E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 103 - Kekosongan Kekuatan



Leo benar-benar bersembunyi bersama dengan seluruh bawahannya sama seperti perkataannya. Alasannya untuk keluar dari kota hanyalah untuk berangkat berperang.


Meski pada kenyataannya, Leo hanya kabur ke hutan terdekat untuk menanti kekosongan kekuatan itu.


Di bawah salju yang terus menerus turun, kelompok Leo yang saat ini berjumlah sekitar 100 orang itu berdiam diri di dalam hutan. Menunggu hari dimana pasukan utama berangkat dan pergi meninggalkan Kota Venice.


Hari berganti menjadi Minggu.


Dan akhirnya, setelah 2 Minggu penantian dengan kemah sederhana dan persediaan makanan yang terbatas, Leo melihatnya.


Sebuah barisan pasukan dalam jumlah yang begitu banyak. Semuanya hanya bersenjatakan apapun yang mereka miliki.


Beberapa terlihat hanya membawa tombak kayu yang terlihat melapuk. Beberapa lagi terlihat membawa pisau dapur dan pisau daging. Sedangkan sisanya nampak hanya membawa palu atau bahkan tangan kosong.


"Dim, apa yang kau rencanakan setelah ini?" Tanya Reina yang berada di sebelahnya. Ia terlihat sedang berlutut untuk bersembunyi di balik ranting semak yang mengering itu dengan kedua tangan yang memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan.


"Kita akan tunggu tiga hari lagi. Dengan jumlah pasukan sebesar itu, aku yakin koordinasinya akan sangat rumit. Biarkan mereka pergi sepenuhnya." Balas Leo dengan nafas yang terlihat menimbulkan asap dingin itu.


"Tapi persediaan makanan kita...."


"Tahan sebentar lagi. Kita akan segera selesai."


Pada akhirnya, mereka menunggu 2 hari berlalu sebelum memutuskan untuk kembali ke kota. Memasuki tempat yang sebelumnya ramai itu.


Saat ini, Kota Venice bahkan terlihat seperti sebuah kota hantu.


Orang yang terlihat berada di dalamnya hanyalah wanita serta pira tua dan anak-anak kecil.


Dan seperti dugaan dari Leo, belum sampai beberapa menit mereka memasuki Kota itu....


"Tidak! Lepaskan! Jangan ganggu anakku!" Teriak seorang wanita sambil berusaha menarik putrinya.


Beberapa orang yang ada di sekitarnya hanya bisa diam. Mempererat pakaian mereka untuk menahan hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam tulangnya.


Tak ada yang berusaha untuk menghentikan Pria tua itu. Tak ada juga yang melihat ke arah mereka. Dan nampaknya, tak ada yang peduli kepada mereka.


"Siapapun! Tolong kami! Tolong selamatkan putriku dari Pria gila ini!" Teriak wanita itu.


Tak berselang lama....


'Duaaarr!!!'


Sebuah suara yang sekeras sambaran petir terdengar memekikkan telinga banyak orang. Apa yang terjadi setelah itu adalah sosok Pria tua yang terjatuh ke tanah dengan darah yang mengalir dari kepalanya.


"Hmm.... Kurasa terlalu kuat untuk manusia biasa. Aku akan menurunkan kekuatannya sedikit." Ucap Leo sambil mengatur senjata sihirnya itu.


Di sisi lain, Selene telah melompat ke arah wanita itu dan menenangkannya.


Tapi sayangnya, ekspresi yang diperlihatkan oleh wanita itu bukanlah ekspresi senang. Melainkan sebuah ekspresi ketakutan.


Bagaikan lepas dari kandang harimau dan masuk ke sarang naga. Wanita itu sadar Pria yang saat ini sedang berjalan ke arahnya jauh lebih berbahaya daripada pria tua itu.


"Selene, bersihkan jasadnya." Ucap Leo.


"Dengan segera."


Setelah itu, pandangan Leo mengarah tepat ke arah sosok Ibu dan putrinya itu.


"Ada apa? Bukankah kau meminta pertolongan barusan? Tak bisa mengatakan terimakasih?" Tanya Leo.


