
"Bisakah kau jelaskan lebih lanjut soal perkataan mu itu?" Tanya sang kepala desa sambil tersenyum tipis.
Tapi sebelum Leo sempat menjawabnya, Ia melanjutkan perkataannya.
"Aah! Benar juga, maafkan atas ketidaksopananku. Perkenalkan, aku adalah Rufus. Kepala Desa Rarth ini."
"Leo, pedagang dari Kota Venice." Balas Leo singkat.
Untuk sesaat ini, Leo mulai memikirkan mengenai sosok Pria tua yang ada di hadapannya. Secara sekilas, Ia memang terlihat hanya seperti Pria tua biasa. Tapi setiap tindakan yang dipilihnya cukup tepat dan mampu membuat lawan bicaranya merasa dekat dengannya.
Sama seperti saat ini.
Menyuguhkan makanan dan minuman kepada tamu yang bahkan tak dikenalinya.
Memang Leo tak sejauh itu berpikir bahwa Ia akan diracuni oleh makanan itu. Akan tetapi, Leo berpikir bahwa Pria tua yang ada di hadapannya tak bisa diremehkan.
'Dia bukanlah orang biasa.... Untuk saat ini aku....' Pikir Leo dalam hatinya sambil terus menatap sosok kepala desa itu
"Yah, sederhananya.... Aku ingin bertemu. dengan seorang Pria bernama Igor Sikorsky. Dan jika memang memungkinkan, aku ingin membeli tanah di desa ini untuk memulai usaha pertanian." Jawab Leo dengan lengkap.
"Igor.... Aah. Jadi begitu ya? Dia bilang pada kami bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang mencarinya. Jadi itu kalian ya? Dia bilang kalian bisa menemuinya di salah satu kincir angin di sisi Timur Desa ini." Jelas Kepala desa itu.
Mendengar jawaban itu, Leo merasa cukup lega karena orang itu memang masih disini.
"Begitu kah? Kalau begitu aku akan kesana setelah ini." Balas Leo singkat.
"Lalu mengenai tanah.... Aku bisa saja menjual tanah di sekitar desa ini. Tapi sayangnya itu masih termasuk kawasan hutan. Kemari lah, aku akan menunjukkan petanya padamu." Ucap kepala desa itu sambil meletakkan tulang ayam yang telah bersih itu di piringnya.
Ia terlihat mengelap tangannya dengan kain sebelum meneguk minuman pada gelas kayunya. Setelah itu, Ia berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah sebuah peta yang terpampang di dinding.
Leo tentu saja ikut berdiri dan berjalan mendekati Pria tua itu.
"Seperti yang kau lihat, desa ini sudah cukup besar dan makmur. Tapi memperluas lahan takkan pernah menyakiti siapapun. Jika kau ingin membeli tanah, aku bisa merekomendasikan beberapa titik ini." Jelas kepala desa itu sambil menunjuk ke beberapa lokasi.
Lokasi yang pertama yaitu bersebelahan dengan wilayah terluar Desa Rarth di sebelah Barat. Dengan lokasi yang berdekatan dengan aliran sungai besar, maka permasalahan irigasi akan mudah untuk diselesaikan.
Kemudian lokasi kedua adalah di seberang sungai itu sendiri. Tepatnya di daerah Utara. Jika diperhatikan, daerah itu masih memiliki populasi yang sangat rendah. Yaitu sekitar 500 orang saja atau hanya seper duabelas dari wilayah utama di Desa Rarth.
Dan lokasi yang ketika yaitu di bagian Timur. Sebuah hutan yang tak terlalu lebat tepat di sisi Timur paling ujung Desa Rarth itu sendiri.
Leo terlihat mendengarkan penjelasannya dengan baik, sedangkan ketiga wanita yang ikut bersamanya masih duduk sambil bercerita dengan petinggi desa yang lainnya.
Setelah memikirkannya sejenak....
"Kurasa aku akan memilih lokasi di Barat. Meskipun hutannya cukup lebat, tapi aku bisa menguasai sebagian dari sungai itu secara langsung." Jelas Leo.
