
"Uughh.... Apa yang terjadi semalam?" Tanya Leo pada dirinya sendiri setelah terbangun.
Matanya masih sedikit buram. Pikirannya masih sedikit kosong. Bahkan kesadarannya belum sepenuhnya kembali.
Tapi apa yang ada di depan matanya adalah atap dari kamarnya.
"Benar juga.... Aku berpesta semalaman dan...."
'Sruuugg!'
Sesuatu nampak menggeliat di balik selimutnya. Sesuatu yang besar dan sedikit berat.
Leo yang terkejut dengan hal itu pun segera membuka selimutnya. Melihat sosok yang ada di dalamnya.
Ia memiliki rambut pirang yang panjang. Kepangan rambutnya terlihat begitu indah. Sedangkan wajahnya sendiri terlihat begitu manis ketika masih tertidur.
'Hah.... Kupikir apa, Reina ya? Benar juga.... Aku....'
Mengingat kembali atas apa yang baru saja terjadi kemarin siang dan malam hari, wajah Leo yang biasanya selalu tegang dan datar itu pun terlihat mulai memerah.
Ia seakan tak bisa mempercayai apa yang baru saja dialaminya. Dan semua itu....
Terkesan seperti mimpi.
Leo memperhatikan sosok wanita yang dicintainya itu sejenak sebelum bangun secara perlahan. Berusaha untuk tidak mengganggu tidurnya.
Ia bahkan merapikan kembali selimut yang membalut tubuhnya yang penuh perban dan luka itu.
Setelah bangun, Leo segera membersihkan dirinya dan mengenakan pakaian yang biasanya. Saat Ia bangun dan keluar dari kamarnya....
"Tuan? Bukankah hari ini hari libur?" Tanya Selene yang telah berdiri di samping pintu depan kamar Leo.
Berbeda dengan balasannya yang biasanya terkesan cuek dan tak peduli, kali ini Leo membalas dengan senyuman terlebih dahulu.
"Hahaha.... Bukankah kau juga mengenakan perlengkapan?" Tanya Leo kembali.
"Itu karena aku tahu, Tuan Leo tak begitu suka hari yang tidak produktif." Balas Selene sambil tersenyum.
Mereka berdua pun menuruni anak tangga, menuju ke lantai 1. Terlihat banyak orang yang sedang duduk bersantai sambil menikmati makanan.
Di salah satu meja, Lucas terlihat sedang menulis sesuatu di sebuah kertas.
"Yo, Lucas. Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Leo dengan nada yang sedikit ceria.
Melihat pemandangan itu, Lucas sendiri hanya bisa tersenyum dan kebingungan atas perubahan drastis sikap Leo.
"Tak ku sangka kau adalah orang yang dicari Reina selama ini. Hah! Syukurlah kalian bisa bertemu dan bahagia. Sedangkan aku? Aku hanya bisa berkirim surat dengan tunanganku." Balas Lucas sambil tertawa ringan.
Leo yang sangat ingin membalas kebaikan Lucas karena merawat Reina selama ini pun segera menawarkan bantuannya.
"Jika kau butuh sesuatu, baik itu uang atau apa, katakan saja. Aku akan memenuhinya semampuku."
"Apa yang telah dilakukan Reina hingga kau berubah seperti itu? Tapi tentu saja, aku akan menerima tawaranmu."
Pembicaraan ringan antara mereka berdua pun terus berlangsung. Dimana sesekali Selene ikut menimbrung dan tertawa bersama.
Pada akhirnya, Leo memberikan bantuan sebesar 20 koin platinum kepada Lucas untuk membeli kereta kuda dan menyewa penjaga. Dengan begitu, setidaknya Ia takkan kesulitan untuk menempuh perjalanan yang jauh.
"Leo, sekali lagi terimakasih. Dan juga.... Tolong jaga Reina dengan baik. Aku telah menganggapnya seperti adikku sendiri akhir-akhir ini." Ucap Lucas sambil melambaikan tangannya sebelum meninggalkan penginapan itu.
"Tentu saja. Kau juga jaga dirimu baik-baik. Jika perlu sesuatu, datang lah kemari."
Dengan anggukan yang ringan, Lucas pun keluar meninggalkan penginapan ini. Entah kemana lagi tujuannya kali ini.
Sementara itu....
"Tuan Leo. Mengenai batu Mana yang sebelumnya Anda pesan, kami telah membeli cukup banyak dan menyimpannya di gudang." Ucap seorang pria yang tak lain adalah bawahan Leo itu.
"Kerja bagus. Sekarang beristirahat lah. Kalian itu libur bukan?"
Leo segera memotong perkataan itu dengan cepat. Mengarahkan lengannya untuk menghadangi mulut Pria itu.
"Hentikan. Pagi ini, aku hanya berniat untuk jalan-jalan. Lalu, bagaimana dengan 2 orang yang baru itu?" Tanya Leo kembali.
