E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 145 - Sisi Lain



...- Wilayah Kerajaan Manusia -...


...- Venice -...


Beberapa waktu telah berlalu semenjak upacara pemakaman salah satu tokoh terbesar dan paling revolusioner di wilayah Manusia.


Alexander Leonardo von Rustellia.


Dan bersamaan dengan kematiannya itu, seluruh umat manusia dari wilayah Rustfell telah memutuskan satu hal yang sama.


Yaitu untuk berangkat berperang atas nama Tuan mereka.


Semua orang tanpa terkecuali berkeinginan untuk berangkat berperang. Bahkan, panglima perang tertinggi di wilayah Rustfell saat ini, mengalami kesulitan dalam hal mengatur pasukan.


Ia tak lain adalah Reina itu sendiri.


"Yang Mulia, pendaftar pasukan di wilayah Rustfell telah melampaui angka 400.000 lebih prajurit. Apakah kita sebaiknya tetap menerima mereka?" Tanya Luna, seorang menteri pertahanan yang mengurusi masalah pasukan ini.


"Terima saja. Berikan mereka tombak sederhana atau busur dan panah. Peluang besarnya mereka takkan ikut berperang, tapi bisa menjadi tenaga tambahan di garis depan." Balas Reina yang masih terus mengurus dokumen itu.


Ketika keduanya masih membahas mengenai masalah pekerjaan ini, seseorang tiba-tiba muncul dari balik pintu itu. Membukanya dengan cukup meriah.


'Braakk!'


"Ibu! Aku juga akan berangkat berperang!" Ucap Stella yang tiba-tiba masuk ke ruangan ini.


"Stella. Kau tetap di kota. Gantikan pekerjaan Ayahmu dan bantu Roselia untuk mengurus berbagai administrasi." Balas Reina dengan tatapan yang sinis.


"Tapi Guru sudah memberikan surat ijinnya! Aku bisa berperang! Aku akan membantu pasukan garis depan!"


Melihat kesungguhan dari Stella, Reina sebenarnya cukup kesulitan untuk menolaknya. Di satu sisi, Ia tak ingin putrinya sendiri berada dalam bahaya.


Tapi di sisi lain, Reina adalah orang yang paling paham dan paling mengenali sosok Stella itu sendiri.


Tak hanya sangat berbakat dalam sihir, Stella memiliki kapasitas yang luarbiasa sebagai seorang Ksatria. Menjadikannya sebagai satu-satunya Mage-Knight yang ada di seluruh kerajaan manusia.


Bahkan di usianya yang masih belum genap 7 tahun sekalipun, Stella bisa digolongkan sebagai seseorang dengan tingkat A dalam medan pertempuran. Dimana nilai itu jauh melampaui kemampuan Reina 7 tahun yang lalu.


Oleh karena itu....


"Baiklah. Luna, pasangkan 4 orang Ksatria di sekitarnya. Stella akan ikut berperang."


Secara tiba-tiba, seseorang nampak muncul dari balik bayangan Stella. Ia memiliki rambut perak dengan pakaian yang serba hitam. Tubuhnya memiliki tinggi yang sedikit di atas Stella.


"Ibu, aku akan menjaganya. Jangan khawatir." Ucap Marcus yang muncul di belakang tubuh Stella itu.


"Aku tak peduli. Aku akan tetap memasangkan 4 Ksatria di samping kalian. Lagipula, kalian belum pernah melihat apa itu peperangan." Balas Reina yang segera berdiri dari kursinya dan meraih pedang di pinggangnya.


Dengan sangat cepat....


'Zraaasshh!'


Pedang besar itu hanya diayunkan oleh tangan kanan Reina. Sedangkan gerakannya sendiri bahkan tak ada satu kedipan mata.


Tapi kini, Reina telah berdiri tepat di hadapan Stella, dengan pedangnya yang hampir memenggal lehernya.


"Jangan terlalu percaya diri. Iblis yang kalian lawan jauh lebih kuat dariku." Ucap Reina sambil menarik kembali pedangnya dan memasukkannya ke dalam sarung pedangnya.


Ia kemudian melangkah pergi melewati mereka berdua. Bersiap untuk mengurus keperluan lain dalam pasukan. Termasuk penyediaan dan pengaturan jalur suplai.


Meninggalkan Stella dan Marcus di ruangan itu tanpa kalimat yang lainnya.


"Permisi." Ucap Luna singkat yang sambil sedikit menundukkan kepalanya ketika melewati dua anak Leo itu.


Keduanya hanya berdiri dalam diam.


Terutama Stella.


Ia sering mendengar mengenai kisah epik ibunya ketika dulu masih berburu monster. Ia juga sering mendengarnya dari kapten para pasukan mengenai kekuatannya.


Akan tetapi....


Ini adalah pertama kalinya Stella dan juga Marcus melihat kekuatan Reina secara langsung.


......***......


...- Eastfort -...


Ratusan ribu prajurit telah mendirikan perkemahan mereka di belakang benteng terkuat umat manusia, Eastfort.


Tak ada satu orang pun yang tak memiliki kesibukan.


Para prajurit, apapun peran mereka, nampak sedang berlatih dengan sangat keras. Di sisi lain, pasukan Levies yang tak berdiri di garis depan, nampak bekerja keras untuk mengurus suplai barang dan makanan.


Di saat mereka sedang bekerja keras, rombongan pasukan dalam jumlah yang sangat besar datang dari Barat. Mereka adalah pasukan yang dipimpin secara langsung oleh Reina, pasukan Rustfell.