Wanita itu pun dengan segera menggelengkan kepalanya dan berterimakasih kepada Leo sekuat tenaga. Seakan itu adalah kesempatan terakhirnya untuk hidup.


Banyak orang lain mulai memperhatikan sosok Pria muda berambut kecoklatan dengan pakaian indah ala bangsawan itu.


Semuanya menatap ke arah Leo dengan satu tatapan yang sama. Yaitu tatapan yang dipenuhi dengan kebingungan dan rasa takut.


Leo yang menyadarinya hanya tersenyum. Terlebih lagi, situasi di dalam Kota ini benar-benar sesuai dengan perkiraannya.


Tapi masih terlalu cepat baginya untuk mengambil tindakan. Ia perlu memastikan satu hal. Yaitu apakah kota ini benar-benar kosong atas kekuasaan atau tidak. Dan untuk melakukannya, Ia hanya memiliki satu tujuan.


Yaitu untuk pergi ke balai kota saat ini juga. Meninggalkan semua orang yang menatapnya dengan tatapan ketakutan.


Beberapa saat berlalu, Leo dan kawanannya beserta dengan sekitar 50 prajurit akhirnya tiba di hadapan balai kota.


Jauh di luar dugaannya, balai kota ini benar-benar kosong. Tidak.... Lebih tepatnya sangat minim penjaga.


Apa yang ada di tempat ini hanyalah sekitar 6 orang prajurit yang terlihat sama sekali tak terlatih. Mereka bahkan terlihat kebingungan dengan kedatangan Leo di tempat itu.


"Tuan, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Selene penasaran.


"Memastikan bahwa orang yang seharusnya bertanggung jawab di kota ini benar-benar melaksanakan tugasnya. Jika tidak, aku akan dengan senang hati menggantikannya." Balas Leo sambil tersenyum.


Ia pun turun dari kereta kuda itu dengan penampilan yang sama sekali tak dapat dibedakan dengan sosok seorang bangsawan.


Dan dengan lihainya, Ia segera mengarahkan pembicaraan dengan penjaga yang minim itu ke arah yang diinginkannya.


"Si-siapa kau?!" Tanya penjaga itu dengan ketakutan.


"Hmm? Apakah Tuan kalian tak mengatakan bahwa aku akan datang?" Tanya Leo dengan tatapan tajam.


Pertanyaan itu pun membuat seluruh penjaga di tempat ini menjadi semakin kebingungan. Minimnya respon dari mereka membuat Leo sangat yakin, bahwa koordinasi penguasa kota ini benar-benar minim terhadap bawahannya.


"Maaf tapi...."


"Alexander Leonardo von Rustellia. Bahkan dengan nama itu kau tak mengenaliku?" Tanya Leo kembali dengan wajah yang dipenuhi dengan rasa percaya diri.


Tak ada sedikitpun keraguan pada wajahnya ketika mengatakannya. Sedangkan semua bawahannya yang ada di belakang telah mulai memahami sikap dari Tuannya. Dan tak begitu terkejut dengan kejadian ini.


Rustellia sendiri adalah salah satu nama keluarga terbesar di wilayah Rustfell ini. Bisa dikatakan, keluarga utama yang menjadi penguasa dari wilayah Rustfell itu sendiri.


Achibald adalah kepala keluarga saat ini dan yang memiliki kekuasaan mutlak terhadap wilayah ini.


Sedangkan anggota keluarga lainnya, termasuk keluarga cabang, jumlahnya terlalu banyak hingga hampir mustahil untuk dihafalkan seluruhnya.


Pengetahuan Leo atas hal itu membuatnya mudah untuk memanfaatkan dan mengeksploitasinya. Terutama kepada lawan bicara yang sama sekali tak mengetahuinya.


Hanya dengan mendengar nama itu, semua penjaga pun segera membukakan jalan sambil memberikan hormat.


"Ma-maafkan kami karena tidak menyadari Anda, Tuan!" Balas mereka semua.


"Tak masalah." Balas Leo yang segera berjalan kembali ke arah kereta kudanya. Bagaimanapun, tak sepantasnya sosok seorang bangsawan berjalan kaki di tempat ini.


