
Leo yang telah memastikan bahwa Feris telah pergi jauh segera masuk ke dalam penginapan itu.
Tapi sebelum itu....
"Kau orang baru ya? Jadi apakah wanita barusan bertemu dengan Artemis atau yang lainnya?" Tanya Leo kepada gadis yang sedang membereskan sisa minuman Feris itu.
"Be-begitulah Tuan, sebelumnya Nona Feris sempat bertemu dengan beberapa prajurit. Menanyakan mengenai perjalanan mereka." Jawab gadis itu dengan malu-malu.
"Hmm.... Begitu kah? Kerja bagus." Balas Leo sambil segera masuk ke dalam penginapan.
Di dalamnya, Ia juga melihat cukup banyak perubahan. Mulai dari area yang dikhususkan untuk berlatih dengan lantai batu dan juga orang-orangan kayu.
Di sudut ruangan itu bahkan terdapat rak berisi berbagai senjata kayu. Baik itu tombak, pedang, kapak, perisai, dan sebagainya. Memberikan kebebasan untuk pengguna tempat latihan itu memilih senjata mereka.
'Hah.... Seberapa banyak tempat ini beru....'
Bahkan sebelum Leo sempat menyelesaikan pemikirannya, terlihat banyak sekali wajah baru di tempat ini. Membuatnya semakin kebingungan.
'10? Tidak.... 12 orang baru? Apa yang terjadi di sini?' Tanya Leo pada dirinya sendiri dalam hati.
Pada saat itulah, Selene akhirnya datang menghampiri Leo. Menjelaskan semua yang Ia bicarakan dengan Ferry selama di kedai makan itu.
"Tuan Leo, sebelumnya ketika aku berbicara dengan Ferry di kedai makan itu....'
Keduanya pun duduk di sebuah meja. Tak lupa seorang pelayan nampak membawakan minuman berupa jus jeruk yang segar dan dingin.
Pembicaraan yang cukup mendalam pun berlangsung.
Pada intinya, Ferry ingin mengembangkan jumlah personil di penginapan ini agar bisa membantu banyak pekerjaan lainnya. Toko ramuan pun sama sekali tak ditutup dan hanya dijalankan oleh orang-orang baru.
Hasilnya juga tak kalah dengan kedai makan itu, dimana mereka meraup keuntungan sebesar 13 koin platinum selama 17 hari ini.
Tak sampai di sana, banyak tenaga kerja baru juga dibutuhkan untuk melakukan pemetaan data pasar secara menyeluruh. Ferry telah memperkerjakan 3 orang baru yang fokus untuk mendata semua harga pasar di Kota Venice ini.
Hasilnya adalah data yang lebih beragam dan lebih lengkap dari yang dulu pernah dibuat oleh Leo.
Tentu saja, pemikirannya ini didasarkan atas ide Leo untuk melakukan penguasaan dan prediksi harga pasar berdasarkan waktu dan situasi.
Bahkan hanya dengan data sementara ini, pengeluaran mereka untuk kebutuhan makanan sehari-hari serta kebutuhan biaya bahan pangan untuk kedai menurun sekitar 30%.
Semua itu dikarenakan mereka benar-benar menguasai harga pasar dan tahu di distrik mana harga suatu komoditas lebih rendah. Tentu saja sambil mempertimbangkan kualitasnya.
Sebagai tambahan, Ferry juga merekrut pengawal-pengawal baru. Terutama untuk di kedai bulan tersebut. Hanya saja, akan buruk untuk melihat pria berbadan besar dengan zirah dan pedang di sebuah rumah makan.
Oleh karena itu, Ferry mulai melatih gadis yang berpenampilan menawan untuk bertarung dengan tangan kosong dan pisau kecil. Sebagai bentuk penyamaran tambahan, mereka juga bekerja sebagai pelayan di kedai itu.
Dan salah satu dari pelayan yang dilatih tersebut adalah gadis yang ditemui oleh Leo di depan penginapan tadi.
