E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 106 - Divisi Khusus



Masalah pangan di Kota Venice telah berhasil diselesaikan dengan perburuan ikan paus. Meskipun banyak orang tak terlalu menggemari dagingnya, tapi setidaknya lebih baik daripada tak ada makanan sama sekali.


Dengan diselesaikannya masalah itu, maka permasalahan mengenai ketidaktentraman wilayah Venice juga mulai menurun.


Tindakan kriminal karena perebutan makanan menjadi menurun drastis. Semua itu berkat pilihan Leo untuk membagikan daging paus itu kepada seluruh penduduk.


Ditambah dengan hawa dingin di musim ini, daging itu takkan membusuk dengan cepat. Menjadi sumber pangan baru bagi para penduduk kota.


Akan tetapi, masih terdapat permasalahan lain. Yaitu kemungkinan serangan dari kelompok bandit Red Skull yang bisa saja menyerang kapan saja.


Leo sadar bahwa pergerakan pasukan levies yang diperintahkan oleh Achibald pasti akan sangat mengundang perhatian.


Dan para bandit itu pun pasti akan segera menyadarinya. Mempersiapkan diri untuk menyerang dan mengambil alih kota ini sepenuhnya untuk diri mereka sendiri.


Untuk menghadapi masalah itu....


"Perhatian! Tuan Leo akan datang! Berbaris dengan rapi!" Teriak pegawai balai kota bagian militer, Luna. Meskipun, saat ini Leo telah mengangkatnya menjadi kapten divisi khusus yang hanya beranggotakan wanita itu.


Dengan teriakan itu, sekitar 200 prajurit itu segera berbaris dengan rapi dengan sikap tegap yang hampir sempurna.


Di sisi lain, Leo terlihat berjalan bersama dengan beberapa prajurit pribadinya yang membawa dua buah gerobak kayu.


"Sikap yang bagus, kalian semua. Sekarang beristirahatlah." Ucap Leo meminta mereka untuk merubah sikap siaga mereka itu.


Tak berselang lama, mereka semua pun segera merubah sikap dengan meletakkan kedua tangannya di bagian belakang pinggangnya.


Tapi tetap dengan tatapan yang fokus dan serius. Leo yang melihat hal itu sedikit teringat mengenai pelajaran baris berbaris dulu saat Ia masih bersekolah.


Tanpa sadar, senyuman tipis pun terlukis di wajahnya. Sebuah senyuman yang dapat membuat siapapun yang melihatnya sedikit tertusuk hatinya karena penampilannya yang begitu menawan hati.


"Kalian telah bekerja keras. Tak ku sangka hanya dalam satu Minggu kalian bisa terlatih hingga seperti ini. Dari hatiku yang terdalam, ku ucapkan terimakasih." Ucap Leo dengan senyuman dan tatapan yang sayu.


Membuat semuanya semakin salah sangka dengan situasi ini. Karena Leo terkesan begitu baik kepada mereka meskipun beberapa saat yang lalu Ia terlihat begitu kejam.


"Tapi terimakasih saja takkan cukup. Hari ini, aku akan menunjukkan kepada kalian kenapa kalian akan menjadi divisi khusus yang penting bagi kota ini." Ucap Leo sambil membuka penutup kain putih di atas gerobak kayu itu.


Meskipun salju tetap jatuh dan suhu udara menjadi semakin dingin setiap harinya, perasaan mereka saat ini begitu hangat setelah melihat apa yang ada di hadapan mereka.


Sebuah tongkat kayu, tidak.... Apa yang ada di hadapan mereka mungkin adalah senjata terkuat yang bisa digunakan oleh seorang Prajurit di masa ini.


Senjata itu dapat disebut sebagai sebuah Musket. Sebuah senjata api yang menggunakan batu Mana sebagai tenaga utamanya dan Rune sederhana di batang besi yang ada di dalamnya.


Tak hanya sebagai senjata jarak jauh, pada bagian ujung dari Musket yang sepanjang sekitar 0.9 meter itu terdapat sebuah bilah pisau yang sepanjang 25 cm. Berguna untuk membantu pengguna Musket bertarung dalam jarak dekat jika kondisi memaksanya.


Dengan kata lain, tak hanya lebih kuat daripada panah, tapi senjata ini juga bisa berfungsi sebagai sebuah tombak.


"Aku yakin kalian belum pernah melihat senjata ini, jadi aku akan memberikan contoh kepada kalian." Ucap Leo sambil mengangkat salah satu dari senjata yang disebutnya sebagai Musket itu.


Ia kemudian menunjukkan cara untuk menggunakan senjata itu. Dimana pertama-tama mereka perlu meletakkan batu Mana yang telah dibuat menjadi sedikit bulat itu ke bagian belakang senjata itu lalu menguncinya dengan penjepit yang ada.


