
Setelah berjalan-jalan sejenak, Leo dan juga Selene berhenti di sebuah kedai yang berukuran cukup besar. Bahkan kedai itu sendiri memiliki dua lantai. Membuat potensi pemanfaatannya jadi jauh lebih besar.
Tapi di atas semua itu, sebuah tulisan disewakan atau dijual terpampang dengan jelas di atas pintu kedai tersebut.
"Sedikit bobrok tapi bisa diperbaiki nantinya. Kita akan mencobanya, Selene." Ucap Leo sambil segera mengetuk pintu itu.
"Aku sependapat denganmu, Tuan."
'Dok! Dok!'
Leo berusaha untuk mengetuk pintu dari kedai itu. Tapi setelah beberapa saat, tak ada balasan dari dalam.
"Sedang pergi?"
"Entahlah, Tuan."
Leo berusaha memberi kesempatan kedua. Tapi sesaat sebelum tangannya memukul pintu itu lagi, seorang ibu-ibu yang terlihat berada pada umur 40an itu muncul dari rumah yang ada di sebelah kedai itu.
"Ada keperluan apa, Tuan?" Tanya ibu-ibu yang terlihat mengenakan pakaian yang cukup bagus itu. Rumah tempat tinggalnya pun terlihat cukup besar.
Menarik dari apa yang ada di hadapannya, Leo memiliki beberapa kemungkinan. Tapi yang jelas dia bukanlah orang yang miskin.
"Aku ingin membeli atau menyewa kedai ini. Apakah ada suatu cara aku bisa menghubungi pemiliknya?" Tanya Leo singkat.
Dengan wajah yang tetap datar dan kedua tangan yang masih memegangi pintu itu, wanita paruh baya itu pun menjawab.
"Aah, itu? Kedai itu milikku. Silakan masuk." Ucap wanita itu yang kini membuka pintunya lebar-lebar.
Leo merasa sedikit skeptis mengenai hal ini. Tapi Ia berusaha untuk memberikan kesempatan padanya jika Ia memang adalah pemiliknya.
Sesampainya di dalam, wajah Leo cukup terkejut. Isi dari rumah itu bahkan lebih mewah daripada yang dibayangkannya.
"Silakan duduk, aku akan memanggilkan suamiku terlebih dahulu."
"Baiklah...."
Baik Leo maupun Selene, keduanya sangat merasa skeptis terhadap semua ini. Entah mengapa, itulah yang ada di dalam pikiran mereka.
Tapi pada kenyataannya, saat suami dari wanita itu datang....
"Pembeli kah? Akhirnya setelah sekian lama?"
"Sudah ku katakan kita bisa menjualnya."
Pasangan suami istri itu terlihat berjalan dari ruang tengah menuju ke ruang tamu.
Di satu sisi, wanita itu memiliki tubuh yang sedikit pendek dan postur yang sedikit gemuk. Meski begitu, penampilannya tetap terjaga mungkin karena semua kekayaannya ini.
Sedangkan suaminya sendiri memiliki tubuh yang tinggi dan kekar. Ia nampak hanya mengenakan kaos pendek berwarna hitam. Memperlihatkan otot yang besar di baliknya.
Wajahnya sendiri terlihat begitu gagah dengan rambut yang sedikit panjang serta jenggot yang tebal berwarna sedikit kemerahan.
"Jadi kalian ingin membeli kedai bobrok kami itu?" Tanya sang suami setelah duduk di salah satu kursi itu.
"Ya.... Begitu lah rencananya. Apakah aku bisa melihat surat-suratnya?" Tanya Leo.
"Tentu saja. Sayang, bawa kemari suratnya." Ucap sang suami kepada istrinya itu. Wanita itu pun kembali masuk ke bagian dalam rumahnya dan kembali membawa dua buah gulungan surat.
Pada saat melihat surat itu, surat pertama menjelaskan mengenai kepemilikan tanah dan nama pemiliknya. Sedangkan surat yang kedua menjelaskan kepemilikan bangunan dan nama pemiliknya.
'Melihat dari ukuran tanah dan spesifikasi bangunan harusnya ini memang asli. Terlebih lagi terdapat segel dari Earl Vintica, penguasa dari kota ini. Hanya untuk berjaga-jaga....'
Setelah memikirkan hal itu, Leo melirik ke arah kedua orang yang entah mengapa membuatnya curiga itu.
Dengan cepat, Leo menggunakan Clairvoyance dan melihat nama asli dari kedua orang itu. Hasilnya?
