
"Ggrrr!!!"
Dengan hempasan yang sangat kuat, Minotaur itu dapat dengan mudahnya melemparkan semua prajurit Elf yang ada di hadapannya dengan tangan kirinya.
Sedangkan tangan kanannya sendiri menebas tubuh Elf yang dilapisi dengan zirah yang indah itu begitu mudahnya. Sama seperti seseorang yang sedang memotong mentega.
'Zraaasshh! Zraaasshh!!'
Tanpa ada rasa ampun, Minotaur itu membantai semuanya dengan begitu mudahnya. Membuat Leo yang melihat pemandangan ini merasa sedikit putus asa atas apa yang sebenarnya terjadi.
"Yang benar saja...." Ucap Leo dengan semangat yang mulai runtuh.
Tak hanya Minotaur itu, pasukan Iblis yang berada di belakang Minotaur tersebut nampak telah berhasil menembus barisan pertahanan pasukan antara Elf dan juga pasukan manusia milik Leo.
Salah satu penyebabnya adalah kehadiran Troll yang setinggi 6 meter lebih itu dengan senjata berupa bola besi dengan banyak duri yang besar dan tajam yang terikat pada sebuah rantai baja yang kokoh.
Troll itu hanya mengayunkan bola besi itu lalu melemparnya. Dan dimanapun bola besi itu jatuh, kematian pasti akan mengikutinya.
"Tidaaakk!!!"
"Tolong aku!!"
Barisan pasukan Elf nampak mulai runtuh dimana mereka mulai dikuasai oleh rasa takut.
Mengingat bahwa lokasi ini cukup dekat dengan pelabuhan, Leo hanya bisa membayangkan kehancuran seperti apa yang terjadi di wilayah Barat tempat ini.
Tapi, pasukan Leo yang menyadari bahwa peperangan ini mungkin tak lagi bisa dimenangkan, memutuskan untuk fokus menjatuhkan kepala komandan pasukan Iblis. Dan itu tak lain adalah Minotaur besar yang berdiri di hadapan Leo.
"Tuan Leo! Kami akan membantu!" Teriak beberapa prajurit pengguna senjata sihir yang kini berlari ke arah Leo berada.
Jumlah mereka tak banyak, hanya sekitar 50 orang saja. Tapi setidaknya itu sudah cukup untuk mendukung Leo. Terlebih lagi....
"Leo! Kau tak apa?!" Teriak seorang half elf dengan rambut perak panjang yang indah. Kedua tangannya nampak memegang pedang pendek yang memiliki bentuk melengkung yang indah.
Ia tak lain adalah Selene itu sendiri.
"Selene! Cepat pergi! Kita takkan bisa menang!" Teriak Leo sekuat tenaga.
Akan tetapi....
"Grrrr.... Nampaknya.... Wanita itu penting bagimu?" Tanya Minotaur itu sambil memamerkan gigi dan taringnya yang tajam dengan senyuman yang lebar.
Dan secara tiba-tiba, Minotaur yang sebelumnya berada di dekat Leo itu segera merubah arah gerakannya dan berlari tepat ke arah Selene.
Leo yang melihatnya mulai merasa takut.
Ia menyadari bahwa Selene itu sudah jauh lebih kuat sejak 6 tahun lebih yang lalu ketika Ia pertama kali bertemu dengannya.
Bahkan peringkat kemampuannya sudah bisa dikatakan mendekati peringkat S.
Tapi permasalahannya....
Minotaur yang ada di hadapannya ini bukanlah sesuatu yang bisa ditandingi hanya dengan peringkat A atau teknik yang luarbiasa.
Bagaimana tidak? Apa yang Leo lihat dengan kemampuan Clairvoyance miliknya itu.... Adalah sebuah angka yang dapat dikatakan merusak sistem peringkat kekuatan itu sendiri.
Sebuah kekuatan yang setidaknya 10 kali lipat lebih kuat daripada peringkat SS tertinggi yang pernah dilihatnya ketika bertemu dengan Alicia.
Dengan kata lain, Minotaur itu adalah monster bagi para monster.
'Zraaassshh!!!'
Sebuah tebasan yang sangat kuat mengarah tepat ke leher Selene. Tapi Ia dapat menghindarinya dengan cukup mudah karena kelincahannya.
Leo yang sedari tadi sudah berkeringat dingin segera kembali dalam kesadarannya sendiri dan mengisi ulang pelurunya.
"Jika tak bisa menghancurkannya dalam sekali serang...."
'Ckleekk!'
Setelah Leo mengisi ulang senjata sihirnya, Ia segera berlari mendekati arah Minotaur itu.
'Daaarr! Daaarr! Daarr!'
