E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 101 - Kelulusan



Selene sadarkan diri setelah beberapa saat melalui perawatan yang cukup intensif di ruang kerja Roselia.


Apa yang diingatnya hanyalah perasaan seperti tenggelam dalam sebuah lautan yang seakan tak memiliki dasar. Sebuah ingatan yang seakan telah berlangsung selama berminggu-minggu ketika Ia tak sadarkan diri.


Roselia mendeskripsikan fenomena itu sebagai salah satu efek samping kerusakan inti jiwanya. Sebagai catatan, Roselia telah sedikit menyatukan kembali inti jiwa Selene sebelumnya. Tapi jika hal itu terulang lagi, mungkin Ia akan benar-benar mati.


"Ingat, aku tahu sihir buatanmu ini benar-benar hebat untuk bisa menghubungkan Mana antara 2 orang. Aku mengakui itu. Tapi hal ini lah yang menyebabkan persatuan penyihir melarang modifikasi tubuh dengan sihir.


Masih cukup beruntung Selene hanya tak sadarkan diri. Bahkan kehilangan nyawanya sekalipun. Tapi jika cukup sial, mungkin orang itu akan mengamuk dan membantai apapun di sekitarnya. Sama seperti kejadian salah seorang penyihir agung 142 tahun yang lalu." Jelas Roselia sambil menuding kan penanya ke arah Leo.


Leo hanya diam. Ia mengerti bahwa semua ini adalah salahnya. Tapi setidaknya, Selene telah selamat. Apa yang perlu dilakukannya adalah mengendalikan pengeluaran Mana miliknya yang kini telah terhubung dengan Selene itu.


Sementara itu, Selene terus berusaha untuk membela Leo meskipun kejadian buruk telah menimpanya.


"Aku melakukan ini atas kesadaran ku sendiri. Ini bukanlah kesalahan Tuan Leo."


"Tak peduli apapun itu, Leo bisa saja menimbulkan bencana besar jika saja aku tak membendung kerusakan Mana milikmu." Balas Roselia dengan singkat.


Setelah beberapa saat, situasi pun mulai mendingin seiring dengan menebalnya salju di luar ruangan ini.


Roselia terlihat memandangi ke arah luar jendela sejenak dengan tatapan sayu yang jarang diperlihatkannya.


"Leo, kupikir kau sudah terlalu baik untuk tetap belajar sebagai akademisi tingkat bawah." Ucap Roselia secara tiba-tiba tetap sambil memandangi arah jendela kaca itu.


"Apa maksudmu?" Tanya Leo kebingungan.


'Klingg!!'


Roselia terlihat melemparkan dua buah lencana ke arah Leo. Lencana itu memiliki lambang dari akademi Aselica dengan warna perunggu yang indah.


"Aku tak pernah mengatakannya, tapi kepala akademi memperlakukanku cukup istimewa karena bakatku atau semacamnya. Salah satunya, aku bisa meluluskan kalian kapan saja aku mau. Dan ini adalah waktunya." Balas Roselia tetap tak melihat ke arah Leo dan juga Selene yang duduk di hadapannya.


Leo dengan cepat segera menangkap maksud dari tindakan Roselia itu.


"Kau mengusir kami?" Tanya Leo.


"Jahat sekali kau mengatakan itu setelah aku menyelamatkan kalian dari cengkeraman dewan penyihir yang membosankan itu. Apa yang ku lakukan hanyalah meluluskan kalian saja.


Dengan lencana itu, kalian bisa keluar masuk ke tiga akademi utama di seluruh kerajaan ini dengan mudah. Memperoleh akses terhadap seluruh pengetahuan mereka.


Hanya saja.... Tolong biarkan aku sendiri selama beberapa waktu." Jelas Roselia dengan panjang lebar tetap tak melirik sedikitpun ke arah Leo dan juga Selene.


Tangan kanannya terlihat menopang dagunya yang kini melihat ke arah jendela di sampingnya. Sedangkan tangan kirinya diletakkan di atas paha kirinya yang menyilang di paha kanannya itu.


Penampilannya yang biasanya dipenuhi dengan sikap ceria dan rasa penasaran, kini seakan hilang sepenuhnya. Memperlihatkan sosok seorang wanita yang dingin.


Leo hanya diam.


Ia sama sekali tak berani untuk menyentuh lencana perunggu yang dilemparkan oleh Roselia itu.


Bagaimanapun, ini bukanlah cara kelulusan yang diinginkan olehnya. Seakan sedang diusir seperti orang asing.


