E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 136 - Taste of Defeat



Melihat jatuhnya Komandan perang mereka, Thorax, semua Iblis yang ada di sekitar Leo kini mulai berlari. Menerjang ke arah Leo yang berdiri sendirian di tempat ini.


"Hahaha.... Menggelikan juga melihat pemandangan ini...." Ucap Leo pada dirinya sendiri.


Ia nampak berjalan ke arah salah satu jasad prajuritnya. Dan dengan cepat mengambil salah satu senjata sihir yang tergeletak di tanah itu.


Dengan tatapan yang telah siap untuk menjemput kematian itu, Leo kini berteriak.


"Iblis sialan! Setidaknya aku akan membawa sebagian dari kalian ke neraka bersamaku!"


'Daarrr! Daarrr!! Daarr!!!'


Leo kemudian menembakkan peluru sihir dari senjata itu dengan cepat. Tanpa memberikan sedikit jeda agar laras besi dalam senjata itu mendingin.


Hasilnya, laras besi itu meleleh dan hancur dengan sendirinya.


Tapi itu bukanlah masalah bagi Leo. Itu karena di sekitarnya, masih ada setidaknya 30 senjata sihir lain yang tergeletak, menunggu untuk digunakan.


'Brruukk! Braakk! Srruugg!'


Setiap dari peluru sihir itu yang mengenai barisan pasukan Iblis yang mengelilingi Leo itu, setidaknya satu Iblis akan mati atau terluka parah.


Tapi bersamaan dengan itu pula, jarak antara Leo dan juga barisan pasukan Iblis itu semakin dekat.


Tak hanya ratusan. Tapi kini, ribuan Iblis telah mengelilingi Leo yang hanya sendirian di tengah medan pertempuran ini.


Leo tahu, bahwa Ia takkan bisa selamat dari semua ini. Ia sangat yakin bahwa dirinya akan mati setelah ini. Lagipula, dari semua senjata sihir yang berada di dekatnya itu, semuanya telah berada dalam kondisi yang hampir kehabisan peluru.


'Ckleekk!'


"Cih!" Keluh Leo sambil melempar senjata sihir itu ke arah barisan pasukan Iblis karena peluru Mana yang ada telah habis.


Ia kemudian segera mengambil senjata lain. Tapi kini, Ia memegang dua senapan sihir itu di kedua tangannya.


'Daarr! Daarrr! Daaarrr!!!'


Tembakannya sama sekali tak terarah. Apa yang dilakukan Leo hanyalah menembak secara asal secepat mungkin sebelum laras besi senjata itu hancur, atau pelurunya sudah habis.


Dan dengan tawa yang sangat keras, Leo terus berusaha untuk membuat situasi yang penuh keputusasaan ini sedikit bisa untuk dinikmati.


"Hahahaha! Ada apa?! Kalian tak bisa mendekat?! Matila...."


'Zraaasshh! Jleebbb!'


Tak hanya diam, beberapa Orc yang ada di barisan terdepan mulai melempar kapak merekam Salah satu kapak tersebut berhasil dengan mudah memotong lengan kiri Leo hingga terjatuh ke tanah.


Sedangkan yang satu lagi nampak menancap di bagian punggungnya.


"Sialan.... Sakit sekali!" Teriak Leo dengan senyuman yang kini seperti orang yang sudah kehilangan akalnya.


Tentu saja, siapapun akan kehilangan akalnya dalam situasi seperti ini.


Tak ada kesempatan untuk kabur, tak ada pula kesempatan untuk selamat. Bahkan, orang terdekatnya baru saja dibunuh tepat di hadapan matanya.


Terlebih lagi....


Bangsa Elf yang meminta bantuan mereka untuk berperang melawan iblis itu, kini telah berlari meninggalkannya sendirian.


Untuk bertarung di negeri orang lain. Sendirian.


'Jleebbb!!!'


"Kuuggghh!!!"


Sebuah tombak terlihat menancap tepat di bagian perut Leo. Menembus hingga setengah tombak itu terlihat keluar dari punggungnya.


Sambil memuntahkan darah, pikiran Leo terus menerus berputar.


'Aku akan mati....'


Itu adalah satu-satunya hal yang terpikirkan di dalam kepala Leo saat ini. Sebuah hal yang sama sekali tak bisa disangkal kebenarannya.


'Masih kurang.... Aku harus membawa lebih banyak Iblis mati bersamaku.... Sebanyak mungkin....'


Dengan pikiran itu, Leo akhirnya teringat atas apa yang pernah dikatakan oleh Roselia kepadanya.


