
Leo dan juga Selene kembali ke penginapan mereka. Sang kusir kuda yang telah menanti sejak lama terlihat sedang duduk sambil membaca sebuah buku. Di sisi mejanya, terlihat secangkir kopi yang menemaninya.
"Tuan sudah siap untuk kembali?" Tanya kusir kuda itu.
"Ya." Balas Leo singkat.
Hanya dengan itu saja, sang kusir kuda sudah tahu bahwa ada sesuatu yang salah pada mereka berdua. Setidaknya.... Bukanlah sesuatu yang baik.
Tapi tugasnya hanyalah untuk mengemudikan kereta kuda. Mengantarkan Tuannya sesuai dengan permintaannya. Tak lebih dan juga tak kurang.
Oleh karena itu, Ia memilih untuk diam dan segera mempersiapkan kereta kuda itu.
Bulan telah terlihat berada di posisi tertingginya. Sedangkan jalanan telah terlihat begitu sepi. Banyak lampu yang telah dimatikan. Menyisakan hanya lampu jalanan saja.
Melewati jalan yang dipaving dengan batu itu, kereta kuda yang ditumpangi oleh Leo berjalan dalam keheningan.
Hingga akhirnya, sang kusir kuda memecahkan keheningan itu dengan sebuah informasi yang menurutnya perlu untuk disampaikan kepada Tuannya.
"Tuan Leo, Duke di wilayah Rustfell telah bergerak sesuai perkiraan Anda." Ucap kusir kuda yang sudah tua itu.
Leo terlihat mengalihkan pandangannya padanya. Melihat sosok pria tua itu yang mengenakan jas hitam tanpa lengan di atas kemeja putihnya.
Sementara di sebelahnya, Selene terlihat telah tertidur dengan menggunakan bahu kiri Leo sebagai sandarannya.
"Ia menarik pasukan yang baru?" Tanya Leo.
Kusir kuda itu mengangguk secara perlahan sambil membalas pertanyaan Leo.
"Tuan benar. Tapi kali ini sedikit lebih buruk. Mungkin kelompok dagang Tuan akan terkena imbasnya secara langsung."
"Apa maksudmu dengan itu?" Tanya Leo kembali.
Sang kusir kuda terlihat terdiam sejenak sambil membelokkan kudanya ke arah yang diinginkan. Yaitu ke arah menuju tempat tinggal mereka.
Setelah beberapa saat, Ia pun kembali berbicara.
"Duke Achibald telah menurunkan perintah dengan ksatria sebagai pembawa pesannya. Selembar kertas itu hanya memiliki 1 makna. Bahwa semua pria dari umur 16 hingga 50 tahun, tanpa terkecuali, harus berangkat berperang di Eastfort." Jelas kusir kuda itu dengan cukup panjang lebar.
Leo yang mendengarnya pun sangat terkejut. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Achibald akan menurunkan perintah gila seperti itu.
"Tunggu dulu! Bukankah itu bisa mencapai ratusan ribu orang?! Apa yang diinginkannya?! Lagipula, bukankah Ia baru saja menarik seluruh prajurit reguler dan prajurit cadangan? Jika Ia melakukannya lagi...." Balas Leo dengan panik.
"Tuan benar. Jika itu benar-benar terjadi, maka wilayah Rustfell ini akan benar-benar runtuh seperti namanya. Sebuah besi tua berkarat yang jatuh dari ketinggian." Balas kusir kuda itu.
Leo terlihat menopang dagunya dengan tangan kanannya sambil berpikir keras. Memikirkan langkah apa yang sebaiknya Ia ambil.
Di satu sisi, jika Ia ikut dalam barisan pasukan ini, takkan banyak yang bisa dilakukannya.
Bukan karena Ia lemah. Itu tak lagi menjadi masalahnya mengingat senjata dan juga peningkatan kapasitas Mananya karena Selene.
Akan tetapi, dengan jumlah pasukan sebanyak itu, bahkan dirinya sekalipun takkan bisa memberikan banyak kontribusi. Oleh karena itu....
"Sembunyikan informasi ini dari semua orang, Ralph. Tapi kita akan kabur dari kota ini untuk sementara waktu." Balas Leo secara tiba-tiba.
Wajah pria tua yang mengendarai kuda itu terlihat tak terkejut sama sekali. Seakan Ia telah menduga bahwa Tuannya akan mengatakan hal itu. Dan dari bibirnya yang sedikit tertutupi oleh kumis yang mulai memutih itu, Ia membalas perkataan Leo.
"Seperti yang diharapkan dari Tuan Leo. Diriku sama sekali tak salah dalam memilih Tuan untuk dilayani. Sesuai dengan harapan Anda, aku akan merahasiakan semuanya."
Leo terlihat tersenyum tipis. Ia senang bahwa dirinya memperoleh orang lain yang benar-benar bisa dipercaya olehnya.
Seorang pensiunan prajurit yang kini telah berumur 57 tahun. Bahkan dengan semua pengalaman dan kemampuannya, Ia rela menyembunyikan identitasnya sebagai seorang Pria tua lemah yang hanya bertugas untuk menjemput dan mengantar Leo.
