E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 27 - Sisi Lain



"Dan.... Sudah beres!" Ucap seorang wanita dengan rambut hitam kebiruan yang panjang itu.


Pakaiannya sendiri cukup terbuka, dengan yang cukup pendek dan minim lalu ditutupi oleh semacam blazer berwarna kebiruan.


Tak hanya itu, Ia bahkan cukup percaya diri dengan mengenakan celana pendek di musim dingin ini.


Tapi siapa Dimas untuk menilai orang lain dengan pakaian terbuka, sementara dirinya sendiri telanjang dada dengan hanya mengenakan celana panjangnya.


"Terimakasih, sihir itu sangat berguna sekali ya?" Balas Dimas sambil mencoba mengerakkan badannya ke segala arah.


Ia merasa badannya sangat ringan dan nyaman. Semua beban dan rasa sakit yang selalu dirasakannya seakan menghilang begitu saja.


Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Dimas menutup lambang budaknya dengan perban putih yang cukup tebal. Cukup sekali saja Ia ceroboh dan membiarkan orang lain untuk melihatnya.


Di sudut kamar, Miria duduk dengan tenang sambil tetap memasang wajah cerianya.


Akan tetapi....


Tak ada kisah yang selalu bahagia.


Pasti akan tiba waktunya untuk merasakan sedikit pahitnya kehidupan.


Dengan senyuman yang lebar serta kedua mata yang tertutup, wanita penyembuh yang bernama Artemis itu mengangkat lima jarinya tepat di hadapan wajah Dimas.


"Apa maksud dari itu?" Tanya Dimas berusaha untuk berpura-pura bodoh. Bagaimanapun, teknik ini telah menyelamatkannya berkali-kali ketika dikejar penagih hutang selama di bumi.


Tidak ada salahnya untuk mencoba. Meskipun....


"Lima puluh koin perak! Itulah bayaran untuk jasaku!" Balas Artemis sambil terus membuat senyuman yang semakin lebar.


Dimas sedikit mengalihkan pandangannya ke arah Miria, tapi gadis kecil itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Tak ingin terlibat lebih banyak masalah lagi, Miria memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan ini.


'Dia tidak tahu apa-apa tentang ini ya? Hah.... Baiklah.' Keluh Dimas dalam hatinya.


Dengan segera, Pria itu meraih sebuah koin emas dari kantongnya.


"Jika kau ahli dalam suatu hal, jangan pernah lakukan hal itu secara cuma-cuma.... Seperti itu kah?" Ucap Dimas sambil bersiap untuk menyerahkan koin emasnya.


Dengan wajah yang tersenyum lebar, Artemis menjawabnya seakan tak merasakan sedikitpun keraguan.


"Tentu saja! Aku takkan melakukannya secara gratis! Lagipula.... Ini adalah salah satu bisnisku!"


Menyadari bahwa yang akan diberikan oleh kliennya adalah satu keping emas, Artemis sudah mulai tergoda. Ia tak lagi bisa menahan hasrat untuk merebut koin emas itu dari ujung jari Dimas.


Tapi dengan cepat....


'Sreett! Sreett!'


Dimas menghindari seluruh serangan kedua tangan Artemis yang berusaha untuk meraih koin emas itu. Dan salah satu cara terbaik untuk itu....


"Apa yang kau lakukan! Koin emasku! Berikan padaku!" Teriak Artemis sambil melompat-lompat berusaha untuk meraih koin emas yang diangkat Dimas setinggi mungkin.


Dengan selisih tinggi badan yang ini, Dimas sangat yakin bahkan seharian pun Artemis takkan bisa meraihnya.


Setelah mendapatkan posisi menawar yang terbaik serta sedikit memahami lawan bicaranya....


"Hei, Artemis. Apakah kau suka uang?" Tanya Dimas sambil membuat senyuman yang terkesan licik.


