
Segera setelah Leo mempersenjatai Selene dengan layak, Ia juga membeli beberapa perlengkapan sederhana untuk 8 bawahannya dan peralatan masak untuk 2 bawahan wanitanya.
Perlengkapan yang dibeli yaitu sebuah pedang satu tangan dan perisai kayu kecil. Begitu pula dengan sepatu dan sarung tangan kulit.
Semua bawahan laki-lakinya akan ditugaskan oleh Leo sebagai regu penjaga. Tugas mereka hanya satu, yaitu mengamankan karavan yang dibawa oleh Leo di masa depan.
Sedangkan dua bawahan wanitanya akan ditugaskan untuk mempersiapkan masakan dan berbagai kebutuhan lainnya selama perjalanan.
Jarak antar kota di dunia ini sebenarnya memang tak terlalu jauh. Tapi permasalahannya adalah di dunia ini tidak terdapat kendaraan yang bisa bergerak 60 km per jam atau lebih.
Manusia sendiri dapat berjalan dengan kecepatan sekitar 3 hingga 4 kilometer per jamnya. Sedangkan kereta kuda sendiri mungkin sedikit lebih cepat jika bergerak dengan santai.
Hal itulah yang membuat perjalanan antar Kota bisa memakan waktu berhari-hari. Sehingga bermalam di jalan antar kota adalah hal yang wajar.
Itulah mengapa Leo membutuhkan tenaga tambahan untuk mendirikan tenda dan membuat masakan. Lagipula, masakan Leo dan juga Artemis hanya lulus dalam hal 'bisa dimakan' dan tidak lulus dalam hal lainnya.
"Kalian mengerti? Berlatih lah di bawah selama aku mengumpulkan uang untuk ekspedisi berikutnya. Sedangkan untuk para wanita, kalian berdua berlatih lah memasak.
Pelajari sebanyak mungkin jenis makanan selama ada di sini. Jangan khawatir, aku yang akan menanggung semua biayanya." Ucap Leo mengakhiri penjelasannya yang begitu panjang lebar itu.
Akan tetapi, terdapat sebuah pertanyaan yang mengganjal di kepala seseorang.
"Maaf Tuan, tapi bagaimana denganku?" Tanya Selene.
"Kau harus selalu ikut denganku dan melindungiku dari segala hal yang mungkin terjadi. Dimana pun, dan kapan pun." Balas Leo singkat.
Setelah Ia menjawab pertanyaan Selene, semua orang nampak terdiam.
"Jika tidak ada pertanyaan lagi, aku membubarkan pertemuan ini. Selamat bekerja." Ucap Leo yang dengan segera kembali keluar dari penginapan itu.
Sejak hari itu, Leo dan juga para bawahan barunya mulai bekerja dengan baik. Menetap sementara di Kota Venice ini.
......***......
...- Kota Venice -...
Beberapa Minggu telah berlalu.
Leo dan kelompoknya terus bekerja dengan baik untuk mengumpulkan uang. Penjualan senjata yang memperoleh Enchantment darinya pun berjalan dengan sangat baik.
Hingga hari ini, Leo telah mengantongi keuntungan sebesar 40 koin platinum lebih. Meskipun, uang yang tersisa saat ini hanyalah 22 koin platinum.
Meski terbilang mudah, tapi cara ini memiliki hambatan yang besar. Yaitu tubuh Leo sendiri memiliki kemampuan yang rendah. Sekalipun Ia melatihnya, perkembangannya pun sangat lambat.
Dan dalam hal ini, Mana adalah pembatas terbesar dalam bisnis ini.
Leo segera memutar otaknya untuk beralih ke perdagangan yang sebenarnya. Tapi untuk itu, Ia membutuhkan sedikit lebih banyak modal.
Hanya saja....
"Hmm? Kenapa ada barisan prajurit seperti ini?" Tanya Leo kepada Selene yang berdiri di sampingnya.
"Bangsawan, atau mungkin tokoh besar datang berkunjung ke kota ini, Tuanku." Balas Selene sambil memperhatikan barisan prajurit di jalanan itu. Yang seakan sedang menanti tokoh penting datang.
Mereka berdua pun memutuskan untuk melihat-lihat sebentar.
Hanya dalam sekejap, jalanan yang sebelumnya cukup sepi ini menjadi begitu ramai. Padat dengan orang-orang yang menanti kedatangan sesuatu yang besar.
Sorakan demi sorakan terdengar. Tapi tak ada seorang pun yang mampu melangkahkan kaki mereka di jalanan karena barisan prajurit yang berjaga.
Pada akhirnya, Leo dan juga Selene terpaksa untuk melihat dari belakang. Tepatnya di lantai dua sebuah kedai minuman.
'Serius, apa yang mereka nantikan? Apakah bangsawan di dunia ini semulia itu? Yang kulihat hanyalah sampah.' Pikir Leo dalam hatinya.
Akan tetapi, jawabannya segera muncul oleh pelayan di kedai ini.
"Anda membuat pilihan yang tepat untuk melihat dari sini. Jalanan itu terlalu padat hingga bernafas sekalipun akan sulit. Apalagi melihat sosok Pahlawan Karte." Ucap pelayan itu sambil meletakkan minuman berupa dua gelas kayu susu segar dan satu mangkuk roti isi ayam.
Perkataan itu tentu menyita perhatian Leo.
"Pahlawan? Apa maksudmu?" Tanya Leo singkat.
"Anda tidak tahu? Dikisahkan, mereka dipanggil oleh para Dewi untuk menyelamatkan dunia ini dari Iblis. Membawa kekuatan yang dahsyat dan melindungi umat manusia. Kemudian...."
Setelah mendengar semuanya, Leo tiba dalam satu kesimpulan yang sederhana.
