E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 96 - Perburuan



“Kalian bertiga, jika tak ingin bertarung kalian boleh pergi.” Ucap Feris yang seakan kesal atas sikap mereka yang terdiam atas kejadian barusan.


“Ma-maafkan kami!”


Mereka bertiga pun dengan cepat mulai mengatur formasi, dimana setiap orang menghadap ke satu arah yang berbeda.


Tak berselang lama, serbuan dari Orc penunggang serigala itu pun tiba.


Sang komandan bertarung dengan gaya bertahan. Ia akan mengangkat perisainya untuk menahan serangan pertama dari Orc itu, lalu membalas dengan tebasan pedang.


Begitu pula dengan kedua prajurit yang bertahan dengan perisai lalu menusukkan tombaknya. Perbedaannya adalah dua prajurit ini merupakan bawahan langsung dan dilatih sejak lama di Eastfort.


Pengalaman, kemampuan dan mental mereka sangat jauh berbeda dengan prajurit yang sebelumnya lari.


‘Sraasss!’


‘Jleebbb!’


Berbagai tebasan dan tusukan dilancarkan oleh ketiga orang itu. Bahkan meskipun hanya berempat, mereka mampu menahan sekitar 50 penunggang serigala itu dengan baik.


Komandan yang penasaran atas apa penyebabnya, mulai melirik ke arah sisi yang dilindungi oleh Feris.


Tapi nampaknya....


Itu adalah keputusan yang kurang tepat.


Apa yang ada di sisi itu, bukan lagi merupakan pertarungan. Tapi lebih tepat jika disebut sebagai pembantaian.


Pada kenyataannya, Feris tak berdiam di tempatnya. Melainkan berlari menerjang kawanan penunggang serigala itu sendirian.


Kedua lengannya nampak memegang kapak besar itu di sisi kanan tubuhnya. Lalu dengan tebasan yang cepat dan tajam, Ia akan mengayunkan kapak itu cukup rendah.


Tak mengenai Orc itu secara langsung, tapi mampu memotong seluruh kaki serigala yang ditunggangi para Orc itu.


‘Bruukk! Sraaakkk!’


Para penunggang itu terlihat mulai jatuh. Satu demi satu, mereka dengan cepat dibantai dengan ayunan kapak Feris yang begitu cepat dan akurat.


Hal itulah yang membuat para penunggang lainnya mulai berfokus padanya dan meninggalkan 3 orang yang lainnya. Sehingga ketiga orang itu merasa pertarungan ini cukup mudah. Bahkan lebih mudah daripada yang mereka bayangkan.


“Ada apa, Iblis? Hanya segini saja kemampuan kalian?” Tanya Feris yang masih tetap dalam ekspresi datarnya.


Sekujur tubuhnya saat ini mulai dipenuhi dengan darah merah. Yang kini bahkan mulai melumuri wajahnya itu.


Meskipun perkataan Feris sama sekali tak bisa dimengerti oleh para Iblis, tapi mereka tahu. Bahwa saat ini, wanita itu sedang meremehkan mereka.


Pada akhirnya....


Tak butuh waktu lama bagi Feris untuk membantai sekitar 40 serigala bersama dengan Orc yang menungganginya.


Sedangkan 3 bawahannya nampak telah membantai sekitar 10 ekor.


“Nona Feris....” Ucap Komandan itu sambil berjalan mendekati sosok wanita yang telah dilumuri darah itu.


Tapi Feris hanya diam.


Ia terlihat menatap langit seakan sedang menanti sesuatu.


Sementara itu, barisan legiun iblis terlihat mulai melewati hutan itu. Jumlah mereka benar-benar luarbiasa banyak. Bahkan langkah kakinya saja mampu untuk menggetarkan tanah di tempat ini.


“Masih belum kah?” Tanya Feris sambil terus menatap langit.


“Kurasa sebentar lagi.” Balas Komandan itu.


Ia masih tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok wanita yang selalu dianggap tak begitu kuat itu. Sekujur tubuhnya terlihat dilumuri dengan darah yang kini mulai menetes tiap beberapa detik melalui pakaiannya yang indah.


Tak berselang lama, apa yang dinantikan oleh Feris akhirnya tiba.