"Pilihan yang bijak. Beberapa pedagang mungkin tergiur untuk membeli di seberang sungai besar itu, tapi mengingat populasinya.... Takkan ada banyak tenaga untuk dipekerjakan disana hahaha!" Balas kepala desa itu sambil tertawa.
Keduanya pun kembali duduk di kursi. Dan kini mulai membahas mengenai luasan yang ingin dibeli serta berapa banyak modal yang dimiliki oleh Leo.
Pada saat pembahasan itu dilakukan, hidangan jamuan untuk Leo dan kelompoknya telah datang.
Hidangan itu terlihat begitu lezat dan mengingatnya sedikit dengan dunia tempat Ia tinggal dulu. Yaitu sebuah ayam bakar kecap dengan nasi dan juga cabai pedas berwarna kekuningan itu.
Leo memang telah tahu bahwa di dunia ini juga terdapat keberadaan beras dan sayuran lain yang serupa dengan bumi tempat Ia tinggal dulu. Hanya saja, beras atau nasi sedikit kurang populer karena dianggap kurang lezat.
Tentu saja, jika dibandingkan dengan roti mungkin memang benar. Di satu sisi, bahkan tanpa bumbu sekalipun, orang-orang dapat memakan roti tanpa lauk. Tapi di sisi lain, nasi sangat membutuhkan bantuan lauk. Bahkan dapat dikatakan tak bisa untuk dimakan jika hanya nasi putih saja karena rasanya yang cukup hambar.
Dan disini....
"Ada apa, Leo? Apakah kau tak terlalu suka nasi?" Tanya kepala desa itu.
Tapi Leo hanya terdiam. Memperhatikan uap panas yang keluar dari butiran-butiran nasi itu di atas piring. Hanya melihatnya saja Leo seakan bisa menghabiskan semuanya bahkan tanpa lauk.
"Tidak, bukan begitu. Tapi tak ku sangka aku akan memperoleh jamuan sebaik ini. Terimakasih, kepala desa." Ucap Leo setelah menggunakan Clairvoyance miliknya ke semua makanan dan minuman yang ada.
Ia memastikan bahwa tak ada sedikitpun hal buruk atau racun yang dimasukkan di dalamnya.
"Hohoho! Bagus! Sekarang, silakan di nikmati terlebih dahulu! Kita bisa membahas harga tanah itu nanti."
Pada akhirnya, mereka berempat makan dengan lahap. Bahkan bagi Leo, ini adalah nasi pertama yang dinikmatinya semenjak tiba di dunia ini.
......***...
...
...- Desa Rarth -
...
"Ya, aku juga baru pertama kalinya memakan nasi." Balas Reina.
"Heh?! Pertama kalinya?! Kau serius?! Nasi itu enak kau tahu?! Aku jadi teringat saat...."
Artemis nampak mulai akrab dengan Reina. Semua itu terbukti dengan dirinya yang mulai begitu cerewet kepadanya.
Sedangkan Selene sendiri....
"Pada akhirnya, kita memperoleh 24 hektar tanah hanya dengan 110 koin platinum ya?" Ucap Selene sambil tersenyum tipis ke arah Leo.
"Yah, aku tak menyangka kita bisa membeli tanah seluas itu. Mungkin besok aku akan mulai mencari pekerja di desa ini untuk membuka hutan. Bagaimana menurutmu?" Tanya Leo kepada Selene.
"Kurasa itu adalah ide yang bagus. Jika musim semi di tahun kedepan kita sudah bisa memulai bertani, mungkin kita akan mulai memperoleh pemasukan yang besar. Terlebih lagi, menjual kayu dari pembukaan lahan itu...." Jawab Selene sambil tersenyum.
Mendengar jawaban itu, Leo terlihat tersenyum tipis. Tangan kanannya mulai membelai kepala Selene dengan lembut.
"Kau benar-benar sepaham denganku ya?" Balas Leo singkat.
