E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 85 - Pertemuan



...- Penginapan -...


Leo dibantu dengan beberapa bawahannya mulai menurunkan muatan dari keretanya. Yaitu dua buah peti, dimana satu peti berukuran cukup besar dan satu lagi berukuran cukup kecil.


Mereka meletakkannya di dalam ruang kerja Leo. Setelah semuanya beres, Ia segera memeriksa apa yang ada di dalamnya.


Pada peti yang besar, di dalamnya terdapat 60 busur panah dan beberapa peti kecil yang berisi koin platinum.


Total terdapat 6 buah peti kecil dimana masing-masing berisi tepat 120 koin platinum. Dengan kata lain, bulan ini Leo memperoleh 720 koin platinum dari pekerjaannya. Sebuah hasil yang sangat memuaskan bisa dibilang.


Itu karena pendapatannya sebelumnya hanya berada pada kisaran 300 koin platinum tiap bulannya.


“Syukurlah, Tuan Leo. Kali ini kita mendapat cukup banyak.” Ucap Selene yang sedari tadi menemani Leo.


“Jujur saja aku berharap sedikit lebih banyak, tapi tak masalah. Ini sudah cukup untuk membangun karavan dagang ke kota Daeta. Empat.... Tidak. Mungkin lima kereta kuda dengan 2 orang pedagang serta 24 penjaga sudah cukup. Ditambah dengan 5 kusir kuda.” Jelas Leo.


Selene terlihat ikut memikirkan mengenai perkataan dari Tuannya itu.


“Lalu.... Barang yang diperdagangkan?” Tanya Selene.


“Kemungkinan besar adalah perhiasan dan kain dari kota Venice, lalu kembali dari kota Daeta dengan membawa logam. Bagaimanapun, Daeta cukup dekat dengan pegunungan di Timur.” Balas Leo.


“Aah.... Jadi begitu. Dengan begitu bahan mentah logam akan lebih murah untuk di kota itu bukan?” Tanya Selene.


Tapi jawaban dari Leo sedikit ambigu.


“Itu adalah perkiraanku. Aku sama sekali belum memetakan harga di kota Daeta. Itulah tujuan aku berencana untuk mengirim dua pedagang, dimana satu dari mereka akan tinggal di sana.” Jawab Leo.


Keduanya pun mulai membahas mengenai permasalahan ekspansi untuk berdagang dengan kota Daeta.


Tapi Selene juga memberikan pemikiran untuk tidak melupakan keunggulan dari Kota Venice ini sendiri. Yaitu pelabuhan.


Ia mengusulkan untuk membeli kapal suatu hari nanti dan mulai berdagang dengan wilayah Mulderberg melalui jalur laut. Tak hanya itu, mereka juga bisa memulai perdagangan dengan wilayah paling Timur dari Crystalcourt.


Berbeda dengan Elf yang berada di Silverhide yang terlalu mengurung diri mereka di balik hutan suci, Elf yang ada di Crystalcourt sedikit terbuka. Atau setidaknya, menerima perdagangan terbatas dengan kerajaan manusia.


Sambil membahas mengenai berbagai permasalahan itu, Leo mengangkat peti kecil yang diduga berisi perlengkapan pahlawan.


“Selene, menurutmu apa isinya?” Tanya Leo.


“Melihat dari ukurannya yang cukup kecil.... Mungkin perisai?” Balas Selene.


“Perisai ya? Kalau menurutku semacam bagian kecil dari zirah.” Balas Leo sambil membuka peti kecil itu.


Di dalamnya, sama seperti sebelumnya, terdapat sebuah bantal putih yang lembut dan empuk. Benda yang berada di atasnya tak lain adalah sepasang sarung tangan Mithril yang indah.


Sarung tangan itu memiliki desain yang serupa dengan sarung tangan besi milik para Ksatria. Hanya saja karena bahan utamanya adalah Mithril, sarung tangan ini memiliki warna putih kebiruan yang sedikit cerah.


