
Dengan tubuh yang tak lagi berdaya, satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh Reina hanya satu.
"Juuuhh!!!"
Reina meludahi wajah Komandan itu sambil segera membuat senyuman.
"Jadi itu jawabanmu? Sangat disayangkan, Nona Reina." Balas Komandan itu sambil membersihkan wajahnya.
Setelah itu, Ia melangkah menjauhi sosok Reina dan mengangkat tangan kanannya.
Bersamaan dengan itu, seluruh pemanah yang ada di atas bangunan itu segera menarik busur dan panah nya.
"Tembak." Ucap Komandan itu dengan tatapan mata yang terlihat cukup sedih sambil mengayunkan tangan kanannya ke bawah.
Tapi sebagai seorang atasan, memenuhi aturan dan perintah adalah prioritas utamanya. Ia telah mencoba segala yang Ia bisa.
Bersamaan dengan itu, ratusan anak panah mulai melesat ke arah Reina.
Ia mulai menyadari sosok yang sebenarnya dari manusia itu sendiri pada detik ini. Memberikannya pelajaran yang sangat berharga di detik-detik terakhir kehidupannya.
Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menerima nasibnya ini. Ia telah mempersiapkan diri untuk ini. Tak ada sedikitpun penyesalan. Tapi jika ada satu hal yang Ia sesali....
'Dimas.... Setidaknya.... Aku ingin melihat wajahmu sekali lagi....' Pikir Reina dalam hatinya sambil memejamkan matanya.
Akan tetapi....
"Buka matamu, Reina."
Sebuah suara yang terdengar begitu lembut dan familiar mulai memasuki telinganya. Tubuhnya tak lagi terasa sakit. Tenaganya seakan kembali utuh.
Apa yang ada di hadapannya, tak lain dan tak bukan adalah sosok Dewi Silvie yang sedang memegang wajah gadis itu dengan kedua tangannya.
"Dewi.... Jadi aku telah mati lagi ya?" Tanya Reina sambil membuat senyuman yang pahit.
"Maafkan aku jika gagal melaksanakan semua tugas darimu...." Lanjut Reina kini dengan mengalirkan air matanya.
Tapi jawaban dari Dewi Silvie cukup singkat.
"Aku tak bisa terlalu lama bersamamu. Singkat saja, aku akan menyembuhkan seluruh luka dan rasa lelah mu di sana seketika.
Tapi sebagai gantinya, aku takkan bisa membantumu lagi dalam waktu yang cukup lama. Apakah tak masalah bagimu?" Tanya Dewi Silvie.
Mendengar hal itu, Reina paham bahwa dirinya belum mati. Dengan segera, Ia menerimanya.
"Tak masalah bagiku."
"Bagus. Kalau begitu, tugasmu saat ini adalah untuk kabur dan menyelamatkan dirimu sendiri. Maafkan aku karena bantuan yang bisa ku berikan padamu saat ini hanya seperti ini...." Ucap Dewi Silvie sambil segera membuat puluhan lingkaran sihir yang besar di sekeliling tubuhnya.
Semuanya berputar dengan cepat dengan warna kehijauan yang indah. Dan semua itu hanya butuh sekitar satu detik baginya. Setelah semuanya siap....
"Dewi Silvie.... Terimakasih." Ucap Reina sambil mengusap air mata di wajahnya.
"Sudah tugasku untuk membantumu, Reina."
Bersamaan dengan kalimat itu, sosok Reina segera menghilang dengan cahaya biru yang indah. Kembali ke dalam situasi yang penuh dengan kekacauan itu sekali lagi.
Tapi kini, dengan tubuh yang telah pulih dari semua lukanya.
Sedangkan Dewi Silvie....
"Kau benar-benar melakukannya? Kalau aku jadi dirimu, aku akan membiarkannya mati dan memanggil pahlawan lain. Dengan begitu aku takkan berada dalam hutang sebesar 1 juta poin." Ucap Dewi Cyrese yang tiba-tiba muncul itu.
"Hah.... Hah.... Hah...."
Dewi Silvie terlihat begitu kelelahan. Tubuhnya mulai memudar dan tembus pandang serta menjadi sangat kurus. Bahkan tulangnya pun mulai nampak dari balik kulitnya yang kini menjadi putih pucat.
"Kau tahu memberikan bantuan langsung seperti barusan akan memiliki harga yang sangat mahal bukan?" Tanya Dewi Cyrese sambil memberikan tatapan yang cukup tajam.
"Kau akan merasakannya.... Suatu hari nanti.... Cyrese...." Balas Dewi Silvie sambil berusaha keras untuk membuat senyuman.
Dengan kata lain, kau bisaa benar-benar tiada! Apakah kau paham dengan hal itu?!" Teriak Cyrese dengan wajah yang terlihat cukup marah.
Apa yang dikatakannya memang benar.
Keberadaan seorang Dewa dan Dewi akan ditentukan dari Poin yang dimilikinya. Semakin banyak yang mereka miliki, maka kekuatan dan keberadaan mereka akan semakin besar.
