E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 120 - Saudari



...- Wilayah Maelfall -...


Di sisi lain, tanpa satu orang pun yang mengetahui kebenarannya....


"Duke Arnaught. Apakah pilihan kita untuk memerdekakan diri dari Kerajaan manusia ini adalah pilihan yang benar?" Tanya seorang Ksatria dengan zirah perak yang indah itu.


Tatapan matanya nampak sedikit ragu dengan keputusan ini. Meski begitu, Ia masih memiliki cukup banyak kepercayaan dengan Tuannya.


"Kenapa kau menanyakan hal itu? Apakah kenyataan bahwa Eastfort selalu meminta tenaga manusia baik itu pria atau wanita sudah jelas. Mereka hanya mencuci otak orang-orang kita, sebelum akhirnya dikirim ke kematiannya di tanah iblis.


Mengetahui bahwa rakyatku hanya dijadikan sebagai tumbal di medan perang.... Aku tak bisa menerimanya!" Teriak Bangsawan itu dengan wajah yang terlihat begitu kesal dan marah.


Dari sudut ruangan, seorang wanita dengan penampilan yang begitu anggun nampak berjalan secara perlahan ke arah Ksatria itu.


"Itu benar, Tuan Loyde. Jika kita membiarkan Eastfort terus menerus membodohi Yang Mulia, pada akhirnya wilayah kita hanya akan hancur." Ucap wanita itu dengan nada yang begitu dingin.


'Siapa dia? Bukankah istri dari Duke Arnaught telah tiada beberapa tahun yang lalu?' Pikir Ksatria itu sambil terus berlutut. Pandangannya penuh dengan kebingungan. Berusaha untuk mengetahui sosok wanita itu yang sebenarnya.


Tapi kekhawatirannya terbukti nyata.


"Duke Arnaught, bukankah ini sudah cukup? Minta dia pergi agar kita bisa segera melanjutkannya." Ucap wanita itu sambil memamerkan tubuhnya dengan nada yang begitu menggoda.


Penampilannya memang begitu luarbiasa. Begitu juga dengan suaranya yang sangat merdu. Ditambah lagi dengan gaun yang tipis itu membuat pria manapun akan takjub pada penampilannya.


Tapi berbeda dengan Ksatria bernama Loyde ini.


Saat ini, ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada wanita. Yaitu keselamatan dari seluruh penduduk di wilayah Maelfall.


Dan untuk itulah, Ia memberikan tatapan yang setajam pedang kepada wanita itu sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan ini.


"Kalau begitu, permisi." Ucap Ksatria itu yang segera berdiri dan berjalan keluar.


"Bekerja lah dengan baik, Loyde! Semua ini demi kejayaan umat manusia!" Teriak Duke Arnaught yang kini telah mulai tenggelam dalam dekapan wanita itu.


Dengan perasaan yang kesal, Loyde pun meninggalkan ruang kerja Duke Arnaught itu.


"Sayang, kau bersemangat sekali kali ini." Ucap wanita itu sambil membelai rambut Duke Arnaught dengan lembut.


"Kukuku.... Tentu saja. Bagaimana aku bisa mengalihkan pandanganku dari wanita seindah dirimu?" Tanya Arnaught.


"Apakah tak masalah meninggalkan pekerjaanmu?" Tanya wanita itu.


"Kenapa? Bukankah selama aku mengikuti saran dan perkataanmu, semuanya selalu benar?" Tanya Arnaught kembali.


Dengan senyuman yang terkesan begitu menggoda itu, sang wanita pun membalas.


"Tentu saja.... Tentu saja itu benar. Tapi sebelum kita mulai, bisakah aku membasuh badanku? Aku ingin tampil sebaik-baiknya untukmu, Tuanku."


"Ooooh! Silakan! Aku akan menunggumu!" Balas Arnaught dengan semangat.


Dengan itu lah, sang wanita pergi meninggalkan ruangan ini untuk membersihkan dirinya.


Atau lebih tepatnya....


Membersihkan kesalahannya.


Sesaat setelah Ia menutup pintu ruangan itu, ekspresi wajahnya yang begitu ramah sebelumnya segera berubah menjadi wajah yang dipenuhi dengan rasa jijik dan juga kebencian.


Pupil matanya nampak mulai melebar. Dengan iris yang mulai berubah menjadi tajam, wanita itu melihat ke arah dimana Ksatria Loyde sebelumnya pergi.


Bahkan dari jarak jauh sekalipun, Ia bisa melihat sosok Loyde yang sedang berjalan dengan begitu jelas.


Kini, kembali dengan senyuman yang terlihat begitu bahagia, wanita itu pun berbicara pada dirinya sendiri dengan suara yang lirih.


"Aah.... Untung saja kau terlalu percaya pada Tuanmu itu...."