Sebuah sihir tingkat tinggi, yang dibayar dengan menggunakan inti Mana dari pengguna itu sendiri.


'Aaah.... Lagipula aku akan mati. Tak ada salahnya untuk mati dengan meriah bukan?'


Akhirnya, Leo melemparkan senjatanya ke tanah. Lalu mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah dadanya. Atau lebih tepatnya, ke arah jantungnya.


Tangan kirinya yang telah terpotong masih terus memancarkan darah yang mengalir seiring dengan detak jantungnya.


Dan kini, di bagian luar dari jantung tersebut, 7 buah lingkaran sihir dengan cahaya biru yang indah nampak berputar dengan cepat.


Dengan senyuman terakhirnya, Leo pun memejamkan matanya dan menanti kematiannya.


'Selamat tinggal....'


Tepat sesaat sebelum pasukan Iblis terdekat itu mengayunkan pedangnya, sihir tingkat tinggi Leo, Sacrificial Deed telah aktif.


Ke tujuh lingkaran sihir di depan dadanya itu berputar dengan sangat cepat. Dan dalam waktu yang bahkan tak sampai satu kedipan mata....


'Swwuuusshhh!!!'


Sebuah tekanan udara yang sangat kuat segera melemparkan apapun yang ada di sekitarnya menjauh sekitar puluhan meter lebih, bahkan mencapai ratusan meter.


Tapi sesaat kemudian, kekosongan udara yang ada di ruangan itu segera menarik kembali benda apapun yang sebelumnya terlontar itu. Termasuk apa yang ada di sekitarnya tepat ke arah Leo sebagai pusatnya.


Dan pada saat yang bersamaan....


...'BLAAAAARRRRRR!!!'...


Sebuah ledakan sihir dengan radius mencapai 100 meter lebih itu terlihat dari kejauhan.


Api biru yang menyala dengan sangat terang serta menghempaskan banyak hal di sekitarnya hingga mencapai radius sekitar 2 kilometer itu nampak begitu besar. Bahkan ketinggiannya mencapai sekitar 200 meter lebih.


Kekuatan utama dari sihir ini tak lain adalah kualitas dari inti Mana yang dikorbankan oleh penggunanya. Dan bagi Leo yang memiliki inti Mana yang selalu dilatihnya selama ini, membuat ledakan sebesar itu bukanlah perkara yang sulit.


Tentu saja....


Leo berada tepat di tengah ledakan raksasa itu. Atau lebih tepatnya, menjadi pusat dari ledakan yang terjadi.


Ledakan itu menyapu bersih seluruh Iblis yang tersisa di sekitar tempat Leo berada.


Sekitar lebih dari 6.000 Iblis mati seketika pada saat itu juga karena berada tepat di lokasi ledakan. Sedangkan sekitar 20.000 Iblis yang lainnya mengalami luka yang serius karena terhempas begitu kuat oleh ledakan yang dibuat oleh Leo.


Dan sisa Iblis yang ada, yang paling jauh dari lokasi ledakan itu, setidaknya 40.000 mengalami luka ringan karena terdorong oleh tekanan angin itu.


Kini, di kejauhan....


Bangsa Elf yang baru saja kabur dan bersiap untuk menaiki kapal yang sebelumnya digunakan oleh Leo dan pasukannya memberikan bantuan, melihat pemandangan yang menakjubkan sekaligus mengerikan itu.


Sebuah ledakan dengan api biru yang menyala begitu terang, serta hempasan angin yang sangat kuat itu menjadi pemandangan terakhir mereka di tanah Elf Crystalcourt ini.


"Demi para Dewa.... Apa yang baru saja ku lihat?" Tanya salah satu petinggi Elf itu. Tubuhnya mulai gemetar melihat pemandangan di kejauhan itu. Tapi entah kenapa.... Ia merasakan sesuatu yang lain dari ledakan itu.


"Tuan, kita harus bergegas. Jika tidak, takutnya bangsa Iblis akan mengejar kita." Ucap Virtyx yang mulai ketakutan itu.


"Kau benar. Maafkan kami, Manusia. Tapi apapun yang terjadi, kami harus menjaga keberlangsungan ras kami. Aku berjanji atas nama pohon suci, akan membalaskan dendam kalian." Ucap petinggi Elf itu sambil terus memperhatikan ledakan api biru di kejauhan itu.


Dan dengan kalimat itu, mereka, atau sisa Elf terakhir yang ada di Crystalcourt, memutuskan untuk segera berlayar.


Tujuannya?


Pergi ke tanah manusia. Atau lebih tepatnya....


Kota Venice.