
Mendengar pertanyaan dari Lucas, Leo hanya terdiam tanpa bisa menjawab sepatah kata pun. Selene yang baru saja selesai mengembalikan pedang suci itu ke wadahnya pun hanya bisa duduk dalam diam.
"Katakan sesuatu! Kau pasti tahu tentangnya bukan?!" Tanya Lucas yang kini terlihat sedikit marah.
Sedangkan Reina sendiri hanya bisa terbelalak karena tak bisa percaya. Bahwa orang yang selalu di carinya mungkin diketahui oleh Pria bernama Leo itu.
"A-aku bilang.... A-apa yang ingin kalian lakukan dengannya?" Tanya Leo kembali. Berusaha untuk mengubah alur pembicaraan ini.
Satu-satunya alasan baginya untuk tak mengatakan identitasnya kepada Reina sebelumnya, adalah karena Leo berpikir Reina telah bahagia dengan Pria bernama Lucas itu.
Bahwa mungkin saja Reina telah melupakannya. Telah menganggapnya tiada.
Bahwa mungkin saja.... Reina akan membenci dirinya yang sebelumnya terlihat begitu kejam kepada orang lain.
Leo tak ingin merusak kehidupan bahagia Reina yang saat ini. Itulah yang ada di dalam pikirannya selama ini. Ia berpikir bahwa Reina sudah sepantasnya untuk hidup bahagia dengan Lucas. Melupakan masa lalunya di desa kecil itu.
Lagipula, pertemuan mereka berdua tak begitu lama. Mungkin hanya satu atau dua Minggu saja di desa itu sebelum akhirnya terpisah. Leo berpikir bahwa tak mungkin akan terbentuk suatu ikatan yang seperti ini.
Mengingat bahwa dirinya.... Tak pernah beruntung dengan wanita selama hidupnya.
Akan tetapi, mengetahui bahwa Reina ternyata selama ini sedang mencari dirinya....
Dengan keadaan bahwa kedua orang itu telah menganggap dirinya memanglah Leo, seorang pedagang yang cukup kejam....
Leo tak lagi bisa mengatakannya.
Apa yang akan terjadi jika Leo bilang bahwa dirinya adalah Dimas? Apakah mereka berdua bisa percaya kali ini?
Tidak. Tentu saja mereka akan menganggap bahwa Leo mengatakan omong kosong.
Akan tetapi....
"Aku.... Aku masih percaya bahwa dia masih hidup.... Dia berjanji, akan mengajakku hidup damai di desa.... Melupakan semua omong kosong tentang pahlawan ini...."
Reina terus mengatakan alasannya sambil terus meneteskan air mata. Beberapa kali Ia harus berhenti untuk mengatur nafasnya.
Meski begitu, dalam hatinya Ia merasa ada sesuatu yang salah. Dalam hatinya Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Tapi di saat Ia berusaha untuk mengingat kembali bagaimana wajah yang sebenarnya dari Dimas itu sendiri, Ia tak pernah bisa berhasil.
Penyebabnya tak lain karena Reina terus menerus hidup dalam kegelapan sejak hari itu. Hari dimana Ia berpikir bahwa satu-satunya rekannya di dunia ini telah mati karena kesalahannya.
Dengan pemikiran itu, alam bawah sadarnya selalu berusaha untuk melindungi dirinya sendiri. Dengan membuatnya melupakan sedikit demi sedikit peristiwa itu. Akan tetapi tidak dengan alam sadarnya.
Ia terus bertualang dan bertarung dengan nekat atas satu tujuan. Yaitu ketika bertemu dengannya kembali, Ia dapat melindunginya.
Tapi jika ditanya kembali....
Memang seperti apa orang yang membutuhkan perlindungannya itu? Reina mulai kesulitan untuk menjawabnya. Hanya mengenang beberapa kalimat terakhir dan juga kejadian ketika bersamanya.
Itulah yang membuat wajahnya nampak begitu rumit. Dikuasai oleh kebingungan, rasa takut, dan juga tekanan dari banyak orang di sekelilingnya. Sebuah tekanan yang memaksa untuk alam sadarnya menyerah atas kenyataan pahit itu.
Leo yang melihat hal itu merasa sangat terpukul atas kebodohannya barusan.