"Terimakasih, Ralph. Kemudian untuk rencananya...."
Leo kemudian menjelaskan beberapa rencananya. Di sisi lain, Ralph terlihat sedikit mengoreksi beberapa kelemahan dari rencana tersebut dan menyempurnakannya.
Akhirnya, hanya dalam perjalanan singkat menuju penginapan mereka, rencana pelarian ini sudah disempurnakan dengan baik.
Tujuannya?
Kabur sejenak dari kota ini dan bersembunyi di Desa Rarth.
Setelah memastikan bahwa pasukan telah dibentuk dan diberangkatkan, mereka akan kembali untuk membereskan semua masalah yang ditinggalkan oleh Duke bodoh itu.
Leo dan juga Ralph sangat yakin bahwa kota yang sangat kekurangan tenaga kerja itu akan dipenuhi dengan kekacauan. Salah satunya adalah maraknya kejahatan karena minimnya orang yang mampu menjaga kota.
"Tuan, apa yang sebaiknya kita lakukan pada gadis itu?" Tanya Ralph.
Gadis yang dimaksud olehnya tak lain dan tak bukan adalah orang yang sudah sangat jelas merupakan mata-mata dari Feris yang diletakkan di dalam penginapan Leo.
"Benar juga.... Aku terlalu lama membiarkannya bergerak bebas. Kau ada ide?" Tanya Leo kembali.
Pria tua itu terlihat sedikit memainkan jenggotnya sambil tersenyum sebelum menjawab.
"Ada dua pilihan. Mengancamnya langsung, atau membelinya." Balas Ralph.
"Membelinya?"
"Mudah saja, Tuan hanya perlu menangkap basah dirinya ketika sedang mengirim surat, yang selalu Ia lakukan setiap akhir pekan. Setelah itu, beri sedikit ancaman, atau beli saja dirinya.
Mengingat kekayaan Tuan Leo, kurasa membeli orang bukan lagi soal bisa atau tidak. Melainkan Tuan Leo mau melakukannya atau tidak." Jelas Ralph sambil sedikit tersenyum tipis.
Leo yang memahami maksudnya pun segera setuju dengan pendapat Ralph. Dengan sedikit pengecualian....
"Kurasa aku punya ide yang sedikit lebih baik."
......***......
...- Eastfort -...
'Dok! Dok!'
Suara ketukan di balik pintu kayu itu terdengar cukup keras. Feris yang sedang bekerja di hadapan sebuah meja dan tumpukan berkas segera menoleh dan membalas.
"Masuk."
Di balik pintu itu, seorang Ksatria dengan zirah yang cukup tebal nampak berdiri sambil membawa sebuah amplop surat.
Ia pun segera berlutut dan menyerahkan surat yang masih bersegel itu kepada Feris.
"Nona Feris, berikut surat dari Nona Sheila di Venice." Ucap Ksatria itu.
"Kerja bagus. Silakan kembali." Balas Feris singkat sambil mengambil surat itu.
'Sreet!'
Ksatria itu pun kembali berdiri setelah memberikan hormat. Meninggalkan ruangan ini dengan menutup kembali pintunya rapat-rapat.
Sementara itu, Feris yang masih disibukkan dengan masalah Iblis di Utara yang masih cukup banyak serta peluang pemberontakan dari dua Duke di wilayah Mulderberg dan juga Maelfall hanya melempar surat itu di sudut mejanya.
"Hah.... Aku masih tak memiliki waktu untuk ini." Keluh Feris.
Akan tetapi, setelah beberapa saat....
Feris akhirnya mengambil kembali surat itu dan membukanya. Ia membaca kertas yang ada di dalamnya secara perlahan dan teliti. Setelah beberapa saat, Ia kembali mengeluh.
"Berhenti bersekolah karena perintah Achibald.... Kemudian ikut ambil bagian dalam pasukan Achibald, bersama dengan sebagian besar budaknya karena paksaan Ksatria.... Hah....
Dasar, kurasa aku terlalu menilai tinggi Pria bernama Leo ini. Nampaknya Ia tak secerdas yang ku pikirkan. Kurasa pemesanan senjata Enchantment bisa berhenti untuk sementara waktu. Sekarang...."
Feris pun kembali melempar surat itu kali ini hingga terjatuh dari meja. Setelah itu, Ia fokus untuk mengurus masalah yang jauh lebih besar dan serius.
Yaitu peluang terjadinya perang saudara di wilayah kerajaan manusia itu sendiri.
Tanpa Feris sadari....
Surat yang diterimanya adalah persis seperti apa yang Leo minta untuk Sheila tuliskan. Dan tentu saja berbanding terbalik dengan kenyataannya.
Berkat Leo yang selalu mengabaikan mata-mata itu sedari dulu, Feris menjadi terlalu mempercayai mata-matanya yang tak pernah gagal dan ketahuan selama ini.
Dan kini, hanya dengan sekitar 100 platinum....
"Tuan Leo, apa yang sebaiknya ku tulis untuk bulan berikutnya?" Tanya gadis bernama Sheila itu sambil tersenyum.
Leo yang melihatnya hanya bisa tertawa dalam hatinya.
'Manusia benar-benar sederhana.'