E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 118 - Raja Iblis



Di dalam sebuah istana yang begitu besar dan megah, terlihat tumpukan tulang belulang yang seakan tak lagi bisa dihitung.


Sebuah singgasana yang telah hancur di ujung ruangan ini nampak sedang diduduki oleh seorang Pria. Manusia? Iblis? Tak ada yang tahu.


Penampilannya sama seperti seorang manusia. Bahkan termasuk golongan yang memiliki penampilan yang sangat rupawan. Tak ada ciri yang menunjukkan bahwa dirinya iblis.


Tak ada selain kuku hitam dan tajamnya di seluruh jari tangannya. Serta mata merah menyala seperti sebuah lautan darah.


Bahkan di kegelapan sekalipun, semua orang bisa melihat sorot mata yang dipenuhi dengan darah itu.


Ia duduk dengan sikap santai, menggunakan tangan kanannya sebagai tumpuan untuk wajahnya. Memandangi ribuan orang yang berlutut di hadapannya.


Dengan wajahnya yang terlihat sedikit kelelahan itu, Ia terlihat sedang memperhatikan langit-langit dari istana megah yang sudah runtuh ini.


Rambut hitamnya yang cukup panjang dan berantakan itu menutupi sebagian dari wajahnya. Dengan tatapan yang kosong, Ia bertanya pada dirinya sendiri.


"Apakah ini yang sebaiknya ku lakukan?" Tanya Pria itu dengan bahasa manusia yang sama sekali tak diketahui oleh iblis manapun di hadapannya.


Tak ada kecuali empat orang petinggi yang berlutut di barisan terdepan itu.


"Tuanku, apa langkah kita berikutnya?" Tanya seorang Iblis dengan dua tanduk di kepalanya. Ia juga memiliki sebuah sayap berwarna hitam di punggungnya.


Kini dengan bahasa Iblis, Pria yang duduk di singgasana itu pun membalas.


"Menunggu." Jawabnya singkat masih tetap memandangi langit malam di sela-sela atap yang telah runtuh itu.


Tak ada satu Iblis pun yang berani kembali bertanya. Mereka hanya diam dan terus berlutut sambil menatap tanah di hadapannya.


Hingga akhirnya, setelah beberapa saat, Pria itu pun nampak segera merubah posisi duduknya.


"Katakan, apakah kalian yakin ingin mengikutiku?" Tanya Pria itu dengan tatapan matanya yang terlihat begitu mengerikan itu.


"Tentu saja."


"Kami telah menyerahkan nyawa dan takdir kami kepada Tuan."


"Begitu juga diriku."


"Selama kita bisa menang, aku akan selalu mengikuti Tuan." Balas keempat petinggi itu.


Minotaur, Archdemon, Lilith, dan Succubus. Itulah keempat ras yang diangkat oleh Raja Iblis Valkazar sebagai 4 iblis tertinggi dan terkuat di wilayahnya.


Dengan kata lain, Pria yang duduk di singgasana itu....


"Begitu kah? Kalau begitu bagus lah. Meskipun, tanpa kalian sekalipun aku masih bisa menghancurkan dunia ini. Jadi berjuanglah untuk tak menggangguku lagi kali ini." Ucap Pria itu dengan wajah yang terkesan cukup lesu itu.


Setelah beberapa saat, Pria itu pun berdiri.


'Tap!'


Hanya dengan satu langkah itu, semua orang yang ada di hadapannya segera memberikan jalan sambil tetap memberikan hormat dengan terus berlutut.


Tak hanya itu, tekanan yang sangat kuat dan berat dapat dirasakan oleh siapapun yang berada di dekatnya.


Sebuah tekanan membunuh dan tekanan kematian yang begitu mengerikan, sekalipun sosoknya yang sebenarnya bahkan sama sekali tak mengerikan.


Jika dideskripsikan, penampilannya mungkin seperti seorang Pria pada umur 25 tahunan. Dengan tubuh setinggi sekitar 180cm dan tubuh yang terlihat cukup terlatih.


Hanya saja, kenapa semua Iblis tunduk padanya? Apakah Ia memang Raja Iblis bernama Valkazar itu?


Tapi tak ada satu orang pun yang mempertanyakannya. Tak ada seorang pun yang meragukannya.


Bahwa Pria dengan tubuh yang lebih kecil dan kurus daripada sebagian besar bawahannya itu, adalah sosok yang baru saja membantai 50.000 lebih Iblis di istana ini sendirian.


Termasuk 2 tetua Iblis dengan kekuatan yang bisa dibilang sangat kuat itu.


