
"Hah?!" Teriak Reina yang dengan segera bangun dari tidurnya itu. Atau lebih tepat dari pingsannya itu.
Pemandangan yang dilihatnya masih sama seperti yang sebelumnya. Yaitu sebuah rumah kayu dengan banyak lemari dan botol kaca. Hanya saja....
"Tuan Lucas! Dia sudah bangun!" Teriak seorang wanita yang sedang duduk di samping ranjang Reina itu.
'Bruk! Bruk! Bruk!'
Suara langkah kaki yang keras mulai terdengar dari lantai dua. Asal dari suara itu tak lain adalah Lucas yang berlari ke bawah untuk melihat kondisi pasiennya itu.
"Aah.... Syukurlah kau sudah bangun." Ucap Lucas yang mulai memperlambat langkah kakinya setelah melihat Reina yang bangun dari tidurnya itu.
"A-apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan padaku? Lalu siapa dia?" Tanya Reina panik. Wajahnya terlihat begitu ketakutan dengan banyak keringat dingin yang mengalir di keningnya.
Lucas pun mendekat dan duduk di sebuah kursi sebelum menjelaskannya.
"Tubuhmu terinfeksi cukup parah, jadi aku perlu hampir setengah hari untuk membersihkannya. Terutama dari parasit. Sedangkan ini adalah Claire, seorang petualang. Aku memanggilnya kemari 2 hari yang lalu untuk menyembuhkan sisa lukamu." Jelas Lucas.
Pernyataan itu pun hanya membuat Reina semakin kebingungan. Bagaimana tidak?
"Tunggu.... Berapa lama aku tertidur?"
"Sekitar 3 hari. Kau pasti lapar kan? Aku akan membuatkan sesuatu untukmu." Balas Lucas yang segera kembali ke lantai atas.
Segudang pertanyaan masih tersimpan di dalam kepala Reina. Ia bahkan kebingungan untuk memulainya darimana.
"Maaf tapi...."
Bahkan sebelum Reina menyelesaikan pertanyaannya, Claire seakan telah bisa menebaknya.
"Kau pasti bingung dengan semua ini kan? Tenang saja, Lucas adalah seorang putra dari selir Duke. Meskipun saat ini telah dibuang dari keluarganya, tapi Ia masih memiliki martabat dan tata Krama seorang bangsawan.
Kau tak perlu khawatir jika Ia melakukan sesuatu padamu. Karena Ia takkan pernah melakukannya." Jelas Claire cukup panjang lebar.
Seketika, sebagian besar pertanyaan dari Reina mulai terjawab. Alasan kenapa seseorang yang tinggal di hutan bisa mengetahui berbagai pengetahuan yang seharusnya sangat langka di abad pertengahan seperti ini.
Terlebih lagi, saat Lucas mengaku bukanlah seorang dokter, tapi tangannya ketika bekerja sangatlah lihai. Seakan Ia memang berpengalaman dalam hal itu.
"Jadi begitu.... Pantas saja pengetahuannya begitu luas." Ucap Reina sambil merasa lega. Akan tetapi....
"Reina, aku tak ingin bermaksud kasar tapi.... Kau itu sebenarnya apa? Kau tahu? Aku telah terus menerus menyembuhkan semua lukamu selama 2 hari ini, tapi luka itu sama sekali tak kunjung sembuh.
Aku tak pernah melihat kejadian seperti ini selama aku berada di akademi, bahkan di medan perang." Ucap Claire kini dengan memberikan tatapan yang cukup tajam.
Itu benar.
Reina sendiri bahkan kebingungan.
Biasanya, semua luka yang dideritanya akan segera sembuh setelah beristirahat selama beberapa hari.
Bahkan pada saat Ia bertemu dengan penyembuh di kota dekat Aegis Lake itu, Ia hanya membutuhkan beberapa menit untuk sembuh.
Semua itu berkat skill tingkat yang diperolehnya dulu yaitu [Regeneration] bersama dengan [Time Perception].
Akan tetapi....
"Aku sendiri tak tahu, seharusnya aku sudah sembuh jika hanya dengan luka seperti ini. Tapi kenapa?" Tanya Reina sendiri pada dirinya.
Mendengar hal itu, Claire merasa sangat yakin. Bahwa ada sesuatu yang salah dengan tubuh Reina.
"Nampaknya aku bukanlah orang yang tepat untuk ini. Bagaimanapun, aku hanya bisa mencegah luka itu membuka kembali selama ini." Ucap Claire sambil segera berdiri dari duduknya.
Ia kemudian melangkah ke lantai dua untuk menemui Lucas.
Sedangkan Reina sendiri... Ia hanya bisa menatap sosok wanita itu pergi meninggalkannya.
