
Beberapa hari telah berlalu semenjak Leo mengambil alih secara paksa pemerintahan di Kota Venice ini.
Akan tetapi, masalah yang ditinggalkan oleh tindakan Achibald yang egois, serta penguasa kota yang tak peduli itu begitu besar.
Dalam rapat yang dihadiri oleh setidaknya 20 orang ini, Leo dihadapkan dengan kenyataan yang begitu pahit. Bahwasanya masalah yang ada di Kota Venice saat ini sangatlah kritis hingga mampu membuat kota ini binasa seketika.
"Kau yakin dengan hal itu?" Tanya Leo sekali lagi.
"Tentu saja, Tuan. Bagaimanapun, aku yang menangani masalah logistik mengenai keberangkatan pasukan ke wilayah Eastfort. Setidaknya, mereka membawa 95% dari seluruh persediaan di Kota ini." Jelas salah seorang pegawai wanita itu.
Ia nampak mengenakan kacamata yang cukup tebal serta sedang memilah beberapa berkas yang menumpuk di hadapannya.
Mendengar hal itu, Leo hanya bisa menepuk keningnya sendiri. Menenggelamkan wajahnya dalam telapak tangan kanannya.
"Yang benar saja.... Bukankah kota ini hanya bisa bertahan selama 5 hari lagi jika terus seperti ini?" Keluh Leo pada semua orang.
Apa yang dimaksudkan olehnya adalah ketahanan pangan di kota ini.
Berkat jumlah pasukan yang begitu besar, mereka juga membutuhkan cadangan makanan yang banyak selama perjalanan.
Dan hal itu berakibat pada pengurasan persediaan makanan di Kota Venice. Meninggalkan kota ini dalam ambang kelaparan.
"Jadi itu yang menyebabkan banyaknya terjadi kerusuhan di kota ini...." Ujar Selene yang berdiri di belakang Leo.
"Artemis. Berapa banyak tenaga yang telah kau kumpulkan?" Tanya Leo mengganti topik.
"Sekitar 140 orang. Saat ini, mereka mempersenjatai diri mereka dengan berbagai alat dapur dari rumah mereka." Balas Artemis.
"Bagus. Segera buat denah patroli dan bagi mereka secara merata. Tiap patroli minimal terdapat 2 orang. Bisakah kau melakukannya?" Tanya Leo.
"Akan ku usahakan."
Setelah menyelesaikan masalah mengenai keamanan, Leo segera beralih kembali ke krisis makanan yang ada di kota ini.
"Nona Verun. Bagaimana dengan laut? Apakah membeku sepenuhnya?" Tanya Leo kepada seorang pegawai yang memang fokus mengelola daerah pelabuhan.
"Lautan membeku sekitar 10 cm di bagian permukaan. Bagian bawahnya masih seperti biasa." Jelas wanita bernama Verun itu.
Leo nampak terdiam sejenak. Seakan sedang memikirkan apa yang sebaiknya Ia lakukan dengan informasi itu.
Hingga akhirnya, Ia pun kembali berbicara.
"Kalau begitu kita akan memburu ikan di laut. Ferry, apakah kau sudah melihat beberapa catatan senjata yang ku serahkan kemarin?" Tanya Leo kepada salah seorang tangan kanannya.
Pria itu pun dengan cepat menjawab pertanyaan Leo.
"Tentu saja. Jika boleh ku tebak, apakah kita perlu membuat harpoon itu?" Tanya Ferry.
Senyuman tipis terlihat di wajah Leo. Ia tak menyangka bahwa Ferry akan dengan segera memahami apa maksudnya.
"Kau benar-benar cekatan, Ferry. Dan benar, kita membutuhkan harpoon dengan tali yang kuat. Bisakah kau membuatnya dengan bantuan 60 prajurit kita?"
"Akan ku selesaikan setidaknya 12 buah dalam 2 hari." Balas Ferry.
"Tidak. 12 terlalu sedikit. Buat itu jadi 20 dalam 2 hari."
"Kalau begitu, akan ku usahakan."
Kini, permasalahan pangan akan sedikit teratasi. Lagipula, populasi Kota Venice saat ini hanya mencapai 40.000 orang saja dimana sebagian besar adalah wanita, sedangkan sebagian kecil lagi merupakan anak kecil atau orang lanjut usia.
Jika Leo bisa menangkap ikan besar, kemudian meningkatkan jumlah harpoon untuk melakukannya, mungkin mereka bisa bertahan di musim dingin yang mematikan ini.
Kemudian berlanjut ke masalah yang lain....
"Tuan Leo, pertahanan kota ini benar-benar buruk. Jika saja kelompok bandit dari Hutan di Timur menyadarinya, mungkin kita akan dalam posisi yang buruk." Jelas seorang wanita lainnya yang memiliki rambut panjang berwarna hitam itu.
