E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 114 - Pilihan



"Tiga buah solusi?" Tanya Leo dengan tatapan yang tajam.


Bernadetta pun memberikan usulannya dengan rinci. Tak ada satu detail pun yang dilewatkan oleh Leo dalam hal ini.


Pada saat mendengarkan semua usulan solusi itu, Leo mempertimbangkan semua baik buruknya secara langsung.


Solusi pertama adalah dengan Leo menerima pengasingan. Dimana Ia dan kelompoknya akan diusir dari Kota ini secara hukum. Dilarang untuk selamanya kembali. Sementara itu, pemerintahan akan diduduki oleh Bernadetta untuk sementara waktu.


Solusi kedua adalah dengan melakukan eksekusi palsu. Semua itu untuk memberikan hukuman yang nyata, tapi pada kenyataannya masih akan baik-baik saja. Dengan catatan dia akan kehilangan hampir semuanya yang telah dibangunnya di kota ini.


Kemudian solusi terakhir....


"Aku akan mengangkat dirimu sebagai seorang bangsawan. Lebih tepatnya seorang Count untuk menduduki kota ini. Tapi permasalahannya dengan solusi ini, kau akan memperoleh masalah besar dengan Duke Achibald nantinya. Bagaimana menurutmu?" Tanya wanita tua itu kepada Leo.


Setelah mendengarkan semua solusi yang ditawarkan itu, Leo dengan mudah menjawab.


"Tentu saja kau tahu aku akan memilih solusi ke tiga bukan? Tidak seperti aku mau menyerahkan kota ini di tangan Achibald sekali lagi." Balas Leo.


Senyuman yang tipis terlihat di wajah Roselia dan juga Bernadetta saat itu.


"Syukurlah." Balas Bernadetta singkat.


"Kalau begitu, kapan pengangkatannya?" Tanya Leo.


Tapi jawaban yang diberikan oleh Bernadetta cukup membingungkan Leo saat itu. Bagaimana tidak?


"Tiga bulan lalu."


"Hah?"


Itu adalah sebuah jawaban yang paling tidak masuk akal yang didengar oleh Leo sepanjang hidupnya.


Bagaimana sebuah penobatan atau pengangkatan bangsawan bisa berlangsung tiga bulan yang lalu, ketika hal itu saja belum pernah terjadi.


Tapi jawabannya segera ada di dalam berkas yang diberikan oleh Bernadetta. Sebuah lembaran kertas yang sangat indah dengan dua buah nama di dalamnya.


Alexander Leonardo von Rustellia.


Dan juga....


Roselia Verticia von Rustellia.


Melihat hal itu, Leo segera berdiri dari duduknya dengan cepat.


"A-apa maksudnya hal ini?" Tanya Leo dengan penuh rasa terkejut.


Sedangkan Roselia yang sedari tadi duduk sambil menikmati teh hangatnya hanya melirik ringan ke arah Leo.


"Seperti yang tertulis. Secara hukum, kah dan aku telah menikah 3 bulan yang lalu secara matrilineal. Yah, meskipun aku sama sekali tak berminat denganmu, tapi anggap saja bantuan ringan dariku." Jelas Roselia sambil tersenyum manis.


Pernikahan matrilineal.


Itu berarti pengantin pria akan masuk ke dalam silsilah keluarga pengantin wanita. Dalam hal ini, Leo segera masuk ke dalam keluarga Rustellia melalui jalur pernikahan.


Dan hal itu juga berarti....


"Tu-tunggu dulu! Aku tak tahu jika ini adalah cara yang.... Hah? Kenapa kau tertawa?!" Tanya Leo ke arah Bernadetta itu.


Berusaha untuk meredam tawanya, wanita tua itu pun menjawab.


"Tidak, ku pikir kau hanyalah pria kaku yang tak pandai mengungkapkan perasaannya. Nampaknya justru sebaliknya ya?"


"Jadi begitu lah. Mulai saat ini kita sepasang suami istri, Leo." Ucap Roselia dengan wajah yang seakan sedang menggodanya.


Tapi nampaknya, fantasi Leo terlalu jauh. Karena pada kenyataannya, sama seperti perkataan Roselia, ini hanyalah uluran tangannya untuk membantu Leo.


Semua itu telah dijelaskan setelah pembicaraan mereka berikutnya.


"Tenang saja. Bukan berarti aku mau tidur satu ranjang denganmu. Seperti perkataanku, ini hanyalah status saja. Mulai sekarang, kau bisa secara resmi menggunakan nama keluarga itu.


Meskipun aku sangat yakin, pria botak itu akan sangat marah dengan keadaan ini." Jelas Roselia sambil tertawa ringan.


Pria botak yang dimaksudnya tak lain adalah Achibald itu sendiri.


Merasa lega karena kesalahpahaman nya berhasil dipecahkan, Leo pun kembali duduk. Kini dengan kepala yang sedikit lebih dingin.