'Delapan pahlawan itu telah berjuang untuk menyelamatkan dunia ini. Jadi tak ada gunanya aku ikut campur bukan? Kalau begitu aku akan tetap pada jalanku, hidup tenang di dunia ini.' Pikir Leo dalam hatinya.
Sedangkan Selene sendiri....
"Apanya pahlawan. Kudengar salah satu dari mereka mengumpulkan wanita yang cantik dan membuang-buang kekayaan kerajaan." Ucap Selene sambil memasang wajah yang tak peduli.
Sang pelayan pun segera kembali bekerja. Meninggalkan pembicaraan yang sedikit kurang nyaman itu.
"Begitu kah? Ceritakan lebih lanjut." Balas Leo.
Ia memang selalu tertarik untuk mempelajari dunia ini lebih lanjut dari berbagai sudut pandang. Dan semua itu, akan menjadi senjatanya di masa depan. Menutupi kelemahan fisiknya sendiri.
......***......
...- Kota Venice -...
Di dalam sebuah kereta kuda yang besar dan indah itu, seorang wanita dengan penampilan yang menyerupai seorang Pria itu duduk dengan tenang.
Tangannya terus menerus membolak-balikkan buku yang ada di hadapannya. Sesekali, Ia membenahi kacamatanya dengan tangan kirinya.
Duduk bersamanya dua orang Pria. Yang satu mengenakan zirah mithril yang berwarna putih cerah itu. Lambang pedang yang diselimuti oleh api biru terlihat di bagian belakang jubahnya.
Sedangkan yang satu lagi mengenakan pakaian yang terlihat cukup mewah dengan gaya seperti bangsawan.
Sosok kedua orang itu tak lain adalah salah satu petinggi terkuat di Kerajaan Manusia ini.
Amon, seorang petinggi dari salah satu organisasi paling kuat di wilayah manusia. Yaitu sebuah organisasi Ksatria yang hanya berisi para bangsawan terkuat dan terbaik. dengan tugas utama untuk melindungi ataupun memberikan hukuman kepada siapapun yang menghalangi jalan umat manusia.
Sedangkan Pria yang seperti seorang bangsawan itu sendiri adalah ketua dari Guild Dagang terkuat di wilayah manusia. Kekayaannya bahkan dikatakan mampu menyaingi kerajaan umat manusia itu sendiri.
Dengan seluruh kekayaan itu, Ia mendukung perang manusia melawan Iblis di berbagai tempat. Terutama di Eastfort. Hanya saja, Ia meminta imbalan yang cukup besar dari semua itu.
"Nona Feris. Aku masih ragu bahwa kau akan menemukannya disini." Ucap Ketua Guild Dagang yang bernama Martin itu.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Tanya Feris, salah satu dari pahlawan yang dipanggil oleh Cyrese.
Sementara itu, Amon hanya terdiam. Bukan tugasnya untuk berbicara dan membahas persoalan yang sedang dihadapi oleh Tuannya.
"Siapapun yang membuat ini, Ia selalu menjualnya di Kota yang dilewatinya lalu pergi ke Kota berikutnya. Ia tak pernah menetap di satu tempat. Anda pasti tahu mengenai hal itu bukan?" Tanya Martin sambil menunjukkan sebuah pedang satu tangan yang terlihat biasa.
Meski begitu, pedang itu memiliki kekerasan yang melampaui baja hitam, ketahanan yang sedikit dibawah Mithril, serta ketajaman yang seakan menyaingi Obsidian.
"Tapi apakah kau tahu bahwa Ia masih terus menjual barang-barang itu di Kota ini?" Tanya Feris.
"Apa? Itu tidak mungkin. Memang benar bahwa ada transaksi di kota ini sejak beberapa Minggu lalu. Tapi penjualnya hanya menemukan barang itu di kota lain dan...."
"Tidak. Aku mengagumi jaringan informasimu, Martin. Dan aku bersungguh-sungguh soal itu. Tapi aku juga memiliki jaringan dengan seluruh petualang dan prajurit di kerajaan ini.
Dan kau tahu? Setiap kali orang itu menetap di suatu kota, orang yang sama selalu ada di sana. Seorang petualang yang tak pernah menyelesaikan Quest. Seorang petualang yang hanya datang untuk menjual jasanya. Dan jasa itu adalah jasa penyembuhan." Jelas Feris dengan santai sambil tetap membaca bukunya.
"Petualang seperti itu selalu ada dimana-mana, lagipula skill penyembuhan bukanlah suatu hal yang lan...."
"Skill miliknya itu langka. Ia bisa menyembuhkan orang hanya dalam hitungan menit. Memang jika kau menyertakannya dengan kemampuan penyembuhan Tuan Ellia maka kemampuannya sama seperti pemula." Balas Feris memotong perkataan Martin.
Keheningan menguasai kereta ini selama beberap menit sebelum Martin kembali bertanya.
Ia tak ingin pahlawan yang memiliki kemampuan dan kecerdasan setinggi Feris membuang-buang waktunya untuk hal seperti mencari seseorang. Tapi Ia tak bisa mencegahnya karena Feris bilang hanya dirinya yang bisa membujuk orang itu.
Setelah beberapa saat....
"Lalu, siapa petualang itu? Aku akan segera meminta beberapa orangku untuk mencarinya." Ucap Martin.
"Aah, soal itu tak perlu. Penampilannya sangat mencolok sehingga tak ada satu petualang pun di kota ini yang tak mengenalinya." Balas Feris.
Setelah menjeda perkataannya selama beberapa detik, Feris pun melanjutkan perkataannya.
"Artemis. Itulah nama petualang yang selalu bersama dengan barang itu." Lanjut Feris sambil menunjuk ke arah sebuah pedang yang tak lain adalah pedang yang memperoleh Enchantment dari Leo.