Rentetan tembakan yang tak beraturan itu sebagian besar mengenai tepat di kepala Minotaur itu. Tapi sayangnya, luka yang diberikan hanyalah sebatas luka gores ringan yang tak begitu berarti.
'Sialan.... Aku sama sekali tak menyangka bahwa akan ada Iblis sekuat ini.' Pikir Leo dalam hatinya sambil terus berlari.
Di kejauhan, terlihat sosok Selene yang masih berusaha bertarung sebaik mungkin dengan Minotaur itu. Ia bergerak dengan sangat lincah mengelilingi tubuh Minotaur itu sambil memberikan tebasan yang hanya bisa menggores sedikit kulit lawannya.
Bahkan setelah melapisi pedangnya dengan penguat penyerangan berupa sihir angin sekalipun, Selene masih tak mampu untuk menembus kulit dan otot tebal dari Minotaur itu.
Tapi itu tak masalah bagi Selene. Walaupun tak bisa memberikan luka yang fatal, setidaknya Ia yakin. Jika seluruh luka yang kecil itu akan berarti dalam jumlah yang banyak.
'Zraassh! Zraaassh! Zraaasshh!'
Setelah menebas bagian tumit dari Minotaur itu, Selene segera melompat dan berjalan di atas punggung Minotaur itu. Memberikan tebasan dalam jumlah yang sangat banyak.
Minotaur yang memiliki tubuh besar itu kini mengalami cukup banyak kesulitan untuk menghentikan gerakan Selene yang terlalu lincah baginya.
Menyadari bahwa Ia tak bisa melakukan banyak kepada wanita half elf itu, sang Minotaur segera berlari ke arah barisan pasukan penembak yang ada.
Dan dengan kapak besarnya itu, Ia mengayunkannya secara horizontal tepat ke bagian perut barisan pasukan itu.
'Zraaassshhh!!!'
Hanya dalam sekali tebasan, setidaknya 10 orang prajurit mati seketika. Sedangkan 20 lagi terhempas cukup jauh dan mengalami luka yang cukup serius.
Leo yang ini sudah mendekat segera mengarahkan pistolnya ke arah kepala Minotaur itu. Tapi kali ini berbeda. Ia tak hanya berencana untuk menembakkan peluru sihir itu.
Melainkan juga memperkuatnya dengan sebuah sihir peningkat kecepatan dan peningkat kekuatan di depan laras pistol itu.
Sebanyak setidaknya 6 buah lapisan lingkaran sihir dengan warna yang berbeda kini berada tepat di depan pistol milik Leo.
Dan setelah Ia yakin bahwa incarannya akurat....
'Duaaaarr!!!'
Dua buah peluru sihir yang melewati enam lingkaran yang berbeda itu dengan segera diperkuat.
Setelah melewati lingkaran pertama, gerakan peluru itu menjadi dua kali lebih cepat. Pada lingkaran kedua, peluru sihir itu menjadi jauh lebih keras.
Begitu seterusnya hingga pada lingkaran sihir terakhir, kedua peluru sihir itu memperoleh peningkatan daya hancur berupa sihir elemen petir. Membuat kecepatan gerak peluru sihir itu setidaknya 3 kali lebih cepat.
Hanya dalam hitungan seper sekian detik, kedua peluru sihir itu melesat tepat ke arah kepala Minotaur itu.
Akan tetapi....
'Yang benar saja?!'
Dengan reaksi yang seakan bisa menduga arah serangan Leo itu, sang Minotaur telah mengangkat kepalanya ke atas sesaat sebelum Leo menekan pelatuk senjata sihirnya.
Membuat tembakan Leo yang seharusnya mengenai tepat di arah kepalanya, kini hanya mengenai lehernya saja.
'Swuuusshh! Sraasshhh!!!'
Benar saja, peluru sihir itu langsung menembus leher tebal milik Minotaur itu dengan mudahnya. Membuat lubang yang cukup besar pada bagian samping lehernya.
Meski begitu, itu bukanlah titik yang sangat vital. Meskipun kini sebagian lehernya berlubang dan mengalami luka yang cukup serius, tapi luka itu tak cukup untuk membunuhnya.
Dengan senyuman yang lebar....
'Sreettt! Tappp!!'
Minotaur yang telah mulai hafal dengan pola gerakan Selene itu bahkan tak perlu untuk melihat.
Ia hanya menjatuhkan kapak besar di tangan kanannya ke tanah, lalu membuka telapak tangannya lebar-lebar untuk menangkap gadis berambut perak itu.
"Ggrr.... Aku yang menang, manusia." Ucap Minotaur itu dengan senyuman yang lebar dan darah yang mengalir di lehernya.
Termasuk juga, Selene yang kini telah tertangkap dalam genggaman tangan kanannya.