E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 109 - Pertempuran



Di dalam sebuah benteng kayu yang cukup besar, ratusan orang nampak berjalan kesana kemari. Sebagian nampak melakukan patroli dan berjaga.


Sedangkan yang lainnya lagi nampak melakukan pekerjaan dasar seperti mengasah senjata, menempa, menguliti hewan, ataupun memasak.


Tapi ada satu orang yang berbeda. Ia terlihat berlari sekuat tenaganya dengan nafas yang terengah-engah.


"Bos! Gawat! Berita buruk!" Teriak Pria itu sambil berlari masuk ke dalam bangunan besar yang ada di tengah benteng itu.


Di dalamnya, nampak puluhan prajurit yang berbaris dengan rapi serta beberapa Pria dengan badan yang besar di sebuah meja persegi yang besar itu.


Tapi setibanya di dalam, Ia nampak cukup terkejut. Bagaimana tidak? Bos dari kelompok bandit ini, beserta dengan beberapa petinggi lainnya nampak sedang 'bersenang-senang' dengan hasil buruan mereka.


"Yoo, Mark. Ada apa ribut-ribut seperti itu? Tidakkah kau lihat kami sedang sibuk?" Ucap seorang Pria dengan kepala botak yang memiliki tato hitam di sebagian besar wajah hingga kepala bagian belakangnya itu.


Tubuhnya begitu besar dan berotot, dengan tinggi mencapai 1.9 meter lebih.


Sedangkan yang ada dalam rangkulan tangan kanannya, adalah seorang wanita yang terlelap dalam tidurnya.


Wanita itu memiliki rambut perak yang indah dan panjang dengan pakaian jaket putih yang kini terlihat telah setengah terbuka itu.


Tak peduli apapun yang dilakukan oleh Pria berkepala botak itu, wanita yang tak lain adalah Selene itu sama sekali tak bergerak. Seakan Ia terlalu terlelap dalam tidurnya.


"Bos! Dengarkan aku! Ini cukup gawat!" Teriak penembak jitu bernama Mark itu.


"Hahaha! Pasukan itu kan? Tenang saja! Dengan jumlah mereka dan medan ini, mereka takkan sampai disini sebelum esok hari." Balas Pria yang ternyata adalah kepala dari semua kelompok bandit Red Skull ini.


Mark saat ini tengah dalam kebingungan.


Di satu sisi, perkataan bosnya memang benar. Dengan pasukan sebesar itu, mereka pasti akan kesulitan melewati hutan ini. Terlebih lagi dalam badai salju ini.


Tapi di sisi lain....


Ia tak bisa melupakan tatapan mata targetnya yang begitu haus akan nyawa lawannya itu.


Itu benar. Tatapan Leo sendiri seakan sebuah pernyataan perang. Atau lebih tepatnya, sebuah pernyataan bahwa kelompok mereka akan segera binasa jika berurusan dengannya.


"Tapi...."


'Blaaarrr!!!'


Sebuah ledakan yang cukup besar terdengar cukup keras dari dalam bangunan itu.


"Tuan Brunt.... Apa yang terjadi?" Tanya pria lain yang segera berdiri dari duduknya itu.


Bos botak yang bernama Brunt itu segera meletakkan tubuh Selene secara perlahan di kursi. Berusaha untuk tak 'merusaknya' agar bisa digunakan nanti.


"Kau bertanya padaku? Tanyakan kepada pasukan penjaga yang...."


'Jleebb!!!'


Sebuah panah melesat tepat ke arah kepala Pria yang baru saja memanggil Brunt itu.


Dengan hal itu, Brunt pun tahu. Bahwa situasi ini jauh lebih buruk daripada yang diduganya.


'Apakah aku terlalu meremehkan mereka dengan kemenangan kecil sebelumnya?' Pikir Brunt dalam hatinya.


Ia pun segera keluar dengan perlengkapan perangnya. Yaitu sebuah zirah tebal dengan warna hitam keemasan. Lengkap dengan helm yang menutupi setengah kepalanya.


Bersamanya, terdapat 6 orang lain dengan zirah yang tak kalah tebal.


Tapi sesampainya di luar....


Pemandangan yang ada jauh lebih mengerikan dari dugaannya.


'Duaaaarr!!!'


Suara ledakan yang besar itu kembali terdengar. Bersamaan dengan itu, ratusan tubuh prajurit dari kelompok Brunt segera terjatuh dari dinding tak bernyawa.


Sebagian memiliki lubang yang besar di kepalanya. Sebagian lagi di bagian dada atau yang lainnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Brunt setelah melihat salah satu jasad itu.


Ia sama sekali merasa tak sedih ataupun kasihan dengan kematian bawahannya. Lagipula, mereka hanyalah alat yang digunakannya untuk memperoleh semua tujuannya.


Kematian mereka hanya sama seperti kehilangan sebuah pedang dari ribuan lainnya.


Akan tetapi....


"Tembak!"


