E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 91 - Pertukaran



...- Akademi Sihir Aselica -...


...- Ruang Kerja Roselia -...


Tanpa disadari, matahari telah kembali terbit. Memaksa Leo untuk kembali ke akademi dengan wajah yang begitu kelelahan.


“Tuan, kau baik-baik saja?” Tanya Selene penasaran.


“Jangan pikirkan aku. Ini adalah sesuatu yang diperlukan.” Balas Leo singkat.


Kantung matanya terlihat jauh lebih tebal dan lebih hitam daripada biasanya. Bahkan tatapannya terlihat cukup lesu. Akan tetapi, senyuman tipis dapat terlihat di wajahnya yang terlihat begitu kelelahan itu.


Beberapa saat kemudian, Roselia nampak keluar dari ruangannya dengan penampilan yang tak kalah buruk dengan Leo.


Wajahnya juga terlihat begitu kelelahan dengan kantung mata yang menghitam.


“Leo.... Aku sudah mengatakan bahwa aku tak bisa tidur kan? Kau harus tanggung jawab.” Ucap Roselia sambil menuding kan jari telunjuknya di dada Leo.


“Tenang saja. Aku juga butuh berpikir semalaman untuk ini. Ngomong-ngomong, ini yang kau butuhkan untuk melihat sel itu.” Ucap Leo sambil menyerahkan gambaran kasarnya mengenai sebuah mikroskop.


Ia hanya pernah menggunakannya beberapa kali ketika masih bersekolah. Tapi untung saja karena didikan keras orang tuanya, Ia selalu memperhatikan dan mempelajari segalanya dengan sungguh-sungguh. Membuatnya masih teringat mengenai prinsip dan juga cara kerja dari mikroskop.


‘Yah, pada kenyataannya mikroskop telah disempurnakan oleh Galileo sekitar tahun 1600an. Jika aku tak bisa membuatnya bahkan setelah menggunakannya.... Hahaha....’ Pikir Leo dalam hatinya sambil memperhatikan sosok Roselia.


Saat ini, Roselia sedang sibuk memperhatikan rangkaian alat yang digambarkan oleh Leo di kertas itu.


“Lensa.... Penjepit.... Kaca.... Bukankah semua ini.... Bagaimana kau bisa tahu tentang hal ini?” Tanya Roselia yang terlihat sedikit merasa curiga kepada Leo.


“Aku dulunya juga seorang akademisi. Lupakan hal kecil itu, selama kau bisa menyiapkan bahannya maka aku bisa merakitnya untukmu.” Balas Leo menepis perkataan Roselia.


Tapi tanpa Ia sadari....


‘Akademisi? Bukankah Tuan Leo juga seorang budak sebelumnya?’ Tanya Selene dalam hatinya sambil memperhatikan sosok Leo di kejauhan.


Kecurigaan mulai bertambah seiring dengan semakin banyaknya kebohongan yang dibuat oleh Leo.


Ia sendiri tahu dan paham akan hal ini. Leo juga tak bermaksud untuk bersembunyi selamanya. Tapi setidaknya.... Ia perlu melakukannya sampai Ia sudah cukup kuat untuk bertahan sendirian di tengah dunia ini.


“Baiklah, aku akan mencarikannya. Kelas hari ini kita akan ganti jadwal dan mempelajari alat ini.” Ucap Roselia yang segera berjalan untuk mencari beberapa alat dan bahan di gudangnya.


......***......


Lebih dari 4 jam telah berlalu.


Leo berusaha dengan keras untuk merakit mikroskop itu dengan peralatan dan bahan yang telah disediakan oleh Roselia.


Kini, dengan matanya yang hampir tak lagi mampu untuk terbuka....


“Berhasil.” Ucap Leo dengan lirih sambil melihat melalui lensa mikroskop itu untuk ke sekian kalinya.


‘Meskipun tak sempurna dan tak sebagus dengan apa yang pernah ku gunakan di kelas dulu.... Tapi ini....’ Pikir Leo dalam hatinya.


“Biarkan aku mencoba!” Teriak Roselia yang dengan segera menggeser badan Leo untuk menggunakan mikroskop itu.


Apa yang dilihatnya adalah susunan jaringan daun. Daun itu telah diiris dengan tipis lalu dijepit dalam dua buah kaca tipis dengan tambahan air.


Gambarnya masih terlihat cukup kabur, bahkan bayangan yang terbentuk dalam lensa yang dibuat secara asal oleh Leo itu masih belum sempurna.


Tapi mungkin....


Ini adalah pertama kalinya di dunia ini.


Seseorang berhasil melihat bentuk susunan paling sederhana dari bagian tubuh makhluk hidup.


“Luarbiasa....” Ucap Roselia dengan mata yang terbuka lebar dan air mata yang mulai mengalir.


