
'Tap! Krak!'
Setiap langkah kaki, terdengar bunyi gesekan logam. Sebuah bunyi yang sebelumnya mengerikan, kini telah menjadi kawan.
Dimas yang kini telah mengenakan pakaian kulit tebal di balik zirah besi itu pun melangkah pergi menuju ke pintu masuk dari tambang ini. Berencana untuk meninggalkannya selamanya.
Apa yang ada di belakangnya, adalah jasad dari 5 orang prajurit yang telah hancur lebur. Tubuhnya berserakan bersamaan dengan darahnya.
Tapi semuanya dengan segera membeku di tengah hawa dingin ini.
Sedangkan di sampingnya, terlihat jasad nomor 52. Orang yang berpikir akan mengkhianati Dimas, tapi pada kenyataannya hanya dimanfaatkan olehnya.
Kini, Ia tergeletak tak bernyawa dengan tubuh yang mulai membeku.
Dimas sama sekali tak mengalihkan pandangannya. Ia tak memperdulikan apa yang baru saja terjadi dan apa yang baru saja dilakukannya.
Tak ada kecuali keselamatan dirinya sendiri.
Dalam kegelapan itu, Dimas berjalan dengan tenang sambil memikirkan langkah berikutnya yang harus diambilnya.
'Pergi ke kota? Kembali ke Desa? Apa yang harus ku lakukan?'
Tanpa Ia sadari, cahaya redup terlihat mulai menyinari kegelapan di dalam tambang ini. Sumber dari cahaya itu tak lain adalah dari pintu masuk tambang ini.
Angin yang dingin menghembuskan salju ke dalam tambang ini. Memberikan hawa dingin yang cukup untuk membunuh seseorang.
Akan tetapi....
Tepat 4 orang pekerja terlihat sedang duduk di samping. Merapat ke dinding tambang ini sambil menghadapi setumpuk kecil tulang.
Mereka yang sebelumnya sedang sibuk menikmati makanannya, tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah seorang Prajurit yang berjalan di hadapan mereka.
Kenapa hanya ada satu?
Dimana yang lain?
Kenapa sikapnya terlihat berbeda?
Apa yang baru saja terjadi?
Berbagai pertanyaan itu muncul di dalam kepala keempat orang pekerja itu. Berusaha untuk mencari jawaban pada orang lain, tapi sama sekali tak ada yang memahami situasi ini.
Hingga akhirnya....
'Tap!'
Dimas menghentikan langkahnya dan mengalihkan pandangannya. Ia melihat 4 orang Pria dengan tubuh yang sangat kurus hingga banyak tulang mereka mulai nampak di permukaan kulit.
Sebagai penghargaan terakhir untuk sesama korban....
"Aku telah membunuh semua prajurit. Jika kalian pergi ke dalam, kalian akan memperoleh cukup banyak pakaian yang lebih hangat dan layak dari para prajurit. Termasuk zirah dan persenjataan jika kalian ingin kabur.
Makanan yang dimiliki oleh Nomor 52 juga tertinggal di sana. Kalian bisa memilikinya, sedangkan aku sudah cukup dengan ini." Jelas Dimas dengan cukup panjang lebar.
Respon mereka keempat hanyalah kesunyian. Mereka sama sekali tak paham apa yang baru saja dikatakan Pria yang ada dihadapannya.
Salah seorang pekerja pun akhirnya memberanikan dirinya untuk menanyakannya kepada Pria itu.
"Si.... Siapa kau? Apa yang kau inginkan?" Ucap Pria kurus itu dengan suara yang lemas.
Mendengar pertanyaan itu, Dimas akhirnya teringat.
Situasi yang mematikan ini telah berhasil membunuh dan menghancurkan satu-satunya bekal terpenting mereka sebagai seorang manusia.
Yaitu akal.
Kekurangan nutrisi, kondisi yang kejam dan mematikan, serta rasa takut akan hukuman. Semua itu berhasil mematikan pikiran mereka, menjadikan mereka sebagai budak yang hanya akan menuruti perintah dari Tuannya.
'Mereka tak ada harapan.'
Itulah yang dipikirkan oleh Dimas setelah melihat sosok para pekerja itu.
Akan tetapi....
"Aku adalah nomor 30. Jika kalian menggunakan perlengkapan para prajurit itu, setidaknya kalian bisa kabur dari tempat ini dengan sedikit kehangatan. Tapi hanya itu saja bantuan yang bisa ku berikan." Ucap Dimas yang segera melangkahkan kakinya.
Meninggalkan tambang yang menjadi salah satu bab terburuk dalam hidupnya itu.
Sebuah bab....
Yang sangat ingin Ia lupakan.
Sangat ingin hingga Ia telah memutuskan untuk meninggalkan namanya sendiri. Bersama dengan masa lalu itu.
Badai salju yang menutupi area pegunungan ini benar-benar begitu lebat.