"Aku bahkan kekurangan tenaga untuk menjaga ketertiban. Apa boleh buat, aku mengizinkanmu untuk membentuk divisi darurat. Kumpulkan 200 wanita yang masih muda. Aku telah memikirkan sesuatu."
"Dengan segera, Tuan. Tapi 200 saja.... Terlebih lagi menghadapi para bandit kurasa wanita takkan...." Balas wanita itu yang bernama Luna.
"Kau pikir masih ada pria muda di Kota ini? Semuanya telah berangkat berperang. Pria tua dan anak kecil jauh lebih tidak berdaya daripada wanita berumur 20 hingga 30 tahun. Reina, bisakah aku meminta bantuan mu?" Tanya Leo ke arah gadis berambut pirang itu.
"Bantu Luna untuk melatih pasukan. Untuk sementara ini, gunakan senjata apa adanya. Tapi nantinya aku akan menyiapkan senjata untuk mereka." Jelas Leo.
"Memangnya seberapa banyak bandit itu? Jika hanya sekitar 20 orang mungkin aku sendiri bisa...."
Sebelum Reina menyelesaikan perkataannya, pegawai bagian militer bernama Luna itu segera menjawab.
"Kelompok bandit Red Skull di Timur sejumlah setidaknya 1.000 orang tahun lalu. Kita tak tahu jumlahnya saat ini, tapi mereka sama sekali belum pernah berhasil diringkus."
"Kalau sebanyak itu...."
Membiarkan mereka berdua berbicara, Leo kemudian beralih ke topik lain yang lebih membutuhkan perhatiannya.
Hingga akhirnya, rapat besar yang berlangsung selama lebih dari 3 jam itu pun selesai. Leo berhasil setidaknya menangani sebagian besar dari masalah. Tapi Ia tak tahu berapa lama penanganan daruratnya itu bisa bertahan.
......***......
Tiga hari kemudian....
Wilayah Pelautan di sisi Barat Pelabuhan....
"Bidik dengan baik! Siap! Tembakkan!" Teriak Leo dengan keras.
Puluhan orang yang berdiri di atas kapal besar itu mengarahkan balista berukuran kecil itu ke arah laut dengan es yang telah hancur itu.
Dengan aba-aba itu, mereka menembakkannya ke dalam laut secara bersamaan.
'Jleebbb!!!'
Sebuah panah besar dengan pengait besar di ujungnya serta sebuah tali tambang yang tebal melesat ke dasar laut.
Pada saat yang bersamaan, terdengar suara teriakan hewan yang cukup keras.
'Nguuuu....'
Leo yang berdiri di atas pecahan es yang terombang ambing itu tak hanya diam. Dengan memanfaatkan hubungan Mana miliknya dengan Selene, Leo kini memiliki peluang sihir yang hampir tak terbatas.
Sambil mengarahkan tangan kanannya ke arah air laut itu, Leo mengaktifkan sebuah sihir petir dengan menggunakan air sebagai media pembentuk formasi sihir.
Hasilnya sangat sederhana.
Mungkin serupa dengan alat penyetruman listrik yang digunakan manusia modern di bumi.
Hanya saja, perbedaannya adalah kekuatan listrik yang digunakan oleh Leo saat ini....
'Zaaaappp!!!'
Sebuah petir yang cukup besar seakan menyambar ke arah dasar laut. Mengejutkan seluruh hewan di dalamnya pada area sekitar 100 meter lebih dengan tegangan listrik yang tinggi.
Tangan kiri Leo yang hanya terdiam nampak mulai mengeluarkan cahaya biru yang indah pada bagian pergelangan lengannya. Menunjukkan bahwa Ia masih terus menyerap Mana milik Selene hingga saat ini.
Di sisi lain, Selene terlihat sedikit lemas. Tapi tak seperti sebelumnya, Leo telah mengetahui batasan seberapa banyak Mana yang sebaiknya digunakannya.
Dan bersamaan dengan itu....
"Tarik!" Teriak Leo dengan keras sambil segera melompat menjauhi tempat itu.
Semua orang yang telah menembakkan senjata harpoon itu pun mulai memutar tuas kayu yang ada di sisi alat penembak itu.
Sedikit demi sedikit menarik hewan yang berhasil ditembak olehnya.
Hingga akhirnya, apa yang ditargetkan oleh Leo mulai terlihat. Yaitu sebuah paus berurukan besar. Yang setidaknya....
Bisa mencukupi kebutuhan daging dan makanan kota itu untuk sementara waktu.
Dan juga, ini bukanlah buruan terakhir mereka. Melainkan yang pertama sekaligus yang menjadi penanda awal baru di kota ini.
Semua itu dibuktikan dengan senyuman lebar para nelayan yang memburu paus itu.