E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 48.5 - Sisi Lain



...- Kedalaman Hutan -...


...- Kediaman Lucas, satu hari setelah Reina bangun -...


Di dalam rumah kayu dua lantai ini, Lucas seharusnya tinggal sendirian di kedalaman hutan sebagai seorang peramu obat-obatan.


Peranannya sendiri cukup penting untuk menyuplai Kota terdekat dengan ramuan penyembuhnya. Dalam prakteknya, ramuan buatan Lucas bisa dibedakan menjadi 4 jenis utama.


Ramuan yang pertama dikenal sebagai Health Potion, atau ramuan penyembuh luka. Dengan meminumnya, maka luka yang ada di tubuh pengguna akan sembuh secara perlahan. Mungkin 1 hingga 2 hari jika rutin meminumnya sebanyak 3 kali sehari.


Kemudian ramuan kedua adalah Mana Potion. Ramuan yang dibuat dari bahan utama Moon Flower ini memungkinkan penggunanya untuk meregenerasi Mana milik mereka secara perlahan.


Lalu yang ketiga, adalah Stamina Potion yang biasa digunakan oleh banyak orang untuk kegiatan sehari-hari. Ramuan ini bekerja seperti minuman penambah energi, membuat penggunanya kembali bugar setelah pekerjaan yang berat.


Tentu saja, ramuan itu juga sangat berguna bagi prajurit di militer.


Kemudian yang terakhir, adalah Specialized Potion. Sebuah ramuan yang memiliki satu efek saja namun efek tersebut sangatlah kuat.


Sebagai contoh adalah ramuan penawar racun ular. Atau ramuan penghilang rasa sakit.


Dikarenakan spektrum kegunaannya yang sangat sempit dan cara pembuatan yang rumit, hanya peramu yang ahli yang bisa membuat beberapa Specialized Potion.


Sedangkan Lucas....


"Kau membuat 8 jenis ramuan seperti itu?" Tanya Reina yang duduk di hadapan sebuah meja sambil menikmati bubur hangatnya.


"Bukan hal yang hebat karena aku selalu tertinggal dari target yang diminta oleh militer. Dan juga, segera lah selesaikan makanmu." Balas Lucas yang masih menghadapi meja kerjanya.


Tumpukan botol, serta tabung kaca yang aneh dengan beberapa sumbu api di bawahnya terlihat begitu indah sekaligus rumit.


Cairan yang ada di dalam tabung kaca itu mendidih karena panasnya api yang ada di bawahnya. Tapi tujuan dari pemanasan itu bukanlah untuk memasak cairan itu, melainkan mengambil ekstrak dengan cara penyulingan.


Suhu dingin akibat sihir es tingkat rendah milik Lucas terlihat mendinginkan bagian atas dari tabung kaca itu. Dan hasilnya, adalah beberapa tetes cairan yang cukup bening.


Lucas memisahkan dan mengambil cairan itu, lalu mencampurnya lagi ke sebuah rangkaian tabung kaca yang ada di meja lainnya.


Bahkan bagi Reina yang telah menempuh pendidikan setingkat SMA dan pelajaran IPA, apa yang dilihat di hadapannya ini jauh lebih kompleks dari yang ada dalam bayangannya.


Membuat kedua matanya sedikit berkaca-kaca karena penuh dengan rasa kagum.


Tanpa memperhatikan Reina, Lucas terus melanjutkan pekerjaannya seperti biasa. Menanti Reina selesai makan untuk melanjutkan pengobatannya.


Setelah beberapa saat....


"Kau sudah selesai?" Tanya Lucas.


Reina hanya mengangguk secara perlahan dengan tatapan yang menatap ke lantai kayu itu.


Ia seakan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghindari kontak mata dengan Lucas saat ini.


Alasannya cukup sederhana.


Yaitu semenjak satu hari yang lalu, tepat setelah Reina selesai makan....


"Duduk lah di ranjangmu. Aku akan mengganti perbanmu dan membersihkan luka mu lebih lanjut." Ucap Lucas yang terlihat mematikan semua api di meja kerjanya.


Ia berdiri di hadapan sebuah lemari yang cukup besar. Tangan kanannya itu meraih perban putih yang ada di rak bagian paling atas lemari itu.


Tanpa memperlihatkan ekspresi apapun, Lucas segera duduk di belakang Reina. Menghadap punggung wanita itu.


Seluruh perban yang menyelimuti tubuhnya nampak mulai memerah, bahkan beberapa terlihat berwarna kekuningan. Melihat hal itu, Lucas langsung berkomentar.


"Aku tak tahu kenapa kau melawan prajurit kerajaan, Reina. Tapi nampaknya, mereka mengenaimu dengan sangat baik." Ucap Lucas sambil melepas perban di tubuh wanita itu.