Kenapa Ia tak mengatakannya sejak awal? Kenapa Ia membuang namanya? Kenapa Ia melakukan semua itu?
Apakah masa lalunya seburuk itu hingga Ia harus lari dari kenyataan? Apakah Reina memang hidup damai di desa selama dirinya bersantai-santai di kota ini?
Tidak....
Pada kenyataannya, Reina justru yang paling merasa menderita. Harus selalu melawan fakta bahwa mungkin saja sosok Dimas yang menyelamatkannya dari bandit telah mati.
Ia harus selalu melawan perkataan orang lain untuk menyerah dalam mencarinya. Ia harus melawan waktu untuk mencari keberadaannya secepat mungkin sebelum semuanya terlambat.
Dan semua itu ditunjukkan oleh semua luka yang ada di tubuhnya. Dimana saat ini, hampir seluruh tubuh Reina terbalut oleh perban.
Berusaha secepat mungkin untuk menjadi kuat, sehingga Ia tak lagi menjadi beban baginya. Agar Ia bisa segera mencari dan menyelamatkannya kali ini.
"Ya, aku mengenalnya. Aku memintanya untuk mengirim barang di Kota Daeta bersama dengan puluhan pekerja yang lain." Balas Leo tanpa sedikit pun melihat ke arah mata mereka berdua.
Mendengar hal itu, Reina langsung tersenyum lebar.
"Benarkah? Syukurlah.... Dimas.... Jadi kau hidup dengan baik disini ya?" Tanya Reina pada dirinya sendiri.
Sedangkan Lucas sendiri masih tidak percaya.
"Apakah kau mengatakan yang sebenarnya? Lihatlah mataku. Jika itu memang dia, katakan, seperti apa dia?" Tanya Lucas yang kini mulai terlihat marah.
"Tentu saja.... Dia sering mengatakan bahwa dia adalah pahlawan yang dikirim oleh Dewi." Ucap Leo yang masih tak berani untuk menatap wajah kedua orang itu.
'Apa yang kau lakukan?! Berhentilah berbohong!'
Leo kini mulai bentrok dengan dirinya sendiri. Di satu sisi, hatinya sangat ingin berteriak mengatakan yang sebenarnya. Tapi di sisi lain, pemikiran logisnya hanya ingin melihat Reina bahagia.
Meskipun....
Itu berarti bahwa gadis pertama yang membuatnya jatuh hati itu akan bersama dengan Pria lain.
Lucas telah diceritakan oleh Reina mengenai sosok bernama Dimas itu. Jadi kini Ia bisa percaya bahwa Dimas mungkin memang bekerja di bawahnya.
"Tentu saja. Meskipun aku masih tak percaya mengenai yang dikatakannya. Bukankah pahlawan di dunia ini hanya ada 8?" Tanya Leo masih tak berani menatap mata mereka.
'Berhentilah! Kumohon! Apa yang kau lakukan?!'
Semakin kuat Leo berusaha untuk mengutarakan kebenarannya, Ia justru semakin dalam menimbun dirinya sendiri dalam tumpukan kebohongannya.
Saat ini, Ia sendiri bahkan ragu apakah apa yang dilakukannya ini benar-benar untuk kebahagiaan Reina. Atau semata-mata hanya untuk menenangkan pikirannya saja.
"Memang sulit dipercaya, tapi itulah kenyataannya. Lalu, kapan dia akan kembali kesini?" Tanya Reina yang setiap detik semakin ceria itu.
"Mungkin 2 minggu lagi...." Balas Leo yang kini semakin menghindari tatapan dari Reina dan juga Lucas. Ia terus memalingkan wajahnya ke kanan, menatap dinding kayu. Membawa kebohongannya semakin dalam.
'Kenapa aku melakukan ini?! Berhentilah berbohong dan katakan padanya! Apa sulitnya?! Cepatlah berhenti!'
Setiap perkataan yang dikeluarkannya, Leo hanya bisa semakin menyesal. Leo tak tahu kenapa Ia harus berbohong mengenai hal ini.
Dan apakah....
Ini memang yang terbaik untuk Reina? Atau untuk dirinya sendiri?
Leo sama sekali tak memahami apa yang baru saja dilakukannya. Biasanya Ia selalu bisa mengatasi masalah dengan kepala dingin.
Tapi dalam hal ini saja....
