
"Hah.... Hah.... Hah...."
Alicia terlihat berjalan dengan pakaian yang sudah rusak parah itu. Zirah tipisnya pun telah lama hancur karena pertempuran barusan.
Setelah situasi terlihat aman, Alicia pun memasuki Benteng melalui gerbang. Tapi yang digunakannya adalah sebuah pintu kecil yang ada di samping gerbang itu. Memungkinkannya untuk kembali masuk tanpa membuka gerbang utama.
Di dalam benteng itu, ribuan pemanah terlihat begitu kelelahan. Sedangkan ribuan prajurit lainnya terlihat masih bekerja keras untuk membuat anak panah.
Tak ada istirahat bagi semua yang ada di benteng ini. Bahkan Feris sekalipun yang terlihat tak banyak berkontribusi, sebenarnya mengatur semua hal agar pertahanan di hari berikutnya bisa berjalan dengan baik.
Bersama dengan beberapa pekerja, Ia memeriksa dinding bagian luar untuk melihat seberapa parah kerusakan di hari ini.
Karena para Iblis itu tak cukup cerdas untuk membawa peralatan berat seperti pelontar batu, dinding ini seharusnya sudah cukup kokoh untuk menahan serangan Iblis.
Tapi tentu saja, sering kali terdapat iblis dengan tubuh dan kekuatan yang besar. Mereka tanpa ragu akan menerjang dinding dan menghancurkannya dengan melempar batu atau berbagai benda lainnya.
"Sisi Timur memiliki sedikit kerusakan. Aku akan meminta sekitar 100 prajurit untuk menjaga kalian dalam bekerja malam ini. Kemudian 300 lagi akan membantu kalian dalam membawakan material." Jelas Feris kepada beberapa pekerja bangunan itu.
"Dengan segera, Nona Feris."
"Kemudian untuk kalian, aku akan mengirim 500 prajurit untuk membantu kalian mengambil berbagai jarahan perang disana. Mungkin saja ada Iblis yang masih hidup, tapi tenang saja karena para Prajurit akan menjaga kalian." Lanjut Feris, kini kepada kelompok pengumpul barang.
"Tenang, kami sudah terbiasa dengan semua ini." Balas salah satu dari mereka.
Senyuman yang tipis pun terlihat di wajah Feris sebelum pergi meninggalkan sisi luar dinding itu.
Ia pergi ke arah barak dan mengatur pergerakan prajurit.
Karena mereka tak bisa beristirahat selama 24 jam, maka Feris membuat sistem Shift yang membagi prajurit jarak dekat dalam 2 waktu pekerjaan.
12 jam pertama yang dimulai dari pagi hari, mereka akan berjaga jika ada sesuatu yang mungkin menyusup ke dalam dinding. Jika tidak ada, mereka akan terus menerus memproduksi anak panah.
Kemudian 12 jam lagi yang dimulai dari sore hari, mereka akan bekerja untuk membantu berbagai regu dalam menjaga kekokohan dan keberlangsungan benteng itu sendiri.
Tidak terkecuali menjaga karavan pedagang, dan menjarah rampasan perang yang ditinggalkan oleh para Iblis. Mereka juga bisa saja bekerja sebagai tukang bangunan jika tenaga yang dibutuhkan jauh lebih banyak.
"Untuk jatah hari ini, aku ingin kau mengatur sejumlah pasukan ke berbagai tempat ini. Kemudian...."
Feris terlihat menjelaskannya kepada komandan di Eastfort ini. Memintanya untuk mengirim pasukan ke berbagai tempat sesuai dengan instruksinya.
Setelah beberapa saat....
"Aku akan dengan segera melaksanakannya. Tapi Nona Feris. Apakah Anda sudah beristirahat?" Tanya Komandan pasukan itu.
Senyuman yang tipis terlihat di wajah Feris ketika mendengar pertanyaan itu.
"Kau mau menggantikan ku? Jika iya, ini beberapa daftar tugas yang perlu diselesaikan malam ini." Ucap Feris sambil menyerahkan sebuah kertas.
"Te-tentu saja kami akan mendukung Anda. Ya! Itu benar! Tapi untuk menggantikan Anda, nampaknya kami masih belum mampu...."
"Jadi kau paham kan?"
Setelah itu, Feris segera meninggalkan barak dan pergi ke sebuah bangunan yang cukup besar.
Apa yang ada di dalamnya tak lain adalah ruang tamu untuk para tokoh penting dari berbagai wilayah di Kerajaan ini.
"Maaf aku terlambat." Ucap Feris kepada seorang Pria dengan zirah ringan di atas pakaian birunya yang indah itu.