"Apa maksudmu dengan itu?" Tanya Reina yang saat ini hanya bisa menutupi tubuhnya dengan tangan kanannya. Itu karena tangan kirinya masih terluka parah dan sulit untuk digerakkan.


Dengan pisau bedah dan juga penjepit besi kecil di kedua tangannya, Lucas memperhatikan luka di tubuh Reina yang telah dijahitnya beberapa waktu yang lalu itu.


Setelah beberapa saat....


Ia berjalan ke arah sebuah rak, mencari sesuatu diantara barisan botol yang berisi cairan dengan berbagai warna itu.


Tak perlu waktu lama bagi Lucas untuk menemukannya. Yaitu sebuah botol kaca sekitar 500ml dengan cairan bening di dalamnya yang dipegang tangan kanannya, dan satu lagi botol kecil dengan cairan berwarna biru muda.


Setelah Lucas kembali duduk di belakang Reina, Ia kembali melanjutkan perkataannya.


"Alkohol, ini seharusnya akan membersihkan lukamu. Tapi persiapkan saja bahwa rasa sakitnya akan luarbiasa. Jadi aku menyarankanmu untuk meminum ini." Jelas Lucas.


Reina yang telah memperoleh pendidikan sebelumnya di bumi tentu saja tahu kegunaan dari alkohol. Termasuk rasa sakit ketika cairan itu bersentuhan dengan luka. Tapi ramuan satunya lagi yang berwarna biru itu....


"Apa itu?" Tanya Reina singkat.


"Obat pereda rasa sakit. Efek sampingnya mungkin kau akan merasa mengantuk. Bagaimana?" Tanya Lucas kembali.


Setelah memikirkannya sejenak, Reina tak berani untuk merasa kantuk tepat di hadapan Lucas. Terlebih lagi dalam kondisinya yang saat ini hanya mengenakan celana pendek berwarna hitam itu.


Oleh karena itu....


"Tidak. Kurasa aku bisa menahannya." Balas Reina.


"Begitu kah? Baiklah. Kalau begitu aku akan segera memulainya. Persiapkan dirimu." Ucap Lucas yang segera meletakkan botol ramuan pereda rasa sakit itu di lantai.


Untuk langkah pertama, Lucas mengambil sepotong kain perban dan melumurinya dengan alkohol. Setelah itu, Ia meletakkannya pada luka pertama yang ada di bagian punggung Reina.


'Ceeessss!!!'


Sensasi rasa sakit dan dingin segera menyerang pikiran Reina secara bersamaan.


"Aduh!" Teriak Reina sambil memejamkan kedua matanya rapat-rapat.


Tapi satu-satunya balasan yang diperoleh dari Lucas adalah logam dingin yang dengan segera menyentuh kulitnya.


'Sreeett!'


Lucas membuka kembali jahitannya untuk melihat infeksi yang ada di baliknya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Reina.


"Kau yakin mau tahu?" Ucap Lucas yang seakan menusuk Reina berkali-kali dengan penjepit besi itu.


Setelah memikirkannya sejenak, Reina pun mulai penasaran atas seberapa buruk luka yang dideritanya hingga harus mengalami pengobatan seperti ini.


"Ya, aku mau tahu." Balas Reina singkat.


Sedangkan jawaban yang diperolehnya bukanlah kata-kata. Melainkan tangan kiri Lucas yang membawa penjepit besi.


Akan tetapi....


Di ujung dari penjepit itu....


Terlihat sesuatu yang kecil bergerak dengan menggeliat. Berusaha dengan keras untuk melepaskan diri dari jepitan besi itu.


Reina yang melihatnya langsung merasa lemas. Tubuhnya seakan tak lagi memiliki tenaga. Bahkan tangan kanannya yang sedari tadi terus menutupi dadanya itu kini telah jatuh ke ranjang itu.


"Ca-cacing? Di tubuhku?" Tanya Reina dengan suara yang mulai lemas. Pandangannya mulai memudar. Bahkan pikirannya pun mulai pergi entah kemana. Ia sama sekali tak ingin mempercayai hal itu. Akan tetapi, kedua matanya telah melihatnya secara langsung.


Tapi sesaat sebelum Reina kehilangan kesadarannya....


"Maaf, karena aku bukanlah dokter. Jadi aku tak memikirkan mengenai peluang infeksi seperti ini. Tentu aku membersihkan luka mu dengan alkohol sebelumnya. Tapi tak ku sangka...."


Perkataan panjang lebar dari Lucas itu hampir tak bisa dicerna oleh Reina.


Tapi ada satu hal yang pasti.


"Tenang saja, aku akan membersihkan semua ini dengan segera."


Dan dengan itulah, Reina kehilangan kesadarannya sekali lagi.