
"Jadi, apakah kau tahu nama-nama itu?" Tanya Roselia sekali lagi. Berusaha untuk memaksa Leo menjawabnya.
Sedangkan jawaban yang keluar dari mulut Leo.... Cukup berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Roselia.
"Aku tak tahu, aku hanya memalsukan gelar itu sendiri. Tapi yang jelas, aku hanya ingin membantu semua penduduk di kota ini." Jawab Leo.
Mendengar jawaban itu, Roselia nampak terdiam. Sedikit melirik ke arah Leo yang ada di sebelahnya itu.
"Begitu kah?" Tanya Roselia sekali lagi.
"Seperti itu lah. Jika aku tak bergerak beberapa Minggu yang lalu...."
"Leo, ikut aku." Ujar Roselia sambil menyela perkataan Leo itu.
Ia dengan segera berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerjanya. Meninggalkan Selene, Reina dan juga Luna di tempat ini.
"Kalian tunggu disini sebentar. Aku dan Leo ada suatu urusan tertentu." Ucap Roselia.
Mereka bertiga hanya menganggukkan kepala secara ringan sambil menunjukkan ekspresi wajah yang sedikit kebingungan.
Sedangkan Leo hanya terus berjalan mengikuti langkah dari Roselia itu.
Kemana mereka akan pergi? Apakah Roselia akan menyerahkannya ke pengadilan? Mengadilinya? Untuk apa? Karena pemalsuan namanya?
Berbagai pemikiran itu terus terlintas di dalam kepala Leo. Hingga akhirnya, setelah tepat 10 menit berjalan kaki ke sebuah ruangan yang megah dan besar itu....
'Kreeekk!'
Roselia membuka pintu kayu besar itu secara perlahan dengan tangan kanannya. Namun tetap dengan sikap santainya.
Dan di balik pintu itu, terlihat sebuah meja yang cukup besar dengan tumpukan buku dan kertas di atasnya.
Sosok seorang wanita tua, yang mungkin sudah berumur 70 tahun lebih itu terlihat duduk sambil membaca beberapa berkas di hadapannya.
"Aah, Roselia. Tumben kau datang menemuiku?" Ucap wanita tua itu sambil memberikan senyuman yang ramah.
Tapi Roselia tak menjawabnya. Ia tetap terus berjalan mendekati sosok wanita itu.
Sedangkan Leo sendiri hanya bisa terkagum dengan apa yang ada di dalam ruangan ini. Menyebutnya tempat kerja nampaknya terlalu meremehkan, mengingat banyaknya rak buku yang terisi penuh di dalam ruangan ini.
Di saat perhatiannya sedang teralihkan....
"Jadi itu orang yang kau angkat sebagai murid?" Tanya wanita tua itu sekali lagi.
"Ya." Balas Roselia singkat.
Setelah itu, Ia segera memperkenalkan sosok wanita tua itu.
"Leo, Beliau adalah kepala akademi ini. Kau mungkin jarang mendengar atau melihat Beliau, jadi aku akan memperkenalkannya. Profesor Bernadetta von Rustellia. Dan juga Ibu tiriku." Jelas Roselia.
Seketika, sikap Leo segera mulai berubah. Ia menjadi sedikit tegang dengan situasi ini.
'Yang asli?! Ini buruk!' Teriak Leo dalam hatinya sambil menatap lantai marmer yang indah itu.
Berbagai pikiran negatif telah mulai memenuhi kepala Leo saat ini. Dan untuk kondisi terburuk, mungkin Ia akan meledakkan tempat ini dan kabur.
Akan tetapi....
"Leo.... Murid dari Roselia." Ucap Leo memperkenalkan dirinya sambil mulai berlutut. Sikap yang wajar untuk menghadap kepada seorang bangsawan besar.
Dengan lambaian tangan kanannya yang terlihat sudah keriput itu, Bernadetta nampak memanggil dirinya.
"Nak, tak perlu bersikap seperti itu padaku. Aku hanyalah wanita tua yang kebetulan diberi wewenang di akademi ini." Balas Bernadetta dengan senyuman yang begitu lembut dan ramah.
Ia kemudian mempersilakan Leo untuk duduk di sebuah kursi di depan mejanya.
Tak hanya itu, wanita tua itu bahkan memberikan suguhan berupa teh hangat. Tentunya dengan cara yang sedikit unik.
Beberapa boneka kayu nampak berjalan secara perlahan ke arah tempat mereka duduk. Bersama dengan mereka adalah satu set cangkir dan poci untuk mereka minum.
Tak lupa juga beberapa cemilan ringan untuk menemani obrolan mereka nantinya.