"Tidak! Aku sangat cinta dengan uang!" Teriak Artemis sambil terus melompat. Jujur saja pemandangan saat ini cukup imut, seperti seekor kucing yang berusaha meraih mainan yang dipegang oleh majikannya.


Mendengar jawaban itu, Dimas pun segera membalas.


"Hoo.... Kebetulan sekali. Aku juga suka dengan uang."


"Begitu kah! Uuugghh! Kalau begitu! Kau harusnya.... Tahu! Perasaanku! Saat ini! Maka cepat! Berikan uangku!" Teriak Artemis setiap kali kedua kakinya menyentuh lantai.


Setelah cukup memahami lawan bicaranya, Dimas pun mengeluarkan taruhannya.


"Jika aku mengatakan padamu bahwa aku bisa menghasilkan banyak uang, apakah kau mau ikut denganku?" Tanya Dimas sambil sedikit tersenyum.


Dasar dari permintaannya ini satu. Yaitu Artemis memiliki kekuatan penyembuh yang sangat berguna untuk rencana kedepannya. Atau setidaknya, untuk menjaga dirinya sendiri.


Sesaat setelah melihat cahaya kehijauan yang mampu menutup kembali seluruh luka, bahkan menyembuhkan tulang yang remuk itu hanya dalam setengah jam, Dimas sangat yakin.


Bahwa dirinya sangat menginginkan wanita itu untuk berada di sisinya.


Tentu saja, sebagai seorang penyembuh.


"Memintaku bergabung dengan Party mu?! Hah... hah... hah.... Boleh saja, selama bayarannya bisa melebihi penghasilan bulanan ku!" Balas Artemis yang kini sedang mulai mengatur nafasnya. Ia terlihat cukup kelelahan setelah permainan ini.


"Lalu, berapa yang kau hasilkan dalam sebulan?" Tanya Dimas dengan tatapan yang penuh percaya diri.


"Sepuluh koin emas! Apakah kau mampu membayar ku lebih dari itu?"


Mendengar hal itu, Dimas justru tertawa ringan.


"Hahaha.... Sepuluh koin emas? Kau serius?"


"Kenapa memangnya? Tentu saja aku sangat serius."


Bersamaan dengan balasan Artemis itu, Dimas menurunkan tangan kanannya dan meletakkan satu koin emas itu di telapak tangan Artemis.


"Eh?"


Wajahnya terlihat cukup kebingungan dengan reaksi Dimas. Tapi apa yang akan dikatakan berikutnya justru jauh lebih mengejutkan.


"Ti-tiga puluh...."


Artemis terlihat terdiam dengan mulut yang terbuka lebar. Bahkan air liur terlihat sedikit mengalir di bibir mungilnya yang berwarna merah muda itu.


Setelah beberapa saat....


"Aku mau! Apa pekerjaanku!" Teriak Artemis dengan cukup keras sambil menarik tangannya secepat mungkin. Mengamankan koin emasnya.


"Pilihan yang bagus. Sekarang untuk pekerjaan pertamamu...."


Senyuman yang begitu licik terlihat di wajah Dimas. Tapi bukannya takut, Artemis justru ikut tersenyum dengan senyuman yang tak kalah mengerikannya.


Keduanya pun memiliki rencana besar mereka masing-masing di dalam kepalanya.


Dan dengan begitulah, jumlah anggota Party Dimas meningkat secara tidak sengaja.


......***......


...- Di Sebuah Kota -...


Di dalam bangunan yang cukup besar ini, terlihat ratusan orang sedang sibuk dengan diri mereka masing-masing.


Beberapa terlihat sedang duduk dan melakukan rapat dengan anggota kelompoknya. Sedangkan yang lain terlihat berdiri di hadapan sebuah papan pengumuman sambil membaca selebaran kertas yang di tempel pada papan itu.


Meskipun, pada musim ini....


Sebagian besar hanya duduk dan bersantai menikmati makanan dan minuman yang disajikan.