Tanpa adanya sedikitpun pikiran mengenai Roselia di dalamnya. Atau setidaknya.... Itulah yang saat ini diusahakan olehnya.


'Tenangkan dirimu! Leo! Kau sudah sering melakukannya dengan Reina! Kenapa kau justru gugup sekarang?!' Teriak Leo dalam hatinya.


"Fuuuh...."


Setelah mengatur nafasnya, Leo pun akhirnya kembali pada dirinya yang semestinya.


"Terimakasih banyak atas bantuan kalian berdua. Aku sangat menghargai bantuan ini, dan akan mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuanku untuk kota ini. Tapi.... Apakah seburuk itu menghadapi Achibald?" Tanya Leo.


Roselia yang mendengar pertanyaan itu meletakkan cangkir keramiknya yang hanya dipegang oleh tangan kanannya saja itu. Setelah itu, Ia pun membalas.


"Setidaknya kau akan berperang dengannya. Parahnya, mungkin keluarga kerajaan akan membantunya. Yang terburuk, mungkin seluruh kerajaan ini akan memburumu. Sedikit lebih baik daripada kematian bukan?"


"Yang benar saja?!"


Tentu saja itu adalah respon yang dikeluarkan oleh Leo. Bagaimana tidak? Berperang? Dengan sesama manusia di jaman ini? Terlebih lagi ketika bangsa Iblis sedang menanti untuk menghancurkan umat manusia?


Tidak.


Hal itu saja tak boleh terjadi.


Hal itu sama sekali tidak boleh terjadi di dunia ini.


Tapi kematiannya juga bukanlah kabar yang baik. Setidaknya, Leo ingin meninggalkan sesuatu kepada umat manusia sebelum dirinya mati.


Agar mereka sedikit lebih kuat untuk melawan bangsa Iblis. Dan juga, agar Ia bisa mengemban sebagian kecil dari tugasnya oleh Dewi Cyrese.


Yaitu untuk menyelamatkan dunia ini.


Akan tetapi....


"Uuh, perang adalah kabar buruk di situasi saat ini. Tapi ku rasa aku masih bisa memikirkan beberapa hal untuk mencegah hal itu terjadi. Atau setidaknya meminimalisir korban." Balas Leo.


Mendengar jawaban itu, Bernadetta nampak tersenyum puas.


"Aku percaya padamu, Nak. Entah kenapa, aku merasakan sesuatu dari dalam dirimu. Sesuatu yang sama seperti para pahlawan yang pernah belajar disini." Jelas Bernadetta.


Leo cukup terkejut dengan pernyataan itu. Tapi bagaimanapun, mereka adalah para pahlawan.


Wajar saja memperoleh pendidikan dan fasilitas terbaik dari kerajaan. Oleh karena itu, Ia tak boleh terlihat terkejut.


"Serahkan padaku. Aku akan mengusahakannya."


Setelah semua urusan yang aneh dan merepotkan ini beres, Leo dan juga Roselia pun pergi meninggalkan ruangan ini.


Di tangan kanan Leo terlihat sebuah kertas yang menjadi bukti pernikahan mereka yang tak pernah terjadi itu.


Kini, tugasnya adalah untuk menyebarkan fakta bahwa dirinya menikahi salah satu anggota keluarga bangsawan Rustellia itu. Dan dengan begitu lah, legitimitas dari klaim tahtanya atas wilayah Venice ini dapat dikukuhkan.


Hanya saja....


"Hei, Leo. Kau tahu, aku bisa menebak siapa saja orang yang menyukaimu." Ucap Roselia di saat keduanya sudah hampir sampai di ruang kerjanya itu.


"Hah, apa maksudmu?"


'Sreettt!'


Roselia secara tiba-tiba merangkul lengan kiri Leo dengan lengan kanannya. Dan dengan memasang wajah yang cukup sedih, Ia pun menarik Leo ke dalam ruangan itu.


"Hah?! Kenapa kau tak pernah menceritakan kepada rekan-rekanmu bahwa kita sebenarnya telah menikah?!" Teriak Roselia dengan keras.


Seketika, dua orang nampak menjatuhkan gelas minuman mereka ke lantai sambil memasang wajah yang sangat kebingungan.


"Tu-Tuan Leo.... Kenapa kau tak bilang?" Tanya Selene dengan wajah yang seakan telah kehilangan setengah nyawanya itu.


"Dim.... Jadi selama ini kau pulang malam...." Balas Reina dengan memasang wajah yang penuh dengan rasa kekecewaan.


Sementara itu, Luna masih sibuk menyeruput minuman dari gelasnya itu hanya bisa memberikan komentar singkat.


"Ugh.... Apakah aku sebaiknya tak berada disini?"


Leo sendiri?


Ia hanya bisa memasang wajah terkejut bukan main atas perkataan Roselia itu. Tentunya, sambil memikirkan kalimat yang tepat untuk menjelaskan semua ini.