E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 35 - Monster



"Hoo.... Kau akhirnya paham? Kalau begitu langsung persiapkan dirimu disini. Aku telah lama menanti untuk hari ini." Ucap bangsawan itu sambil mendekat ke arah Reina yang hingga saat ini masih berlutut.


Reina mulai berdiri secara perlahan. Tubuhnya cukup gemetar. Kedua matanya tertutup cukup rapat dengan gigi yang mulai menggigit bibirnya sendiri.


Kedua tangannya mengepal dengan kuat, tapi secara perlahan kepalan tangan itu mulai melemah dan terbuka.


Para prajurit dan bangsawan yang melihat kondisi Reina pada saat itu hanya bisa tertawa puas. Terlebih lagi Earl Barlor. Ia memandangi sosok Reina dengan tatapan yang begitu menjijikkan.


"Ayolah, jangan malu-malu. Aku akan mengajarimu dengan ba...."


'BRUUUKKK! KREETAAKK!!'


Sesaat sebelum tangan kanan Barlor menyentuh tubuhnya, Reina dengan cepat melayangkan pukulan yang sangat kuat tepat di dada Barlor.


Pukulan itu cukup kuat bahkan untuk langsung meremukkan tulang rusuknya.


"Blaarrgghh!!!" Teriak Barlor sambil memuntahkan cukup banyak darah dari mulutnya.


Tak ada satu orang pun yang menyadari kecepatannya. Gerakan Reina begitu cepat bahkan hanya dalam hitungan kedipan mata saja.


Segera setelah menerima pukulan itu, tubuh Barlor terlempar hingga menabrak dinding kastil ini dan meremukkannya.


Saat ini, Barlor tergeletak di tanah tak sadarkan diri. Entah Ia telah mati atau belum, tapi kejadian itu berhasil menyita perhatian seluruh prajurit yang ada.


Mereka hanya bisa membuka mata mereka selebar mungkin dengan mulut yang terbuka lebar. Tak mampu mempercayai apa yang baru saja terjadi.


Tanpa mereka sadari, Reina yang memanfaatkan skill tingkat A [Time Perception] itu mampu bereaksi dengan sangat cepat dalam keadaan ini. Dan dengan mudahnya Ia merebut salah satu pedang dari Prajurit di dekatnya.


Ia memegang tangan kanan Prajurit itu lalu menendangnya dengan kedua kakinya sekuat tenaga.


'KRRETAAAKKK!!! SRAASSHH!!!'


Semua orang yang melihat hal itu tak bisa mempercayainya. Tapi apa yang baru saja terjadi, Reina memutuskan tangan kanan Prajurit itu dengan menahan tangan kanannya lalu menendangnya sekuat tenaga.


Kini, di tangan Reina, terdapat sebuah tangan yang telah terputus. Tangan itu terlihat masih memegang pedang besi dengan cukup erat.


Tanpa sedikitpun keraguan, Reina melepaskan genggaman itu dan mengambil pedangnya.


"Blueerrgghh!"


Salah seorang prajurit terlihat memuntahkan sarapan paginya setelah melihat pemandangan itu.


Sosok Reina yang sebelumnya terlihat begitu anggun dan polos, kini telah berubah menyerupai seorang Iblis.


Jubah putih birunya yang indah itu kini dipenuhi dengan bercak darah, begitu pula wajah cantiknya yang juga penuh dengan cipratan darah.


"Tu-tunggu dulu.... Aku tidak tahu kalau...."


'Jlebbb!!!'


Reina dengan cepat bergerak maju dan menusuk tubuh Pria yang baru saja berbicara itu tepat di jantungnya.


"Dasar.... Sialan!!!"


Beberapa orang yang telah memahami situasi ini mulai maju untuk melawan Reina.


Bagaimanapun, jumlah mereka ada 40 orang. 2 baru saja terbunuh tapi dengan perbedaan jumlah sebesar ini mereka sangat yakin bisa menahan seorang Gadis yang hanya sendirian.


Lagipula, itulah rencana mereka sejak awal. Yaitu berjaga-jaga jika Reina mencoba melawan.


Akan tetapi....


Itu adalah sebuah pemikiran yang terlalu sombong.


Mereka terlalu meremehkan sosok Reina karena senjatanya telah dilucuti. Mereka meremehkannya karena Ia hanyalah seorang gadis yang muda.


Tapi hasilnya....


'Zraaaatt! Sraaasshh! Klaangg! Bruukk!!'


Gerakan Reina benar-benar gila. Ia memutar tubuhnya sambil mengayunkan pedangnya. Di saat pertahanannya tertembus, Ia akan menjatuhkan dirinya sendiri dan mulai melakukan gerakan akrobatik yang sangat rumit.


Tubuhnya berputar dengan cepat. Terkadang, tangannya bergerak untuk menebas. Tapi terkadang pula, kakinya menendang dengan sangat kuat. Posisinya bahkan selalu berubah setiap saatnya.


Pada detik pertama, kepalanya berada di tanah. Sedangkan detik berikutnya, Reina telah setengah berdiri.


Para Prajurit itu sama sekali tak bisa mendekatinya. Terlebih lagi setelah Reina memperoleh pedang kedua. Membuat Reina setidaknya 2 kali lipat lebih berbahaya.


