E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 39 - Tenaga Kerja Tambahan



Beberapa Minggu telah berlalu semenjak Leo memulai perjalanannya bersama dengan Artemis.


Jauh melebihi perkiraan mereka berdua, perdagangan senjata yang telah memperoleh Enchantment dengan cara keliling itu menghasilkan jauh lebih banyak uang.


Penyebabnya ada beberapa, tapi yang jelas adalah satu hal.


Yaitu mereka tak hanya terpaku pada satu pasar saja. Dengan kata lain, Leo mampu memasang harga setinggi yang Ia inginkan dan sama sekali tak masalah jika barangnya tak laku.


Itu karena Leo bisa menjualnya di Kota berikutnya dengan sebuah bonus. Yaitu namanya mulai menyebar karena selalu membawa senjata berkualitas tinggi itu.


"Membeli kacamata pengidentifikasi ini benar-benar sangat bermanfaat ya? Bagaimana kau bisa memikirkan ide seperti itu?" Tanya Artemis yang saat ini duduk di bagian depan bersama dengan Leo yang sedang mengendalikan kuda itu.


"Membiarkan pasar mengetahui nilai barang kita secara akurat, tentu saja akan membuat orang yakin dengan apa yang kita jual. Terlebih lagi, sekalipun mereka tak membelinya, mereka akan menyebarkan berita itu setiap kali mereka berkelana.


Yah, meskipun aku awalnya cukup takut jika kacamata itu bisa melihat efek Enchantment yang kuberikan. Tapi apa yang ditunjukkannya hanyalah atribut dasar yang telah ditambahkan dengan efek Enchantmentnya." Jelas Leo dengan cukup panjang lebar.


Mendengar hal itu, Artemis hanya bisa melebarkan kedua matanya yang saat ini mulai berkilauan itu. Rasa kagumnya kepada sosok bernama Leo itu hanya bisa semakin meningkat setiap harinya.


'Bruk!'


Artemis memiringkan kepalanya dan menyandarkannya pada bahu Leo.


"Oi, apa yang kau lakukan?" Tanya Leo dengan tatapan yang sedikit tajam.


"Tak masalah bukan, bersandar padamu seperti ini untuk beberapa saat?" Balas Artemis yang kini telah mulai memejamkan matanya.


Leo sendiri sebenarnya tak memiliki masalah dengan hal ini. Hanya saja.... Ia sangat yakin bahwa hal seindah ini akan selalu membawa kesialan bagi dirinya.


Sama seperti ketika Ia bersama dengan Reina. Setiap kali Ia memperoleh hal yang baik dengan seorang wanita, Leo akan menghadapi nasib sial tak lama kemudian.


Akan tetapi....


Leo melepaskan pegangan tangan kirinya pada tali kemudi kuda itu, lalu meletakkannya di pundak kiri Artemis.


"Artemis.... Kau tahu? Aku biasanya akan...."


Tak berselang beberapa detik setelah Leo berbicara, apa yang ditakutkannya telah terjadi tepat di hadapannya.


"Kukuku.... Yoo! Pedagang? Hanya berdua?"


"Kau tahu?! Di sini terdapat sebuah pajak jalan!"


"Itu benar! Turun dari kereta mu dan serahkan semua barang-barangmu, atau kau akan bernasib buruk!"


"Begitu pula dengan gadis itu! Tinggalkan dia disini, dan kami akan membiarkanmu lewat dengan jalan kaki!"


Semua orang yang tiba-tiba muncul di hadapan kereta kuda Leo itu mulai memberikan tuntutan mereka. Jumlahnya adalah 10 orang dengan perlengkapan yang cukup memadai.


Sebagian besar masih mengenakan zirah kulit, tapi orang berbadan besar yang terlihat seperti pemimpin kelompok bandit ini mengenakan zirah besi yang nampak begitu tebal.


'Benar kan? Kenapa selalu seperti ini?' Pikir Dimas dalam hatinya sambil membuat wajah yang seakan tak lagi terkejut.


"Hah.... Merepotkan sekali. Artemis, bawa kuda ini sedikit menjauh." Ucap Leo yang segera turun dari kereta kuda itu dengan melompat.


Sementara itu, Artemis hanya mengangguk dan segera memegang tali kendali kuda itu.


'Tap!'


Leo kemudian berjalan dengan sikap yang santai ke arah 10 orang bandit itu. Tangan kanannya terlihat menarik tas kulit yang ada di pinggangnya.


'Srruugg! Srruugg!'


Leo membuka tas itu dan terlihat seakan mencari sesuatu. Sementara itu, Artemis terlihat membalikkan arah kereta kuda itu, kini mengarah ke sebuah pohon.


Sesaat sebelum bandit itu melangkah, Leo segera berbicara.


"Tenang saja, rekan ku hanya ingin meletakkan kuda itu di bawah pohon. Aah, apakah ini yang kalian mau?" Tanya Leo sambil memperlihatkan segenggam koin Plantinum yang berwarna putih kebiruan itu.