"Lucas, aku akan mencari seorang pendeta di kota. Bagaimana menurutmu?" Tanya Claire.
Setelah mendengar pertanyaan Claire itu, Lucas menghentikan semua kegiatannya dan berjalan ke arahnya.
"Jadi kau sekalipun tak mampu?" Tanya Lucas sambil memberikan tatapan yang terlihat sedikit kesal.
Claire hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Lucas.
"Aku tak ingin percaya.... Tapi nampaknya hanya itu penjelasannya ya?" Tanya Lucas sekali lagi.
"Kutukan. Itulah kenapa aku akan mencari pendeta." Balas Claire sambil segera mengenakan kembali sepatunya dan mengambil tongkat sihirnya.
"Hmm.... Baiklah. Aku akan menemanimu. Ingat, jangan bocorkan identitasnya. Dia saat ini adalah buron terbesar di wilayah Maelfall."
"Aku mengerti." Balas Claire singkat.
Reina yang mendengar semua itu merasa sangat terkejut. Itu karena mungkin saja Ia tahu penyebab dari semua ini.
'Apakah bantuan langsung dari Dewi Silvie memiliki efek samping seburuk ini? Jika aku saja memperoleh hukuman seperti ini.... Apa yang terjadi padanya?" Tanya Reina dalam hatinya.
"Reina! Kami berdua akan pergi selama 1 hari. Aku sudah membuat bubur yang cukup banyak di lantai dua. Jadi ambil dan makan sendiri. Aku titipkan rumah ini padamu!" Teriak Lucas yang saat ini telah memegang gagang pintu itu.
"Lucas! Terimakasih!" Balas Reina.
Mendengar jawaban itu, Lucas hanya tersenyum tipis sebelum meninggalkan rumah kayu di tengah hutan ini sepenuhnya.
Dan dengan begitulah....
Permasalahan mengenai kondisi tubuh Reina secara perlahan mulai diungkap.
......***......
...- Kota Venice -...
...- Masa Kini -...
Tepat satu bulan telah berlalu semenjak Leo membuat kontrak dengan Feris.
Dan saat ini, Ia baru saja selesai mengirim jatah untuk bulan depan. Ia menitipkan barangnya di Guild petualang dan meminta mereka untuk mengirimnya ke Eastfort.
Tentu saja, Ia membuat surat yang menyatakan mengenai biaya pengiriman itu dan juga cap dari Guild untuk meminta ganti rugi.
Setelah menyelesaikan urusannya, Leo tak langsung pergi meninggalkan Guild Hall.
Ia masih bersantai di dalam Guild bersama dengan Selene dan juga Artemis.
"Dan kau tahu?! Aku menemukan semangka yang sebesar ini di pasar! Bukankah itu luarbiasa?! Lalu kau tahu?!"
Di sebuah meja dengan 4 buah kursi itu, Artemis terlihat masih cerewet seperti biasanya. Tapi untungnya, kali ini bukan Leo lawan bicaranya. Melainkan Selene yang setengah terpaksa untuk mendengarkan semua ocehan Artemis.
Bahkan wajahnya saja sudah menunjukkan bahwa Selene sangat ingin pergi dari tempat itu. Tapi sayangnya, Ia tak bisa melakukannya dengan mudah.
Sementara itu....
"Hmm.... Quest ya? Aku penasaran apa yang dilakukan oleh petualang di dunia ini." Ucap Leo sambil memperhatikan papan kayu di dinding itu.
Puluhan kertas Quest dengan berbagai detail dan juga bayarannya tertempel di sana. Membuat para petualang bisa dengan mudah memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka.
'Kurasa aku bisa memanfaatkan hal ini dalam beberapa keadaan.' Pikir Leo dalam hatinya.
Pada saat itulah....
Seseorang dengan rambut putih yang sepanjang lehernya berjalan dengan langkah yang terlihat begitu terburu-buru.
Perlengkapannya adalah zirah kulit dan sebuah pedang yang menggantung di pinggang kirinya.
Tanpa ragu, seakan memang sudah tahu, Pria itu berjalan langsung ke arah pegawai Guild.
"Aku ingin memasang Quest." Ucap Pria itu sambil menyerahkan detail Quest miliknya dan sekantung koin emas.
"Baiklah, biar kami lihat terlebih dahulu. Silakan tunggu." Ucap wanita yang merupakan pegawai Guild itu.
Merasa penasaran, Leo pun sedikit melirik ke arah Pria itu. Mendengarkan apapun yang mungkin aka. mereka bicarakan.
Lagipula, ini pengalaman yang berharga baginya jika kedepannya Ia ingin memasang Quest untuk dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat....