"Lalu begini cara kalian memegangnya." Ucap Leo sambil memegang Musket itu dengan kedua tangannya.


Tangan kirinya diletakkan di bagian depan Musket, sedangkan tangan kanannya memegang bagian belakang dengan jari telunjuk yang berada di bagian pelatuk.


"Untuk memudahkan dalam membidik, kalian bisa meletakkannya di bagian samping bahu kalian seperti ini." Ucap Leo sambil mencontohkan posisinya.


Ia lalu mendekatkan wajahnya ke bagian belakang senjata itu untuk membidik. Sedangkan salah satu prajuritnya nampak meletakkan zirah besi jauh darinya.


"Setelah kalian yakin bidikan kalian tepat, cukup tekan pelatuknya." Ucap Leo.


Dengan segera....


Suara ledakan yang cukup keras terdengar memekikkan telinga mereka semua.


Bersamaan dengan itu, sebuah sihir "Fire Lance" yang telah dimodifikasi oleh Leo segera aktif. Menembakkan tombak api itu dengan sangat cepat.


'Klaaangg!'


Bahkan tak sampai satu kedipan mata.


Tapi dari jarak yang jauh itu, Leo berhasil mengenai zirah besi itu dan melubanginya tepat di bagian dadanya.


"Kira-kira seperti itu cara menggunakannya. Kalian bisa berlatih sesuka hati kalian untuk meningkatkan akurasi tembakan. Tapi perlu kalian ketahui, satu batu Mana ini dapat menembakkan 12 tembakan sihir.


Karena kondisi saat ini yang cukup kritis, setiap dari kalian hanya akan memperoleh 3 buah batu Mana untuk saat ini. Jadi perhatikan itu baik-baik. Aah, dan juga jangan dibuang jika habis. Aku akan mengisi ulang Mananya kembali." Jelas Leo panjang lebar.


Sayangnya, tak ada satu pun yang membalas.


Bukan karena tak ingin atau apa, tapi mereka masih terlalu terkejut dengan kekuatan senjata yang ditunjukkan oleh Leo itu.


"Tu-Tuan Leo.... Apakah kau bersungguh-sungguh memberikan kami senjata sehebat ini?! Lagipula.... Apakah kami benar-benar bisa menggunakannya? Bukankah itu senjata sihir?" Tanya Luna yang begitu kebingungan.


"Aah, benar juga. Kalau begitu kau, kemarilah dan coba tembakkan." Ucap Leo sambil menunjuk salah seorang secara acak dari barisan itu.


"Eh? Aku, Tuan?!"


"Ya, cepatlah." Balas Leo singkat.


Gadis itu pun segera mengulangi apa yang dilakukan oleh Leo sebelumnya. Mulai dari meletakkan batu Mana hingga membidik.


Semua orang nampak ragu bahwa Ia bisa melakukan hal yang sama dengan Leo sebelumnya. Lagipula, bukankah kekuatan dari senjata sihir ditentukan oleh kemampuan sihir penggunanya?


Mindset itulah yang tertanam dalam diri semua orang. Membuat mereka semua ragu atas senjata itu.


'Tunggu, mantra apa yang harus disebutkan?' Tanya Gadis itu sesaat sebelum menembak.


Tapi karena panik, Ia tak sengaja menarik pelatuknya.


'Daaarrr!!!'


Sebuah sihir yang sama persis seperti yang ditembakkan oleh Leo sebelumnya melesat ke arah zirah besi itu. Hanya saja karena gadis itu kurang fokus, arah bidikannya sama sekali tak tepat.


Sehingga hanya mengenai tembok yang ada di sebelah zirah besi itu.


Semua orang pun terkejut.


Pemikiran mereka bahwa senjata itu hanya bisa digunakan setelah latihan sihir yang keras pun segera sirna.


"Eeh?" Tanya Gadis itu.


Pertanyaan yang sama juga terlihat di wajah semua orang. Dimana mereka nampak tak percaya atas apa yang terjadi.


Seakan mengetahui pertanyaan dalam diri mereka, Leo pun menjawab.


"Itu benar. Dengan senjata ini, anak seorang petani sekalipun bisa melampaui ksatria terkuat. Itulah kenapa, kalian akan menjadi divisi khusus pertama di kota ini.


Dengan membawa senjata sihir ini, seribu bandit sekalipun takkan menjadi masalah bagi kalian. Bukankah benar begitu?" Tanya Leo sambil tersenyum puas.


Dan dengan itulah....


Saat ini Leo berhasil menyelesaikan masalah keamanan Kota Venice ini. Hanya dengan 200 prajurit wanita dengan senjata terkuat yang mungkin ada di dunia ini.