E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 117 - Masalah Besar



Leo saat ini sedang berdiri di atas sebuah gerbang sisi Utara Kota Venice. Memandangi sosok 5 Ksatria Berkuda yang bergerak secara perlahan ke arah dinding kota ini.


Dua diantara mereka membawa lambang bendera umat manusia dengan warna biru dan putih yang indah. Mengangkatnya ke udara dengan satu tangan.


Dari bendera itu saja Leo sudah tahu, bahwa mereka berlima merupakan seorang utusan dari Kerajaan secara langsung.


"Apa yang akan kita lakukan, Tuan?" Tanya Luna yang berdiri di sebelahnya.


"Sembunyikan para pasukan divisi khusus. Setidaknya sembunyikan senjata mereka. Akan buruk jika mereka mengetahui lebih lanjut mengenai kekuatan kita, meskipun aku yakin Sheila telah melaporkannya." Jelas Leo sambil segera lompat ke bawah.


Ia turun dari dinding setinggi 12 meter lebih itu dengan sikap yang tenang. Bahkan tanpa adanya sedikitpun kesulitan.


Semua itu dikarenakan Leo telah melakukan Enchanting pada kedua kakinya sendiri untuk membuatnya menjadi lebih kuat dan juga lebih cepat.


Setelah sampai di bawah, Leo nampak merentangkan kedua tangannya seakan meminta Luna juga untuk turun kebawah.


Gadis berambut hitam yang diikat ekor kuda itu pun segera melompat tanpa ragu. Mempercayakan dirinya kepada Leo.


'Sreett!'


Leo yang menangkap Luna secara perlahan itu pun segera menurunkannya sebelum segera berjalan ke arah keluar gerbang.


Di sisi lain, Selene nampak memantau dari dalam gerbang. Bersiap dengan panah yang diperkuat dengan Rune buatan Leo itu.


Jika ada sesuatu yang salah atau sesuatu yang mencurigakan, Selene akan segera bergerak dan membunuh ancaman itu dari lokasi yang aman.


Setibanya di luar gerbang....


'Kretaak! Kretaakk!'


Kelima Ksatria Berkuda dengan zirah yang lengkap itu pun mulai memperlambat pergerakan mereka. Setelah cukup dekat, tiga diantara mereka pun turun dari kuda sambil segera berjalan mendekati ke arah Leo.


Salah satu diantaranya nampak mengeluarkan sebuah gulungan dengan segel biru kerajaan yang cukup besar. Ia pun membukanya dan membacakannya tepat di hadapan Leo tanpa sedikitpun memberikan hormat.


"Kepada Alexander Leonardo! Kejahatanmu dalam mengambil alih Wilayah Barat dari Rustfell, dan Kota Venice khususnya, takkan lepas dari hukuman! Duke Achibald secara langsung memberikan ultimatum kepadamu.


Segera turun tahta dan serahkan kembali kursi Kota Venice dan wilayah ini kepada Duke Achibald. Jika tidak, maka kami akan meratakan semua wilayah ini dengan tanah!" Teriak Ksatria itu dengan lantang.


Tatapannya bahkan terlihat cukup meremehkan Leo yang memandangi mereka dengan tatapan yang tajam itu.


Tapi balasan dari Leo juga tak kalah meriah.


"Kalau begitu, sampaikan kepada Duke botak itu untuk berterimakasih padaku setelah menyelamatkan wilayahnya. Kemudian sangat disayangkan, bahwa saat ini.... Warga jauh lebih cinta kepadaku daripada bangsawan. Apalagi Duke botak itu."


Balasan Leo itu seketika membuat amarah salah satu Ksatria meledak. Tanpa ragu, Ia pun melayangkan tinju dengan tangan kanannya ke arah wajah Leo.


'Taappp!'


Tapi Leo menahannya dengan mudah menggunakan tangan kirinya.


"Eh?!"


"Ada apa? Bukannya ingin memukulku?" Tanya Leo dengan tatapannya yang terkesan begitu meremehkan.


Mereka bertiga kemudian mengalihkan perhatiannya kepada seorang pegawai sipil di sebelah Leo. Tepatnya adalah Luna, ketua dari seluruh organisasi militer yang telah dibentuk dan direformasi oleh Leo itu.


"Apakah kau setuju dengan pendapat Pria hina ini?! Menggunakan legitimasi palsu dengan menikahi anak angkat dari seorang bangsawan tak berarti memiliki hak untuk memerintah wilayah ini! Terlebih lagi untuk bertingkah seperti seorang bangsawan!" Teriak Ksatria yang lain.


Tapi Luna pun dengan cepat membalasnya setelah membenahi pita yang ada di bagian dadanya.


"Sayang sekali, tapi perkataan Tuan Leo itu benar. Saat ini, semua penduduk di wilayah Barat dari Rustfell jauh lebih percaya kepada Tuan Leo daripada bangsawan yang hanya menindas mereka." Balas Luna juga dengan tatapan yang dingin.


Mungkin karena Luna saat ini sering bekerja bersama dengan Leo, sedikit sikap dinginnya mulai menular kepadanya.


Merubah sosok Luna yang dulunya cukup lugu menjadi salah satu politisi, atau petinggi wilayah dengan kharisma dan kepercayaan diri yang kuat. Termasuk juga dengan hati yang teguh dan tak mudah untuk takut dengan gertakan lawannya.


Mendengar balasan itu, Ksatria yang membawa gulungan resmi itu segera menutupnya kembali sebelum berbicara.


"Kalau begitu, jangan menyesal jika jasad kalian tidak akan dikuburkan dengan layak." Ucap Ksatria itu sambil kembali menaiki kudanya.