Tanpa sedikitpun luka di tubuhnya.


'Tap!'


Ia terus berjalan secara perlahan. Menuju ke bagian luar dari istana bekas wilayah Kerajaan Manusia itu.


Setibanya diluar, Ia hanya memandang bulan dengan tatapan yang masih juga terlihat begitu lesu.


Pada saat itulah....


"Perintah bagi kalian semua. Mundur dari wilayah Eastfort dan hiduplah dengan tenang selama 5 tahun. Biarkan para manusia itu menghancurkan diri mereka sendiri. Sementara itu, kita akan mempersiapkan diri untuk serangan berikutnya."


Setelah penjelasan itu usai, tekanan kuat yang sebelumnya bahkan mampu untuk menundukkan semua iblis di tanah itu segera menghilang.


Menyisakan hanya sebuah keheningan dan sebuah keputusan mutlak. Untuk mengikuti perintah dari Tuan mereka.


Pada saat itulah, manusia telah kalah dari para Iblis.


Tidak....


Tapi nasib dari seluruh dunia telah ditentukan hanya dengan kalimat perintah sederhana dari Pria itu.


......***......


...- Desa Rarth -...


Leo, bersama dengan Reina, menaiki kereta kuda kecil itu menuju ke desa tempat Igor tinggal. Meninggalkan banyak tokoh penting lainnya tetap di kota Venice untuk menyelesaikan berbagai urusan.


Tujuan kedatangannya kali ini murni untuk meminta bantuan kepada Igor. Hanya saja, Ia tak tahu apakah Igor akan menerimanya atau tidak.


Melewati salju yang tebal itu, Leo terus memacu kudanya secepat mungkin. Menuju ke sebuah kincir angin di desa itu.


Setibanya disana....


'Dok! Dok!'


Leo mengetuk pintu dari rumah yang berada di dekat kincir angin itu. Berharap untuk bisa menemui Igor secara langsung. Atau setidaknya, menemui orang yang mengenalnya.


Di sampingnya, Reina dengan kondisi tubuh yang mulai pulih nampak bersiaga dengan pedang satu tangan di pinggang kanannya.


Setelah pintu itu terbuka, sosok Pria tua dengan rambut pendek yang mulai memutih itu terlihat di balik pintu.


"Leo? Reina? Ada apa? Aah, masuklah." Ucap Igor sambil segera mempersilakan keduanya untuk masuk.


"Permisi." Ucap Leo singkat.


Rumah ini sendiri cukup sederhana. Dimana sebagian besar terbuat dari kayu dengan lantai batu yang dihaluskan.


Tapi ada satu hal yang mengganggu Leo.


"Kau tak ikut bergabung dalam pasukan itu?"


"Kau gila? Kau meminta kakek-kakek tua ini untuk kembali berperang?" Balas Igor dengan sedikit humor.


Tentu saja, persyaratan untuk mengikuti pasukan yang dibentuk oleh Achibald terdapat batasan umur. Dan umur Igor yang saat ini memang sudah diluar batas. Meskipun....


"Biar aku tebak. Tak ada seorang pun yang berani memaksamu bukan?" Tanya Leo.


"Buahahaha! Kau benar!"


Di sisi lain, Reina nampak sedang berbicara dengan seorang wanita yang masih cukup muda itu.


"Aaah, tidak perlu repot-repot sampai memberikan jamuan." Ucap Reina.


"Sudah kewajiban seorang tuan rumah untuk menjamu tamunya." Balas wanita itu.


Leo memperhatikan sekeliling rumah kecil ini. Dan terlihat di salah satu kamar dengan pintu yang terbuka, terdapat seorang anak kecil yang tertidur pulas.


Dengan senyuman yang lembut, Leo pun bersyukur bahwa setidaknya.... Pria tua dengan kehidupan mengerikan di bumi itu.... Bisa memperoleh masa damai di dunia ini.


Hanya saja....


"Maaf mengganggumu tapi, aku butuh sedikit bantuan. Atau lebih tepatnya saran. Apakah kau bisa...."


"Perang bukan? Aku sudah bisa menebaknya sejak kau mengangkat dirimu sendiri sebagai penguasa wilayah ini, Leo." Balas Igor yang menyela perkataan Leo itu. Seakan memang sudah tahu apa yang akan ditanyakan nya.


Kini, keduanya dengan sikap yang serius, mulai membahas hal terbaik yang sebaiknya dilakukan dalam kondisi perang.


Apa yang diinginkan Leo hanyalah untuk mencegah terjadinya perang saudara diantara manusia.


Tapi jika terpaksa....