Begitu pula dengan Selene yang hanya bisa menatap lantai dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Ia mengambil seluruh barang bawaannya dan segera pergi dari ruangan ini seperti permintaan Roselia.


Selene sendiri hanya bisa mengikutinya. Tapi sesaat sebelum melangkah keluar melewati pintu itu, Selene membalikkan badannya dan memberikan penghormatan kepada Roselia.


Membungkukkan badannya sambil berkata.


"Nona Roselia, terimakasih atas pelajaran yang Anda berikan selama ini. Kami, setidaknya diriku sangat berterimakasih atas semuanya. Dan kelak, akan ku bayar tuntas semua kebaikan Anda."


Setelah itu, Ia pun segera menutup pintu ruangan itu dan berlari ringan untuk mengikuti langkah Leo.


Meninggalkan Roselia sendirian di ruangan itu. Kini memandangi dua buah lencana perunggu yang ditinggalkan oleh dua muridnya.


Roselia terlihat memandangi dua lencana yang tergeletak di lantai itu sebelum kembali memandangi di arah kejauhan melalui jendela kaca itu.


Ia mengangkat tangan kirinya dengan bantuan tangan kanannya, lalu membuka sarung tangan kulit yang menutupi tangan kirinya itu.


Apa yang ada di baliknya, adalah sebuah kulit yang mulai menghitam dengan beberapa bercak keunguan yang gelap.


Luka itu sedikit menyerupai dengan apa yang diderita oleh Reina. Dengan sedikit perbedaan bahwa luka yang dialami Roselia jauh lebih parah dan mencakup seluruh tangan kirinya hingga di bawah sikunya.


'Kraak!'


Beberapa kulitnya terlihat sedikit mengelupas dan jatuh. Apa yang ada bukan lagi seperti sebuah kulit manusia. Melainkan menyerupai sebuah mineral yang keras dan juga rapuh di saat yang bersamaan.


"Kurasa kalian takkan bisa membayar ganti rugi untuk ini." Ucap Roselia pada dirinya sendiri sambil tersenyum tipis.


Dengan cepat, Ia mengambil sebuah pisau kecil dan menyelimutinya dengan energi sihir. Memotong lengan kirinya dengan cepat.


'Bruukk! Praaakk!'


Lengan kirinya yang terjatuh itu, kini pecah menjadi ratusan bagian seperti batu yang jatuh dari ketinggian.


Meski dengan tangan yang mulai berdarah, Roselia tetap tenang dan segera menyembuhkannya. Setidaknya, menghentikan pendarahan yang terjadi di lengan kirinya.


"Sialan.... Nampaknya manusia memang tak diperkenankan untuk bermain dengan inti jiwa orang lain." Ucap Roselia pada dirinya sendiri.


Apa yang terjadi pada dirinya adalah murni sebuah kutukan. Kutukan itu terjadi karena Ia mencoba meraih ranah yang berada jauh diluar kemampuannya secara paksa.


Yaitu inti jiwa dari seseorang itu sendiri. Sebagai usaha untuk mencegah kematian Selene dan juga Mana yang tak terkendali.


Salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah penyihir, adalah lepas kendalinya Mana milik salah seorang penyihir agung. Dimana akibatnya, Ia dikuasai oleh satu emosi terakhirnya yaitu amarah untuk menghancurkan lingkungan sekitarnya.


Sekalipun inti Mana miliknya telah mengering, Ia bisa saja menghisap seluruh Mana yang ada di sekitarnya. Sama seperti spons kering yang menghisap banyak air.


Dan semua itu terjadi karena eksperimennya sendiri terhadap sihir. Roselia berusaha sekuat tenaga untuk mencegah kemungkinan itu terjadi.


Sebagai bayaran dari perawatannya untuk Selene, Roselia memang telah siap untuk kehilangan sebagian anggota tubuhnya. Tapi tetap saja, Ia tak pernah menyangka bahwa harganya akan semahal ini.


"Kurasa aku perlu belajar lebih lanjut mengenai jiwa. Ah, nampaknya aku butuh membuat tangan mekanik. Apakah Gill masuk hari ini? Mungkin dia bisa membantu ku dalam membuatnya." Ucap Roselia sambil segera berdiri dan berjalan keluar dari ruangannya.


Tangan kirinya yang sebelumnya mengucurkan darah dengan deras, kini telah menutup sepenuhnya. Meskipun.... Ia telah dipastikan kehilangan lengan kirinya.