Kekuatannya benar-benar luarbiasa. Bahkan berjalan saja sangat sulit. Tak hanya itu, hawa dingin yang dirasakan jauh melebihi apa yang dirasakan ketika berada di dalam tambang.
Pandangannya mulai sedikit kabur.
Satu karena kelaparan. Dua karena badai ini sendiri membatasi pandangan seseorang hingga hanya mampu melihat sejauh 5 meter saja.
Ketika mengarahkan pandangan ke langit, apa yang dilihat hanyalah salju yang bergerak dengan begitu cepat dan kuatnya.
Takkan ada yang tahu saat ini adalah pagi hari atau malam hari. Yang jelas, cahaya yang ada sangatlah rendah seakan hanya diterangi oleh cahaya bulan. Membuat pencarian arah mata angin dengan memanfaatkan langit sangatlah mustahil.
Oleh karena itu, Dimas hanya bisa menyerahkan nasibnya pada insting semata.
Ia berjalan lurus menuruni gunung itu ke satu arah. Tak bergerak sedikitpun dari arah itu meski badai berusaha untuk melakukannya.
Jejak kakinya yang baru saja terbentuk segera tertutup oleh salju hanya dalam waktu beberapa puluh detik saja.
Dengan kata lain....
'Kembali dari tempat ini mustahil untuk dilakukan ya? Apakah kekuatan mataku berguna?' Tanya Dimas dalam hatinya.
Dengan segera, Ia mengalirkan sedikit energi Mana ke arah matanya. Mengaktifkan skill Clairvoyance yang bisa melihat segalanya itu.
Tapi sayangnya, bahkan skill tingkat A itu sekalipun tak berguna dalam badai ini.
Mata itu hanya mampu menganalisa properti suatu benda atau makhluk hidup. Tak mampu untuk menyelamatkannya di tengah badai salju yang begitu kuat ini.
Satu jam....
Dua jam....
Tiga jam....
Entah berapa lama Dimas telah berjalan di tengah badai ini. Tapi pandangannya sama sekali tak berubah. Hanya salju yang terus menerus bergerak dengan cepat mengikuti arah mata angin.
Dimas sendiri juga sama sekali tak mengubah arah langkah kakinya. Ia tetap berjalan lurus pada satu arah. Atau setidaknya.... Itulah yang dipikirkan olehnya.
Hingga akhirnya....
'Srrruuuuttt!!!'
"Eh?!"
Tubuh Dimas tiba-tiba tergelincir dan jatuh. Tubuhnya terus meluncur dengan cepat karena kemiringan tanah itu yang begitu curam.
'Brruukkk! Sraaakkk!'
Semakin lama, tubuhnya meluncur semakin cepat. Menabrak apapun yang ada di hadapannya. Baik itu ranting, sisa batuan, bahkan pepohonan. Seakan-akan penderitaannya sebelumnya sama sekali belum cukup.
Dengan cepat, Dimas segera menarik pedangnya dan berusaha untuk menancapkan nya ke tanah. Sebuah usaha terakhir untuk mengerem gerakannya yang semakin lama semakin cepat.
'Klaaangg! Kraakk!'
Pedang itu mulai retak. Mulai patah.
Tapi apa yang dilakukannya memberikan pengaruh yang nyata. Gerakannya melambat secara perlahan, sedikit demi sedikit.
Hingga akhirnya, Dimas terhenti tepat di tengah hutan itu. Sebuah hutan yang tak lagi memiliki daun, dengan batang dan ranting yang terlihat telah mati.
"Sialan.... Apakah aku mematahkan tulangku?" Tanya Dimas pada dirinya sendiri.
Ia mulai berpikir bagaimana bisa para Prajurit itu selalu tiba di tambang. Apakah ada suatu jalan rahasia yang hanya mereka yang tahu?
Dimas tak memiliki waktu untuk memikirkan hal itu.
Tubuhnya mulai menggigil.
Badannya mulai gemetar.
Bahkan pikirannya tak lagi bisa fokus.
Jika ditambah dengan tangan kirinya yang sangat sakit dan entah kenapa sulit digerakkan, bisa dikatakan Dimas berada dalam kondisi yang sangat buruk.
Meski begitu, Ia tersenyum cukup lebar.
Orang-orang mungkin akan berpikir bahwa dirinya mulai menjadi gila. Tapi pada kenyataannya sangat jauh dengan itu.
Di hadapan matanya, terdapat sebuah penanda terbaik yang bisa diperolehnya saat ini. Dapat dikatakan merupakan bantuan terbesar yang ada untuk keadaannya.
Dan hal itu....
Tak lain dan tak bukan adalah sebuah sungai yang telah membeku. Aliran airnya telah lama terhenti dan berubah menjadi es.
Lantas kenapa Ia tersenyum?
Tentu saja, itu karena....
"Mengikuti aliran sungai akan menuntunmu pada peradaban.... Sekarang, haruskah aku pergi ke kiri atau ke kanan?"