Para bandit yang melihatnya pun sangat terkejut.


"Ko-koin Platinum?! Terlebih lagi, sebanyak itu?!"


"Bos! Nampaknya kita memperoleh mangsa yang besar!"


Akan tetapi, Leo segera memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Sedangkan tangan kirinya terlihat sedang meraih sesuatu di kantung yang ada di pahanya.


"Kalian suka bukan? Bagaimana dengan ini?" Ucap Leo sambil memperlihatkan 3 buah batu Mana, yang kini memiliki banyak warna.


"Ba-batu Mana?! Bukankah itu sangat mahal?!"


"Dibandingkan dengan koin tadi, batu itu hampir tak berharga!"


"Oi, bersikaplah baik dan serahkan semua koin itu. Jika kau bersikap baik, mungkin aku akan membiarkanmu ikut menikmati gadis itu."


"Itu benar! Kau ingin melakukannya kan?!"


Leo hanya tersenyum sambil memberikan tatapan yang terlihat seakan sedang mengasihani para bandit itu.


Setelah berdiam diri selama beberapa saat, Leo melirik ke arah Artemis yang telah berjalan cukup jauh bersama dengan kereta kudanya.


"Aku tak menyangka kalian akan sebaik ini. Kalau begitu, ambil ini terlebih dahulu." Ucap Leo sambil melemparkan tiga buah batu Mana itu ke arah 10 bandit itu.


Tanpa basa-basi lebih lama lagi, Leo segera membalik tubuhnya dan berlari sekuat tenaga.


"Sialan!"


Para bandit yang melihatnya tentu saja merasa dibodohi dan segera mengejarnya. Mereka semua berlari ke arah Leo.


Tapi pada saat itulah....


'Kreetaakk!'


Suara retakan mulai terdengar dari salah satu batu Mana yang dilemparnya. Tak berselang lama....


'Blaaaaarrrrr!! Blaaaarrrr!! Blaaaarrrr!!!'


Ketiga batu Mana itu menghasilkan ledakan yang cukup besar. Bahkan Leo yang telah mengambil langkah pertama untuk menjauhinya pun masih terlempar karena ledakannya. Memberikannya sedikit luka gores.


Di saat Leo membalikkan badannya, Ia melihat sosok 10 orang bandit itu yang terlempar ke segala arah. Tentunya dengan tubuh yang telah hancur lebur.


Tak ada satu orang pun yang selamat untuk mengisahkan mengenai hal ini.


Setelah memastikan bahwa semuanya telah mati, Leo kembali berjalan ke arah kereta kuda yang saat ini dikendalikan oleh Artemis itu.


'Bruukk!'


Leo duduk kembali di bagian depan sambil membersihkan pakaiannya dari debu, seakan kejadian yang barusan sudah merupakan pemandangan sehari-hari.


Tapi memang itulah kenyataannya. Melewati jalanan yang sepi antar kota memiliki resiko besar untuk dicegat oleh kelompok bandit. Terlebih lagi jika mereka terlihat memiliki banyak uang.


"Kau tahu, Artemis? Nampaknya kita butuh tenaga kerja baru untuk menghadapi hal ini. Aku sudah lelah terlempar setiap kali menggunakan batu Mana itu.


Terlebih lagi, Mana milikku tak cukup banyak jika kita cukup sial untuk bertemu dengan dua kelompok bandit dalam satu hari." Ucap Leo yang segera memacu kudanya untuk pergi ke Kota berikutnya.


Sementara itu, Artemis yang masih memegangi Crossbownya masih memasang sikap yang waspada.


"Maaf karena aku tak menyadarinya.... Lain kali aku akan memperhatikan wilayah sekitar dengan lebih baik lagi." Ucap Artemis sambil memasang wajah yang terlihat cukup sedih.


Kedua tangannya mempererat pegangannya pada Crossbow yang telah siap untuk ditembakkan itu.


"Aku tak menyalahkanmu. Tapi ini memang sudah waktunya untuk menambah anggota dari kelompok kita. Dan aku tahu cara yang paling mudah untuk memperolehnya." Ucap Leo.


"Cara yang paling mudah? Kau tahu menyewa petualang itu mahal bukan? Itulah kenapa kita hanya berdua selama beberapa Minggu ini." Balas Artemis.


"Tentu saja aku tahu. Tapi yang ini, aku bisa menjamin harganya cukup murah."


Kereta kuda yang mereka tunggangi telah kembali ke jalan tanah itu. Melewati 10 jasad bandit yang tergeletak di sekitar jalanan itu.


"Cukup murah? Apa itu?" Tanya Artemis penasaran.


Tapi jawaban yang diberikan oleh Leo cukup mengejutkan. Bagaimana tidak?


"Pasar budak. Kita akan membeli beberapa budak di Kota berikutnya."