E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 110 - Pembantaian



Beberapa puluh menit telah berlalu semenjak serangan kejutan dari pasukan Leo.


Dan hanya dalam waktu singkat itu, pasukannya berhasil memporak-porandakan benteng kayu ini dengan mudahnya. .


Termasuk membunuh sebagian besar dari pasukan mereka.


Di barisan belakang, Leo nampak meletakkan sebuah batu Mana yang telah mengering itu di saku kirinya dan mengambil batu Mana yang masih penuh di saku kanannya.


"Sudah berhenti?" Tanya Leo pada Luna yang berdiri di sampingnya.


"Nampaknya seperti itu, Tuan. Kekuatan senjata ini.... Jika aku boleh jujur memang terlalu kuat." Balas Luna dengan tubuh yang sedikit gemetar.


"Kalau begitu kita akan menerobos masuk. Buat beberapa tim, setiap tim bergerak dalam 20 orang. Lalu bergerak dengan jarak 5 meter." Jelas Leo singkat.


"Dengan segera." Balas Luna sambil segera mengarahkan pasukannya itu.


Kini, Leo berjalan di barisan paling depan. Di belakangnya terdapat 20 prajurit dengan senapan dalam kondisi yang siaga. Siap untuk menembak kapan saja mereka butuh.


Ketika semakin mendekati gerbang kayu yang telah hancur karena hangus terbakar itu, Leo mempercepat langkahnya dan mulai berlari.


Begitu juga dengan 10 tim pasukan yang ada di belakangnya.


Dan setibanya di dalam benteng, Leo segera memerintahkan mereka untuk menyebar sebelum berteriak.


"Tembak!"


'Daaaarrr!!!'


Rentetan suara ledakan terdengar menggema di dalam benteng kayu ini. Suaranya cukup menggelegar. Sedangkan kekuatannya sangat ditakuti oleh semua orang.


Terlihat sekitar 200 bandit yang tersisa di dalam benteng ini telah berlutut dalam ketakutan. Serangan mereka sama sekali tak bisa mengenai pasukan Leo.


Tapi sebaliknya, serangan dari pasukan Leo selalu mengenai mereka. Bahkan membunuh mereka hanya dalam satu tembakan saja.


Meskipun, terlihat sekitar 30 bandit yang masih bersemangat dan berlari ke arah pasukan Leo untuk menyerang.


Tanpa sedikit pun ampunan, Leo kembali berteriak sekali lagi. Kini dengan seluruh pasukannya yang berbaris dengan rapi.


"Tembak!"


'Daaarrr!!!'


30 bandit yang berlari ke arah Leo itu, seketika jatuh tersungkur ke tanah dengan banyak darah yang mulai membasahi salju itu.


Mereka semua mati seketika hanya dalam satu tembakan. Termasuk juga mereka yang masih meringkuk ketakutan di barisan belakang.


Menyisakan hanya satu orang bandit di tempat ini. Yaitu sosok seorang bandit dengan tubuh tinggi dan besar serta kepala yang botak.


"Apa-apaan ini?! Apa-apaan semua ini?! Semua kerja kerasku...." Teriak Pria yang tak lain adalah Brunt itu.


Ia mengayunkan kapaknya sekuat tenaga ke arah Reina yang berada di hadapannya itu.


Tapi sayangnya, dengan kemampuan yang Reina miliki.... Menghindari serangan seperti itu bagaikan membalikkan telapak tangannya.


Hanya dengan gerakan yang sangat minim.


'Swuussh!'


Sesekali, Reina terlihat melangkah ke kanan. Sesekali, Ia terlihat memiringkan badannya. Dan sesekali juga, Ia terlihat menundukkan kepalanya. Semuanya untuk menghindari serangan kapak pemimpin dari kelompok bandit ini.


"Kenapa?! Kenapa jadi seperti ini?!" Teriak Brunt kesal dan penuh amarah.


Reina yang melirik ke arah Leo nampak memberikan sebuah anggukan sederhana. Menunjukkan bahwa Reina akan menanganinya sendiri.


Oleh karena itu....


"Dengan tim yang sama, geledah semua tempat ini. Cari apakah Selene dan kelima prajurit kita ada di sini." Ucap Leo.


"Dengan segera!"


Luna segera memerintahkan pasukannya. Membaginya ke beberapa tempat untuk melakukan penggeledahan.


Tentunya mereka kini bersikap lebih berhati-hati karena tak memiliki medan yang luas untuk memanfaatkan senjata mereka seutuhnya.


Rumah demi rumah....


Bangunan demi bangunan....


Mereka menggeledahnya satu persatu.


Sesekali, mereka menemukan sekelompok bandit yang bersembunyi di dalamnya. Dan tanpa ampun, menembak mereka secara langsung dari kejauhan.


Leo yang melihat sikap dari pasukannya sedikit khawatir. Apakah ini adalah sebuah pertanda yang baik atau buruk.


Tapi untungnya, pasukannya terlihat tak menikmati pembantaian ini. Mereka hanya bergerak atas perintah, dan menuruti perintah itu atas dasar keselamatan kota Venice.