'Aku terlalu skeptis ya? Nama mereka sama. Mari kita coba sekali lagi....'
Dengan jabat tangan yang kuat, Pria berambut kemerahan itu pun membalas perkenalan Leo dengan senyuman.
"Mark. Seorang veteran prajurit, kini menjadi instruktur pasukan."
'Pantas saja fisiknya seperti itu....' Pikir Leo dalam hatinya.
"Marie. Dulunya aku bekerja di kedai itu, tapi setelah terlalu tua dan suamiku memperoleh pekerjaan yang baik, aku hanya menjadi ibu rumah tangga dengan mengurus 2 anak kami." Ucap wanita itu sambil menjabat tangan Leo.
'Nampaknya aku memang terlalu banyak berpikir.... Apa yang ku lakukan?' Pikir Leo dalam hatinya.
Di samping, Selene terlihat melirik ke arah Leo sambil menganggukkan kepalanya dengan ringan. Menandakan bahwa Ia sendiri juga yakin bahwa kedua orang ini tidak mungkin menipu.
Setelah keduanya sepakat, maka Leo segera mengembalikan surat tanah dan bangunan itu kepada pasangan suami istri itu. Dan tanpa keraguan....
"Jadi berapa aku bisa membelinya?"
Wajah kedua orang itu pun terkejut. Mereka berpikir bahwa Leo hanya akan menyewa selama beberapa tahun atau semacamnya. Tapi untuk benar-benar membelinya?
"Ka-kau yakin? Bangunan itu sudah tua...."
"Tenang saja. Aku akan merenovasi tempat itu." Balas Leo kepada Mark.
Mendengar jawaban yang seakan tak memiliki keraguan itu, Mark akhirnya menyerah dan menyebutkan nilainya.
"Hah.... Baiklah. Kami sudah mengingatkanmu bahwa bangunan itu bobrok. Oleh karena itu, kau bisa membelinya dengan 180 koin platinum saja." Ucap Mark sambil sedikit menghela nafasnya.
'180.... Sekitar 700 juta rupiah jika di bumi? Cukup mahal tapi....'
"150. Jika setuju aku akan membayarnya saat ini juga." Ucap Leo sambil meletakkan tasnya di meja dan memperlihatkan isinya yang penuh dengan koin platinum.
Dengan penuh semangat, Mark segera mengulurkan tangan kanannya ke arah Leo.
"Setuju!"
Leo pun menjabat tangan kanan Mark. Menandakan bahwa mereka telah sepakat.
Setelah itu, keduanya pergi ke balai kota untuk mengurus mengenai pergantian kepemilikan surat-surat tersebut. Sedangkan Leo baru membayar setengahnya.
Ketika semuanya telah beres, Leo membayarkan sisa setengahnya lagi. Dan akhirnya....
Kini Leo memiliki sebuah kedai makan dengan ukuran yang cukup besar. Bangunan itu memiliki dimensi yaitu panjang 28 meter dan lebar 16 meter. Bagian depan dari kedai itu masih memiliki tanah lapang untuk meletakkan kuda.
Tak hanya itu, saat ini bangunan itu juga memiliki dua lantai dengan lantai kedua sebagai gudang dan tempat tinggal staff.
Sebelum pergi, Leo memperhatikan bangunan itu sejenak bersama dengan Selene.
"Hahaha.... Sekarang hanya perlu mencari pengrajin untuk merenovasi bangunan tua ini."
"Kau benar, Tuanku."
"Tapi sebelum itu, kita akan mencari tenaga kerja baru." Ucap Leo yang segera berjalan ke arah pasar budak.
Selene yang terkejut dengan perkataan Tuannya pun tak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Eeh? Lagi? Bukankah kemarin Anda telah membeli 2 budak?" Tanya Selene.
"Dua orang kemarin itu berbeda. Aku akan menugaskan salah satunya untuk mengatur kedai makan ini. Termasuk seluruh keperluan renovasinya. Sedangkan satunya lagi akan bertugas untuk mencatat semua harga barang di pasar setiap hari." Jelas Leo sambil terus berjalan.
"Entah kenapa.... Aku merasa kasihan dengan yang kedua...."
Kini dengan semangat dan lembaran yang baru, Leo pun secara perlahan akan meningkatkan kekuatannya di Kota Venice ini.
Dan kekuatan yang paling mudah dicari....
Adalah kekuatan dari uang itu sendiri.