Dengan tempaan yang begitu halus dan sempurna, ditambah dengan beberapa kristal Mana yang disisipkan dalam sarung tangan itu, membuat siapapun yang menggunakannya tak hanya memperoleh pertahanan tangan yang kuat. Tapi juga kemampuan sihir yang cukup besar.


Sama seperti batu Mana, kristal Mana juga terbentuk atas proses mineralisasi energi Mana yang berlebihan. Perbedaannya adalah kemurnian dan jumlahnya.


Dimana kristal Mana dapat memiliki energi yang jauh lebih murni dan dalam jumlah yang jauh lebih besar.


Secara kasar, mungkin sepotong kecil kristal Mana dapat disetarakan dengan 10 batu Mana yang biasanya digunakan oleh Leo.


“Hahaha.... Kita berdua salah. Tapi sarung tangan ini.... Ini benar-benar sebuah mahakarya.” Ucap Leo sambil memandangi seluruh kemampuan dari sarung tangan itu dengan skill [Clairvoyance] miliknya.


“Aku tahu bahwa Mithril merupakan salah satu logam terkuat dan yang paling tahan terhadap sihir. Tapi apakah itu memang sehebat itu, Tuan?” Tanya Selene.


“Tentu saja. Lagipula, ini juga merupakan milik Alicia.” Balas Leo sambil membaca secarik kertas yang datang bersama dengan sarung tangan itu.


Mata Selene terlihat sedikit melebar setelah mendengar perkataan Leo.


“Pahlawan Alicia? Lagi?” Tanya Selene penasaran.


“Aku tak tahu apa yang dipikirkan oleh Feris atau apa yang sedang dilakukan oleh pahlawan lainnya, tapi nampaknya Feris ingin fokus memperkuat Alicia terlebih dahulu. Atau Ia memang merupakan ujung tombak terkuat umat manusia.” Jelas Leo.


Pemikirannya didasarkan atas beberapa informasi yang diperolehnya dari Guild. Dimana pahlawan bernama Alicia bertarung sendirian di garis depan membantai apapun yang ada dihadapannya dengan tebasan yang sangat kuat.


Setelah merapikan semuanya, Leo kemudian keluar dari ruang kerjanya. Ia memutuskan untuk melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Yaitu menyelesaikan semua peralatan untuk prajurit terlebih dahulu dan fokus pada peralatan milik pahlawan.


Pada saat itulah....


‘Dok! Dok! Dok!’


Seseorang terlihat mengetuk pintu luar dari penginapan ini.


Hari masih siang sehingga tak mungkin orang yang mencurigakan yang akan melakukannya. Dengan cepat, Leo membalas sambil berjalan ke arah pintu itu untuk membukanya.


“Sebentar.”


Tapi ketika dibuka....


Sosok pria berambut perak bersama dengan seorang gadis dengan rambut kuning pendek yang indah.


Sang pria terlihat mengenakan pakaian petualang yang sederhana dengan banyak perlengkapan dan peralatan yang digantung. Sedangkan gadis itu mengenakan pakaian berwarna putih yang indah dengan corak hitam.


“Lucas? Silakan masuk.” Ucap Leo setelah menyadari tamunya hari ini.


“Yoo, Leo. Apa kabarmu?” Balas Lucas sambil segera melangkah masuk ke dalam penginapan itu.


Salah seorang pelayan di penginapan ini dengan sigap mengarahkan mereka berdua pada sebuah meja dengan empat kursi. Sedangkan pelayan yang lain terlihat segera menyiapkan minuman sebagai jamuan dasar.


“Baik. Bagaimana denganmu sendiri? Lalu gadis ini....” Ucap Leo sambil melihat ke arah gadis berambut kuning itu.


“Claire, tunanganku. Dia adalah seorang pendeta dari Gereja bintang.” Jawab Lucas singkat sambil duduk.


“Aaah, jadi kau adalah Claire itu ya? Senang berkenalan denganmu. Aku Leo.”


“Claire....” Balas gadis itu dengan wajah yang terlihat malu-malu.


