
'Sruuug.... Srruugg....'
Pasukan milik Leo terus berjalan melewati salju yang tebal itu.
Sesuai dengan perintahnya, tepat setelah mereka memasuki hutan itu, Selene segera memisahkan diri dari pasukan bersama dengan 5 prajurit lainnya. Bergerak dalam persembunyian untuk melakukan pemantauan lokasi sekitar.
Memastikan bahwa takkan ada serangan dadakan atau sergapan dari berbagai sisi yang bisa membahayakan pasukan utama.
Sekuat apapun senjata buatan Leo, semuanya akan berakhir jika ada 500 prajurit lebih yang mengepungnya dari berbagai sisi.
Dengan mata dan telinga baru yang diperoleh dari regu Selene, Leo pun terus maju ke arah lokasi markas tersebut dengan tetap menjaga kewaspadaannya.
Tepat setelah matahari mulai tenggelam. Hal itu terjadi.
'Syuuuttt!!!'
Sebuah panah melesat dengan sangat cepat. Bahkan hampir tak mengeluarkan suara sedikitpun.
Arahnya pun sangat akurat, yaitu tepat ke arah kepala Leo.
Dengan hampir tak ada kesempatan untuk bereaksi, Leo yang sangat terlambat menyadarinya hanya mampu sedikit memiringkan kepalanya sebelum panah itu tepat mengenainya.
Hasilnya cukup parah.
'Css....'
Beberapa tetes darah mulai mengalir dan jatuh ke tanah. Membasahi salju putih itu dengan warna merah yang cukup gelap.
Reina segera maju dan bersiap untuk menahan serangan berikutnya. Melindungi sosok Leo yang terluka.
Sedangkan Luna di sisi lain segera memerintahkan beberapa pasukan di bagian depan untuk bersiaga.
Seberapa baik pun mereka mencari, tak ada seorang pun yang mengetahui lokasi pemanah yang baru saja menembakkan serangan itu.
Hanya saja....
"Dim, kau tidak...."
Reina yang baru saja melihat ke arah Leo yang terluka itu baru tersadar. Semuanya dikarenakan Leo hanya diam dengan tangan kiri yang menutupi bagian samping kepalanya.
Tak sedikit pun berteriak. Tak sedikitpun mengeluarkan suara karena rasa sakit meskipun luka yang dideritanya itu cukup fatal.
"Dim! Siapapun tolong bantu dia dan...."
Tapi Leo hanya mengangkat tangan kanannya seakan menandakan bahwa tak perlu mengkhawatirkannya.
"Tapi lukamu...."
"Tak masalah." Balas Leo sambil mematahkan sebagian anak panah yang menancap di mata kirinya itu.
Setelah itu, Leo kembali memberikan perintahnya.
"Tetap maju, jangan pedulikan aku. Aku takkan mati hanya dengan luka seperti ini." Lanjut Leo sambil menggunakan sihir penyembuh dengan tangan kirinya.
Cahaya kehijauan yang lembut mulai menyelimuti mata kirinya. Secara perlahan menghentikan lukanya.
Beberapa prajurit nampak mulai menahan badan Leo yang sedikit lemas itu. Membantunya untuk berjalan.
Setelah pendarahannya sedikit terhenti, Leo pun mencabut anak panah yang menancap di mata kirinya itu. Dimana bola matanya juga ikut tercabut. Menyisakan dirinya kini hanya memiliki satu mata saja.
Meski begitu....
Dalam pikiran Leo hanya ada satu.
'Selene.... Apakah kau baik-baik saja?'
......***......
'Aneh sekali.... Terlalu sunyi di sekitar sini.' Pikir Selene dalam hatinya.
Ia bersama dengan lima prajurit lainnya yang ada di bawah mulai mencermati kondisi sekitar.
Tapi tak banyak yang bisa diperolehnya. Tak ada informasi. Hanya sebuah hutan yang tak berdaun serta salju yang semakin menebal saja.
'Srrugg!'
Dengan telinganya yang sedikit lebih peka daripada manusia itu, Selene mulai mendengar sesuatu yang bergerak.
Suara itu begitu lirih hingga Ia hampir tak bisa mendengarnya.
Setelah meningkatkan penglihatannya dengan sihirnya, Selene pun segera memilah kondisi sekitar. Tapi sayangnya, itu sudah terlambat.
'Syuutt!'
'Jlebbb!!'
Anak panah telah mengenainya di bagian punggungnya. Setelah menancap cukup dalam, Selene sedikit demi sedikit mulai kehilangan kesadarannya.
'Kenapa.... Aku....'
Pemandangan terakhir yang dilihatnya sesaat sebelum semuanya dipenuhi dengan kegelapan, adalah sosok dua orang Pria yang berjalan mendekatinya dengan senyuman yang lebar.
