanya. Terlebih lagi Ia memasuki jurusan sastra dan bahasa. Pengetahuannya mengenai permasalahan seperti yang sedang di bahas oleh Leo sangatlah minim.


Terlebih lagi, semakin lama pembahasan mereka terlihat semakin berat.


“Lalu aku menyarankan Tuan Leo untuk segera menjalin hubungan dengan Guild Dagang. Mereka dapat meminjamkan modal dan....”


“Tidak. Guild Dagang itu buruk. Mengingat bunga yang mereka tawarkan mencapai 20% per bulannya, aku hanya akan bangkrut setelah beberapa tahun. Daripada itu, aku ingin mengembangkan sistem baru dalam ekonomi di dunia ini.” Jelas Leo memotong perkataan Selene.


“Sistem baru? Seperti apa itu, Tuan?” Tanya Selene penasaran.


“Kau bisa menyebutnya sistem pendanaan orang banyak. Dimana kita akan mengembangkan suatu usaha dengan bantuan uang dari banyak orang. Sebagai timbal baliknya, mereka akan memperoleh bukti dukungan dalam bentuk lembaran kertas yang keasliannya dapat ditentukan dengan sebuah salinan.


Lalu tergantung dari jumlah kertas dan dukungan mereka, maka kita sebagai pengusaha yang didukung akan memberikan sebagian keuntungan perusahaan kembali kepada para pendukung itu. Dengan begitu, semua orang akan untung selama perusahaan berjalan dengan baik.” Jelas Leo cukup panjang lebar.


“Aaah.... Aku mulai paham. Memang benar bahwa aku belum pernah mendengar sistem seperti itu. Tapi kita juga perlu mempertimbangkan langkah yang akan diambil oleh Guild Dagang dan juga Bangsawan.” Balas Selene.


“Menurutmu juga begitu? Lambat laun kita memang perlu berurusan dengan mereka....”


Kembali ke sisi Reina. Ia hanya bisa bengong dengan membuka mulut dan matanya cukup lebar. Seakan memang tak mampu memahami apapun yang sedang dibicarakan.


Pada kenyataannya, Reina sedikit tahu mengenai apa yang dikatakan Leo. Dan apa yang dimaksudkannya serupa dengan saham di bumi. Akan tetapi.... Ia tak pernah membayangkan bahwa permasalahan yang dihadapi akan serumit itu.


Di sampingnya terlihat sosok Artemis yang tersenyum puas.


“Sudah ku katakan bukan? Untuk hal seperti ini, mereka berdua selalu sepemikiran.” Ucap Artemis.


Semuanya pun melanjutkan sarapan pagi yang santai sambil membicarakan hal yang ringan, kecuali Leo dan juga Selene.


......***...


...


...


“Hohoho.... Kau bertindak cepat, Leo.”


“Tentu saja. Aku hanya ingin lahanku segera siap untuk di gunakan.” Jawab Leo sambil memberikan 10 koin platinum itu.


“Tenang saja, aku bisa menjamin bahwa musim semi tahun depan lahanmu sudah siap untuk di tanami. Kau cukup persiapkan saja benih dan tenaga kerja yang baru saat itu. Atau kau bisa membeli keduanya padaku hohoho....” Balas Kepala Desa yang cukup tua itu sambil segera memanggil bawahannya.


Ia terlihat meminta bawahannya untuk memanggil sekitar 20 pria yang kuat dan mampu untuk menebang kayu.


Setelah permasalahan mengenai pembersihan lahan beres, Leo segera berpamitan kepada sang Kepala Desa bahwa dirinya dan kelompoknya akan kembali ke Kota Venice.


“Sampai jumpa lagi, Leo!” Teriak kepala desa itu sambil melambaikan tangannya.


Di gerbang sisi selatan dari pusat desa ini, terlihat 6 prajurit yang telah mempersiapkan kereta kuda Leo. Mereka terlihat sedang berdiri sambil berbicara karena menanti Tuan mereka untuk tiba.