Pembantaian ini sendiri hanyalah sebuah bayaran yang murah untuk menjaga kedamaian dan juga kestabilan dari Kota Venice itu sendiri. Dimana mereka rela untuk mengotori tangan mereka.


Akan buruk jadinya jika pasukannya menjadi terlalu suka membunuh. Dimana nantinya mereka akan semakin sulit untuk dikendalikan.


Hingga akhirnya, setelah beberapa saat....


Hanya ada satu bangunan yang tersisa. Yaitu sebuah bangunan yang besar di bagian tengah dari benteng kayu itu.


Leo bersama dengan pasukannya pun memasuki bangunan itu secara perlahan.


Apa yang menantinya di dalam....


"Jangan bergerak! Jika kalian bergerak, aku akan membunuhnya!" Teriak seorang Pria dengan wajah yang terlihat begitu kelelahan itu.


Ia nampak menyandera Selene dengan sebuah pisau di tangan kanannya.


Selene yang masih tak sadarkan diri itu pun tak bisa melakukan apapun selain diam.


Sedangkan Leo yang melihatnya....


"Apa maumu?" Tanya Leo singkat.


Dengan menyandera orang lain, Leo sangat yakin bahwa dirinya pasti menginginkan sesuatu. Jika tidak, Ia pasti telah membunuh Selene sedari tadi.


"Le-lepaskan aku dari sini! Ji-jika kau melakukannya, aku akan melepaskannya!" Teriak Pria itu dengan nada yang ketakutan.


Tak perlu waktu lama bagi Leo untuk berpikir, Ia pun segera menjawabnya.


"Pergi lah. Tapi tepati perkataanmu untuk melepaskannya."


"Te-tentu saja!" Balas Pria itu.


Leo dan juga pasukannya pun segera menyingkir. Membukakan jalan kepada Pria itu untuk keluar dari bangunan ini.


Sesampainya diluar, Ia melihat kengerian yang tiada duanya.


Mayat tergeletak di segala tempat dengan darah yang berceceran dimana-mana. Terlebih lagi, sosok ketua dari kelompok ini yang bernama Brunt masih terlihat sibuk menghadapi sosok seorang wanita berambut pirang.


Reina sendiri tidak memiliki niatan untuk membunuhnya. Tapi tindakannya justru lebih buruk daripada hal itu. Yaitu terus menerus menghindari serangan Brunt sambil mencegahnya untuk lepas darinya.


Dengan kalimat sederhana, Reina hanya terus mempermainkan dan menguras mental dari ketua kelompok bandit itu.


Mark yang menyandera Selene itu merasa bersyukur karena Ia bisa kabur. Tapi apakah mereka akan benar-benar melepaskannya?


Dengan pemikiran itu, Mark sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari pasukan Leo itu. Sambil terus menodongkan pisaunya ke arah leher Selene.


"Bukankah sudah cukup? Aku takkan melukaimu, jadi lepaskan wanita itu dan...." Ucap Leo berusaha untuk meminta pria itu melepaskan sanderanya.


Tapi balasannya....


"Tidak! Aku takkan melepaskannya sampai keluar dari hutan sialan ini! Dan kalian semua harus tetap disini jika tak ingin wanita ini terluka!" Teriak Mark dengan ketakutan.


Ia mulai merasa bahwa sandera yang dipilihnya sangatlah berharga jika dibandingkan 5 wanita lainnya yang juga berada di dalam bangunan itu.


Dengan perasaan itulah, Ia merasa bahwa dirinya telah aman.


Akan tetapi, Ia melakukan sebuah kesalahan yang cukup fatal. Mark mengarahkan pisaunya terlalu dekat ke arah leher Selene. Menggores leher putihnya itu cukup dalam.


Darah merah itu pun mengalir melalui kulitnya yang putih itu.


Dan di kejauhan, Leo terlihat sedikit menyipitkan matanya.


Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari satu detik. Leo mengangkat senjata sihirnya yang seperti pistol itu, mengarahkannya tepat siku pria itu, dan menembakkannya tanpa sedikitpun keraguan.


'Duaaarr!'


Tembakan itu tepat mengenai siku kanan Mark. Membuat lengannya hampir terputus dan membuatnya menjatuhkan pisaunya itu.


Bahkan tanpa aba-aba, tiga orang prajurit Leo segera berlari untuk menarik Selene dari cengkeraman tangan kiri Mark itu.


Kini, tanpa adanya senjata, Mark tak lagi mempunyai poin untuk melakukan negosiasi. Dan tepat setelah ketiga prajurit itu menyelamatkan Selene....


Ia bahkan tak lagi memiliki hak untuk meminta ampunan.


"Tu-tunggu! A-aku sudah melepaskannya kan?! Aku bisa pergi kan?!" Tanya Mark dengan wajah memelas.


Tapi Leo hanya berjalan secara perlahan mendekati tubuh Mark yang terjatuh di tanah itu.


Leo mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan senjata sihirnya tepat di depan wajah Mark.


Tanpa sepatah kata pun....


'Daarr!!!'


Leo segera mengakhiri nyawa Pria itu.


Menyisakan hanya Brunt sang ketua dari kelompok bandit ini yang masih hidup di dalam benteng.