“Hahaha. Dia memang pemalu, jadi maafkan dia. Ngomong-ngomong, dimana Reina?” Tanya Lucas.


Leo sedikit berpikir sebelum menjawab pertanyaan itu. Melihat reaksinya sebelumnya, Lucas nampak cukup protektif terhadap Reina. Jika Ia memberikan jawaban yang salah....


Tidak.


Untuk apalagi membohongi sosok yang menyatukannya kembali dengan Reina. Bahkan Ia telah menyelamatkan Reina ketika berada dalam kondisi kritis.


Oleh karena itu....


“Dia sedang berburu monster bersama dengan 10 bawahanku di hutan di wilayah Timur.” Jawab Leo


Mendengar jawaban itu, Lucas nampak tersenyum pahit. Sedangkan Claire terlihat sedikit terkejut. Tangan kanannya nampak meraih lengan kiri Lucas untuk menenangkannya.


“Reina.... Sampai kapanpun dia selalu melakukan itu. Padahal aku sudah mengatakannya untuk tetap beristirahat agar cepat sembuh....” Ucap Lucas sambil memasang wajah yang menyesal.


Di sini, Leo merasa sedikit iba terhadap Lucas.


‘Haruskah aku memberitahunya yang sebenarnya? Kurasa....’


“Lucas, sebenarnya aku menyadari sesuatu tentang penyakit Reina. Sebelumnya aku tak menyadarinya karena lukanya selalu tertutupi oleh perban, tapi pada suatu perjalanan....


Perban Reina terbuka. Memperlihatkan kulitnya yang menghitam dan seakan membusuk itu. Pada saat itulah, aku melihatnya. Setelah Ia membunuh hewan buas, lengannya nampak sedikit menimbulkan cahaya dan sembuh secara perlahan.” Jelas Leo.


Lucas yang mendengarnya pun sangat terkejut dengan hal itu. Ia seakan tak bisa mempercayainya.


“Benarkah?!”


Pada kenyataannya, Leo memang tidak berbohong sepenuhnya.


Setelah menerima pesan dari Igor itu, Leo benar-benar meminta Reina untuk sedikit melepas perbannya. Memperlihatkan bekas luka di lengan kirinya itu.


Setelah itu, Leo meminta Reina untuk membunuh beberapa hewan buas seperti serigala. Dan hasilnya memang benar. Seberkas cahaya yang tipis nampak di lengan Reina. Dimana kutukannya seakan memudar sedikit demi sedikit.


“Yah, itulah yang ku lihat. Oleh karena itu Reina saat ini sedang berburu monster untuk menyembuhkan lukanya.” Jawab Leo.


Kali ini, wajah Lucas nampak dipenuhi dengan perasaan lega. Begitu pula pada wajah Claire yang terlihat tersenyum lega.


Setelah menghela nafasnya, Lucas pun kembali berbicara.


“Leo. Terimakasih.”


“Tenang saja. Ohya, kau kemari untuk buku itu kan? Sebentar aku akan mengambilkannya.”


Reuni singkat antara Lucas dan Leo pun berlangsung selama sekitar satu jam. Dimana mereka membicarakan cukup banyak hal mulai dari pertemuannya dengan Reina serta tunangannya Claire


Begitu juga dengan Leo.


Tapi hal paling penting dalam percakapan itu....


“Leo, jika kau senggang, aku menyarankanmu untuk mendaftar ke akademi sihir Aselica. Mereka akan membuka pendaftaran sekitar 2 bulan lagi untuk semester ganjil.


Jika kau belajar di sana, aku yakin itu akan membantumu dalam banyak hal. Lagipula, aku memperoleh sebagian dari ilmu ini disana.” Ucap Lucas sambil mengangkat buku ramuannya.


“Eh?! Kau serius?!”


Tanpa menjawab, Lucas hanya tersenyum seakan mengiyakan pertanyaan Leo.


Dan perkataan itu lah, yang membuat Leo semakin yakin untuk memasuki akademi sihir Aselica. Setidaknya.... Untuk membuatnya cukup kuat demi melindungi orang terdekatnya.