“Semuanya sudah siap?” Tanya Leo kepada para prajurit itu.


“Tentu saja, tak ada lagi yang tertinggal! Kami juga sudah mengisi ulang kebutuhan makanan!” Balas salah seorang prajurit sambil tersenyum lebar.


“Bagus, kita akan segera pulang. Tapi sebelum itu....” Ucap Leo sambil menaiki kursi bagian depan, memegang tali kemudi dua kuda itu dengan erat.


Selene terlihat duduk di atas kereta, sedangkan Artemis dan Reina duduk di bagian dalam kereta.


Keenam prajurit itu juga segera membentuk formasi dengan baik. Sesuai dengan arahan dari Leo.


Dan setelah semuanya siap....


“Kita akan mengunjungi Igor untuk terakhir kalinya sebelum pulang.” Ucap Leo sambil mulai memacu kudanya. Membuat mereka berjalan perlahan ke arah kincir angin di Timur desa itu.


Perjalanan menuju tempat Igor Sikorsky itu tinggal tak terlalu memakan banyak waktu.


Terlebih lagi ketika disuguhi dengan pemandangan pedesaan yang indah. Dimana banyak anak-anak berlari kesana kemari sambil bermain, serta banyaknya warga yang ramah kepada kelompok Leo itu.


Terpaan angin membuat gandum itu menari-nari dengan indah. Memberikan nuansa yang segar setelah cukup lama hidup dikelilingi bangunan di kota.


Di kejauhan, tepatnya di sekitar sebuah kincir angin, terlihat sosok Pria dengan rambut dan jenggot tipis yang mulai memutih. Ia terlihat sedang berlari ringan kesana kemari dengan tangan yang sedang memegangi seorang gadis kecil yang duduk di pundaknya.


Melihat pemandangan itu secara tak sadar membuat Leo sedikit merasa sedih. Mengingat apa yang telah terjadi pada kehidupan Igor sebelumnya di bumi.


Senyuman yang tipis terlihat menghiasi wajah Leo.


“Oooii! Kalian sudah mau pulang?!” Teriak Igor dari kejauhan.


“Cayian puyang?!” Teriak gadis kecil itu samb berusaha menirukan teriakan Igor.


“Yah! Aku akan kembali ke Venice! Jika ada apa-apa, kau bisa mencariku di sana!” Teriak Leo kembali.


“Baiklah! Aku juga berencana untuk tinggal di desa ini! Kemari lah kapan saja!”


Setelah berpamitan singkat dari jarak yang cukup jauh, Leo segera menarik kudanya agar berbalik arah. Ia merasa bahwa ini sudah cukup.


Terlebih lagi, dengan keberadaan Igor di desa ini, Leo sangat yakin takkan ada sesuatu yang dapat mengancam kedamaian ini.


Di saat Leo mengalihkan pandangannya kembali ke arah kincir angin itu, terlihat seorang wanita dengan rambut kecoklatan keluar dari sebuah rumah kecil yang ada di dekatnya.


Wanita itu terlihat sedikit membungkukkan badannya ke arah Leo dan kelompoknya.


Sedangkan Igor sendiri terlihat menurunkan gadis kecil yang sedari tadi di gendongnya.


“Mama!” Teriak gadis itu sambil berlari ke arah wanita berambut kecoklatan itu.


Tanpa menoleh ke arah Leo untuk kedua kalinya, Igor hanya terus memandangi sosok gadis kecil yang sedang bersama dengan Ibunya itu. Dengan langkah yang perlahan, Igor nampak berjalan ke arah mereka berdua. Memeluk keduanya dengan lembut.


“Leo.... Bukankah kau berpikir, Dewi itu begitu baik?” Tanya Reina secara tiba-tiba.


“Begitu kah?” Tanya Leo kembali sambil terus menatap sosok Igor di kejauhan.