"Bukankah itu bagus, Lucas! Aku akhirnya akan bertemu dengannya! Kau juga bisa membawa tunanganmu kemari. Claire pasti juga akan senang dengan...."
'Braakk!!!'
Leo seketika berdiri dan memukul meja itu dengan keras. Tapi matanya masih tak mampu untuk melihat orang lain. Bahkan Selene yang sedari tadi mengkhawatirkannya.
Tatapannya tertuju tepat di meja. Sedangkan pukulannya sendiri telah menumpahkan gelas minumannya. Mengotori sebagian meja dan lantai ruangan ini.
Logikanya seketika kalah dengan perasaan dalam hatinya sendiri tepat setelah mendengar perkataan terakhir Reina. Meruntuhkan semua pemikiran yang selama ini dibangunnya.
Yaitu sebuah pemikiran, bahwa Reina akan hidup bahagia dengan Pria bernama Lucas itu. Yang pada kenyataannya adalah sebuah anggapan yang salah besar.
"Selene.... Maaf, aku menumpahkan minumannya. Bisakah kau pergi dan memanggil seseorang untuk membersihkannya?" Ucap Leo dengan suara yang gemetar.
"Dengan segera, Tuanku." Balas Selene yang segera berdiri dari kursinya. Meninggalkan ruangan ini.
"Lucas.... Bisakah kau meninggalkan kami berdua? Ada sesuatu yang ingin ku bahas dengan Reina." Ucap Leo dengan suara yang masih gemetar.
Setelah memikirkannya sejenak, Lucas pun berdiri dari kursinya.
"Baiklah." Balas Lucas singkat sebelum berdiri dan meninggalkan ruangan ini. Meninggalkan Reina dan juga Leo berdua di dalam.
"Leo? Ada apa?" Tanya Reina kebingungan.
Pada saat ini, Reina mulai sedikit merasa sesuatu yang mengganjal di hatinya.
'Kenapa? Kenapa aku merasa sedikit nostalgia dengan suaranya? Sedangkan penampilannya itu....'
"Reina. Kemari lah. Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu." Ucap Leo yang berjalan ke arah sebuah rak buku itu.
Tanpa menaruh rasa curiga dan semacamnya, Reina pun segera berdiri. Melangkah mendekati Pria bernama Leo itu.
Setelah Ia sudah cukup dekat dengannya, Leo segera membalikkan badannya. Menunjukkan wajah yang terlihat begitu sedih dan kebingungan.
"Leo? Ada apa?" Tanya Reina.
Semua itu terjadi secara tiba-tiba. Bahkan Reina tak mampu untuk bereaksi karena tidak menggunakan kemampuan sihirnya.
Leo dengan cepat mendekat ke arah Reina sang memeluk tubuh wanita itu dengan erat. Isak tangis dapat terdengar dari Pria yang sebelumnya terkesan begitu mengerikan itu.
"Reina.... Maafkan aku meninggalkanmu begitu saja saat itu.... Kau pasti menderita bukan? Memikirkan mungkin saja aku telah mati atas para bandit itu? Maafkan aku...."
Leo terus menangis sambil mengutarakan semua isi hatinya.
Tak ada lagi kebohongan. Tak ada lagi yang ditutupi olehnya. Ia hanya ingin mengutarakan apapun yang ada di dalam hatinya agar tak ada lagi penyesalan di kemudian hari.
Sedangkan Reina sendiri hanya bisa terdiam. Kebingungan mengenai apa yang baru saja dikatakan oleh Leo.
"Bagaimana kau.... Bisa mengetahui hal itu? Dimas mengatakannya padamu?"
Meskipun Reina merasa sedikit aneh dengan situasi ini. Perasaannya merasakan suatu hal yang nostalgia dengan suaranya.
Penampilannya mungkin memang cukup berbeda. Tapi Reina mulai merasa ragu. Apakah Pria yang ada di hadapannya itu....
Sesaat setelah mendengar pertanyaan Reina itu, Leo segera menggelengkan kepalanya sekuat tenaga. Berusaha untuk mengatakan bahwa semua itu salah.
"Aku berbohong.... Selama ini aku.... Maafkan aku.... Aku selalu berpikir kau selalu hidup dengan damai di desa Canary.... Tapi mengetahui kau bahkan lebih menderita dariku...."