Karena mereka telah meninggalkan wilayah bangunan utama di desa itu, mereka semua dapat membawa kembali persenjataannya. Dengan catatan bahwa mereka tidak diperbolehkan melakukan hal buruk di desa itu.
Tentu saja tidak akan Untuk apa melakukan hal buruk di desa yang akan menjadi pijakan barunya itu?
Selene pun mengambil busur dan anak panahnya serta dua buah pedang pendek. Begitu pula Artemis yang mengambil kembali Crossbownya. Sedangkan Reina terlihat membawa pedang satu tangannya.
Akan tetapi....
Di saat mereka berempat telah tiba di arah kincir angin yang disebutkan itu....
Terlihat sosok seorang Pria dengan tubuh yang tak hanya tinggi, tapi juga besar. Bukan besar karena gemuk, tapi sekujur tubuhnya seakan penuh dengan otot yang terlatih. Dimana semua itu terlihat dengan jelas meskipun Ia mengenakan jaket kulit berwarna hitam itu.
Tangan kanannya terlihat sedang menjepit sebuah rokok dengan dua jarinya. Dan mulutnya sendiri saat ini masih menghembuskan asap putih yang cukup tebal.
Pria besar dengan rambut yang terlihat mulai memutih itu seakan sedang memandangi langit sore yang indah ini. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.
Tapi ada satu hal yang pasti.
'Igor ya.... Tapi tak ku sangka, orang setua itu masih memiliki tubuh yang begitu terlatih....' Pikir Leo dalam hatinya sambil memperhatikan sosok Pria besar itu.
'Srruuugg!'
Pria besar itu menolehkan pandangannya. Dan kini memperhatikan sosok Leo yang berbeda jauh dengannya itu.
"Hmm? Apakah kau yang bernama Dimas itu?" Tanya Pria itu.
"Benar. Dan kau.... Igor kan?"
Ia hanya mengangguk ringan tanpa menjawab. Setelah meletakkan rokoknya yang masih setengah itu di batu yang sebelumnya didudukinya itu, Ia segera berdiri.
Perkataan sebelumnya yang menganggap bahwa Igor itu besar seakan dipatahkan saat itu juga.
Segera setelah Ia berdiri, bahkan Leo yang memiliki tinggi sekitar 170 cm itu harus memandang ke atas untuk menatap wajah Igor.
'190.... Tidak, 200 cm?! Orang macam apa ini?!' Pikir Leo dalam hatinya dengan terkejut.
Di sisi lain, Reina terlihat mengajak Artemis dan juga Selene untuk mundur. Memberikan ruang dan waktu itu kepada mereka berdua.
Setelah Igor berdiri tepat di depan Leo, semua orang sadar atas betapa tinggi dan besarnya Pria tua di hadapan mereka itu.
'Itu.... Kenalan Tuan Leo?!' Tanya Selene dalam hatinya.
'Leo?! Kenapa kau membawaku ke tempat berbahaya seperti ini?!' Teriak Artemis dalam hatinya.
Sedangkan Igor sendiri terlihat berbicara dengan suara yang cukup lirih sehingga hanya dirinya dan juga Leo yang bisa mendengarnya.
"Dewi Cyrese mengirimku ke dunia ini. Dia bilang aku bebas melakukan apapun selama aku melindungi umat manusia. Lalu sebagai tugas tambahan...."
Igor terlihat menjeda perkataannya sesaat. Ia meletakkan tangan kanannya yang begitu besar itu di pundak Leo.
Jujur saja Leo pada saat ini merasa sedikit ketakutan dengan sosok yang ada di hadapannya.
'Kreettt!!!'
Tekanan tangannya saja bisa membuat Leo merasakan rasa sakit di pundaknya. Tapi itu masih rasa sakit yang bisa ditahan. Jadi Leo tetap bersikap tenang di hadapan Pria itu.
Setelah beberapa saat....
"Aku diminta untuk menyampaikan sesuatu padamu, Dimas." Ucap Igor.