'Krekk kreekk!'
Mendengar ucapan dari Bernadetta, boneka kayu itu nampak sedikit menganggukkan kepalanya beberapa kali sebelum pergi kembali ke sudut ruangan.
Tentu saja Leo yang menyaksikan semua kejadian itu terlihat begitu tertarik. Bahkan membayangkan potensinya saja.... Leo sudah mampu melihat berbagai peluang yang tak terbatas dengan sihir itu.
Seakan mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Leo, Bernadetta nampak menyinggung sikapnya.
"Kau tertarik?" Tanya wanita itu tetap dengan senyuman ramahnya.
"Be-begitulah...." Balas Leo gugup.
"Sesuai dengan perkataan putri ku, kau benar-benar murid yang sangat haus akan pengetahuan." Ucap wanita tua itu sambil melirik ke arah Roselia.
Tapi Roselia hanya duduk dengan santai sambil menikmati teh hangat itu.
Setelah beberapa saat, Bernadetta kembali berbicara. Tapi kini memasuki topik utama dari pertemuan ini.
"Sebelumnya, aku mengucapkan terimakasih kepadamu, karena telah membantu keluarga kami menangani masalah di kota ini."
"Eh?"
Leo terlihat begitu kebingungan dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Bernadetta. Selama ini, Leo berpikir bahwa dirinya pasti akan memperoleh hukuman yang berat atas kejahatannya membunuh keluarga utama, dan juga banyak pegawai di balai kota.
Tapi ini? Apa maksudnya dengan semua ini?
Sebelum Leo sempat berpikir lebih lanjut, Bernadetta nampak melanjutkan perkataannya.
"Jika kau tak melakukan apa yang kau lakukan beberapa Minggu lalu, aku berencana untuk mengambil alih kursi sebagai penguasa kota ini setelah situasi memburuk.
Meskipun, aku tak memiliki klaim atas gelar penguasa kota Venice, tapi aku masih memiliki hak sebagai keluarga Rustellia untuk mengambil tindakan di saat-saat kritis. Seperti saat ini.
Akan tetapi.... Tindakanmu tetap saja tak bisa dibiarkan, Leo. Seberapa besar kebaikanmu terhadap kota ini, kau telah membunuh salah satu dari anggota keluarga Rustellia. Oleh karena itu, aku mewakili Duke Achibald untuk memberikan hukuman padamu."
Wanita tua itu mulai berbicara cukup panjang lebar, dan semua itu sudah cukup bagi Leo untuk menjelaskan semua yang terjadi hingga saat ini.
Alasan kenapa tak ada yang memburunya. Dan juga alasan kenapa banyak orang membiarkan aksinya.
Mungkin semua ini dikarenakan campur tangan dari Bernadetta sendiri sebagai salah satu anggota keluarga Rustellia yang sebenarnya.
Hanya saja....
"Tentu saja, aku siap menerima hukuman itu. Aku melakukan semua itu atas kesadaran dan juga akal sehatku. Jadi aku akan menerima semua balasannya." Ucap Leo, kini dengan perasaan yang sedikit lebih lega.
Meskipun tahu bahwa ini adalah situasi yang buruk, entah kenapa hatinya merasa lega. Seakan.... Merasa sebagian besar bebannya mulai menghilang.
Mendengar jawaban dari Leo, wanita tua itu nampak menganggukkan kepalanya sesaat. Sebelum kembali berbicara.
"Jika berdasarkan hukuman wilayah Rustfell ini, kau seharusnya menerima hukuman mati."
Seketika, mata kanan Leo segera terbuka lebar. Terkejut atas apa yang baru saja didengarnya.
'Jadi begitu ya.... Yah, jika terpaksa aku akan tetap kabur dari sini.' Pikir Leo dalam hatinya.
Ia masih belum bisa mati.
Tidak.
Ia masih tidak boleh mati saat ini. Tidak sebelum Raja Iblis, atau setidaknya dunia ini menjadi sedikit lebih aman dan lebih damai.
Akan tetapi....
"Hanya saja, hukuman mati itu terlalu bodoh untuk diterapkan saat ini. Terlebih lagi untuk pemuda sebaik dirimu. Oleh karena itu lah, wanita tua ini sudah melakukan sedikit persiapan selama beberapa waktu ini." Jelas Bernadetta.
Leo menelan ludahnya setelah melihat senyuman ramah itu kembali di wajah Bernadetta. Dan sesaat kemudian ....
"Aku menawarkan 3 buah solusi untuk masalah hukuman dan kematianmu. Sekarang, mana yang akan kau pilih?"