Sedangkan untuk rencana berikutnya, Ferry berpikir untuk membeli bangunan di sebelah penginapan ini untuk menambah daya tampung kelompok Leo di Kota Venice ini.
Untuk saat ini, satu kamar diisi oleh 2 orang. Baik itu diisi dua orang laki-laki atau dua orang perempuan. Dengan begitu kapasitas penginapan ini dapat meningkat meskipun belum melakukan pembangunan tambahan.
Tujuannya adalah untuk melakukan ekspansi ke kota Daeta yang berjarak sekitar 3 hari jika hanya dengan kereta kuda, dan sekitar 7 hari jika terdapat pejalan kaki dalam rombongan itu.
Mendengar semuanya....
"Sialan.... Aku tak memiliki waktu untuk bersinar dalam semua ini...." Keluh Leo sambil meletakkan kepalanya di meja kayu itu.
"Itu tidak benar, Tuan Leo. Pada kenyataannya, mereka semua bisa bersemangat karena kebaikan Tuan. Terlebih lagi, Ferry mengatakan bahwa Ia mengagumi Tuan, menjadikan semua pemikiran Tuan Leo sebagai dasar idenya." Balas Selene.
Leo hanya memberikan tatapan yang penuh dengan rasa kekalahan kepada wanita berambut putih di depannya itu. Dengan mata yang sedikit menyipit, Leo pun membalasnya.
"Hmm.... Jadi sekarang aku terlalu tak berguna hingga harus dihibur?"
"Tidak! Bukan seperti itu...."
Tapi ini adalah hal yang bagus bagi Leo.
Jika Ia memang bisa menyerahkan sebagian besar pekerjaan ini kepada orang lain, maka dirinya bisa fokus ke tempat lain. Terutama ke tempat yang tak bisa diraih oleh mereka.
Dengan pemikiran itu....
"Baiklah, terimakasih telah menghiburku, Selene. Sekarang kau beristirahatlah. Aku akan kembali bekerja untuk melakukan Enchanting pada persenjataan yang dikirim oleh Feris. Selama perjalanan ke desa Rarth, aku baru menyelesaikan sekitar setengahnya saja." Ucap Leo sambil segera meneguk habis jus jeruknya.
Setelah itu, Ia pun berdiri dan berjalan ke arah ruang kerjanya. Sedangkan Selene sendiri hanya bisa tersenyum tipis memperhatikan sosok Tuannya itu sebelum kembali ke kamarnya.
Pada saat Leo membuka ruangan itu, Ia cukup terkejut karena tak banyak hal yang berubah.
Tidak ada kecuali ruangan yang lebih bersih dan rapi, tanpa ada perubahan susunan penataan barang yang begitu besar. Membuat Leo tak kebingungan dengan perubahan yang terjadi.
Tangan kanannya nampak membelai lembut kotak kecil yang berisi pedang suci milik Alicia itu. Begitu pula kotak besar yang berisi 60 perlengkapan.
'Mereka semua telah mengeluarkannya dari kereta dengan baik ya?' Pikir Leo dalam hatinya sambil tersenyum.
Dengan suasana hati yang sebaik ini, Leo tak ingin menyia-nyiakannya. Ia dengan segera membuka kotak berisi pedang suci milik Alicia itu.
Setelah membukanya, Ia belum mengeluarkannya dari bantal empuk yang ada di dalam kotak.
Akan tetapi Leo segera mengambil sebuah kapur untuk menggambar lingkaran sihir di lantai kayu itu.
Bentuk dari lingkaran sihir itu cukup sederhana, yaitu berbagai tulisan rumit yang telah dihafalkan oleh Leo sejak kelas singkatnya bersama Roselia, serta susunan tiga buah segitiga yang membentuk bintang segi sembilan.
Di ujung dari tiap sudut bintang itu, Leo membuat sebuah lingkaran dengan tulisan yang sedikit lebih sederhana.