"Nona! Bawakan kami satu ekor ayam panggang dan empat buah bir!" Teriak seorang pemuda dengan rambut hitam kemerahan itu.


Nampaknya, Ia sedang berpesta dengan anggota Partynya yang total berjumlah 4 orang itu. Dua diantaranya adalah laki-laki termasuk dirinya, sedangkan dua lagi merupakan perempuan.


Keakraban kelompok itu terlihat dengan sangat jelas dari candaannya.


Tak hanya kelompok itu, puluhan kelompok yang lain juga terlihat melakukan hal yang serupa. Memesan makanan dan minuman lalu menikmati libur mereka di musim dingin.


Bukan libur resmi, melainkan meliburkan diri mereka sendiri.


Akan tetapi, suasana meriah itu tak berlangsung lama.


'Kreeekk!'


Pintu dari bangunan yang merupakan Guild Hall ini terbuka secara perlahan.


Sesaat setelah beberapa orang menyadari siapa yang baru saja memasuki ruangan ini, mereka pun mulai terdiam.


Pandangan mereka semua terpaku pada sosok seorang wanita berambut pirang yang panjang itu. Wanita itu mengenakan zirah besi tipis yang ditutupi jubah berwarna putih.


Di bagian punggungnya, terlihat sebuah pedang panjang yang memiliki panjang mencapai 1.2 meter.


"Oi.... Bukankah itu dia?"


"Kau benar...."


"Kenapa dia ada di sini?"


Bisikan beberapa petualang pun mulai terdengar. Semuanya membahas sosok wanita yang baru saja memasuki ruangan ini.


Tapi wanita itu sama sekali tak memperdulikan apapun pendapat orang lain.


Tujuannya kemari hanya satu.


'Sreett!'


Ia meletakkan sebuah kantung kulit yang cukup besar. Apa yang ada di dalamnya tak ada yang tahu, tapi petugas Guild yang melihatnya cukup terkejut.


"Nona Reina.... Kau sudah menyelesaikannya?! Bukankah...."


"Beri aku misi berikutnya." Ucap wanita berambut pirang panjang itu yang tak lain adalah Reina.


Mengetahui perkataannya sama sekali takkan digubris, petugas Guild itu pun segera memberikan imbalan yang dijanjikan kepada Reina pada sebuah kantung kulit kecil.


Setelah itu, wanita berambut kehijauan yang cukup pendek itu membalik badannya dan mencari sesuatu. Apa yang dicarinya adalah selebaran kertas.


"Ini, kurasa Quest ini sesuai dengan kriteria mu." Ucap petugas Guild itu


Reina segera memperhatikan selebaran kertas itu dengan seksama.


...[Snow Wolf Extermination]...


...[Rank : A]...


...Pergi dan bantai lah setidaknya 100 ekor Snow Wolf di Pegunungan Rustfell. Ambil kedua taring atas mereka sebagai bukti pembantaian. ...


"Snow Wolf ya.... Monster serigala raksasa yang hanya menampakkan diri ketika musim dingin tiba. Menarik, aku akan segera berangkat." Ucap Reina sambil segera membalikkan badannya.


Tak lupa, tangan kanannya mengambil hadiah misinya yang sebelumnya.


"Tunggu! Nona Reina! Untuk kali ini, setidaknya carilah rekan! Kau tahu betapa berbahayanya Serigala Salju bukan?!"


Tapi sayangnya, teriakan dari petugas Guild itu sama sekali tak didengarkan oleh Reina. Termasuk juga berbagai ucapan yang dilontarkan oleh para petualang yang ada di dekatnya.


'Dimas.... Apakah kau akan bangga dengan diriku yang sekarang?'


Dengan kalimat terakhir yang ditujukan pada dirinya sendiri itu, Reina pun berangkat ke Pegunungan Rustfell di tengah badai salju ini.... Sendirian.