‘Swuuoossshhh!!! Blaaarrr!!!’


Berkat bantuan awal dari belerang itu, membakar seluruh hutan adalah perkara yang sangat mudah. Sedangkan para Iblis yang sedang berada di dalamnya, hanya bisa menerima nasib atas kematian mereka karena bara api.


Beberapa dari mereka yang telah keluar dari hutan itu nampak kebingungan. Bingung untuk mengejar manusia yang ada di hadapan mereka, atau melakukan sesuatu terhadap api itu.


Tapi ada satu hal yang jelas.


Senyuman di wajah Feris tergambar dengan jelas ketika memandangi lautan api yang membakar seluruh hutan dan segala yang ada di dalamnya itu.


Termasuk mungkin....


Pasukan yang masih selamat.


Dengan senyuman yang segera memudar, Feris membuang kapak besar itu dan membalikkan badannya.


“Setidaknya sekitar 10 atau 15 ribu akan mati di sana. Sebuah kemenangan yang besar bagi umat manusia.” Ucap Feris sambil segera berjalan ke arah barisan pemanah di kejauhan itu.


Sang komandan, dan dua prajurit bawahannya itu, hanya bisa terdiam mengikuti sosok wanita yang berjalan di depan mereka.


Tak ada sepatah kata pun balasan untuk perkataan Feris.


Dalam pikiran mereka, saat ini hanya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Meski begitu, kenyataan bahwa Feris yang merencanakan semua ini dan mengeksekusinya dengan baik, akan membawa kemenangan bagi umat manusia.


Hanya saja....


‘Bukankah masih ada yang selamat di sana?’


Kalimat itulah yang masih mengganjal di kepala sang Komandan.


Setelah mengumpulkan keberaniannya, sang Komandan bermaksud untuk menanyakan hal itu kepada Feris.


“Nona Feris.... Bagaimana dengan mereka yang masih terjebak di dalam sana?” Tanya Komandan itu.


“Mereka adalah pahlawan yang berkorban untuk kemenangan ini. Kita akan menghormati mereka nanti setibanya di benteng.” Balas Feris dengan nada yang datar sambil terus berjalan.


“Tapi.... Bukankah sebagian masih hidup dan....”


Pada saat mendengar kalimat itu, Feris menghentikan langkah kakinya. Ia berdiam diri tanpa menjawab sepatah kata pun. Hal itu sontak membuat ketiga orang itu kebingungan.


Tak berselang lama....


“Komandan, itu adalah pengorbanan yang diperlukan untuk perang ini. Lagipula pada kenyataannya, mereka hampir gagal untuk menahan para Iblis di sana. Membuat semuanya dalam resiko besar.


Mati karena diburu oleh iblis, atau terbakar oleh api. Bukankah keduanya tak begitu berbeda? Mereka juga akan mati akhirnya.” Balas Feris sambil memberikan tatapan yang tajam.


Sikapnya terlihat begitu dingin pada saat mengatakan hal itu. Seakan nyawa seseorang sama sekali tak ada harganya. Tidak.... Seakan semuanya hanyalah bidak catur bagi wanita itu.


Selama Ia menang, takkan ada masalah untuk mengorbankan satu atau dua bidaknya.


Gambaran itulah yang muncul dalam kepala sang komandan. Membuatnya mulai menyadari betapa dinginnya orang yang dilayaninya itu.


Meski begitu....


Ia sama sekali tak bisa membantahnya. Perkataan Feris didasarkan atas logika yang tepat.


Jika tak ada yang meletakkan bubuk itu, maka akan butuh waktu lama bagi hutan untuk terbakar sepenuhnya.


Dan karena hal itu, maka pasukan iblis dapat bereaksi dan mundur dengan cepat.


Tak hanya itu, kegagalan prajurit dalam menahan serbuan penunggang bisa saja membuat seluruh pasukan dalam bahaya. Untung saja kali ini hanya ada sekitar 50 ekor. Tapi bagaimana jika lebih?


Dengan kata lain....


“Meskipun kasar dan banyak kesalahan, tapi ini masih sesuai dengan rencana. Ku harap regu di daerah benteng sudah mempersiapkan jebakannya dengan baik.” Lanjut Feris sambil memandang ke arah Eastfort.