
Sebuah benua yang diberkahi oleh Pohon Mana. Bagi siapapun yang sedikit saja mempelajari mengenai pohon Mana dan ras Elf, mereka pasti menganggap bahwa tempat mereka tinggal itu menyerupai sebuah surga dunia.
Dan anggapan itu sama sekali tak salah.
Pepohonan yang besar dan rindang. Hutan yang cukup lebat namun tak terlalu gelap. Buah-buahan terlihat di sepanjang mata memandang.
Termasuk juga banyaknya hewan-hewan yang bekeliaran dengan begitu tenangnya.
Sedangkan para Elf tinggal bersama dengan hutan dengan membangun bangunan yang begitu indah dengan dekorasi yang selalu memanjakan mata.
Sebuah wilayah yang seakan hanya ada di negeri dongeng saja. Tapi memang itulah kenyataannya.
Tempat seindah itu, saat ini sedang berada satu langkah di belakang kehancuran. Dengan banyaknya bangunan yang runtuh, hutan yang hangus terbakar, serta bangsa Elf yang berlarian kesana kemari sambil mencari pertolongan untuk saudara terdekat mereka.
Pasukan yang dipimpin oleh Leo dan juga Selene saat ini baru saja tiba di pelabuhan. Dengan total sebanyak 10.000 prajurit dengan 2.000 prajurit khusus diantaranya, Leo disambut dengan cukup baik oleh salah seorang petinggi di wilayah Crystalcourt ini.
"Jadi Anda adalah Tuan Leonardo yang dikatakan akan datang untuk membantu kami? Selamat datang di Crystalcourt. Maaf karena kami tak bisa menyambut Anda dengan lebih baik. Seperti yang Anda lihat, kami sedang berada dalam kekacauan." Ucap petinggi itu.
"Tak masalah. Aku datang kemari bukan untuk jamuan. Segera ceritakan apa saja kondisinya." Balas Leo sambil segera berjalan.
Di sampingnya, petinggi Elf yang nampak seperti seorang Pria muda dengan rambut perak yang panjang itu terlihat memandu perjalanan Leo.
"Dengan segera. Sebelumnya, Anda bisa memanggil saja El Virtyx, atau Virtyx saja. Saya sendiri adalah salah satu dari 6 Dewan Suci yang ada di wilayah Crystalcourt.
Kemudian untuk situasinya seperti yang Anda lihat. Setidaknya 150.000 pasukan Iblis menyerbu dari sisi Barat beberapa hari yang lalu.
Kami berhasil sedikit menahan mereka dengan sihir, tapi...." Ucap Virtyx sambil melihat ke arah sebuah lintasan dimana tanah, bangunan dan apapun yang ada di atasnya hancur tak bersisa dalam sebuah lintasan yang saat ini masih terlihat membara.
"Apakah itu perbuatan musuh?" Tanya Leo.
Lintasan itu terbentang sepanjang beberapa kilometer, dengan lebar mencapai 100 meter lebih dan kedalaman setinggi 20 meter.
Api yang ada di dalamnya dengan warna merah menyala bahkan terlihat masih berkobar dengan kuat. Dimana banyak Elf yang ada di sekitarnya berusaha untuk memadamkannya.
"Begitu lah. Tapi mengetahui bahwa ada sihir sekuat itu di dunia ini.... Sihir itu bahkan melampaui semua yang pernah kami ketahui."
Mendengar jawaban itu, Leo juga merasa tak bisa percaya. Mungkin jika mereka bilang itu adalah semburan api dari naga yang besar, Leo masih bisa mempercayainya.
Tapi sebuah sihir? Yang memiliki jangkauan hingga seluas itu?
"Bagaimana mungkin? Aku tak pernah dengar ada sihir sekuat itu."
Virtyx nampak diam sesaat sebelum menjawab pertanyaan dari Leo. Sebelum akhirnya, Ia menjawabnya dengan wajah yang terlihat begitu dipenuhi dengan kebencian.
"Berdasarkan perkataan dari Elf Silverhide, Raja Iblis Valkazar telah menguasai Pohon Mana. Dan menembakkan sihir itu dari sana."
Kini semuanya mulai menjadi masuk akal. Dengan sebuah suplai Mana dalam jumlah yang sebesar itu, tentu saja seseorang dengan kemampuan sihir yang cukup tinggi bisa membuat serangan semacam ini.
Tapi mengetahui bahwa tembakan ini bahkan berasal dari tempat yang setidaknya 400 kilometer lebih dari lokasi ini?
Di saat keduanya sedang berbicara, sebuah lonceng berbunyi dengan sangat keras.
'Klaangg! Klaangg! Klaangg!!'
"Serangan Iblis! Serangan Iblis!" Teriak seseorang dengan sangat keras.
Bukannya kepanikan, tapi semua Elf segera meninggalkan pekerjaan mereka masing-masing lalu pergi ke posisi mereka dalam pertahanan.
