
Merasa tak percaya atas apa yang baru saja dikatakan oleh Ferry, Leo pun dengan segera pergi ke kedai itu bersamanya.
Sedangkan Artemis dan juga Reina memutuskan untuk beristirahat di penginapan. Perjalanan panjang mereka serta tempat tidur yang tak nyaman selama perjalanan membuat mereka berdua merindukan kasur yang empuk.
Begitu pula dengan keenam prajurit yang mengawal Leo.
Dengan pengecualian yaitu Selene yang bahkan tanpa menginjakkan kaki ke penginapan segera mengikuti Leo dan juga Ferry. Tugasnya sebagai pengawal jauh lebih berharga baginya dibanding dengan istirahat sesaat itu.
Terlebih lagi, Tuannya juga sama sekali belum beristirahat selama perjalanan ini.
Setibanya di tempat kedai itu....
Sebuah bangunan dua lantai yang cukup indah terlihat mampu menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Dengan pintu masuk dengan model dua pintu yang cukup besar serta papan nama bertuliskan [Kedai Bulan] yang indah nampak menghiasi kedai ini.
Tak hanya itu, sepasang pria dan wanita nampak berdiri di depan pintu kedai tersebut. Menyambut siapapun yang datang ataupun pergi. Memberikan nuansa kelas tinggi yang begitu menawan.
Bahkan dari banyaknya pengunjung yang datang, sebagian besar nampak mengenakan pakaian yang terlihat indah dan mahal. Membuat Leo menelan ludahnya sendiri karena tak mempercayai pemandangan ini.
Ketika Ia mencoba untuk masuk ke dalam bersama dengan Ferry dan juga Selene....
"Aah, Tuan Leo. Selamat datang di Kedai Bulan. Untuk tiga orang? Waktu yang tepat, hanya tersisa dua meja saja. Silakan masuk." Ucap seorang gadis dengan penampilan yang begitu cantik itu.
"Selamat menikmati waktu Anda di Kedai Bulan ini." Ucap pemuda yang tak kalah menawan sambil membungkukkan badannya di hadapan pengunjung.
'Tata Krama seperti ini.... Terlebih lagi dandanan mereka.... Wajar saja jika sebagian besar pengunjungnya adalah orang kaya. Kemudian....' Pikir Leo dalam hatinya sambil melihat interior di dalam kedai itu.
Lampu gantung yang indah dengan dekorasi beberapa pedang dan zirah yang dipajang di beberapa dinding dan sudut ruangan itu nampak begitu mempesona.
Tak hanya itu, berbagai lampu dari batu Mana dengan bentuk bulan terlihat menyinari ruangan dengan cahaya biru dari atap ruangan. Seakan melawan cahaya kuning dari sebagian besar lampu gantung yang ada.
Meski begitu, hasilnya nampak begitu indah dan menakjubkan. Bahkan membuat Leo sendiri tak bisa mempercayai apa yang dilihatnya.
"Silakan ikuti saya, Tuan dan Nona sekalian." Ucap salah seorang pelayan dengan pakaian yang rapi itu. Potongan rambutnya yang pendek hanya meningkatkan ketampanan pemuda itu.
"Ba-baiklah...." Balas Leo sambil berjalan ke arah sebuah meja dengan 4 kursi itu.
Ketika Ia kembali memperhatikan sekeliling, setidaknya terdapat 4 meja dengan ukuran untuk 8 pengunjung, kemudian 12 meja dengan ukuran untuk 4 pengunjung, serta 20 meja dengan ukuran untuk 2 pengunjung.
Dan pada saat ini, bahkan di siang hari ini, hampir semuanya telah terisi penuh.
Di saat Leo merasa takkan ada lagi yang bisa mengejutkannya, terlihat beberapa pelanggan turun dari lantai dua dengan wajah yang terlihat begitu puas dan kenyang.
'Jangan katakan.... Bahkan lantai dua juga penuh? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?' Pikir Leo dalam hatinya.
Akan tetapi, saat ini hanya Leo seorang yang kebingungan. Selene sendiri terlihat begitu menikmati suasana ini sambil mengobrol bersama Ferry. Menjelaskan beberapa hal yang terjadi selama 17 hari ini.
Setelah beberapa saat, mereka kemudian mulai membuka menu makanan yang disediakan di kedai ini. Menu tersebut terbuat dari papan kayu tipis yang halus dengan tulisan yang rapi di atasnya.
"Bukankah semuanya menarik, Nona Selene?" Tanya Ferry kepada wanita berambut putih itu.