......***......
Leo sama sekali tak mengetahui bagaimana kondisi regu pengintai.
Akan tetapi Ia tahu apa yang terjadi pada Selene berkat hubungan Mana mereka berdua.
Rune yang ada di lengan kiri Leo nampak mulai meredup. Cahaya kebiruan yang indah itu nampak mulai kehilangan kekuatannya.
Sesaat sebelum itu, Leo telah tersadar, bahwa dirinya terlalu meremehkan kelompok Bandit yang menguasai tempat ini.
Oleh karena itu....
"Reina, jika situasi memburuk, aku ingin kau pergi dan...."
"Tidak. Aku telah memutuskan untuk melindungimu kali ini." Balas Reina menyela perkataan Leo.
"Hahaha.... Begitu kah?" Tanya Leo kembali.
Setelah memikirkannya sejenak, Leo sadar bahwa kelompok bandit ini terlalu berbahaya. Bahkan untuk dibiarkan tetap ada disini.
Dan untuk itu, Ia memang harus menghancurkannya saat ini juga.
Akan tetapi....
'Sialan.... Aku mulai mengantuk. Apakah mereka melumuri panah ini dengan obat bius atau semacamnya? Kalau begitu....'
Dengan terus berusaha menahan kesadarannya, Leo pun mengarahkan tangan tangan kanannya kepada dirinya sendiri.
Ia akan mencoba sekali lagi apa yang telah dilakukannya secara tak sengaja kepada Selene. Yaitu untuk melakukan Enchanting kepada makhluk hidup.
Hanya saja, saat ini Ia telah memahami resikonya. Ia telah memahami tindakannya.
Dengan begitu, Ia bisa menyesuaikan pengeluaran Mananya.
Hingga akhirnya....
'Swuuusshhh!!!'
Tekanan angin yang cukup kuat serta cahaya kebiruan yang indah mulai menyelimuti tubuh Leo. Sesekali, terlihat semburat cahaya merah yang terang.
Dalam pikirannya, Leo hanya fokus memikirkan untuk meningkatkan ketahanan tubuhnya terhadap obat bius dan racun. Sedangkan rating yang diinginkannya hanyalah tingkat B.
Hasilnya, tepat setelah sekitar 1 menit cahaya itu menyelimuti tubuh Leo, rasa kantuknya mulai memudar.
Mengembalikan tubuhnya kembali seperti sebelum terkena efek racun itu. Hanya saja, tak mampu untuk mengembalikan mata kirinya yang telah hilang.
Saat Leo melihat informasi pada tubuhnya sendiri, Ia mengetahui informasi Enchantment yang diperolehnya.
...[Drug Ressistance - B Rank]...
Dan kabar baiknya lagi....
'Bagus, nampaknya Mana Selene masih tersisa 30% jika hanya berada di tingkat B saja.' Pikir Leo dalam hatinya yang kini telah kembali berdiri tegak.
Salah seorang prajurit yang telah menyiapkan perban dan peralatan medis lainnya nampak merawat mata kiri Leo yang telah tiada itu. Menutupinya dengan perban dan membersihkannya dengan alkohol.
Semua itu untuk mencegah terjadinya infeksi pada lukanya.
Setelah semuanya beres, Leo segera memberi perintah kepada semua pasukannya.
"Kita akan menyerang malam ini. Tak ada istirahat sebelum kita membakar habis markas mereka, dan mengetahui kondisi tim pengintai kita. Mengerti?" Tanya Leo.
"Mengerti!" Balas mereka semua dengan tegas.
Dengan begitulah, pasukan Leo kembali bergerak. Tapi kali ini, dengan persiapan yang lebih matang untuk serangan mendadak. Dan juga sebuah tujuan yang jelas, yaitu untuk membakar habis semua kelompok bandit itu.
......***......
'Bagaimana bisa aku meleset?! Aku sangat yakin telah mengincar tepat di otaknya. Tapi orang itu....' Pikir seorang Pria dengan pakaian bulu serigala salju itu.
Tangan kirinya nampak membawa busur, sedangkan tangan kanannya nampak membawa anak panah.
Meski begitu, Ia justru berlari, mundur ke belakang.
Alasannya sangat sederhana.
'Orang itu.... Bagaimana bisa dia menatap ke arahku dengan hawa membunuh sekuat itu tepat setelah menerima tembakanku?! Ini gawat, aku harus segera mengabari bos.'
Pemanah yang baru saja melukai Leo itu, kini justru kabur setelah mengetahui tembakannya meleset.
Merasakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi, Ia pun memutuskan untuk segera memperingatkan pemimpin mereka.
Meskipun....
Saat ini sudah terlambat karena mereka telah menyulut amarah Leo.