Persenjataan mereka adalah sebuah busur dan panah serta pedang yang melengkung dengan indah. Selain itu, adalah sebuah kelompok penyihir dalam jumlah yang cukup besar.
"Tuan Leo, maaf karena mendadak tapi...."
"Aku tahu. Semuanya! Bersiap untuk berperang!" Teriak Leo dengan sangat keras.
Secara bersamaan, seseorang yang membawa bendera segera mengibarkan bendera dengan lambang pedang, tombak dan senjata sihir yang saling menyilang. Menandakan bahwa mereka harus segera bersiap.
'Graakkk!'
Dengan satu hentakan kaki yang serempak dan kuat, semua prajuritnya kemudian segera menyusun formasi dimana regu penembak senjata sihir menjadi dua baris di barisan paling depan.
Sedangkan di belakangnya adalah pasukan pengguna tombak yang cukup panjang. Dan yang berada di barisan paling belakang adalah pasukan pengguna pedang.
Virtyx yang baru saja pertama kali melihat senjata sihir milik pasukan Leo merasa kebingungan.
Sementara itu, dalam pikiran semua orang merasa bahwa pasukan bala bantuan dari umat manusia itu terlalu sedikit. Hanya sekitar 10.000 pasukan saja. Dimana pasukan Iblis mencapai jumlah puluhan kali dari pasukan Leo.
Dan karena itu juga, mereka mulai tak begitu berharap dari bantuan manusia ini selain berterimakasih atas usaha mereka dalam membantu.
Lagipula, sudah sejak lama umat manusia selalu menjadi garis depan dalam peperangan melawan iblis. Melihat bahwa pasukan yang bisa dikirim sangat sedikit sudah bisa dipahami.
Akan tetapi....
Setelah melihat sikap sempurna dan tak takut mati dalam pasukan yang dipimpin oleh Leo, para Elf yang ada mulai bertanya-tanya.
'*Apakah ini benar-benar manusia?'
'Bukankah mereka hanya lah ras yang hidup selama 60 tahun saja?'
'Tapi apa-apaan dengan sikap itu*?!'
Pasukan Leo berbaris dengan sangat rapi dan berjalan secara serempak. Menggetarkan tanah yang ada di sekitar mereka.
Tak hanya itu, tatapan mata semua prajurit Leo menunjukkan sikap yang sangat siap atas kematian. Tak ada sedikitpun rasa takut dalam diri mereka.
Dan setibanya di garis depan yang bahkan tak memiliki dinding pertahanan itu....
Semua Elf baru paham.
"Tembak!!!" Teriak Leo dengan keras.
'Duaaarr! Duaaarr! Duuaarrr!'
Rentetan tiga buah tembakan peluru sihir yang telah ditingkatkan, Fire Lance, menembus barisan pasukan Iblis dengan zirah yang tebal itu dengan begitu mudahnya.
Hanya dalam satu kali perintah itu, setidaknya 6.000 lebih Iblis telah mati seketika.
Suara keras dari tembakan serempak itu terdengar seperti sebuah guntur yang menyambar tanah dengan sangat kuat.
Pemandangan sebuah senjata yang membuat seluruh persenjataan dan zirah yang dibuat sejak ribuan tahun yang lalu seakan sia-sia dan tak berguna itu, kini menjadi terror yang tersendiri bagi bangsa Iblis.
Sedangkan bagi bangsa Elf?
'Ini kah kekuatan ras yang telah lama menahan serangan Iblis? Kemampuan perang mereka bahkan melampaui seluruh kisah perang besar di masa lalu.'
Pasukan manusia saat ini menjadi harapan yang sangat besar bagi bangsa Elf.
Termasuk Virtyx yang melihatnya dari kejauhan. Ia hanya bisa terpana atas tembakan sihir yang dilancarkan oleh 2.000 pasukan Leo itu.
Tapi Leo tak berhenti di sana.
"Tembak!!!" Teriak Leo sekali lagi.
Bersamaan dengan itu, tiga buah tembakan peluru sihir kembali melesat dan menembus ribuan tubuh pasukan Iblis yang berusaha menyerbu.
Semuanya terjatuh.
Semuanya mati.
Bahkan sekalipun tak mati dalam tembakan itu, sihir api Fire Lance akan mulai membakar tubuh mereka secara perlahan. Dan pada akhirnya akan melumpuhkan mereka.
Ini adalah pertama kalinya bangsa selain manusia melihat senjata sihir buatan Leo itu.
Dan tentunya, bukan yang terakhir kalinya.
"Tembak!!!"
Sebuah pembantaian sepihak yang dilakukan oleh sebuah senjata sihir.
Sebuah senjata, yang akan memiliki kekuatan yang sama siapapun yang memegang dan menggunakannya.
Sebuah senjata....
Yang sama sekali tak memiliki harga diri dalam sebuah pertempuran. Hanya satu tujuan, yaitu membunuh semua yang ada di hadapannya.