"Seseorang pergi dan panggil bantuan!" Teriak seorang Prajurit.


Dan benar, 3 orang prajurit telah berlari meninggalkan kerumunan itu. Bersiap untuk memanggil bantuan. Akan tetapi....


'Jleebb! Jleebb! Jleeebb!!'


"Monster.... Ini tidak mungkin...."


Bahkan dengan tangan kosong sekalipun, kekuatan fisik Reina yang saat ini sudah sangat tinggi hingga setara dengan Monk tingkat tinggi yang selalu mengasah pukulannya sejak usia dini.


'Bruuukkkk!!!'


Pukulan penuh tangan kanannya bahkan mampu meremukkan zirah besi yang dikenakan oleh prajurit itu dengan mudah sebelum melemparkan tubuhnya sejauh 10 meter.


Tak ada kesempatan bagi para Prajurit itu untuk selamat.


Dengan mengurung Reina di dalam kastil ini, mereka justru mengurung diri mereka sendiri bersama pahlawan.... atau mungkin pada saat ini jauh lebih tepat jika disebut sebagai monster.


Hingga akhirnya, setelah 4 menit pembantaian masal ini berlangsung....


'Jleebb! Sreeett!'


Reina telah berhasil membunuh Prajurit terakhir dengan menusukkan pedangnya tepat di wajah Prajurit yang terus menerus memohon ampunan itu.


Dan akhirnya....


'Tap! Tap! Tap!'


Suara langkah kaki yang dilindungi oleh sepatu besi itu terdengar cukup nyaring di tengah kesunyian kastil ini.


Tubuhnya penuh dengan darah. Bahkan wajahnya tak lagi mampu terlihat dengan jelas karena darah yang melumuri sekujur tubuhnya.


Rambut pirangnya yang indah pun kini terlihat begitu kotor dengan banyaknya warna merah di berbagai bagian.


Meskipun sangat unggul, Reina sendiri juga tak mampu menghindari seluruh serangan dari 40 prajurit yang terlatih.


Beberapa tebasan dan pukulan berhasil mengenai dirinya. Tangan kirinya tak lagi mampu digerakkan karena terkena cukup banyak tebasan.


Sedangkan zirahnya sendiri remuk karena beberapa kali menerima tusukan pedang dari arah yang tak mungkin bisa dihindari.


Kemampuannya hanyalah membawa dirinya dalam sebuah dunia yang berjalan jauh lebih lambat. Tapi bukan berarti Reina bisa bergerak dengan cepat disana. Kemampuannya tetaplah sama, hanya saja Reina memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir ketika dalam pertarungan.


"Hah.... Hah...."


Reina terus berusaha untuk mengatur nafasnya. Ia paham setelah tindakannya ini, Ia takkan bisa kembali.


Seluruh kota ini, bahkan seluruh wilayah ini mungkin akan mengutuknya. Tapi bagaimana lagi? Haruskah Ia menyerahkan kesuciannya kepada sampah terburuk yang pernah dilihatnya itu?


Haruskah Ia hanya diam saja ketika ketidakadilan menghampiri dirinya?


Haruskah Ia menjilat kaki bangsawan itu dan memohon ampunan seperti hewan?


Sesaat sebelum menyerang Earl Barlor, Reina memikirkan semua ini dengan matang-matang dalam waktu yang melambat itu. Dan satu-satunya pilihan bagi dirinya hanyalah ini.


Pilihan yang sangat berat. Tapi diperlukan untuk tetap menjaga harga dirinya sendiri.


'Sreeett!'


Reina menarik tubuh bangsawan gemuk itu dengan tangan kanannya.


"Kau.... Kau masih hidup bukan? Tak perlu berpura-pura mati seperti itu." Ucap Reina sambil memberikan tatapan tajam pada Earl Barlor.


Mengetahui bahwa usahanya sia-sia, Barlor hanya memiliki satu pilihan terakhir.


"Ku... mohon... maaf... kan... aku...." Ucap Barlor dengan suara yang terpatah-patah dan mulut yang dipenuhi dengan darah.


"Berapa kali kau melakukan ini?" Tanya Reina.


Barlor hanya terdiam saja setelah mendengar hal itu. Tapi sesaat setelah Reina menyiapkan tangan kanannya untuk memukul wajah Pria itu, Ia mulai berbicara.


"Aku... sejak... 5 tahun lalu...."


"Begitu kah?" Balas Reina singkat sambil segera berdiri.


Ia kemudian mengangkat sebuah batu yang cukup besar dengan tangan kanannya sebelum kembali ke hadapan Earl Barlor.


"Tu-tunggu dulu! Kita... bisa...."


'Brruukkk!!!'


Batu itu jatuh tepat mengenai kepala Barlor. Meremukkannya dengan seketika.


"Sekarang.... Bagaimana aku selamat dari masalah ini? Dimas.... Berikan pendapatmu...." Ucap Reina sambil memperhatikan kekacauan yang baru saja dibuatnya.


Puluhan tubuh tergeletak di berbagai tempat dengan kondisi kematian yang berbeda-beda. Apa yang sama yaitu kolam darah yang terbentuk karena seluruh luka mereka.