"Kau benar. Kurasa aku akan mencoba bebek bertulang lembut dengan saus pedas manis ini." Ucap Selene sambil menunjuk ke arah tulisan di menu itu.
"Kalau begitu aku akan mencoba steak sapi asap dengan saus rempah." Ucap Ferry.
Tapi ketika keduanya melihat ke arah Leo....
"Wawawawawawawa...."
'Yang benar saja?! 4 koin emas dan 7 koin perak untuk makan dan minum disini?! Apa-apaan ini?! Perampokan?! Yah, ini memang kedai makan ku.... Tapi tetap saja!' Teriak Leo dalam hatinya masih dalam ketakutan.
Dengan wajah yang masih gugup, Leo akhirnya pun memutuskan pesanannya.
"A-aku.... Aku cukup dengan ayam bakar saja...."
Setelah menyampaikan semua pilihan hidangan mereka, termasuk minumannya, akhirnya sang pelayan pun pergi untuk menyampaikannya kepada dapur.
Meninggalkan Leo masih dalam keadaan kebingungan dan panik berlebih.
'Tunggu dulu.... Apa yang sebenarnya terjadi?' Tanya Leo kembali pada dirinya dengan dua tangan yang menutupi wajahnya.
Sedangkan Selene sendiri nampak terus berbicara dengan Ferry. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi pada saat ini Leo tak mampu untuk fokus. Ia hanya terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
Di sekelilingnya, nampak banyak sekali orang kaya yang terlihat begitu puas menikmati hidangan mereka. Diikuti dengan canda dan tawa yang dapat terdengar dengan mudahnya.
Sesekali, terlihat sosok pelayan yang menawan membawakan menu makanan mereka. Penyajiannya pun begitu indah karena tidak menggunakan piring kayu seperti kedai murahan, melainkan menggunakan piring keramik yang indah.
Setelah beberapa saat berlalu....
"Pesanan Anda, Tuan dan Nona." Ucap pelayan itu sambil membawa rak yang dapat didorong dengan sistem roda. Di atas rak tersebut terlihat dengan jelas menu makanan yang mereka pesan.
Terlebih lagi....
'Serius?! Apakah aku sudah kembali ke jaman modern sekarang?!' Teriak Leo dalam hatinya sambil melihat piring besarnya yang ditutup oleh penutup besi yang berbentuk setengah lingkaran.
Ia jadi teringat mengenai pengalamannya ketika diajak orangtuanya makan di tempat yang mewah pada saat kecil.
Melihatnya di dunia fantasi seperti ini?! Apakah itu mungkin?!
Karena Leo tak kunjung membuka penutup makanan itu, sang pelayan pun membantu membukanya. Memperlihatkan hidangan yang begitu mewah di baliknya.
Seekor ayam utuh yang dibakar dengan bumbu kecap dan berbagai rempah lainnya. Penampilannya begitu indah dengan warna coklat kehitaman, menunjukkan kecap yang mulai mengalami karamelisasi.
Uap panas yang keluar dari hidangan itu menunjukkan bahwa ayam bakar tersebut baru saja selesai dimasak. Membuat aroma lezatnya menyebar ke seluruh ruangan, menemui aroma lezat yang lainnya di tempat ini.
Tak hanya itu, di atas ayam bakar tersebut terdapat beberapa helai daun yang nampak seperti rerumputan tapi menimbulkan bau yang begitu sedap.
Hidangan sampingan dari ayam bakar itu sendiri cukup lengkap. Dengan sayur selada di sisi kanan piring besar itu, serta beberapa irisan tomat dan mentimun yang ditata rapi.
Termasuk juga potongan kentang yang telah ditumbuk lembut hingga menyerupai bubur. Tapi teksturnya yang masih kental dan tak begitu encer membuatnya menjadi pengganti nasi yang sempurna untuk hidangan ini.
Terlebih lagi....
Siraman saus kecoklatan di sisi bawah piring itu mengeluarkan bau yang begitu menggoda hingga membuat siapapun meneteskan air liurnya.
Melihat semua keindahan itu....
Leo masih terdiam dengan tatapan yang penuh kebingungan. Sedangkan Selene dan juga Ferry telah mulai menikmati hidangan mereka sambil tetap bercerita. Meninggalkan Leo sendirian.
Setelah beberapa saat....
Akhirnya....
'Aah.... Sudah lah. Aku tak peduli lagi bagaimana semua ini bisa terjadi. Bagaimanapun.... Ayam bakar ini telah memanggilku....' Ucap Leo dalam hatinya sambil melupakan semua beban pikirannya.