"Tak masalah, Nona Feris. Jadi bagaimana? Apakah Anda yakin akan melakukan hal itu?" Tanya Pria itu tanpa ragu.
"Tak masalah. Mereka bisa memenggal kepalaku kapan saja jika memang mampu melakukannya. Tapi saat ini, keadaan kita sedang sangat buruk. Aku tak bisa menyia-nyiakan sedikitpun benda atau kekayaan di tangan yang salah." Balas Feris sambil memperhatikan peta di meja itu.
"Begitu kah? Ramon." Ucap Pria itu.
Secara tiba-tiba, pria dengan pakaian serba hitam dan tudung yang menutupi sebagian besar kepalanya itu muncul di sampingnya.
"Ya, Tuanku."
"Dengan segera."
Bersamaan dengan balasan itu, Pria misterius dengan pakaian yang serba hitam segera menghilang. Seakan berubah menjadi debu berwarna hitam.
"Nona Feris, beberapa orang mulai mempertanyakan mengenai kekuasaan yang kau miliki. Apa yang sebaiknya kita lakukan?" Tanya Pria itu kembali. Di sisi lain, Feris sibuk memperhatikan peta serta sebuah gulungan kertas yang dibawakan oleh Pria itu.
"Beri pilihan untuk mendukungku atau memihak pada raja bodoh itu." Balas Feris singkat.
"Jika mereka memilih Raja 'bodoh' itu?"
"Biarkan saja. Lagipula dua pertiga dari prajurit yang ada di kerajaan ini jauh lebih percaya dan setia kepada diriku dibandingkan dengan raja itu. Mereka takkan bisa melakukan apapun."
Senyuman yang tipis terlihat di wajah Pria itu setelah mendengar semua jawaban Feris.
"Kemudian untuk masalah berikutnya. Beberapa kumpulan bangsawan mulai membentuk...."
Feris pun terus memproses informasi yang ada di kedua tangannya serta apa yang dikatakan oleh salah satu tangan kanannya yang bernama Ralph itu.
Dengan begitu, Feris bisa memperoleh informasi 2 kali lebih cepat dan membuat penggunaan waktunya efisien.
Sedangkan mengenai beban dalam pikirannya, Ia telah lama terbiasa dengan semua ini.
......***......
...- Kota Venice -...
Di dalam sebuah ruangan yang kecil itu, Leo terbangun oleh mentari yang mulai menghangatkan tubuhnya.
'Sial.... Kesiangan ya? Kenapa tak ada yang membangunkan ku?' Tanya Leo dengan sedikit kesal pada dirinya sendiri.
Ia pun segera berdiri dari kursinya, merapikan buku yang semalam dibacanya sebelum keluar dari ruangan itu untuk mandi.
Akan tetapi....
"Hmm? Selene, Artemis? Apa yang kalian lakukan?" Tanya Leo kepada dua orang wanita yang menghalangi jalan keluarnya itu.
"Leo! Siapa itu Reina?! Kenapa kau tak pernah menceritakannya padaku?!" Teriak Artemis dengan wajah yang penuh dengan semangat.
"Hah?! Apa maksudmu?" Balas Leo singkat. Ia terlihat kebingungan kenapa mereka bisa mengetahui nama itu.
"Tuan, maafkan aku. Tapi Nona Artemis meminta penjelasan dariku...."
"Sudah ku katakan aku tak paham apa maksud kalian."
Keributan kecil itu pun terjadi di luar ruang kerjanya. Membuat rencananya untuk mandi sedikit tertunda.
Tapi secara tiba-tiba....
"Kalau tak salah, kau pernah bercerita soal Desa di wilayah Selatan bukan? Aku memang pelupa tapi aku masih ingat nama desanya! Desa Cartery!" Ucap Artemis dengan penuh semangat.
"Canary.... Lalu apa mau kalian sekarang?"
Dengan pertanyaan itu, jawaban yang diluar dugaannya pun muncul.
"Tuan Leo, kau ada kenalan di sana? Semalam aku dengar kau mengatakan sesuatu tentang itu...."
"Kalau begitu, tujuan kita berikutnya adalah desa Carthary!"
Leo sebenarnya merasa sangat khawatir terhadap keadaan Reina di desa itu. Ia memang sudah memberi pesan untuk hidup dengan tenang. Jadi setidaknya, Reina sudah hidup aman di desa yang sangat jauh dari garis depan itu.
"Aku sama sekali tak tahu apa yang kalian katakan. Sekarang aku akan mandi dan bekerja. Selene, persiapkan dirimu." Balas Leo mengabaikan semua perkataan mereka itu dengan wajah yang terlihat sedikit kesal.
Meninggalkannya tanpa ada keterangan yang lebih lanjut.