Dan tak berselang lama, mereka berlima pun segera berbalik arah untuk kembali ke wilayah Eastfort.


"Tuan, bukankah ini cukup buruk? Melawan pasukan kuat dan terlatih seperti mereka hanya dengan prajurit wanita dan orang lanjut usia...."


"Aku tahu. Divisi khusus saat ini hanya terdiri atas 800 prajurit dengan senjata sihir itu. Sisanya hanyalah pasukan biasa dengan tombak.


Terlebih lagi.... Mereka menolak legitimasi itu ya? Wajar saja, tapi setidaknya aku memiliki legitimasi terhadap semua penduduk di wilayah ini." Balas Leo dengan cukup panjang lebar.


Mereka berdua pun kembali memasuki gerbang. Kembali ke dalam kota Venice.


Tapi kali ini....


"Luna. Bagi pasukan ke berbagai wilayah. Setidaknya satu kota terdapat 2.000 prajurit dan juga 400 prajurit untuk satu desa. Aku akan pergi ke Desa Rarth untuk meminta bantuan." Ucap Leo.


"Eh?! Tapi bukankah itu terlalu banyak? Pasukan reguler kita saat ini hanya ada 6.000 prajurit dan...."


"Lakukan saja. Aku yakin mereka akan mulai menebar banyak terror dan juga fitnah di berbagai wilayah. Untuk itu, kita perlu keberadaan prajurit untuk menekan hal itu." Balas Leo.


Dengan pengalamannya di kehidupan sebelumnya, Leo tahu bahwa membuat orang kesal adalah gigitan manis terakhir sebelum memperoleh rasa pahit yang dalam.


Dan dalam permainan kerajaan seperti ini, Leo sangat yakin bahwa pihak lawannya akan berusaha untuk menjatuhkan nilai dari dirinya dengan menebar banyak fitnah.


Sekaligus berusaha untuk membuat para penduduk memberontak kepada dirinya.


Meski begitu, Leo terlihat tertawa pada dirinya sendiri.


"Hahaha.... Coba saja lakukan jika bisa. Akan ku tunjukkan pada kalian, bagaimana bangsaku dulu melawan pembuat masalah seperti kalian."


Setelah itu, Leo pun segera kembali ke barak untuk membahas mengenai masalah serius ini. Termasuk membuat regu dan tim khusus yang bertugas untuk memburu para penyusup dari wilayah luar.


......***......


'Braakkk!'


Di dalam ruang rapat itu, Feris nampak memukul mejanya sendiri dengan cukup keras. Menumpahkan minuman yang ada di sampingnya.


Semua itu terjadi setelah Feris memperoleh laporan dari kelima utusannya yang dikirim ke wilayah Venice.


"Sialan.... Leo ya?! Kau pikir sudah hebat dengan merebut wilayah itu?!" Tanya Feris pada dirinya sendiri.


"Nona Feris, tenangkan diri Anda! Belum tentu juga bahwa orang bernama Leo ini akan melakukan hal buruk disana! Lagipula jika dia memang memiliki kecerdasan setinggi itu...."


"Diamlah, Tuan Theodore. Ini adalah masalah serius yang menentukan nasib umat manusia." Balas Feris dengan tatapan yang seakan dipenuhi kebencian.


"Itu benar sekali, Tuan Theodore. Anda mungkin tidak merasakannya, tapi itu adalah wilayahku! Mendengar bahwa Pria bernama Leo ini, beserta dengan pasukannya menjajah wilayahku....


Bahkan memanfaatkan para wanita yang ada di sana.... Tentu saja aku tak bisa diam bukan?" Balas Duke Achibald dengan penuh kemarahan.


Di luar ruangan itu, sosok Sheila terlihat sedang berjalan sambil tersenyum puas setelah mendengar keributan yang terjadi di dalam ruang rapat itu.


Ia terus berjalan secara perlahan menuju ke ruangan pribadinya yang telah disiapkan oleh Feris.


Setelah Ia tiba di dalamnya, Ia tak lagi bisa menahan tawanya.


"Buahahaha! Manusia-manusia bodoh ini, semuanya percaya dengan perkataanku?! Dan mereka menganggap diri mereka cerdas? Yang benar saja, jangan buat aku tertawa lebih dari ini!" Ucap Sheila pada dirinya sendiri dengan tubuh dan juga suara yang secara perlahan mulai berubah.


Pakaiannya seakan terbakar. Kulitnya seakan meleleh. Dan sepasang sayap nampak tumbuh di bagian pinggang belakangnya.


Perubahan fisiknya yang terjadi cukup drastis. Kini dengan rambut kemerahan yang indah serta telinga yang cukup runcing, Ia memperhatikan dirinya sendiri di sebuah cermin besar itu.


"Aaah.... Tuan Valkazar.... Aku akan memberikan kemenangan telak untuk Anda.... Syukurlah aku bisa memperoleh salah satu tubuh tokoh penting di kota yang sepi itu...." Ucap wanita yang memiliki penampilan yang begitu menawan itu sambil membelai cermin di hadapannya.


Tanpa manusia sadari....


Perang di wilayah Iblis telah berakhir dengan kemenangan telak Valkazar.


Kini dengan pendekatannya yang jauh berbeda daripada para tetua iblis, Valkazar telah mengeluarkan salah satu kartunya untuk menusuk tepat di jantung umat manusia.


Menciptakan sebuah perang saudara dengan banyaknya berita palsu dan juga konflik internal yang tak lain disebabkan oleh para Succubus yang dikirim oleh Valkazar.