"Aaah.... Mereka saat ini sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan baru disini. Lihatlah, mereka sedang memperhatikan orang-orang bekerja di dapur." Ucap pria itu sambil menunjuk jarinya ke arah dapur.
"Begitu kah? Bagus. Bersikaplah baik dengan orang-orang baru, mengerti?" Balas Leo sambil tersenyum.
Ia pun melangkahkan kakinya menuju pintu masuk penginapan itu. Bermaksud untuk keluar dan mencari udara segar setelah semua yang terjadi kemarin.
Selene kini mengikuti langkah kaki Tuannya dari samping kirinya. Tak lagi menjaga jarak seperti dulu. Terlebih lagi, mengingat Tuannya yang kini sedikit lebih 'lengkap' membuat Selene tak mampu menahan diri untuk terus memperhatikannya dari dekat.
Tapi tiba-tiba....
"Selene. Aku berpikir untuk masuk ke dalam akademi sihir dan belajar di sana untuk sementara waktu. Mungkin setidaknya hingga aku cukup kuat untuk menutupi semua kekuranganku.
Apakah kau mau ikut belajar disana? Aku mungkin juga akan menawarkannya kepada Reina jika dia mau." Ucap Leo secara tiba-tiba. Pandangannya pun mengarah ke langit seakan sedang memikirkan hal yang lebih jauh.
Tentu saja, Selene yang terkagum-kagum atas sihir kemarin sangat senang dengan tawaran itu. Ia dengan cepat menganggukkan kepalanya untuk menerimanya.
Akan tetapi....
"Kenapa tiba-tiba sekali, Tuan Leo? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Selene penasaran. Kedua matanya terus melihat ke arah Mata Leo dari samping. Berusaha untuk memperoleh perhatiannya.
Sebelum menjawab, Leo memalingkan wajahnya dan menatap mata Selene secara langsung. Tak lupa senyuman yang tipis itu kini membuat penampilannya semakin menawan.
"Aku ingin hidup dengan damai di dunia ini. Tapi sayangnya, kedamaian bukanlah sesuatu yang kita peroleh secara cuma-cuma. Tanpa ada kekuatan untuk mempertahankannya, kedamaian hanyalah sebuah omong kosong belaka.
Terlebih lagi.... Aku ingin mempelajari dunia ini lebih lanjut di sana. Bukankah kau lihat seberapa besar perpustakaan di akademi itu? Aku yakin ada banyak rahasia di sana. Tapi lebih dari itu...."
Leo terlihat menjeda perkataannya sejenak. Menatap tajam ke arah Selene.
"Aku hanya ingin melihat semua bawahanku bahagia. Melihat reaksi mu kemarin, kau sangat ingin belajar sihir bukan?"
Perkataan itu dengan cepat membuat Selene kembali tak berdaya. Rasa kagumnya kepada Leo hanya bisa terus bertambah setiap harinya.
Dan dengan semua emosi yang campur aduk di balik kulit putihnya itu, Selene hanya bisa memberikan dua kata.
"Terimakasih, Tuanku...."
Pada akhirnya, mereka berdua berkeliling di distrik sekitar tempat penginapan mereka. Mencari beberapa toko dan tempat yang bisa disewa atau dibeli.
Meski terlihat lebih ceria, Leo sendiri sebenarnya tak begitu banyak berubah. Ia hanya memperoleh kembali kebahagiaan yang telah lama hilang.
Dan di dalam pikirannya....
'Feris.... Entah bagaimana caranya aku harus siap menghadapi wanita itu di kemudian hari.'
Leo masih terus memikirkan langkah yang tepat untuk mempersiapkan diri menghadapi wanita yang baginya terlihat begitu mengerikan itu. Bahkan jauh lebih mengerikan daripada Ksatria yang bisa membunuh naga.
Satu-satunya penyebabnya adalah kecerdasannya yang bahkan jauh melampaui Leo.
Leo berpikir bahwa kemungkinan besar....
Pahlawan sebesar itu telah mengendalikan sebagian besar dari Kerajaan ini. Dan jika waktunya tiba, mungkin Leo harus berhadapan dengannya atas perbedaan pemikiran.
Untuk itu....
'Aku harus lebih kuat dalam hal keuangan. Jauh lebih kuat lagi. Dan jika memungkinkan....'
Perjalanan baru Leo pun akhirnya dimulai. Kini dengan hilangnya pikiran mengenai bagaimana kondisi Reina, dan 2 tenaga kerja yang baru, Leo bisa sedikit meluangkan waktunya untuk menjadi lebih kuat dan lebih berwawasan.
Dan pada akhirnya, Ia berharap bisa masuk dalam jajaran para kaum bangsawan. Menguasai wilayahnya sendiri, dan pada akhirnya....
Terbebas dari bom waktu yang entah kapan akan meledak itu. Feris.