Setelah semuanya selesai, Leo menutup formasi sihir itu dengan tiga buah lingkaran yang berbeda. Satu merupakan garis biasa, kedua merupakan tulisan rumit yang seakan membentuk rantai itu, dan ketiga adalah garis lurus yang lebih tebal.
Di atas setiap lingkaran kecil di ujung sudut bintang itu, Leo meletakkan sebuah batu Mana yang telah terisi.
Kemudian terakhir....
Tepat di bagian tengah lingkaran sihir yang seakan kosong itu....
Leo meletakkan pedang suci milik Alicia tanpa sarung pedangnya.
Lingkaran sihir telah siap.
Mana juga telah cukup.
Kini yang dibutuhkan selanjutnya, hanyalah aktivasi dari sang pemilik sihir.
Leo memejamkan kedua matanya untuk bisa fokus sepenuhnya. Dengan kedua tangan yang terbuka lebar, Ia pun memulai rapalan sihirnya.
Rapalannya terdengar cukup lirih dan tak begitu bisa dipahami. Tapi Leo mengatakannya seolah-olah itu adalah kalimat yang dapat dipahami.
Segera setelah itu, cahaya kemerahan yang indah mulai menyinari ruangan ini. Sedikit demi sedikit membentuk lingkaran sihir sama persis seperti yang digambar oleh Leo dengan kapur putih itu.
Tidak....
Lebih tepatnya lingkaran sihir itu terpaksa mengikuti bentuk yang digambar oleh Leo.
Langkah pertama dari sihir ini adalah untuk mengumpulkan Mana. Itulah fungsi dari 9 lingkaran kecil yang mengelilingi batu Mana itu.
'Swuuussshhh!!!'
Cahaya kebiruan yang indah nampak tertarik ke arah pusat dari lingkaran sihir itu. Menggantikan cahaya merah yang sebelumnya mendominasi.
Semuanya seakan mengisi wujud dari bintang segi sembilan itu dan juga tulisan rumit yang mengelilingi pedang Alicia.
Setelah itu, langkah berikutnya adalah memanfaatkan Mana yang telah terkumpul dan mengubahnya menjadi sihir yang nyata.
Sebuah sihir Enchantment yang jauh lebih kuat karena menggunakan Mana yang lebih besar daripada biasanya.
Leo menyadari peningkatan kekuatan sihir yang besar hanya dengan memanfaatkan batu Mana ini untuk menutupi kelemahannya dalam hal kapasitas Mana. Dan Ia menyadarinya ketika bertarung dengan Igor di desa Rarth.
Sebelumnya Ia juga sudah sedikit banyak memperkirakannya.
Tapi Leo sama sekali tak menyangka bahwa peningkatannya akan sebesar itu. Sebuah sihir yang biasanya digunakan untuk membakar kayu, bahkan bisa melukai sosok sekuat Igor.
Dan kali ini....
Leo juga sangat yakin.
Bahwa hasilnya akan meningkat dengan pesat.
Setelah semuanya siap, Leo pun dengan sempurna membayangkan apa yang ingin diwujudkannya dengan Mana sebesar ini.
Dan peningkatan yang dipilih olehnya....
Adalah peningkatan pertahanan pengguna pedang ini. Yaitu Alicia.
Igor menunjukkan bahwa skill sederhana seperti [Iron Skin] dapat membuatnya menjadi sangat kuat. Bahkan tanpa skill yang lain sekalipun.
Lantas bagaimana dengan Alicia yang memang merupakan mesin pembunuh dengan banyak sekali skill mematikan seperti itu?
Jawabannya tentu saja....
Ia takkan terkalahkan selama menggenggam pedang ini.
"Enchantment!"
Semua energi dan cahaya itu pun seakan terserap masuk ke dalam pedang Alicia. Membuatnya terlihat memperoleh kekuatan yang besar hanya dalam sekejap.