Tapi sebaliknya, jika poin yang dimilikinya habis dan tak ada satu orang pun Dewa atau Dewi yang membantunya, maka Ia bisa menghilang. Atau lebih mudah jika dibilang mati untuk selamanya.
"Kau tahu aku sendiri juga dalam keadaan yang sulit bukan? Aku takkan bisa membantumu dalam membayar 1 juta poin itu! Aku akan pergi dan meminta bantuan Asgold!" Lanjut Cyrese sambil melangkah pergi.
Dengan tubuh yang tak lagi berdaya, Silvie hanya bisa tergeletak di lantai. Memandangi sahabat dekatnya pergi.
"Cyrese.... Maaf merepotkan mu...."
......***......
...- Dunia Surgawi -...
...- Kediaman Dewa Asgold -...
"Permisi." Ucap Cyrese sambil membuka pintu emas di sebuah bangunan 4 lantai itu. Ukurannya pun cukup besar.
Dari balik pintu itu, terlihat pemandangan yang begitu luarbiasa. Banyak sekali perhiasan dan barang yang terlihat begitu mahal.
Sementara itu, 2 Dewi termiskin yaitu Cyrese dan Silvie hanya bisa bertahan hidup di bangunan umum yang tersedia.
"Oooh! Cyrese ya?! Apa kabarmu! Mari duduk! Tolong ambilkan minuman untuk kawanku ini!" Teriak Asgold yang sedang duduk di sebuah sofa yang terlihat begitu empuk itu.
Ia merupakan seorang Dewa yang cukup mencolok. Tubuhnya cukup besar dengan tinggi hampir 2 meter. Ototnya pun sangat terlatih dan kekar, yang mana Ia pamerkan setiap saat dengan hanya mengenakan pakaian yang minim di bagian atas tubuhnya.
Pakaiannya dengan nuansa emas itu terlihat begitu cocok dengan rambutnya yang juga berwarna kuning keemasan.
"Silakan... silakan. Tak perlu malu-malu dan mari nikmati kehidupan ini." Ucap Asgold sambil mempersilakan Cyrese untuk duduk.
Memperoleh gelas yang berisi cairan berwarna merah tua itu, Cyrese tentu saja tak bisa menahan godaan untuk mencobanya.
'Aaah.... Kapan aku bisa menikmati hidup seperti ini.... Nampaknya selama aku masih terjebak di Egalathia, aku takkan bisa menikmati hidup seperti ini dengan mudah.' Pikir Cyrese sambil meneguk minuman itu.
Rasanya benar-benar lezat dan sangat menyegarkan. Membuatnya tergiur untuk meminta satu gelas lagi.
"Hooo, kau suka dengan minuman itu kan? Tentu saja, itu adalah anggur terbaik kedua di sini. Pelayan! Ambilkan satu botol baru untuk Dewi Cyrese!" Ucap Asgold yang dengan segera paham mengenai gerak gerik wanita itu.
Setelah beberapa saat....
"Lalu, kenapa kau kemari, Cyrese? Tentunya kau tak kemari hanya untuk beberapa gelas minuman bukan?" Tanya Asgold dengan tangan yang terlentang di bagian belakang sofa itu.
Tanpa ragu, Cyrese pun segera mengatakan tujuan kedatangannya.
"Satu juta poin. Aku ingin kau meminjamkannya kepada kami, tepatnya kepada Silvie. Setelah masalah kami selesai, aku akan menggantinya sebesar 3... tidak, 5 kali lipat." Jelas Cyrese.
Mendengar hal itu, sikap Asgold yang sebelumnya terlihat begitu santai dan penuh canda dan tawa itu tiba-tiba berubah.
Kini, wajahnya terlihat sangat serius.
"Apa yang terjadi?" Tanya Asgold dengan tatapan yang cukup tajam.
Dengan segera, Cyrese pun menjelaskan semua yang baru saja terjadi. Yaitu sebuah kenyataan bahwa Silvie mengulurkan tangannya secara langsung ke dunia itu.
"Hah.... Gadis bodoh itu, kenapa dia tidak memanggil pahlawan baru? Baiklah, lagipula aku akan segera menyelesaikan dunia tingkat A sebentar lagi. Kali ini aku akan memperoleh sekitar 1.5 juta poin. Jadi, antarkan aku padanya.
Kemudian kau tak perlu menggantinya 3 kali lipat atau lebih, cukup dengan jumlah yang sama. Dan kau bisa mengembalikannya kapan saja. Dasar.... Dunia Egalathia benar-benar brutal ya?" Balas Asgold sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Dan dengan itulah.... Krisis yang dialami oleh Silvie dapat terselesaikan untuk sementara waktu.
Begitu pula dengan Reina yang tanpa ragu segera menggunakan skillnya untuk berlari sekuat tenaga meninggalkan Kota itu dan bersembunyi sejauh mungkin.
Meskipun, Ia menerima cukup banyak luka dari hujan panah dan tusukan tombak yang mengarah padanya.