Jumlahnya mencapai 500.000 lebih. Meski begitu, hanya sekitar 70.000 merupakan prajurit reguler. Sedangkan sisanya adalah Levies yang diangkat menjadi prajurit dari kalangan penduduk biasa.


Termasuk juga sekitar 10.000 pasukan Elf dari wilayah Crystalcourt yang mengungsi di Venice. Dimana mereka memutuskan untuk bergabung dalam perang ini sebagai bentuk penebusan dosa.


"Oi.... Bukankah dia istri kedua dari Duke Leo?" Tanya salah seorang prajurit ketika melihat sosok Reina yang menunggangi seekor kuda hitam itu.


Penampilannya sungguh mempesona ketika mengenakan zirah hitam yang indah dengan alur emas yang begitu menawan. Tak hanya itu, sebuah pedang besar nampak menggantung di punggungnya.


Sebuah pedang tanpa sarung, dengan bilah putih yang indah dan banyak huruf biru menyala yang begitu misterius.


"Duchess Reina. Bagaimanapun kau melihatnya, Ia terlihat begitu luarbiasa bukan? Terlebih lagi pedang itu." Ucap prajurit yang lain mengomentari sosok Reina yang ada di kejauhan.


"Runeblade. Ku dengar Duke Leo yang menempa sendiri pedang itu. Salah satu pedang terkuat yang bisa memotong besi bagaikan kertas."


"Hahaha! Jika ada pedang seperti itu, bukankah seharusnya perang sudah berakhir?"


"Bodoh, jangan terlalu keras!"


Sekalipun Reina mendengarnya, Ia hanya mengacuhkannya dan terus bergerak ke arah benteng Eastfort.


Reina nampak membisikkan sesuatu kepada Luna, dimana Ia segera memerintahkan pasukan untuk mendirikan tenda dan beristirahat. Sementara itu, Reina turun dari kudanya dan berjalan memasuki benteng Eastfort itu.


Tujuannya hanya satu.


Yaitu untuk memberikan laporan kepada Feris, bahwa dirinya, dan pasukan dari Rustfell, telah siap.


'Klek!'


'Bruk! Brukk!'


Suara langkah kaki dari Reina terdengar cukup keras di ruangan ini karena berat dan tebalnya zirah yang dikenakannya.


Setelah membuka pintu ruangan itu, Ia disambut oleh sosok Feris yang telah duduk di bagian terujung dari meja persegi panjang itu.


"Silakan duduk, Duchess dari Rustfell, Reina." Ucap Feris dengan kedua tangan yang menopang dagunya.


Di sekitar meja itu, terdapat banyak tokoh penting lainnya. Dan yang paling penting, mungkin adalah sosok salah satu pahlawan terkuat di wilayah manusia. Yaitu Alicia.


"Pasukan ku telah tiba. Mungkin perlu beristirahat semalam sebelum siap bergerak." Ucap Reina.


"Kerja bagus. Ku yakin Leo akan melihatmu sambil tersenyum dari atas sana. Sekarang, kita mulai pembahasan rencananya." Tegas Feris yang segera memulai kembali rapat ini.


Ia menjelaskan berbagai hal dasar kembali kepada Reina karena baru saja hadir. Dan mengenai tujuan akhir dari rencana ini.


Yaitu untuk menaklukkan seluruh benua Aeos kembali ke tangan umat manusia. Menghabisi dan menghancurkan seluruh iblis di sepanjang perjalanan.


Usaha penaklukan ulang ini mungkin adalah operasi militer terbesar yang pernah ada di seluruh sejarah umat manusia. Sebuah operasi militer yang didasarkan atas pertaruhan sederhana, bahwa pasukan utama Iblis masih berada di wilayah Elf.


Di sisi lain, laporan dari tim Alex mengenai wilayah Dwarf, Astraknol, telah tiba beberapa waktu yang lalu.


Mereka berhasil meyakinkan Dwarf untuk bergabung di sisi manusia dan melawan bangsa Iblis. Sebagai bayarannya, benua di wilayah utama Iblis, Drycross, akan menjadi hak milik Ras Dwarf seutuhnya.


Tentu saja, jika perang ini berhasil dimenangkan.


Meskipun itu adalah harga yang sangat mahal, mengingat dulunya wilayah itu juga merupakan bagian dari kekuasaan manusia, tapi Alex tetap menyetujuinya.


Karena saat ini, dunia membutuhkan sebanyak mungkin kekuatan untuk memenangkan peperangan ini. Dan mengakhiri penindasan Iblis untuk selamanya.


Pada akhir penjelasannya, Feris menegaskan satu hal.


"Segera setelah seorang manusia berjalan melewati dinding ini, aku akan mati atas sumpah darah dengan Valkazar. Dimana tubuh dan jiwaku akan terbakar oleh api suci. Jadi ku mohon, Reina. Aku memintamu untuk memenggal kepalaku sesaat setelah api itu benar-benar muncul."


Tanpa sedikit pun keraguan, Reina pun membalas.


"Akan ku terima permintaanmu itu, Feris."


Di sisi wilayah manusia, peperangan akhir pun akan segera dimulai.


Tanpa satu orang pun yang tahu, bahwa sebuah kejadian yang sangat besar akan terjadi di tanah Elf. Tepatnya di kastil sementara Raja Iblis Valkazar.