"Maafkan kami Tuan, tapi aku rasa hadiah yang Anda berikan takkan membuat banyak orang berminat. Terlebih lagi untuk pergi hutan suci Elf...." Ucap pegawai wanita itu.
"Cih! Disini juga ya? Sialan." Ucap Pria itu sambil menarik kembali detail Questnya dan kantung emasnya. Ia pun dengan segera membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan Guild Hall ini.
Akan tetapi....
"Berapa yang dibutuhkan agar para petualang tertarik?" Tanya Leo dengan suara yang cukup keras.
Mendengar hal itu, Pria berambut putih itu segera menghentikan langkah kakinya.
"Hutan Suci Elf adalah tempat yang penuh dengan hewan suci yang kuat, terlebih lagi... mereka cukup membenci ras rendahan seperti manusia dan Dwarf. Masuk kesana saja sudah sama dengan...."
"Aku bertanya berapa yang dibutuhkan agar petualang tertarik?" Ucap Leo menyela perkataan pegawai itu dengan suara yang lebih keras.
Seketika, semua orang yang ada di dalam Guild pun menelan ludahnya. Menghentikan semua kegiatan mereka untuk melihat ke arah sumber suara.
"Mu-mungkin sekitar 40 koin platinum atau lebih...." Balas Pegawai itu.
"40 kan?" Ucap Leo yang segera membuka tasnya untuk mengambil uangnya. Leo yang saat ini telah memulai perdagangan dengan Feris membuatnya dalam keadaan cukup kaya.
Bahkan kondisi keuangannya saat ini mencapai lebih dari 300 koin platinum. Memberikan 40 untuk informasi, terlebih lagi mengenai benua dan ras lain adalah biaya yang murah.
'Srruugg!'
Leo meletakkan 40 koin platinum itu di meja pegawai Guild itu. Lalu segera mengalihkan pandangannya ke arah Pria barusan.
"Kembali lah kemari, aku akan membantumu dengan beberapa syarat." Ucap Leo kepada Pria berambut putih itu.
Melihat 40 koin dikeluarkan dengan begitu mudahnya, tak hanya Pria berambut putih itu saja yang terkejut. Tapi juga seisi Guild. Mereka semua dengan segera berdiri dan mulai berjalan ke arah mereka berdua berada.
"Ke-kenapa kau melakukan itu? Tentu saja aku berterimakasih tapi...." Ucap Pria berambut putih itu.
"Aku juga membutuhkan sesuatu darimu, terutama informasi. Hutan suci Elf, tempat apa itu? Apa yang ada di sana? Dan apa yang kau cari di sana? Lalu bagaimana dengan peradaban dan budaya mereka? Jika memang ada sesuatu yang berharga, bisakah aku meminta bagian dari hasil pencarian itu?
Jika kau bisa memenuhi syarat dariku itu, aku akan membantumu membayar 40 koin platinum ini. Bagaimana?" Jelas Leo dengan panjang lebar.
Tak perlu menunggu lama, Pria berambut putih itu dengan segera menjawab.
"Kau yakin hanya dengan itu?"
"Aku bilang, jika memang ada harta di sana aku juga meminta bagian. Kau tidak dengar?" Balas Leo.
"Baiklah. Aku akan memenuhi semua syaratmu." Balas Pria itu sambil segera menambahkan detail di kertas permintaannya.
Dan hanya dengan itulah, puluhan petualang dengan segera berbaris di samping mereka berdua. Menanti untuk mengambil misi itu.
Leo mengulurkan tangan kanannya setelah merasa bahwa dirinya memperoleh keuntungan dari ini.
Melihat dari reaksi Pria itu saja, Leo sangat yakin bahwa di sana ada sesuatu yang sangat berharga yang sedang di carinya. Terlebih lagi, penyebaran dan ketersediaan informasi di dunia ini terlalu rendah.
Memperoleh banyak pengetahuan mengenai ras dan benua lainnya adalah informasi yang sangat berharga bagi Leo. Entah itu untuk mendekati mereka, atau menjadi alasan untuk menjauhi mereka.
'Sreett!'
Pria berambut putih itu pun dengan segera menjabat tangan kanan Leo setelah menyerahkan Questnya untuk diproses Guild. Termasuk dengan 40 koin platinum dari Leo dan ratusan koin emas dari Pria itu sendiri.
"Leo, pedagang di kota ini." Ucap Leo memperkenalkan dirinya.
Begitu juga dengan Pria berambut putih itu.
"Lucas, seorang peramu obat."
Mendengar pengenalan dari Pria berambut putih itu, Leo hanya bisa tersenyum dengan lebar di dalam hatinya.
'Ku rasa aku memang memperoleh Jackpot kali ini.'