Tapi sebelum itu, salah seorang penjaga sempat menanyakan apa tujuannya datang kemari.


Dan dengan santainya, Leo pun menjawab.


"Memastikan kinerja dari Tuan Tanah kalian di kota Venice ini. Jika buruk, aku akan menggantikannya." Balas Leo dengan tatapan yang dingin.


Kereta kudanya pun mulai bergerak memasuki halaman balai kota yang luas itu. Meninggalkan para penjaga dengan wajah kebingungan.


Beberapa dari mereka nampak mulai membicarakan mengenai sosok Leo barusan. Tapi tak ada sedikitpun yang meragukannya karena sikapnya yang terlalu meyakinkan. Ditambah lagi dengan penampilannya itu.


Hingga akhirnya....


Leo bersama dengan Reina dan juga Selene pun memasuki tempat itu. Sedangkan Ferry, Artra dan Artemis menunggu di luar.


Saat Leo tiba di dalam balai desa itu....


Pemandangan yang ada di dalamnya begitu suram. Beberapa pekerja nampak bermalas-malasan sambil bermain wanita. Entah mereka memang seorang pelayan atau bukan, Leo tak dapat mengetahuinya dengan pasti.


Tapi satu hal yang diketahuinya.


"Para wanita itu nampaknya tak begitu bahagia." Ujar Leo dengan wajah yang tetap datar sambil melewati semua ruangan itu.


"Kau benar, Tuan. Atau lebih tepatnya.... Mereka nampak dipaksa." Balas Selene.


"Mereka bahkan tak berpikir untuk menutup pintunya?" Keluh Reina dengan wajah yang kesal.


Mengabaikan semua pegawai rendahan itu, tujuan Leo hanya satu. Yaitu untuk menemui penguasa Kota Venice ini sendiri.


Mencari ruangannya tak sulit. Melihat dari mewahnya hiasan yang ada dengan karpet dan lampu yang indah, Leo segera tahu bahwa itu adalah ruangannya.


'Braakk!'


Leo menendang paksa pintu itu. Melihat apa yang ada di dalamnya.


Reaksi mereka bertiga cukup beragam.


Di satu sisi, Reina terlihat begitu terkejut sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Di sisi lain, Selene hanya menunjukkan perasaan kesal dan jijik.


Kemudian Leo sendiri, Ia hanya sedikit menyipitkan matanya sambil tersenyum puas.


"Jadi ini yang dilakukan oleh penguasa kota di saat kekacauan melanda tempat ini?" Tanya Leo sambil berjalan melewati beberapa tubuh wanita yang tergeletak tak berdaya di lantai itu.


Beberapa lagi terlihat tergantung pada sebuah tali yang terkait di langit-langit ruangan ini.


Sedangkan 3 sisanya nampak sedang 'digunakan' oleh penguasa kota ini.


"Hah?! Siapa kau?! Kenapa kau bisa kemari?!" Tanya penguasa itu.


Ia memiliki tubuh yang cukup besar dan kekar dengan otot yang terlihat begitu gagah. Meski begitu, tindakannya tak lebih dari seorang pengecut di mata Leo.


"Aku akan mengatakannya sekali saja, Bernerd. Kau mau bekerja mengatasi masalah kota ini atau mati?" Tanya Leo.


Penguasa kota itu terlihat begitu kesal setelah mendengar pertanyaan dari Leo.


"Hah?! Kau pikir kau bisa...."


'Daaarr!'


Sebuah tembakan telah mengarah tepat ke arah kepala Pria bernama Bernerd itu. Membunuhnya seketika tanpa sedikitpun peringatan tambahan dari Leo.


"Kalau begitu aku akan ambil alih kota ini. Selene, Reina, bantu para wanita ini. Aku akan membereskan pegawai busuk yang lainnya." Ucap Leo.


Selene yang mendengarnya segera menganggukkan kepalanya dan mulai menyelamatkan semua wanita yang memiliki tanda budak di bagian tubuhnya itu.


Sedangkan Reina....


Ia hanya bisa terdiam. Memandangi sosok Dimas yang saat ini mulai memperlihatkan jati dirinya yang baru. Dan dalam hatinya....


'Apakah kau selalu sekejam ini?'