'Duaaarrr!!!'


Dengan senjata sihir yang menembakkan "Fire Lance" itu, pasukan yang dipimpin oleh Leo mampu melubangi dinding kayu itu dengan mudah. Bahkan membakarnya.


'Bruukk! Braakk!'


Dua dari keenam petinggi yang mengikuti Brunt dari belakang terkena tembakan itu dan segera terjatuh ke tanah.


Brunt yang merasa kesal pun bergegas untuk naik ke atas dinding itu. Melihat apa yang menyebabkan semua ini.


Dan apa yang dilihatnya, adalah dua baris pasukan. Dimana pada barisan depan, mereka terlihat setengah berlutut sambil membawa sebuah tongkat yang aneh.


Sedangkan pada barisan depan, mereka berdiri dengan tegap. Membawa tongkat yang sama seperti pasukan pada barisan pertama.


Lalu pada bagian belakang dari dua barisan itu, terlihat sosok dua orang. Salah satunya adalah sosok seorang wanita dengan seragam militer di balik jaket putihnya.


Sedangkan yang satunya lagi, adalah sosok seorang Pria dengan pakaian putih dan mata kiri yang telah diperban. Darah nampak masih sedikit mengalir, mewarnai perban putih bersih itu menjadi sedikit merah.


Dan apa yang dilakukannya hanya satu.


"Tembak!" Teriak Pria yang tak lain adalah Leo itu.


Bersamaan dengan teriakannya, ledakan yang sama terjadi lagi. Melontarkan 195 Fire Lance ke arah benteng kayu itu.


Barisan belakang penembak nampak mengincar pasukan yang berlindung di bagian atas dari dinding kayu itu.


Sedangkan barisan depan menembak secara garis lurus menembus dinding kayu itu. Menangani pemanah yang menembak mereka dari balik dinding kayu itu.


'Blaaaaarrr!!!'


Puluhan nyawa melayang seketika dengan tembakan itu. Membunuh semuanya tanpa harga diri.


Dan di saat panah nampak terbang ke arah barisan pasukan yang tak terlindungi itu, Pria yang diduga sebagai pemimpin oleh Brunt itu nampak mengarahkan tangan kanannya ke atas.


Menciptakan sebuah sihir angin yang menghentikan hujan panah itu seketika.


Tak ada ekspresi di wajahnya. Seakan itu adalah hal yang biasa baginya.


Banyak prajurit dari kelompok Brunt yang berpikir bahwa panah takkan berguna melawan mereka. Oleh karena itu, mereka harus keluar dari dinding dan menyerang mereka secara langsung.


Akan tetapi, melihat barisan pasukan dengan senjata aneh itu.... Semuanya yakin bahwa itu hanyalah sebuah misi bunuh diri.


Segera setelah Pria itu menghentikan hujan panah yang ada dengan sihir anginnya, Ia kembali berteriak dengan keras.


"Tembak!"


'Duaaaarrr!!!'


Secara refleks, Brunt segera berlutut dan berlindung di balik dinding kayu itu. Merasa ketakutan atas apa yang baru saja dilihatnya.


'Apa-apaan ini?! Senjata apa itu?! Apakah ini masih bisa disebut sebagai sebuah pertempuran?! Sialan!' Teriak Brunt dalam hatinya sambil ketakutan.


Ia bahkan sampai memejamkan kedua matanya dengan tubuh yang terus gemetar.


Wajar saja karena ini adalah pertama kalinya senjata api.... Atau senjata sihir dengan kekuatan dan skala sebesar itu digunakan dalam medan perang.


Membunuh semua lawannya tanpa ada harga diri. Tanpa perlu latihan yang keras. Tanpa perlu fisik yang kuat. Bahkan.... Tanpa perlu kekuatan sihir sekalipun.


Apa yang diperlukan hanyalah mengarahkan senjata yang seperti tongkat kayu itu, lalu menekan pelatuknya.


Meskipun sangat mudah digunakan, senjata itu memiliki kekuatan yang setara dengan sihir tingkat menengah.


Di saat Brunt masih bersembunyi dalam ketakutannya, Ia menyadari sosok seorang wanita dengan mudahnya membantai puluhan prajurit sendirian dengan sebilah pedang.


'Zraaat! Sreett! Zraaasshh!'


Wanita dengan rambut pirang panjang yang dikepang itu nampak mendominasi pertarungan dengan mudahnya. Menebas semua yang mendekatinya.


'Glek!'


Melihat situasi ini, Brunt menelan ludahnya sendiri. Tapi setidaknya....


'Jika itu hanya seorang gadis kecil dengan sebuah pedang.... Aku bisa melawannya! Benar! Dia tak memiliki senjata aneh itu!' Pikir Brunt dalam hatinya.


Dan dengan itulah, pemimpin dari kelompok Red Skull ini membuat salah satu pilihan terburuk pada saat itu.


Yaitu untuk melawan Reina sendirian.