Kecintaannya terhadap sihir dan ilmu pengetahuan benar-benar dalam. Membuatnya merasa sangat tersentuh dengan alat ini.


“Aku telah menduga tubuh tersusun oleh sesuatu yang kecil, tapi tak ku sangka.... Bahkan di dalamnya masih ada lagi?” Tanya Roselia yang terus mengamati jaringan daun itu.


“Sekarang giliranmu. Katakan apa yang kau lakukan untuk memanaskan kaca itu kemarin? Dan apa maksud dari beberapa tulisan aneh di sekitarnya?” Tanya Leo.


“Aah, itu? Itu adalah Rune buatanku sendiri, yang di dasarkan atas Rune kuno. Kekuatannya sangat lemah dan bisa dikatakan tak berguna tanpa adanya Mana yang kuat, tak seperti Rune kuno yang memiliki kekuatan sendiri.


Tapi dengan Rune buatanku itu, kau bisa melakukan beberapa hal yang menarik. Contohnya mengaktifkan sihir pemanas di meja itu seperti yang ku lakukan sebelumnya. Yah meskipun, Dewan memutuskan itu tak berguna karena tak memiliki kekuatan.” Jelas Roselia sambil terus mengamati melalui alat itu.


Selene yang sedari tadi sama sekali tak memahami apa yang terjadi, kini mulai sadar.


Hanya saja....


“Tuan, nampaknya kali ini pertukarannya cukup buruk ya?” Tanya Selene dengan suara yang lirih.


Tapi di saat Ia mengangkat wajahnya untuk melihat ekspresi Tuannya....


“Eh?”


Selene terlihat terkejut.


Dengan pertukaran seburuk ini, bahkan setelah membuat dirinya sendiri begitu kelelahan, Leo hanya mendapat sebuah Rune yang bahkan tak memiliki kekuatan.


Ia seharusnya merasa sedikit kecewa. Bahkan Selene sendiri terlihat sangat kecewa dan kesal karena Tuannya harus melalui semua masalah ini demi hal yang bahkan dianggap tak berguna.


Akan tetapi....


Leo justru tersenyum dengan sangat lebar. Bahkan matanya terbuka lebar seakan penuh dengan perasaan terkejut dan senang.


Sebuah ekspresi yang belum pernah diperlihatkan oleh Leo sebelumnya.


“Roselia, dengan kata lain.... Kau bisa membuat Rune itu melakukan hal lain?” Tanya Leo untuk memastikan.


“Ya begitulah. Contoh lain, kau bisa meletakkan tanganmu di dinding itu dan lampu batu Mana di seluruh ruangan ini akan menyala. Meskipun, itu akan mengambil Mana milikmu.” Jelas Roselia.


Ekspresi wajah Leo semakin menjadi setelah mendengar penjelasan itu.


Ratusan, bahkan ribuan peluang terdapat dalam Rune yang dianggap tak berguna itu. Ia kini mulai berpikir apakah sebagian besar orang di sini sama sekali tak memikirkan peluang Rune ini.


Karena dengan Rune itu....


“Jadi.... Rune buatan mu itu semacam kalimat perintah untuk menjalankan suatu sihir tertentu?” Tanya Leo untuk terakhir kalinya.


“Bisa dibilang seperti itu. Hebat juga kau bisa menyadarinya.” Balas Roselia yang kini memalingkan wajahnya untuk melihat ke arah Leo.


Sedangkan Leo sendiri....


‘Bingo!’


Ia berteriak sekuat tenaga dalam hatinya. Berusaha untuk melepaskan sebagian perasaan senangnya yang meluap ini.


“Roselia, bisakah kau menuliskan huruf, pembacaan, dan arti setiap kata itu untukku? Aku memikirkan sesuatu yang menarik dengannya.” Balas Leo.


“Aku sudah membuat kamusnya. Kau bisa ambil di rak D baris ke 6 dari bawah dan buku ke 4 dari kiri, dengan sampul berwarna biru. Tapi untuk apa? Bahkan Dewan menganggap itu hal yang tak berguna untuk membuang-buang banyak waktu mempelajarinya.” Tanya Roselia.


Jawaban dari Leo cukup sederhana.


“Mau satu tahun atau berapa lama pun, itu adalah hal yang paling berguna di dunia ini saat ini. Roselia, kau akan melihat revolusi besar sebentar lagi.” Balas Leo dengan senyuman yang lebar.


Apa yang dipikirkan oleh Leo sangatlah sederhana. Mungkin terlalu sederhana hingga banyak orang melupakannya.


Yaitu membuat sebuah alat, yang akan mengaktifkan sihir secara instan dan cepat dengan bantuan Mana. Baik dari dirinya sendiri maupun dari sumber lain.


Sebuah alat....


Yang bisa disebut sebagai senjata sihir.


Jika ditambah dengan kemampuannya untuk melakukan Enchantment.... Maka peluangnya hampir dikatakan tak terbatas.