Ia kemudian berjalan secara perlahan ke arah Ksatria Loyde. Memanggilnya dengan suara yang begitu indah.


"Tuan Loyde! Duke Arnaught ingin menyampaikan sesuatu kepada Anda!" Ucap wanita itu.


Dengan segera, Loyde pun berbalik dan bertanya.


"Kau bersungguh-sungguh?"


Seketika, kedua mata Loyde pun mulai bercahaya.


'Sudah ku duga, Tuan Arnaught adalah orang yang cinta kepada rakyatnya.' Pikir Loyde dalam hatinya.


Di lorong yang cukup sepi ini, Loyde segera berlari kembali ke arah ruang kerja Duke Arnaught. Senyuman nampak menghiasi wajahnya.


Tapi sesaat setelah Ia melewati sosok wanita itu....


'Bruukkk!!!'


"Eh?"


Tubuhnya seketika terjatuh ke tanah. Sama sekali tak memiliki kekuatan untuk bergerak. Terlebih lagi, kesadarannya seakan menghilang secara perlahan.


Seakan-akan....


Tidak. Ia melihatnya dengan jelas. Sebuah senyuman yang begitu jahat dari sosok wanita yang dianggap sebagai penasehat Duke itu.


Dengan lidah yang menjulur, bahkan hingga meneteskan air liurnya, wanita itu pun berbicara dengan ekspresi yang seakan penuh dengan kebahagiaan.


"Aaah.... Tubuh dari Pria muda. Sudah lama aku tak merasakannya." Ucap wanita sambil mengarahkan lengannya ke wajah Loyde.


Ia ingin berteriak. Ia ingin mengelak. Ia juga ingin membalas wanita itu sesaat setelah mengetahui wajah aslinya.


Kecurigaannya memang berbuah nyata. Tapi sayangnya, entah kenapa tubuhnya tak mampu bergerak.


Dengan senyuman yang makin melebar, wanita itu pun kembali berbicara. Tapi kali ini, membisikkannya secara langsung ke arah telinga Pria itu.


"Tenang saja. Aku akan merawat wilayah Maelfall dengan baik. Saudariku yang ada di wilayah Mulderberg juga akan melakukan hal yang sama."


Pada saat itu lah, Loyde baru bisa melihatnya. Sosok wanita itu yang sebenarnya.


Dengan taring yang tajam, serta telinga yang runcing, Ia mengetahuinya. Ia pernah mempelajarinya.


Succubus.


Sosok Iblis yang memiliki penampilan yang sangat memikat. Juga dengan kekuatan sihir yang aneh dan sulit dijelaskan.


Tapi satu hal yang diingatnya.


Bahwa Iblis ini, memangsa energi kehidupan mangsanya secara langsung.


Setelah menyadari hal itu, Ia merasa putus asa. Ia seharusnya bisa menyampaikan dan memperingatkan orang yang lainnya.


Tapi semua itu sudah terlambat.


Kesadarannya mulai menghilang. Seluruh tenaga di badannya mulai lenyap. Bahkan, pandangannya mulai menjadi gelap.


Di saat semua itu terjadi dalam pikiran Loyde, Iblis wanita itu hanya tertawa ringan sambil kembali berbisik ke arah telinga Loyde yang kini sudah mulai sulit untuk mendengar itu.


"Wajah keputusasaanmu itu, sungguh indah."


Dengan kalimat terakhir itu, Loyde telah sepenuhnya kehilangan kesadarannya. Entah karena rasa keputusasaan yang terlalu kuat, atau karena Succubus itu yang menghisap seluruh energi kehidupannya.


Apapun itu....


Kini yang tersisa di lantai lorong itu hanyalah tumpukan zirah kosong serta beberapa lapis pakaian kain.


Iblis wanita itu pun dengan cepat membereskannya dengan rapi. Berusaha untuk tak meninggalkan jejak sedikitpun.


'Sluurrp!'


Sambil menjilat bibirnya sendiri, Ia pun berdiri. Bersiap untuk kembali bekerja.


"Tuan Valkazar.... Apakah kau akan memujiku setelah aku berhasil meruntuhkan wilayah ini?" Tanya Iblis itu pada dirinya sendiri sambil terus berjalan di lorong yang sepi ini.


Tujuannya kali ini adalah apa yang dikatakannya barusan kepada Arnaught. Yaitu untuk membersihkan dirinya dan membuat penampilan yang paling menawan.


Bagaimanapun, Arnaught adalah tokoh penting yang harus terus dimanfaatkannya.


"Aah.... Untuk ini saja aku iri pada saudariku di Rustfell.... Jika aku bisa meniru wujud semua mangsaku seperti saudariku, aku takkan perlu untuk terus melayani manusia rendahan ini. Meskipun...." Ucap Iblis itu pada dirinya sendiri sambil membuat senyuman yang terlihat begitu puas.